bayangan luna menebas malam
sinar menyembur…berkilau
dari kisi-kisi kamboja
tetesan tangis perak
menyentuh serambi biru…bersatu dalam syahdu
sekeping bintang
menari gemulai dalam latar gelap
sorot nya perlahan memancar
sang bumi tertunduk…
tepukan riuh daun cemara
edelweiss membuka mata
menikmati sepotong anugerah Nya
sketsa dari jutaan lukisan
Sang Maha Agung…maestro jutaan mimpi
inilah keindahan…inilah kemurnian
Kutapaki jejak menggelap
menepis laju angin selatan
biar sanubari ini meratap
cinta ku kandas…hati tertebas
namun aku masih ada…
cinta ini masih nyata
Akulah sang serigala terbuang
mengais mimpi ku dari tong-tong sampah
melihatnya…tuk sebuah luka
namun embun mata ini membeku
terbias lepas…direngkuh dunia
Mencintainya dalam bayang-bayang
menjadi sebuah pesona dalam fana
sosok yang terlupa…meski setia menjaganya
melodi kisah usang
terus menggema dalam linang sang langit
Karena aku Sang Pecinta
menjadi sayapnya walau tak indah
malaikat tak cemerlang di mimpinya
tetap putih bait ku untuknya
karena aku…Sang Pecinta…
Dalam sajak biru ini
ku ukir asma indah itu
mengalir dalam tiap rima
menjadi pelengkap bait kesunyian
jemari ku memerah…carikan kertas membara
Hapus air mata itu..
wahai rembulan sayu
katakan arti cinta pada bintang berkilau
agar dia di sisimu..
bukan bermain hati dengan mentari
Sejumput mimpi kuterbangkan
melukis tiap tetesan embun
mencoba merangkai kata terindah
tuk sebuah janji
akan arti sebuah rasa…
atas cinta yang ingin terjerat
Mungkin bumi kan terbelah
langit curahkan air mata darah
sebuah kata yang terpendam
menyeruak…ingin segera bermuara
dalam sebuah hati….
Dalam sajak biru ini
ku ukir asma indah itu
mengalir dalam tiap rima
menjadi pelengkap bait kesunyian
jemari ku memerah…carikan kertas membara
Hapus air mata itu..
wahai rembulan sayu
katakan arti cinta pada bintang berkilau
agar dia di sisimu..
bukan bermain hati dengan mentari
Sejumput mimpi kuterbangkan
melukis tiap tetesan embun
mencoba merangkai kata terindah
tuk sebuah janji
akan arti sebuah rasa…
atas cinta yang ingin terjerat
Mungkin bumi kan terbelah
langit curahkan air mata darah
sebuah kata yang terpendam
menyeruak…ingin segera bermuara
dalam sebuah hati….
Raga itu terbaring dalam senyap
dingin tak bertuan
merengkuhnya…menjaganya
tiada jemari hangat
ulurkan segenap udara untuknya
Bait-baitu puisi cintanya yang usang
terbang…bimbang tuk menyentuh fana
banyak kata yang terbuang
sebuah cinta tak terungkap
Setangkai mawar merah patah
terkulai di atas raga nya
menunggu layu..menyatu dalam tanah merah
sebuah kasih yang tertunda
mungkin kan berulang…pada awal yang baru
Hati itu tersayat…darah mengalir deras
tambalan berlubang
menyelimuti jiwa putihnya
namun…cinta itu
utuh tak tersentuh…untuknya…kekasih dalam gelap
sosok-sosok putih di sampingnya
tersenyum dalam sebuah arti
kan abadi cinta itu..disisi Maha Hati
langit turunkan tirai sucinya
pertanda duka lara…
Sang Pecinta Telah Tiada
Siapakah sang pujangga sejati
apakah ia…sang penenun mimpi
merenda tiap kisah fantasi
dalam tiap guratan kata
mengalir dalam lautan rima
Siapakah sang pujangga sejati
ia kah,,,sang pengukir mutiara
dari tiap untaian kata cinta
mengepak sayap malaikat cinta
melambungkan asa..jutaan asmara
Siapakah sang pujangga sejati
mungkinkah ia…pemilik cermin hati
menorehkan bayangan hati
dalam tiap helai kertas usang
mungkin buliran kata nya bukan sajak
namun ada hati…terselip di tiap baitnya…
Berjalan dalam iringan hujan
Hitam menggores langit
Raja kelam merajai waktu
Satu nafas terenggut
Jutaan lainnya tersenyum
Langkah rapuh dalam tirai bening
Memasang logika di tiap tapaknya
Nurani menjerit pilu
Diamnya….membelenggu senyap
Baginya…dunia bukan miliknya
Malaikat hitam tertebas sayapnya
Menggelepar di sudut trotoar
Menghiba sekeping asa…
Dia terbuang…dijejalkan di tumpukan sampah
Merintih…
Sadarlah kawan…kau hanya sosok lalu
Mercusuar berdentum…
Membelah kelopak malam
Menyatu dengan samudera hening
Nafas itu…relakan berlalu
sejuta kata tak terucap
milik pujangga lapuk
lidah nya kelu tertekuk
rima puisinya luruh…terkubur
sejuta kata tak terucap
milik pecinta lemah
menangisi kelemahan
enggan mecoba tuk bersinar
biar ia redup…itu pilihan
bukan sebuah garis tangan
sejuta kata tak terucap
milik jiwa pecundang
menggaris batas dalam hidupnya
seolah dia m…aestro takdir
poros bumi masih berputar kawan…
berjalan…atau tergilas
itu adalah pilihan….
