Puisi Kiriman Ibnu Tamima
Sejauh mana ke_maya_an ini akan menghempaskan kita pada palung rindu terdalam?? Ataukah akan terbit matahari baru untuk memulai langkah kita yang terseok namun nyata?? Ku bertanya pada Tuhan tentang mimpi-mimpi yang datang disetiap tengah malamku… inikah refleksitas yang ada?? Bila cahaya itu memudar.. pada genangan luka-luka daku bercermin. Diatas teras beranda sadar, mencoba memaknai arti sebuah liku, yang memperosokkan diri kita pada jurang teramat dalam. Bila ke_maya_an ini akan me_nyata maka nyatalah..nyatakanlah, dengan segala kilas balik yang dikubur rapat, bila ini akan berkesudahan maka sudahlah.. sudahilah, dengan segumpal rasa yang mungkin akan memukul kita bagai palu besi.

menghimpun kembali
bayanganmu
dari desau angin
dan guguran daun-daun
di musim ini, kekasihku
jarak dan waktu
mengkristalkan rindu
pandanganku menjauh
ke garis cakrawala
gerumbulan perdu
dinaung kabut yang meluruh
pada senja
matahari memberi rona
jingga
dan jiwaku
berkata
: ini cinta masih ada
ITs































TITIK WAKTU
dari tiada..
ku jalani cintaMu
dalam kafilah waktu
membangun surga di kakimu
dari puing benggala
dan remuknya asa
pada lukisan pasir yg tersapu jilatan ombak
sesunyi gurun
yang ku tinggalkan
dan jalan setapak berbatu
pada kubah2 mesjid
dan hamparan permadani hijau
membawamu..
membimbingmu..
menemukan titik waktu yang pernah pergi
puisi yg bersahaja ……….sarat dengan makna bijak……………
Ada bau perselingkuhan atas nama Tuhan
Ada bau pembenaran perselingkuhan, dengan mengatasnamakan Tuhan
sangat menyentuh, penuh makna dan pesan