dari Novel “Ronggeng Dukuh Paruk” karya Ahmad Tohari
Sebuah film disatukan dengan kejadian politik,budaya serta cinta.hal itu lah yang dirasakan ketika menonton sebuah film “sang penari” yang saat ini sedang diperbincangkan oleh banyak orang.Film yang memadukan unsure cinta,politik dan budaya ini menjadi film yang wajib ditonton karena selain berisi cinta,film ini bersisi tentang pendidikan politik
‘Sang Penari’ bercerita tentang Srintil (Prisia Nasution) yang hidup sebatang
kara (kedua orangtuanya mati bersama puluhan warga lainnya karena keracunan tempe bongkrek buatan mereka sendiri) di sebuah desa yang tandus, terpencil, dan miskin. Ia berkawan dekat dengan pemuda desa, Rasus (Nyoman Oka Antara).
Sejak kecil, Sritil melihat Surti (Happy Salma), ronggeng terkenal yang menjadi tulang punggung desa itu, dan berminat menjadi ronggeng berikutnya. Sang kakeklah, Sakarya (Landung Simatupang) yang mengusahakan agar Srintil dinobatkan menjadi ronggeng baru oleh Kerjareja (Slamet Rahardjo) dan Nyai Kerjareja (Dewi Irawan).
Pekerjaan menjadi ronggeng–yang sebenarnya tidak mampu diwakilki oleh kosakata “penari”—membuat Srintil menjadi idola dan harus melakukan banyak hal yang berkaitan dengan aktivitas seksual. Tapi justru, para istri berebutan menghendaki suaminya berhubungan badan dengan sang ronggeng, kalau perlu dengan bayaran mahal. Ada kebanggaan tersendiri, dan ada harapan agar setelah itu si suami bisa membuahinya.
Tubuh Sritil kini milik publik. Tentu hal itu tak disukai Rasus, yang diam-diam mencintainya. Apalagi ada ritual “Bukak Klambu” (membuka tirai) yang adalah pelelangan keperawanan Srintil untuk menandai penobatannya sebagai Sang Ronggeng. Singkat cerita, Rasus yang sedang galau itu pergi dan kerja serabutan di Pasar Dawuan dan menemukan “peradaban” yang berbeda.
Di sana, ia bertemu Sersan Binsar (Tio Pakusadewo, karakter yang tidak ada di novel tapi memperkaya cerita karena ada non-Jawa di sini), yang kemudian merekrutnya menjadi tentara. Sementara itu, Dukuh Paruk, termasuk kegiatan ronggengnya, disusupi oleh PKI yang dimotori oleh Bakar (Lukman Sardi). Konflik pun meruncing dan memuncak. Kisah “Tentara melawan PKI” (atau tepatnya: tentara “menggaruk” orang-orang yang dianggap PKI) berbalut dengan pergulatan cinta Srintil dan Rasus.






