Tahukah kau kawan
dulu hijau indonesiaku
tanah lapang tuk semua insan
sepotong tanah merah
cukup tuk seribu nafas
bening air
hidupi tiap nyawa
khatulistiwa menyunggingkan senyum
Tahukah kau kawan
dulu…
air mata darah
tak pernah tercurah di negeriku
tak kulihat bayi-bayi buncit
menangis…tenggorokannya memerah
para penabur padi
tidak mati di atas lumbungnya
Tahukah kau kawan
Sungguh ajaib zamrud ini
tongkat kayu pun
mampu menegakkan ratusan pulau
patu kerikil kenyangkan perut
kini…
menara baja tak mampu
menahan gelombang pasang
bumi hijau ku jungkir balik
bambu runcing telah patah
Siapa yang benar
Siapa yang durjana
DIa yang merana
Dia yang terhina
semua serba buram kawan
Mungkin hanya DIa yang tahu…
Tatapan sinis matahari
Membakar tengkuk jalanan
Memerah…lalu terbakar
Perlahan aspal jalanan pun meleleh
Detelan oleh perut bumi
Pohon-pohon botak
Bersuit-suit senang
Hanya sejenak
Hanya sekejap
Lalu terdengar teriak keji
Dari pucuk-pucuk daun
yang kini melebur jadi abu
Dan kini udara mengejek
Dengan wajah cemong
Penuh jelaga bau
Hanya sejenak lagi
Hanya sekejap lagi
Karena udara menjerit
Tercekik..lalu pudar
Hanya jelaga bau
Yang tersisa menggantinya
Kini saat manusia tertawa
Bangga dan pongah
Lagi-lagi hanya sejenak
Lagi-lagi hanya sekejap
Karena mereka leleh layaknya aspal
Mereka jadi abu bagai dedaunan
Dan mereka tercekik tak beda oleh udara
Lalu tangis kosong
Mengucur dari hati mereka
Terlambat….Sangat terlambat….
Karena tirai panggung
Telah diturunkan
Ingatkah kawan
Dahulu kita menjadi sahabat
Hanya dengan sebuah tautan jemari
Tak perlu ego diri
Tak butuh lingkaran materi
Coba renungkan kawan
Saat duka larut bersama tawa
Ketika kita berkejaran di atas tanah tercinta
Di bumi terindah
ya….begitu indah
Rasakan kembali kawan
Kita pernah terluka dalam mimpi menjerat dunia
Namun kita tetap berdiri
Dan tak berhenti tuk yakini
Semua pasti nyata
Semua akan nyata
Kini kunanti kau kawan
Tuk satukan hati yang tercerai
Memastikan dunia tak kan terbelah
Bersama kita ratakan jurang tak berguna
Dan mari buka fokus dunia
Bahwa kita ada
Bahwa kita sama
Dalam cinta dan kasih Nya
Hei sobat
Berjalan kita di depan keangkuhan
Bersatu kita dalam rasa tanpa arah
Ego adalah harta kita
Genggam erat tanganku
Dan kita raih mimpi yang berpijar
Satu-satu nafas kita meregang
Tapi jangan kau lepas genggaman ini
Karena kita satu dalam harap
Hei sobat
Jalan kita terlalu terjal
Memerah dan membara kita laluinya
Langkah berdarah tak kan hentikan kita
Maju dan tiada pernah gentar
Hingga esok kan tersenyum
Menyambut kita
Hei sobat
Mungkin waktu kan hancurkan kita
Dan raga kita harus mencair
Melebur dalam sungai tak bermuara
Namun percayalah sobat
Hatimu dan hatiku…
Tetap kan satu dan utuh
Seandainya saja
Diriku ini memiliki nurani
Tak kan ku renggut
Tawa bahagia dari wajah-wajah itu
Tak kan kurebut
Jiwa tak berdosa
Yang terdiam dalam damainya
Pangkuan sang bunda
Serta menggoreskan tangis
Di gurat wajah mereka
Seandainya saja
Diriku diperbolehkan berpikir
Tak kan kuturuti
Nafsu manusia yang lalai
Yang memerintahku
Tak kupedulikan
Perintah-perintah biadab itu
Seandainya saja ya Allah
Engkau menghendaki
Diri ini tuk bersaksi
Akan kutunjukkan pada Mu
Siapa yang beringas
Siapa yang tertindas
Kan kutunjukkan
Jiwa-jiwa yang terpuji
Dalam rengkuhan perbuatan keji
Seandainya saja
Diri ini sanggup berkata
Kan kulafalkan syahadar
Bagi raga-raga itu
Yang berseru takbir perjuanga tiada henti
Dan kini terpuruk
Karena ku dan kaumku
Akan kulanjutkan dzikir mereka
Yang harus terputus
Seandainya saja….
