Komunitas Pecinta Puisi

Adakalanya kita perlu menangis agar kita tahu hidup ini bukan sekedar tertawa. Adakalanya kita perlu tertawa agar kita tahu betapa mahalnya nilai airmata


Tinggalkan komentar

Buku : Tanah Ilalang di Kaki Langit karya Rini Intama

NEGERI ini punya tanah yang bisa bercerita soal sejarah
NEGERI ini ada banyak budaya yang bisa bercerita bagaimana kita punya asa dan menjaga
NEGERI ini punya Alam yang bisa bercerita bagaimana Alam terus menjaga mimpinya

Tanah Ilalang di kaki langit,  Penulis : Rini Intama

Tata letak /sampul : Diandracreative design, Penerbit : Pustaka Senja

Cetakan pertama : Juli 2014,  Jogyakarta Diandra Creative 2014

halaman  :  107 hal, kertas :  bookpaper 14 x 20 cm

ISBN  : 978-602-1638-35-4

Dicetak oleh :  Diandra creative offset dan printing, Hak Cipta di lindungi oleh Undang-undang

Harga Rp. 30.000,-  (belum termasuk ongkir)

pemesanan hanya melalui, inbox Facebook  : Rini Intama, sms  081389192708, Twitter : rini_intama

bukuTanahku

Puisi-puisi Rini Intama dalam buku “Tanah Ilalang di Kaki Langit” ini terdiri dari tujuh subjudul, yang menyiratkan kepedulian sang penyair terhadap berbagai permasalahan yang ia jumpai dalam kehidupan. Nampaknya penyair adalah seorang pengamat, ‘pembaca’, dan penulis yang tak pernah melewatkan moment untuk berkontemplasi. Dalam banyak puisinya, ia mengangkat tempat-tempat bersejarah dan peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi, bahkan beberapa di antaranya disertakan penjelasan tentang tempat/peristiwa yang dipuisikan. Menjadi sedemikian elok, karena dalam beberapa puisinya, ia tidak sekedar mendeskripsikan yang diamati, tetapi lebih jauh mengekspresikan juga perasaan-perasaannya, sehingga puisi yang tercipta menjadi sedemikian menyentuh, seperti yang berikut ini :
A Yin terus menulis kisah Cina Benteng / di atas batu juga tanah ini dan pada kelopak mawar yang menyimpan embun / entah berapa langit / dan perjalanan sejarah yang menyimpan ribuan kisah sunyi / di ladang, di lembaran-lembaran sajak, di tiang-tiang dan benteng kota / hingga tanah gocap dan nisan-nisan diam yang terbelah // A Yin terus menunggu pijar-pijar kembang api/ lalu katanya, / aku masih membuat kue-kue keranjang dan secangkir teh hangat //
Membaca penggalan puisi berjudul “A Yin “ di atas, perasaan pembaca ikut ‘diharu-biru’ oleh kesetiaan dan ketabahan karakter A Yin dalam mempertahankan tanah kelahiran dan adat-istiadat Cina di tengah perkembangan zaman.
Tema-tema yang diangkat dalam buku ini merupakan tema umum yang sering digarap oleh para penyair lain, misalnya tentang cinta, tentang tanah air, persoalan perempuan, permenungan tentang hakikat hidup, dan tentang berbagai peristiwa. Meskipun mengangkat tema umum, di tangan Rini, puisi-puisi yang dilahirkan menjadi sedemikian hidup. Kemahiran Rini mengolah kata dan kalimat memudahkan pembaca mengembangkan imajinasi, bahkan serasa diseret ke dalam suasana batin yang dihadirkan. Pada puisi “Nyanyian Alam”, penyair berhasil mengetengahkan suasana indah melalui diksi yang tepat, sekaligus membawa pembaca masuk dalam permenungan tentang kehidupan manusia yang satu sama lain saling membutuhkan dan saling harga-menghargai. //Manusia saling mengajari dan mencintai// Gunung, lembah, sungai, saling menjaga mimpi//
Dengan berbagai keunggulan yang dimiliki Rini dalam mengolah pemikiran dan perasaan menjadi puisi yang bermakna, saya yakin, buku ini layak mendapat tempat di hati pembaca serta bermanfaat bagi khazanah sastra Indonesia.
(Dhenok Kristianti, Guru & Penyair, tinggal di Denpasar )

