Aku bicara dalam gerak-gerik tanganku
ketika kesadaranku penuh, imaji berkeliaran bebas
Tanpa perlu hiperbolik meski menyentuh dan dramatis
Aku bagai menari bersama angin, ketika tulisanku belum juga usai
sementara dinding-dinding bisu menanti
Puji Syukur ini adalah sebuah mimpi yang jadi kenyataan. Kejutan kecil terindah setelah melalui sebuah proses yang cukup panjang.

Hak Cipta di lindungi Undang-undang
All Right Reserved
Diterbitkan pertama kali oleh : Q Publisher 2010
Rancang sampul : Erlangga Radhikza
Tata letak : Badri, Rini Intama, Ki Gambuh
RUANG JINGGA
Penerbit : Q Publisher
Halaman : 98 Halaman
ISBN : 978-979-9979-77-3
Harga : Rp. 27.500 ( belum termasuk ongkos kirim)
SAJAK EMAS DI JEMARI EMAS
: mengintimi Puisi Rini Intama
Oleh Dr. Sudaryono, M. Pd (Dimas Arika Mihardja), Dosen Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi
di ruang jingga senja jatuh
saat istirah katakata tetirah
di secangkir kopi ada nyanyian sang ombak
seperti sajak rindu petikan dawaimu
seperti apa surga itu adinda?
sang lelaki itu pun berenang di lautan kenang
sementara aku dan kataku kembali jatuh
di kedalaman senyuman
lihatlah kakanda, sajak emas ada di kedua tangan
tak ingin kulepas saat gemas
tak ingin kuremas usai keramas
tak ingin kutaruh saat segalanya luruh
kanda, senja kembali jatuh di beranda
mengurai ruang jingga!
bengkel puisi swadaya mandiri, 2010
catatan hati:
pada sajak ini bertaburan dan bertebaran aroma puisi rini intama di ruang jingga































Beberapa kali kumasuk keruangan ini, pintu memang tak tertutup.. tapi aku masuk lewat jendela yg sedikit terbuka. Coba mencongkelnya hingga lapang tubuh renta ini ‘tidak sulit pikirku.
Berharap kau menyeduhkanku secangkir teh dan memberikan sepotong kue, berbincang tentang kemarin, sebelum jeruji waktu dan lengan hari tak membatasi.
Sedikit rasa kecewa, engkau tak kutemui disitu. Hanya bayangmu, erat menempel diatas meja ‘lukisan jemari yg belum terselesaikan. Lapar mata terbias satu. Namun dahaga akan lukisan itu belum terlampiaskan, banyak keindahan yg menggelitikku tuk buka dari satu kanvas ke kanvas lain.., tanpa menyadari dahan perlahan tunaskan ranting .
Jalang mata berlapis lelehan kwarsa ‘memilah, terus melangkah masuki lorong galerimu hingga jalan mulai menyempit. Lalu terputus tiba tiba.
ah indahnya kalimat kalimat mu mas Restu…..
membuatku ingin terus menulis…
trima ksii bantu tugas b. indoo..

huaa.
sekian lama kita bersama
diantara banyak peristiwa
sering aku tak mengerti
perasaanku padamu
mungkinkah ini tandanya cinta
ataukah perasaanku saja
kini baru kusadari
yang sesungguhnya terjadi
ternyata aku makin cinta
cinta sama kamu
hanya kamu seorang kasih
ku tak mau yang lain
hanya sama kamu
kamu yang terakhir
yang kucinta
kira-kira ini puisi bukan yaa..lagi belajar syukur2 klo ada nilai nya
PENANTIAN
Hari itu langit biru telah berwarna hitam
gemuruh petir menyambar saling bergantian,
mengambarkan kesedihan tanah yang terbelah karna ucapan.
Aku mencari air penyejuk taman-taman,yang daunnya telah layu dan rapuh dimakan ulat.
Hari itu hari dimana aku berusaha mencari dan begitu yakin akan di dapatkan
hari dimana aku semburkan semua darah dalam tubuh.
Agar dia melihat bahwa matanya tertipu oleh pandangan yang kasar
namun biar, aku tidak pernah berharap penyesalan.
Karna memang dia atau aku yang tidak baik buat diantaranya
taukah kamu setelah itu.aku berjumpa dengan dia
dia yang telah terdengar oleh al-matlub-ku
dia yang berdiri sederhana dengan harapan yang lebih baik
dia yang mampu membuat daun kering menjadi hijau kembali
dia yang telah membuat kuda-kuda perang begitu cepat berlari menghampiri para musuh.
Dia lah yang pada hari yang telah ditentukan akan mengucapkan janji.
Untuk jalan panjang yang akan dilalui.
Ya dia.
Dia yang pada hari itu memberi seteguk air yang aku minum dengan rasa malu-malu
cantik dia kata nafas ku.berharga dia kata qolbu ku
dia yang berdiri dengan penantian yang panjang,
dimana jalan itu begitu licin dan penuh lika-liku permainan hati.
Dia yang mau bersabar dan mengiringi dengan pujian kepada DIA
P-E-N-A-N-T-I-A-N
akan kuceritan bagaimana dia menanti dengan tangisan
demi senyuman sedikit dan rasa haru pada rumah pertamanya
dia mengenalku dengan skenario dan alur cerita yang begitu ajaib
disaat aku sudah mulai kecil dan layu akan keyakinan.
Dia datang membawa air yang aku teguk dengan malu-malu
ku katakan bahwa kayu-kayu yang telah kukumpulkan
untuk kubuat bahtera telah aku buang bersama senyuman semu yang mejemukan
namun dia telah mengumpulkan satu demi satu
ya satu demi satu hingga pada waktunya telah tebentuk menjadi rakit penolong
yang hampir saja kuhancurkan karna ke-tidak-yakinan
aku mengingat di saat pernah terbelah oleh kejujuran
namun kuhargai sebagai kepahlawanan,karna bagi ku tak ada orang yang lebih berani
selain dari orang yang mau berbicara jujur tentang kesalahan.
Sampai tiba pada waktunya hari dimana akau ucapkan
sebuah janji dihadapan yang lahir dan yang batin
membuka hati sempit penantian yang panjang
membelah dada yang sesak untuk mengeluarkan semua rasa warna-warni kehidupan
disaat mulut dan hati ini mengucap aku telah bersumpah dan berjanji dengan al-matlub fiqolbi
akan kupegang selamanya di tangan ku dengan pemberian yang sedikit namun berat dalam ucapan yang akan ku serahkan dengan tunai. Demi menjawab penantian di hatinya hingga ia dapat tersenyum
senang.
*Jakarta 25 february 2010
di saat aku ingat kejadian itu*
terima kasih ya sudah mengirimkan tulisannya disini, terlepas dari pertanyaanmu apakah ini puisi atau bukan?
Puisi adalah sebuah bentuk karya sastra singkat untuk menuangkan apa yan ada di pikiran kita, apa yang ada di hati kita, dan apa yang ada di jiwa kita. Dikatakan singkat karena puisi adalah bentuk karya sastra yang paling pendek. Dan itulah puisi itu sendiri, jadi apa yg sudah kamu tulis sudah bisa di katakan puisi, mungkin perlu adanya sedikit tambahan diksi dan metafor untuk memperindah bahasanya saja.
dan aku suka tulisanmu