Bunda..
sebuah sajak biru ku tulis kan untukmu
Membaur dengan linang tangis bukan pilu
Nyatakan sebuah rasa tulus tiada tepi
Bunda…
Kau relakan sepenggal nafasmu demi hidupku
Kau sisihkan tangismu untuk tawaku
Dan tak ragu kau jatuhkan peluhmu
Tuk wujudkan bahagia ku
Bunda…
harapku terlelap dalam pangkuanmu
saat kuterjerembab dalam puing kepedihan
Karena di sisimu…kurasa pendar kehangatan
Yang kuyakin tak lekang oleh zaman
Bunda…
Pinta maaf ku tuk setiap butir air mata sucimu
Karena lalaiku
Karena ego liarku
Dalam simpuhku di mana surga bersemayam
Bunda…
Kuyakini kau adalah malaikat Nya
Tuk temaniku yang tersesat dalam sepi
Menjagaku dari kerapuhanku
Dalam cintamu yang tiada henti
Membimbingku menuju cahaya cinta Nya
Berjalan ku dalam dunia tanpa arah
Berjejer bunga-bunga indah
Sangat indah…
Coba ku wujudkan dalam genggam
Namun hati ini meradang dan berdarah
Ku terpana…
Keindahan itu mencengkeram udara membara
Dan sosok-sosok rapuh…
Hanyut dalam buainya….semu
Dusta dan kemunafikan
Bermesraan di lorong-lorong
Serasa terbakar mata ini
Ku tapakkan langkahku
Dan kutemui sepetak surga
Dalam keremangan senja
Di antara duri dunia
Jiwa yang teduh dalam senyum
Menuntunku bersemayam
Berlabuh dalam damai-Nya
Menjelma rasa dihati ku
Dalam sebaris dzikir yang mengalun perlahan
Dan ku tinggalkan hatiku…
Dalam sepetak surga itu…
Wajah merona itu kini memudar
berpusar dalam senyum hampa
dikeramatkan sang dunia
direngkuh gelap lembab
Dunia tetap menari dalam detaknya
namun langkahku tetap terpaku
dalam hening aku meraja
dalam rerumputan gersang
dalam awal tak berujung
Aku dan bait kisahku
menepi dalam aliran waktu
terbelenggu…kunikmati itu
cahaya benderang tertikam belati tajam
dan kuhanya mampu meratap…
dalam sepiku…dalam selongsong waktu
Menatap dunia muram
seolah taman impian
berlarian di atas bara
menari dengan kegelapan
ya…mereka sang penguasa sejati
Mimpi mereka boleh diterkam zaman
meronta-ronta dalam sanubari
tapi ada mulut yang meratap
ada perut yang berderap
Tiap sudut nestapa
adalah kisah yang terlupa
mereka menertawakan kepedihan
mereka sang pejuang di rimba metal
Ratapan…tangisan
secarik kertas yang mereka lindas
tak cukup ruang untuk sesak
tak cukup waktu tuk menjerat nelangsa
hidup dalam tatapan sinis dunia
ya…mereka tak kan gentar
Bumi berpusar liar
bergolak tiap harap senyap
manusia-manusia rapuh…meniti buih kusam
……tergerus segala untaian asa
zaman telah berubah…zaman telah menerkam
Kutatap langit tak bergeming
masih kurasa biru itu
masih berpijar bara mimpiku
Kelokan jalan ini..