Di sini tampak begitu jelas bahwa penulis adalah bagian keseriusan dari setiap alur nafas puisi-puisi yang dihanyutkan pada sungai-sungai kreatifitasnya, puisi dengan konsep pembagian tema demi tema; sejarah maka sejarahlah ia, perjalanan maka perjalananlah ia, waktu maka waktulah ia, negeri maka negerilah ia, cinta maka cintalah ia, perempuan maka perempuanlah ia, dan kisah demi kisah pun mengalir sebagaimana perahu-perahu puisi atas riak-riaknya; puisi-puisi dalam kumpulan ini menukik tajam, misalnya terbaca: … hingga kesaksian sejarah yang tertulis dalam kertas-kertas rapuh dan membusuk (Tanah Ilalang di Kaki Langit), pelayaran puisi-puisi sebagai buah manis lembut bergelora dari jemari lentik, seperti : … mengantarkan perahu berlayar dalam sahajanya dengan ribuan dayung dan nyanyian laut para pujangga (I La Galigo), mengalirlah ia seterusnya dalam ruang pembacaan kita, salam gumam asa
(Ali Syamsudin Arsi, penyair, penulis, penggiat sastra, Pembina sanggar sastra Satu satu, ketua Forum Taman Hati, tinggal di Banjar baru – Kalimantan Selatan)

Satu-satunya kesalahan adalah dia bernama Rini Intama, punya hati punya rasa dan setia pada nurani. Ketika kemudian ia diperjalankan oleh takdir hidupnya dari satu peristiwa ke peristiwa, maka lahirlah yang namanya simpati, empati, keprihatinan, kegelisahan, juga pemberontakan. Dengan penuh cinta lalu ia lantunkan nyanyian jiwanya dengan santun melalui keindahan kata. membaca puisi Rini, akan terasa hidup ini indah.
Perempuan itu menulis puisi, menebar cinta lewat kata. dengan hati. Semua ia untai dalam estetika kata dan makna, dengan gayanya yang santun, yang membuat imagi terayun-ayun. perempuan itu menulis puisi, menebar cinta lewat kata. ( Abah Yoyok – penulis, penikmat dan penggiat sastra, pemilik sebuah Taman bacaan )

“Kegelisahan itu bernama Puisi. Begitulah Rini Intama mengolah batinnya, dia sengaja melakukan perjalanan untuk menemukan puisi itu sendiri, hingga di tubuhnya, puisi itu menjadi mata, tangan, kaki dan hatinya. Tidak bisa dipungkiri, kita menjadi getir setelah membacanya, seolah apa yang dipuisikan Rini Intama adalah hidup dalam kematian, begitu juga sebaliknya.” (Nana Sastrawan – Pendidik, penggiat sastra, penulis )


8 Komentar

Buku Perempuan Langit

langit5

langit9

langit10

perempuan langit

kami menulis bersama,  para perempuan langit yang berkarya dengan indah,  sekumpulan puisi yang telah diterbitkan dalam sebuah buku 19 Penulis Perempuan Indonesia pemesanan bisa melalui sms atau inbox Fb saya.  terima kasih

 

perempuan


2 Komentar

La Galigo

La Galigo adalah karya sastra terpanjang dan terbesar di dunia yang setara dengan kitab Mahabharata dan Ramayana dari India serta sajak-sajak Homerus dari Yunani,” ungkap R.A, Kern.

La Galigo ada di antara abad 13 dan ke 15 dalam bentuk puisi bahasa bugis kuno, ditulis dalam huruf Lontara kuno Bugis. Puisi ini terdiri dalam sajak bersuku lima dan selain menceritakan kisah asal usul manusia, juga berfungsi sebagai almanak praktis sehari-hari.

