Hari yang berlalu, memberimu kesempatan,
Dan kejutan tentunya…
Please, tak usah munafik atau bergaya seperti gayamu yang kau usung selama ini….
Coba kutebak :
Kamu termenung, tercekat,
dan teringat kenangan
lalu harap yang pernah ada.
Harap yang kau lepaskan dengan manis, tanpa penyesalan ataupun keinginan untuk memperjuangkannya.
Tokh, aku atau dia sama saja.
Seseorang yang diutus Tuhan untuk menemani harimu dan menjadikannya utuh.
Aku tak perlu harus aku di jalanmu.
Coba kupahami walau ternyata…
Ternyata… aku terlanjur punya mimpi.
Sekali saja di hidupku, jadi putri…
Yang berdiri di menara tinggi …
Dikawal naga api, menanti sang pangeran pujaan hati datang dan menghampiri.
Berjuang demi aku…
Berkorban demi cintaku…
Dan kamu malah meninggalkanku terpuruk sendiri,
Menunggu menanti…
Tanpa pernah melihatmu kembali lagi…
Akh, padahal aku telah memberimu banyak waktu…
Banyak kesempatan…
Yang kau sia-siakan….
Inraini Fitria Syah April 10 at 12:09pm
meminang cinta musim berlalu
hanya andai saja, masa’ tak boleh….
berharap mungkin kejatuhan pinang emas yang bisa kugadai dengan sisa cintamu yang tak jelas. Merambat di sela tanaman hutan yang tumbuh menutupi bekas-bekas namaku yang kau ukir dengan tinta biru jingga di tepian karang pantai padang. Banyak ilalang! Ya, penuh kutukan dewa dewi yang kusuguhkan teh wangi melati yang kupetik telah lama sekali. Baunya tak enak di hati. Rasanya tak nyaman dihayati. Tapi masa’ berandaipun tak boleh….
Aku Ingin Menjadi Perawanmu Dalam Hikayat Seribu Satu Malam
IinSyah
kau hanya tersenyum samar lalu menggiring senyum tawar itu
ke arah Matahari tenggelam
senja semakin dalam
aku terdiam
Berkecamuk tanya tentang perjalanan tak sudah,
Tadi pagi yang gelisah…
Menggantikan gemulai tarian subuh hingga ke singgasana yang rapuh
Intipmu membuatku lusuh dan merayap mencari kisah mana yang sudi kuperdengarkan lagi padamu
Ada harap aku inginmu
Di penantian pagi yang membunuh.
Aku ingin menjadi pengantinmu di kutub utara
Lalupun melempar pandangmu sejauh awan
dan membekukan uap air menjadi salju di kaki langit
Langit tenggelam
Tersudut dingin aku terhempas
Dalam
Menikam parau dan mati rasa
Mati hati
Puas mengengggam biru di telapak
Puas menegak galau kehampaan
Puas membidik titik di sudut mata rasa
Kau…
Ada pinta aku pujamu
Di putaran badai menggulung desau
Aku ingin menjadi ratumu dalam perjalanan menjemput purnama di Alkautsar
Kau beranjak ke tepian karang dan menggenggam surau-surau hatiku yang meluruh
runtuh…
Seperti hendak kau buang utuh ke tengah gulungan buih putih benyanyi
Laut meradang
Aku tenggelam….