meredam lentera yang redup
mengikis harapan yang tlah runtuh
Demi raut sang penginjak surgaku
sumpah kutegakan dalam hati
kan kurengkuh harap itu
walau kayuhku patah
walau perahuku patah
(18 Agustus 2010….Dalam Gerbong Komuter…Dalam Jarak Menggapai Mimpi)
Gaung itu masih terdengar olehku
dalam riuh rimba plastik
diantara derak baja membelah dunia
…rentetan dentuman yang menghujam nafas putih
Menelisik sekeping hatiku
tentang darah yang membasuh intan
tentang jiwa-jiwa yang berkobar
tentang keperkasaan sepotong bambu
Masih kurasa gaung itu
terselip dalam raungan kesatria renta
berjingkat di atas menara yang menebas langit
refleksi super ego..para penggerak zaman
terinjak kuda-kuda baja
menggelepar di sudut gelap
kata mereka merdeka…
kata mereka terpenjara…
(18 Agustus 2010-St.Wonokromo….sajak putra merah dan putih)
Dalam bias jingga yang menghitam
sosok renta mengais sisa nafas
meniti jalannya yang kian beku
…cukupkah kisahnya
cukupkah mimpinya
Seleret doa menderas dari bibirnya
mengharap sekeping derma
namun langit telah bergeming
bayangnya t’lah terhenti
tak mampu lagi menatap sorot mentari
Dalam rintihan..tangisnya terurai
asma-asma paling indah dia kumandangkan
namun kilau itu bukan untuknya
indah itu bukan saatnya…
menantinya…di ujung lorong membara
menantinya…saat dia t’lah melebur tulisannya
Tiada kata tersirat
Mengikis lembaran kisah yang senyap
Aku menebas masa-masa bayangan
Ketika kurasakan dingin pagi
Masih meremas punggung telanjang
Itukah kau pemilik kata
Dari pusaran hati kau bertahta
Sang pujangga kehilangan baitnya
Saat surya telah disampingnya
Merasa bulan mendekap erat tubuhnya
Melepaskan semua aksara
Hanya cinta…yang ia rengkuh dalam hasrat
Kutelanjangi anganku
Siapa kah pengunci jawab liar ku
Akankah kutemukan dalam semu hari ini
Imajinasi seolah mengejek galau hati
Meninggalkan selongsong beku
Ya…aku kehilangan bait-baitku
aku lebih terang dalam gelap
menjadi pendar dalam temaram
sosok lentera yang terbuang
menebas sang gelap
hanya aku yang bersinar….
mempersunting sang senyap
mendekapnya dengan erat
beriringan dalam singasana sunyi
satu kita…dalam fana
aku sang pengukir sepi
menggenggam sekeping asa
dan kubiarkan membara di pelupuk mata
biar aku seorang…jadi raja kesunyian
===Sayap-Sayap yang Tertebas===
sayap-sayap yang tertebas
melukis merah darah
mencoreng sang cakrawala
biru bercampur merah
gradasi luka dan tawa…
sayap-sayap yang tertebas
terseok memeluk tanah
terkapar tuk terdiam…
selama satu tarikan nafas..
dia menghunus kematian
sayap-sayap yang tertebas
jadi sketsa memori hilang
dilupakan selang waktu berputar
dihempas angin utara
menjelang ketiadaan tak berujung
==Lukisan Malam==
bayangan luna menebas malam
sinar menyembur…berkilau
dari kisi-kisi kamboja
tetesan tangis perak
menyentuh serambi biru…bersatu dalam syahdu
sekeping bintang
menari gemulai dalam latar gelap
sorot nya perlahan memancar
sang bumi tertunduk…
tepukan riuh daun cemara
edelweiss membuka mata
menikmati sepotong anugerah Nya
sketsa dari jutaan lukisan
Sang Maha Agung…maestro jutaan mimpi
inilah keindahan…inilah kemurnian
==Sang Pecinta==
Kutapaki jejak menggelap
menepis laju angin selatan
biar sanubari ini meratap
cinta ku kandas…hati tertebas
namun aku masih ada…
cinta ini masih nyata
Akulah sang serigala terbuang
mengais mimpi ku dari tong-tong sampah
melihatnya…tuk sebuah luka
namun embun mata ini membeku
terbias lepas…direngkuh dunia
Mencintainya dalam bayang-bayang
menjadi sebuah pesona dalam fana
sosok yang terlupa…meski setia menjaganya
melodi kisah usang
terus menggema dalam linang sang langit
Karena aku Sang Pecinta
menjadi sayapnya walau tak indah
malaikat tak cemerlang di mimpinya
tetap putih bait ku untuknya
karena aku…Sang Pecinta…
(Trilogi Sang Pecinta)
==Gelora Sang Pecinta==
Dalam sajak biru ini
ku ukir asma indah itu
mengalir dalam tiap rima
menjadi pelengkap bait kesunyian
jemari ku memerah…carikan kertas membara
Hapus air mata itu..
