Komunitas Pecinta Puisi

Adakalanya kita perlu menangis agar kita tahu hidup ini bukan sekedar tertawa. Adakalanya kita perlu tertawa agar kita tahu betapa mahalnya nilai airmata

Sajak Nelayan Tua

16 Komentar

Lelaki itu Nelayan tua
mengeja hari mengusap wajah
membisik kalimat lirih maaf pada seluruh sanak

Dia kenang karang garang
menunggu waktu tenggang
berjalan langkah terseok
duduk diam merendam kaki kecil
tangan tak lagi menebar jala

Hangat mentari
hangat air sepanjang pesisir

Nyiur nyiur memanggil
meneduhkan mata cekung menghitam

Pulanglah pulang suara desir angin !
meraup ikan, menggulung ombak adalah sakit yang mengiris

Pulanglah pulang suara riak ombak !
menyimpan sepinggan duka mengering adalah isak tangis

Pulanglah pulang suara langkah kaki berpasir !
memejam mata tertidur panjang adalah mimpi yang menipis

Tapi pulang adalah jalan

23 Maret 2010

About these ads

Author: Rini Intama

Rini Intama Wrote several books of literature, novels, poetry. Writing a book child learning modules. How to explore and develop the potential of children. Profil penulis & pengarang perempuan Indonesia Komunitas Pecinta puisi http://riniintama.wordpress.com

16 thoughts on “Sajak Nelayan Tua

  1. aku mesti pulang. meski membawa sepotong harapan yang terempas. biarlah nafas kerdilku tersambung oleh kesetiaan anakdan isteriku.
    ——————
    Mbak rini : Puisi ini benar menyentuh hati samapi – sampai komen pun aku terseret oleh derita yang terkabar dalam puisimu. Yups. Indah selalu… Salam.

  2. Maaf, Kang Sastro hanya tokoh imajiner di FB. telah keliru oleh kekeliruanku sendiri menuliskannya di atas.

  3. aku mesti pulang. meski membawa sepotong harapan yang terempas. biarlah nafas kerdilku tersambung oleh kesetiaan anakdan isteriku.
    ——————
    Mbak Rini : Puisi ini benar menyentuh hati samapi – sampai komen pun aku terseret oleh derita yang terkabar dalam puisimu. Yups. Indah selalu… Salam.

  4. Riyadi atau kang Sastro nama imajinermu di fb.. buatku sama saja, terima kasih komentarmu membuat aku melambung hehehe … semoga tidak membuatku jatuh !

  5. buat Nelayan Tua : pulang adalah jalan dengan menggenggam harapan.
    buat Gayus Tambunan : pulang adalah jalan dengan menggenggam miliaran

  6. kini nelayan tua…tetap pulang..meski peluh belum lah datang
    ombak terlampau pasang…jaring mengambang…melambai terbuang

  7. @Nang, satu Gayus seribu tikus… ! ratusan ribu nelayan tua tergopoh gopoh meniti hidup

    @Afrizal, duuuh mirisnya sang nelayah tua, jaring mengambang terbuang
    angan melayang membawa ikan pulang… membayang anak istri tersayang.
    ma kasih yaaa !!

  8. Pulang bukan pilihan bagi sang nelayan
    meski desir angin memanggil
    dan riak ombak berteriak mengusir
    atau ikan-ikan kecil berjanji mengiringi

    Pulang adalah keputus-asaan bagi sang nelayan
    sebuah kekalahan, dan itu bukan pilihan

    Alam memang tak lagi bersahabat
    musim tak lagi bisa ditebak
    dan tanya di benak sang nelayan, tak pernah berjawab

  9. puisi yang menikam bagai belati, menghunjam jauh ke pusat hati. banyak khayal bertawaf diseputaran jantung dan kepala, dengan membaca puisi ini. bravo, mbak rin…

  10. puisi ini benar-benar menyentuh, bagai belati menikam jauh ke pusat hati, membuat jutaan khayal bertwaf di seputar jantung dan pikiran, jadinya.

  11. HUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUU

  12. hehhee terima kasih imuts dan lucu, sama seperti komentarnya yang lucu

  13. puisi yang indah…membuat hati tersentuh

  14. angin menerpa badai menjelma
    rintih-rintih hati mulai bersemayam
    mengusap dada dan berpangku do’a
    agar sang alam tak menerjang laut…

    nelayan tua mengusap dada saat fajar menunjuk kan diri.
    mengenggam erat seikat jala menebar indah di laut yg kejam
    berharap reziki sebuah harapan…

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 5.761 pengikut lainnya.