Di perang penghantaran jiwa dan akal sehatku
Bergumul antara janji dan ratapku
Meredam gusar dan akhir waktuku…
Aku ingin menjadi Surgamu yang satu dan keseribu
Separuh waktu terdiam dalam tiada apa-apa…,
Tapi lalu benarkah…,
Perlahan,
Kau mengeja terang,
mengikat senja ke bulan
merajut sinar bintang-bintang
Agar malam berbenang jingga dan silau,
Aku terdiam…
“Aku ingin menjadi hikayatmu seumur hidupku”… bisikmu…
Senja terbenam di pelukan…
Potongan Sajak Sederhana
dari Pohon Kamboja yang Berbunga Rindu dari Dahannya
yang Patah, Layu, dan Akhirnya Jatuh ke Tanah di Tepi Kubur Rinduku
bertemu kau di waktu yang tak tentu
terkurung ruang dan dengung pesawat terbang
kupandangi kamu dengan pandangku yang rindu
Sumpah, aku rindu
telah lima tahun kita tak bertemu
mana tatapmu yang jenaka dulu
candamu yang menyebalkan itu
tampangmu yang membosankan saat dulu
ungu hatiku menatapmu
menatap kisah tak tentu dari lakon berdebu
bersua degup yang semu,
aku rindu
kenapa kini baru kita bertemu
padahal puluhan musim telah berlalu
kau dan aku hanya diam membisu
aku memilin ujung bajuku
menunggu kau menyapaku mengajakku berternak ragu
hingga semua gaunku berubah jadi buluh perindu
tak jua kau memanggilku untuk meragu bersamamu
sedang dirimu menghabiskan waktu dengan menghitung jemu
hingga penuh utuh seluruh keluhmu tak sekalipun kusentuh
puh!
dua langkah di depanku
serangkul di sampingku
menjinjing tas berat yang kusangkutkan di bahumu
dan menggandeng lengan bocahku yang mendengus aneh melihat rupamu
aku tersenyum dan tertawa kecil menengok adamu
rinduku menunggu seratus tahun ke depan luruh
di pintu pembatas sapamu dan pergiku
cukup sampai di situ
aku berlalu
menerbangkan asaku serupa awan kelabu
menebar benih kamboja yang tumbuh juga satu-satu
mengubur rinduku di hijaunya rasaku yang telah berabu
menunggu jika nanti kita bertemu
aku menjadi bunga kamboja yang layu
dan kamu memungutiku di samping makam rinduku
tak apa
telah puas sendu aku menatapmu
dalam rindu yang tak kunjung sembuh
hari itu sampai satu abad penuh
selalu….
Episode Berlalu
Hari yang berlalu, memberimu kesempatan,
Dan kejutan tentunya…
Please, tak usah munafik atau bergaya seperti gayamu yang kau usung selama ini….
Coba kutebak :
Kamu termenung, tercekat,
dan teringat kenangan
lalu harap yang pernah ada.
Harap yang kau lepaskan dengan manis, tanpa penyesalan ataupun keinginan untuk memperjuangkannya.
Tokh, aku atau dia sama saja.
Seseorang yang diutus Tuhan untuk menemani harimu dan menjadikannya utuh.
Aku tak perlu harus aku di jalanmu.
Coba kupahami walau ternyata…
Ternyata… aku terlanjur punya mimpi.
Sekali saja di hidupku, jadi putri…
Yang berdiri di menara tinggi …
Dikawal naga api, menanti sang pangeran pujaan hati datang dan menghampiri.
Berjuang demi aku…
Berkorban demi cintaku…
Dan kamu malah meninggalkanku terpuruk sendiri,
Menunggu menanti…
Tanpa pernah melihatmu kembali lagi…
Akh, padahal aku telah memberimu banyak waktu…
Banyak kesempatan…
Yang kau sia-siakan….
Inraini Fitria Syah April 10 at 12:09pm
meminang cinta musim berlalu
hanya andai saja, masa’ tak boleh….
berharap mungkin kejatuhan pinang emas yang bisa kugadai dengan sisa cintamu yang tak jelas. Merambat di sela tanaman hutan yang tumbuh menutupi bekas-bekas namaku yang kau ukir dengan tinta biru jingga di tepian karang pantai padang. Banyak ilalang! Ya, penuh kutukan dewa dewi yang kusuguhkan teh wangi melati yang kupetik telah lama sekali. Baunya tak enak di hati. Rasanya tak nyaman dihayati. Tapi masa’ berandaipun tak boleh….