wahai rembulan sayu
katakan arti cinta pada bintang berkilau
agar dia di sisimu..
bukan bermain hati dengan mentari
Sejumput mimpi kuterbangkan
melukis tiap tetesan embun
mencoba merangkai kata terindah
tuk sebuah janji
akan arti sebuah rasa…
atas cinta yang ingin terjerat
Mungkin bumi kan terbelah
langit curahkan air mata darah
sebuah kata yang terpendam
menyeruak…ingin segera bermuara
dalam sebuah hati….
==Gelora Sang Pecinta==
Dalam sajak biru ini
ku ukir asma indah itu
mengalir dalam tiap rima
menjadi pelengkap bait kesunyian
jemari ku memerah…carikan kertas membara
Hapus air mata itu..
wahai rembulan sayu
katakan arti cinta pada bintang berkilau
agar dia di sisimu..
bukan bermain hati dengan mentari
Sejumput mimpi kuterbangkan
melukis tiap tetesan embun
mencoba merangkai kata terindah
tuk sebuah janji
akan arti sebuah rasa…
atas cinta yang ingin terjerat
Mungkin bumi kan terbelah
langit curahkan air mata darah
sebuah kata yang terpendam
menyeruak…ingin segera bermuara
dalam sebuah hati….
(Trilogi Sang Pecinta)
==Sang Pecinta Telah TIada==
Raga itu terbaring dalam senyap
dingin tak bertuan
merengkuhnya…menjaganya
tiada jemari hangat
ulurkan segenap udara untuknya
Bait-baitu puisi cintanya yang usang
terbang…bimbang tuk menyentuh fana
banyak kata yang terbuang
sebuah cinta tak terungkap
Setangkai mawar merah patah
terkulai di atas raga nya
menunggu layu..menyatu dalam tanah merah
sebuah kasih yang tertunda
mungkin kan berulang…pada awal yang baru
Hati itu tersayat…darah mengalir deras
tambalan berlubang
menyelimuti jiwa putihnya
namun…cinta itu
utuh tak tersentuh…untuknya…kekasih dalam gelap
sosok-sosok putih di sampingnya
tersenyum dalam sebuah arti
kan abadi cinta itu..disisi Maha Hati
langit turunkan tirai sucinya
pertanda duka lara…
Sang Pecinta Telah Tiada
(Trilogi Sang Pecinta)
@Takjub … itu kata pertama yg ingin kuungkap ! kalimatmu mengalir renyah ..
hingga lama tak ingin beranjak, ma kasih yaaa
sama” mbak…makasih juga buat apresiasinya..
==Sang Pujangga Sejati===
Siapakah sang pujangga sejati
apakah ia…sang penenun mimpi
merenda tiap kisah fantasi
dalam tiap guratan kata
mengalir dalam lautan rima
Siapakah sang pujangga sejati
ia kah,,,sang pengukir mutiara
dari tiap untaian kata cinta
mengepak sayap malaikat cinta
melambungkan asa..jutaan asmara
Siapakah sang pujangga sejati
mungkinkah ia…pemilik cermin hati
menorehkan bayangan hati
dalam tiap helai kertas usang
mungkin buliran kata nya bukan sajak
namun ada hati…terselip di tiap baitnya…
kaulah itu sang pujangga
yang mampu mengukir kalimat dengan indah
mengusung aksara penuh makna
aku hanyalah insan…yang bercermin dari lembaran kata
===Malam Meratap===
Berjalan dalam iringan hujan
Hitam menggores langit
Raja kelam merajai waktu
Satu nafas terenggut
Jutaan lainnya tersenyum
Langkah rapuh dalam tirai bening
Memasang logika di tiap tapaknya
Nurani menjerit pilu
Diamnya….membelenggu senyap
Baginya…dunia bukan miliknya
Malaikat hitam tertebas sayapnya
Menggelepar di sudut trotoar
Menghiba sekeping asa…
Dia terbuang…dijejalkan di tumpukan sampah
Merintih…
Sadarlah kawan…kau hanya sosok lalu
Mercusuar berdentum…
Membelah kelopak malam
Menyatu dengan samudera hening
Nafas itu…relakan berlalu
==Sejuta Kata Tak Terucap==
sejuta kata tak terucap
milik pujangga lapuk
lidah nya kelu tertekuk
rima puisinya luruh…terkubur
sejuta kata tak terucap
milik pecinta lemah
menangisi kelemahan
enggan mecoba tuk bersinar
biar ia redup…itu pilihan
bukan sebuah garis tangan
sejuta kata tak terucap
milik jiwa pecundang
menggaris batas dalam hidupnya
seolah dia m…aestro takdir
poros bumi masih berputar kawan…
berjalan…atau tergilas
itu adalah pilihan….