“tidak usah khawatir bila anak kita kelak menjelma manusia lalu mengalami cobaan hidup di Bumi. Karena, memang sudah menjadi hukum Bumi bahwa sesungguhnya hidup adalah cobaan. Bukanlah manusia namanya bila tidak dicoba. Juga, bukanlah manusia bila tidak tahan menghadapi cobaan”

Epik ini dalam masyarakat Bugis berkembang sebagian besar melalui tradisi lisan dan masih dinyanyikan pada kesempatan-kesempatan tradisional Bugis.

Versi tertulis hikayat ini yang paling awal diawetkan pada abad18, di mana versi-versi yang sebelumnya telah hilang Akibatnya, tidak ada versi Galigo yang pasti atau lengkap, namun bagian-bagian yang telah diawetkan berjumlah 6.000 halaman.

Bahkan, tidak tanggung-tanggung, sejarawan dan ilmuwan Belanda, Sirtjof Koolhof, menyebutnya sebagai karya sastra terpanjang di dunia, mengalahkan Mahabharata dan yang lainnya.300.000 baris teks, membuatnya menjadi salah satu karya sastra terbesar.

la galigo


5 Komentar

Spring Fiesta – Pesta Musim Semi

spring2

Antologi Puisi Bilingual SPRING FIESTA [Pesta Musim Semi] adalah antologi puisi yang diikuti oleh 63 penyair dari 9 negara [Libia, Arizona, Serbia, Pakistan, India, Hongkong, Malaysia, Singapura, dan Indonesia]. Antologi yang diterbitkan oleh INDONESIAN AND ENGLISH POETRY Group dan Araska Publisher ini akan diluncurkan di Sanggar Satoeempatsatoe Indonesia,

pada Sabtu 25 Mei 2013/19.30-21.30 WIB (Halaman Olah Raga SMP PGRI I, Jl, perintis Kemerdekaan II, Kompleks Perkantoran, Cikokol, Tangerang. Kepada seluruh kawan peserta dan pecinta sastra di mana saja berada diharapkan kehadirannya. Terima kasih


Pengantar  Kurator

IBARAT selembar sobekan peta, Buku Antologi Puisi Dua Bahasa SPRING FIESTA [PESTA MUSIM SEMI] ini adalah sebuah lembar wilayah yang berskala kecil, namun berhimpun aneka macam morfologi dan bentang alam yang dibedakan, lewat nama-nama sungai, kampung, gunung, sehingga memiliki keterangan dan deskripsi yang lengkap. Maka buku ini tampil untuk mewakili semua morfologi dari para penyair dari berbagai daerah di Indonesia dan luar negeri, yang masing-masing memiliki gairah dan genre bertutur yang sangat variatif.

Mengapa SPRING FIESTA [PESTA MUSIM SEMI] menjadi pilihan judul buku ini? Belajar dan berusaha menghormati nilai demokrasi dari semua penyair yang kemudian ditiadakan model pemberian judul buku dengan mengambil salah satu judul puisi dari salah satu penyair, maka suasana kebatinan yang fair ini akan dirasakan menjadi cukup enjoy, karena kemudian tak ada pengkultusan atas sebuah puisi. Karena terdapat anggapan: “Biarkan setiap puisi lahir, besar, dan mati dengan alami! Namun kelahiran dan kematian itu akan terus dikenang.”

S[An. Kurator: Budhi Wiryawan]


Tinggalkan komentar

Puisi-puisi sahabat

Puisi-puisi Sahabat


3 Komentar

Namaku Irena Zilinska

ahujan

Namaku Irena Zilinska,

Bertopi ranting kering bersepatu bulu

Kaki melepuh mengayuh langkah  berpeluh di padang pasir

dan bukit-bukit panas Siberia

Namaku Irena Zilinska

di langit terik tak kutemui burung Attar

yang kan membawaku ke tanah Tibet

yang kan mengajakku ke mata air bening

bumi ini seperti kering dan mati

Namaku Irena Zilinska

letakkan saja aku di tanah berhambur pasir tanpa air

biarkan jiwa berjalan di angan menuju cahayacahaya

dan pulang pada tanah merdeka tanpa perang

 

Juni 2011

dalam buku “Antologi Puisi” Dewan Kesenian Kabupaten Tangerang -Festival Tangerang 2012 – Sekuntum Jejak Antologi Puisi

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 5.740 pengikut lainnya.