Aku Ingin Menjadi Perawanmu Dalam Hikayat Seribu Satu Malam
IinSyah
kau hanya tersenyum samar lalu menggiring senyum tawar itu
ke arah Matahari tenggelam
senja semakin dalam
aku terdiam
Berkecamuk tanya tentang perjalanan tak sudah,
Tadi pagi yang gelisah…
Menggantikan gemulai tarian subuh hingga ke singgasana yang rapuh
Intipmu membuatku lusuh dan merayap mencari kisah mana yang sudi kuperdengarkan lagi padamu
Ada harap aku inginmu
Di penantian pagi yang membunuh.
Aku ingin menjadi pengantinmu di kutub utara
Lalupun melempar pandangmu sejauh awan
dan membekukan uap air menjadi salju di kaki langit
Langit tenggelam
Tersudut dingin aku terhempas
Dalam
Menikam parau dan mati rasa
Mati hati
Puas mengengggam biru di telapak
Puas menegak galau kehampaan
Puas membidik titik di sudut mata rasa
Kau…
Ada pinta aku pujamu
Di putaran badai menggulung desau
Aku ingin menjadi ratumu dalam perjalanan menjemput purnama di Alkautsar
Kau beranjak ke tepian karang dan menggenggam surau-surau hatiku yang meluruh
runtuh…
Seperti hendak kau buang utuh ke tengah gulungan buih putih benyanyi
Laut meradang
Aku tenggelam….
Di perang penghantaran jiwa dan akal sehatku
Bergumul antara janji dan ratapku
Meredam gusar dan akhir waktuku…
Aku ingin menjadi Surgamu yang satu dan keseribu
Separuh waktu terdiam dalam tiada apa-apa…,
Tapi lalu benarkah…,
Perlahan,
Kau mengeja terang,
mengikat senja ke bulan
merajut sinar bintang-bintang
Agar malam berbenang jingga dan silau,
Aku terdiam…
“Aku ingin menjadi hikayatmu seumur hidupku”… bisikmu…
Senja terbenam di pelukan…
Potongan Sajak Sederhana
dari Pohon Kamboja yang Berbunga Rindu dari Dahannya
yang Patah, Layu, dan Akhirnya Jatuh ke Tanah di Tepi Kubur Rinduku
bertemu kau di waktu yang tak tentu
terkurung ruang dan dengung pesawat terbang
kupandangi kamu dengan pandangku yang rindu
Sumpah, aku rindu
telah lima tahun kita tak bertemu
mana tatapmu yang jenaka dulu
candamu yang menyebalkan itu
tampangmu yang membosankan saat dulu
ungu hatiku menatapmu
menatap kisah tak tentu dari lakon berdebu
bersua degup yang semu,
aku rindu
kenapa kini baru kita bertemu
padahal puluhan musim telah berlalu
kau dan aku hanya diam membisu
aku memilin ujung bajuku
menunggu kau menyapaku mengajakku berternak ragu
hingga semua gaunku berubah jadi buluh perindu
tak jua kau memanggilku untuk meragu bersamamu
sedang dirimu menghabiskan waktu dengan menghitung jemu
hingga penuh utuh seluruh keluhmu tak sekalipun kusentuh
puh!
dua langkah di depanku
serangkul di sampingku
menjinjing tas berat yang kusangkutkan di bahumu
dan menggandeng lengan bocahku yang mendengus aneh melihat rupamu
aku tersenyum dan tertawa kecil menengok adamu
rinduku menunggu seratus tahun ke depan luruh
di pintu pembatas sapamu dan pergiku
cukup sampai di situ
aku berlalu
menerbangkan asaku serupa awan kelabu
menebar benih kamboja yang tumbuh juga satu-satu
mengubur rinduku di hijaunya rasaku yang telah berabu
menunggu jika nanti kita bertemu
aku menjadi bunga kamboja yang layu
dan kamu memungutiku di samping makam rinduku
tak apa
telah puas sendu aku menatapmu
dalam rindu yang tak kunjung sembuh
hari itu sampai satu abad penuh
selalu….
uhuuu….sendu nian…..
Rin, tampilan baru blognya keren!