==Indonesiaku…Dulu==
Tahukah kau kawan
dulu hijau indonesiaku
tanah lapang tuk semua insan
sepotong tanah merah
cukup tuk seribu nafas
bening air
hidupi tiap nyawa
khatulistiwa menyunggingkan senyum
Tahukah kau kawan
dulu…
air mata darah
tak pernah tercurah di negeriku
tak kulihat bayi-bayi buncit
menangis…tenggorokannya memerah
para penabur padi
tidak mati di atas lumbungnya
Tahukah kau kawan
Sungguh ajaib zamrud ini
tongkat kayu pun
mampu menegakkan ratusan pulau
patu kerikil kenyangkan perut
kini…
menara baja tak mampu
menahan gelombang pasang
bumi hijau ku jungkir balik
bambu runcing telah patah
Siapa yang benar
Siapa yang durjana
DIa yang merana
Dia yang terhina
semua serba buram kawan
Mungkin hanya DIa yang tahu…
==Opera Muka Bumi==
Tatapan sinis matahari
Membakar tengkuk jalanan
Memerah…lalu terbakar
Perlahan aspal jalanan pun meleleh
Detelan oleh perut bumi
Pohon-pohon botak
Bersuit-suit senang
Hanya sejenak
Hanya sekejap
Lalu terdengar teriak keji
Dari pucuk-pucuk daun
yang kini melebur jadi abu
Dan kini udara mengejek
Dengan wajah cemong
Penuh jelaga bau
Hanya sejenak lagi
Hanya sekejap lagi
Karena udara menjerit
Tercekik..lalu pudar
Hanya jelaga bau
Yang tersisa menggantinya
Kini saat manusia tertawa
Bangga dan pongah
Lagi-lagi hanya sejenak
Lagi-lagi hanya sekejap
Karena mereka leleh layaknya aspal
Mereka jadi abu bagai dedaunan
Dan mereka tercekik tak beda oleh udara
Lalu tangis kosong
Mengucur dari hati mereka
Terlambat….Sangat terlambat….
Karena tirai panggung
Telah diturunkan
==Kawan…==
Ingatkah kawan
Dahulu kita menjadi sahabat
Hanya dengan sebuah tautan jemari
Tak perlu ego diri
Tak butuh lingkaran materi
Coba renungkan kawan
Saat duka larut bersama tawa
Ketika kita berkejaran di atas tanah tercinta
Di bumi terindah
ya….begitu indah
Rasakan kembali kawan
Kita pernah terluka dalam mimpi menjerat dunia
Namun kita tetap berdiri
Dan tak berhenti tuk yakini
Semua pasti nyata
Semua akan nyata
Kini kunanti kau kawan
Tuk satukan hati yang tercerai
Memastikan dunia tak kan terbelah
Bersama kita ratakan jurang tak berguna
Dan mari buka fokus dunia
Bahwa kita ada
Bahwa kita sama
Dalam cinta dan kasih Nya
==Sobat==
Hei sobat
Berjalan kita di depan keangkuhan
Bersatu kita dalam rasa tanpa arah
Ego adalah harta kita
Genggam erat tanganku
Dan kita raih mimpi yang berpijar
Satu-satu nafas kita meregang
Tapi jangan kau lepas genggaman ini
Karena kita satu dalam harap
Hei sobat
Jalan kita terlalu terjal
Memerah dan membara kita laluinya
Langkah berdarah tak kan hentikan kita
Maju dan tiada pernah gentar
Hingga esok kan tersenyum
Menyambut kita
Hei sobat
Mungkin waktu kan hancurkan kita
Dan raga kita harus mencair
Melebur dalam sungai tak bermuara
Namun percayalah sobat
Hatimu dan hatiku…
Tetap kan satu dan utuh
==Kesaksian Sebutir Peluru==
Seandainya saja
Diriku ini memiliki nurani
Tak kan ku renggut
Tawa bahagia dari wajah-wajah itu
Tak kan kurebut
Jiwa tak berdosa
Yang terdiam dalam damainya
Pangkuan sang bunda
Serta menggoreskan tangis
Di gurat wajah mereka
Seandainya saja
Diriku diperbolehkan berpikir
Tak kan kuturuti
Nafsu manusia yang lalai
Yang memerintahku
Tak kupedulikan
Perintah-perintah biadab itu
Seandainya saja ya Allah
Engkau menghendaki
Diri ini tuk bersaksi
Akan kutunjukkan pada Mu
Siapa yang beringas
Siapa yang tertindas
Kan kutunjukkan
Jiwa-jiwa yang terpuji
Dalam rengkuhan perbuatan keji
Seandainya saja
Diri ini sanggup berkata
Kan kulafalkan syahadar
Bagi raga-raga itu
Yang berseru takbir perjuanga tiada henti
Dan kini terpuruk
Karena ku dan kaumku
Akan kulanjutkan dzikir mereka
Yang harus terputus
Seandainya saja….
