
Lelaki itu Nelayan tua
mengeja hari mengusap wajah
membisik kalimat lirih maaf pada seluruh sanak
Dia kenang karang garang
menunggu waktu tenggang
berjalan langkah terseok
duduk diam merendam kaki kecil
tangan tak lagi menebar jala
Hangat mentari
hangat air sepanjang pesisir
Nyiur nyiur memanggil
meneduhkan mata cekung menghitam
Pulanglah pulang suara desir angin !
meraup ikan, menggulung ombak adalah sakit yang mengiris
Pulanglah pulang suara riak ombak !
menyimpan sepinggan duka mengering adalah isak tangis
Pulanglah pulang suara langkah kaki berpasir !
memejam mata tertidur panjang adalah mimpi yang menipis
Tapi pulang adalah jalan
23 Maret 2010

Maret 31, 2010 pada 1:21 pm
aku mesti pulang. meski membawa sepotong harapan yang terempas. biarlah nafas kerdilku tersambung oleh kesetiaan anakdan isteriku.
——————
Mbak rini : Puisi ini benar menyentuh hati samapi – sampai komen pun aku terseret oleh derita yang terkabar dalam puisimu. Yups. Indah selalu… Salam.
Maret 31, 2010 pada 1:25 pm
Maaf, Kang Sastro hanya tokoh imajiner di FB. telah keliru oleh kekeliruanku sendiri menuliskannya di atas.
Maret 31, 2010 pada 1:34 pm
aku mesti pulang. meski membawa sepotong harapan yang terempas. biarlah nafas kerdilku tersambung oleh kesetiaan anakdan isteriku.
——————
Mbak Rini : Puisi ini benar menyentuh hati samapi – sampai komen pun aku terseret oleh derita yang terkabar dalam puisimu. Yups. Indah selalu… Salam.
Maret 31, 2010 pada 3:38 pm
Riyadi atau kang Sastro nama imajinermu di fb.. buatku sama saja, terima kasih komentarmu membuat aku melambung hehehe … semoga tidak membuatku jatuh !
April 2, 2010 pada 2:05 am
Tulisannya bagus
April 3, 2010 pada 2:08 am
buat Nelayan Tua : pulang adalah jalan dengan menggenggam harapan.
buat Gayus Tambunan : pulang adalah jalan dengan menggenggam miliaran
April 10, 2010 pada 2:24 pm
kini nelayan tua…tetap pulang..meski peluh belum lah datang
ombak terlampau pasang…jaring mengambang…melambai terbuang
April 11, 2010 pada 3:45 am
@Nang, satu Gayus seribu tikus… ! ratusan ribu nelayan tua tergopoh gopoh meniti hidup
@Afrizal, duuuh mirisnya sang nelayah tua, jaring mengambang terbuang
angan melayang membawa ikan pulang… membayang anak istri tersayang.
ma kasih yaaa !!
April 15, 2010 pada 3:45 pm
Pulang bukan pilihan bagi sang nelayan
meski desir angin memanggil
dan riak ombak berteriak mengusir
atau ikan-ikan kecil berjanji mengiringi
Pulang adalah keputus-asaan bagi sang nelayan
sebuah kekalahan, dan itu bukan pilihan
Alam memang tak lagi bersahabat
musim tak lagi bisa ditebak
dan tanya di benak sang nelayan, tak pernah berjawab
April 17, 2010 pada 9:07 am
puisi yang menikam bagai belati, menghunjam jauh ke pusat hati. banyak khayal bertawaf diseputaran jantung dan kepala, dengan membaca puisi ini. bravo, mbak rin…
April 17, 2010 pada 9:10 am
puisi ini benar-benar menyentuh, bagai belati menikam jauh ke pusat hati, membuat jutaan khayal bertwaf di seputar jantung dan pikiran, jadinya.
Oktober 31, 2010 pada 12:44 pm
HUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUU
Maret 21, 2012 pada 4:00 am
gk seru
Maret 21, 2012 pada 6:24 am
hehhee terima kasih imuts dan lucu, sama seperti komentarnya yang lucu
Mei 15, 2013 pada 2:14 am
puisi yang indah…membuat hati tersentuh