(tribute to Gaza,Palestine)
==Sebuah Sajak Untuk Bunda==
Bunda..
sebuah sajak biru ku tulis kan untukmu
Membaur dengan linang tangis bukan pilu
Nyatakan sebuah rasa tulus tiada tepi
Bunda…
Kau relakan sepenggal nafasmu demi hidupku
Kau sisihkan tangismu untuk tawaku
Dan tak ragu kau jatuhkan peluhmu
Tuk wujudkan bahagia ku
Bunda…
harapku terlelap dalam pangkuanmu
saat kuterjerembab dalam puing kepedihan
Karena di sisimu…kurasa pendar kehangatan
Yang kuyakin tak lekang oleh zaman
Bunda…
Pinta maaf ku tuk setiap butir air mata sucimu
Karena lalaiku
Karena ego liarku
Dalam simpuhku di mana surga bersemayam
Bunda…
Kuyakini kau adalah malaikat Nya
Tuk temaniku yang tersesat dalam sepi
Menjagaku dari kerapuhanku
Dalam cintamu yang tiada henti
Membimbingku menuju cahaya cinta Nya
(Tribute to My Lovely Mother)
==Sepetak Surga==
Berjalan ku dalam dunia tanpa arah
Berjejer bunga-bunga indah
Sangat indah…
Coba ku wujudkan dalam genggam
Namun hati ini meradang dan berdarah
Ku terpana…
Keindahan itu mencengkeram udara membara
Dan sosok-sosok rapuh…
Hanyut dalam buainya….semu
Dusta dan kemunafikan
Bermesraan di lorong-lorong
Serasa terbakar mata ini
Ku tapakkan langkahku
Dan kutemui sepetak surga
Dalam keremangan senja
Di antara duri dunia
Jiwa yang teduh dalam senyum
Menuntunku bersemayam
Berlabuh dalam damai-Nya
Menjelma rasa dihati ku
Dalam sebaris dzikir yang mengalun perlahan
Dan ku tinggalkan hatiku…
Dalam sepetak surga itu…
==Dia==
Dia…
tak cukup ribuan kata
dari jutaan pujangga cinta
merekamnya dalam bait
menyematnya dalam rima..
tinta pun tak kuasa
menjejak indah dirinya
Dia…
sepotong rusuk yang tertinggal
kini lengkapi kisah..jadi satu dalam makna
belahan nafas yang terlepas
merengkuhnya dalam mimpi
DIa…
kisah yang tak terucap
biar kita menyatu
dalam lorong waktu
dalam celah ruang bumi
menjadi semu…
DIa….
Dia…
Dia…
Sentuh hati ini…
==1000.10010.01111.01111.00001.01101.01101.00101.10010==
Kami adalah seniman tak berpena
Menderas baris sajak
Bagi mereka hanya angka
…Bagi mereka hanya aksara
Rima dari simfoni tak nyata
Kami adalah seniman tanpa pahat
Penempa pedang bermata dua
Kamilah integrasi gelap terang
Yin…memeluk Yang…
Kami adalah seniman tanpa kata
Memahami yang tak dipahami
Mengerti yang terbuang
Yang tak pernah mengeluh…dan berpeluh
Kami…seniman dalam maya..
(Sepenggal Aksara..bagi penerjemah 0 dan 1)
==Selongsong Waktu==
Wajah merona itu kini memudar
berpusar dalam senyum hampa
dikeramatkan sang dunia
direngkuh gelap lembab
Dunia tetap menari dalam detaknya
namun langkahku tetap terpaku
dalam hening aku meraja
dalam rerumputan gersang
dalam awal tak berujung
Aku dan bait kisahku
menepi dalam aliran waktu
terbelenggu…kunikmati itu
cahaya benderang tertikam belati tajam
dan kuhanya mampu meratap…
dalam sepiku…dalam selongsong waktu
==Bocah-Bocah Baja==
Menatap dunia muram
seolah taman impian
berlarian di atas bara
menari dengan kegelapan
ya…mereka sang penguasa sejati
Mimpi mereka boleh diterkam zaman
meronta-ronta dalam sanubari
tapi ada mulut yang meratap
ada perut yang berderap
Tiap sudut nestapa
adalah kisah yang terlupa
mereka menertawakan kepedihan
mereka sang pejuang di rimba metal
Ratapan…tangisan
secarik kertas yang mereka lindas
tak cukup ruang untuk sesak
tak cukup waktu tuk menjerat nelangsa
hidup dalam tatapan sinis dunia
ya…mereka tak kan gentar
==Dalam Seutas Mimpi==
Bumi berpusar liar
bergolak tiap harap senyap
manusia-manusia rapuh…meniti buih kusam
……tergerus segala untaian asa
zaman telah berubah…zaman telah menerkam
Kutatap langit tak bergeming
masih kurasa biru itu
masih berpijar bara mimpiku
Kelokan jalan ini..
meredam lentera yang redup
mengikis harapan yang tlah runtuh
Demi raut sang penginjak surgaku
sumpah kutegakan dalam hati
kan kurengkuh harap itu
walau kayuhku patah
walau perahuku patah
(18 Agustus 2010….Dalam Gerbong Komuter…Dalam Jarak Menggapai Mimpi)
==Gaung Lapuk==
Gaung itu masih terdengar olehku
dalam riuh rimba plastik
diantara derak baja membelah dunia
…rentetan dentuman yang menghujam nafas putih
Menelisik sekeping hatiku
tentang darah yang membasuh intan
tentang jiwa-jiwa yang berkobar
tentang keperkasaan sepotong bambu
Masih kurasa gaung itu
terselip dalam raungan kesatria renta
berjingkat di atas menara yang menebas langit
refleksi super ego..para penggerak zaman
terinjak kuda-kuda baja
menggelepar di sudut gelap
kata mereka merdeka…
kata mereka terpenjara…
(18 Agustus 2010-St.Wonokromo….sajak putra merah dan putih)
==Jingga==
Siluet jingga..
menerpa kisi-kisi hatiku yang buram
menelisik sanubari yang meratap
…merngkuhnya dalam hangatnya dekapan
Riak-riak air menjamah lamunku
terperosok jauh dalam bayangmu yang memudar
menyisakan dering kepedihan
Lukamu menggores jiwaku
tiap butiran air matamu
menghujam akalku
mengaburkan anganku
Karena kau sepucuk cinta di hatiku
kau…jinggaku
-Anak-anak pribumui-
Dalam renungan malam pekat
berkisah kami tentang mimpi pribumi
tentang harapan petani lapuk
…meretas arti tangis bayi-bayi khatulistiwa
Sejuta angan dipeluk kabut pucat
akan kelana bintag-bintang pias
atas sebuah serpihan harap
di tangan para penjilat dusta
Ini tentang tana moyangku…kawan
ada bara merah dalam nadi kami
ada selembar jiwa patriot tertanam
terhempas…ditebas roda zaman
Ini bumi kami kawan
Ini tanah yang dibayar darah dan jiwa
akankah kita tetap membisu…
menatap tanah yang kini mulai terbelah…
==Serenada Ujung Waktu==
Dalam bias jingga yang menghitam
sosok renta mengais sisa nafas
meniti jalannya yang kian beku
…cukupkah kisahnya
cukupkah mimpinya
Seleret doa menderas dari bibirnya
mengharap sekeping derma
namun langit telah bergeming
bayangnya t’lah terhenti
tak mampu lagi menatap sorot mentari
Dalam rintihan..tangisnya terurai
asma-asma paling indah dia kumandangkan
namun kilau itu bukan untuknya
indah itu bukan saatnya…
menantinya…di ujung lorong membara
menantinya…saat dia t’lah melebur tulisannya
……..
Tiada kata tersirat
Mengikis lembaran kisah yang senyap
Aku menebas masa-masa bayangan
Ketika kurasakan dingin pagi
Masih meremas punggung telanjang
Itukah kau pemilik kata
Dari pusaran hati kau bertahta
Sang pujangga kehilangan baitnya
Saat surya telah disampingnya
Merasa bulan mendekap erat tubuhnya
Melepaskan semua aksara
Hanya cinta…yang ia rengkuh dalam hasrat
Kutelanjangi anganku
Siapa kah pengunci jawab liar ku
Akankah kutemukan dalam semu hari ini
Imajinasi seolah mengejek galau hati
Meninggalkan selongsong beku
Ya…aku kehilangan bait-baitku