
BEGINILAH CINTA [KUMPULAN PUISI KIGAMBUH]
Untukmu kupinang….
Bila saja boleh kuwakili sgala
Duka nestapa
Nyeri duri
Nganga luka
Cukup aku saja
Aku tidak cinta sekedar
Aku tidak rindu sejengkal
Aku tidak rayu menggombal
Cukuplah senyumku gemetar tanda
Beginilah cinta
Tanpa muka marah memb…uncah
Tanpa netra membrutal
Tanpa airmata mengumbar
Maka cukup aku kemesraan
Beginilah cinta
Binar binar menyinar
Dendang dendang melalanglang
Maka cukup aku memancar
Beginilah cinta
Kekasih tanpa gusar
Kekasih tanpa hambar
Kekasih lembut sabda
Kekasih…































Kamaratih datanglah aku akan menyerah
Disetiap lembar daun ,sinar bulan turun
tonggoret bunyikan isyarat yang panjang mengalun
di datar tinggi dan dingin penuh embun
andai- andaiku membelai ayu kekasih lukisan
di halaman berbunga bunga
coba lari menembus malam yang mengepung bisu
tawanan tak sempat lagi berdoa
hanya mendamba surya ,dikamar sempit bisu
kau datang…………………juga kamaratih
dengan degup jantung rindu
dengan sekaranjang harap
dengan ronce bunga wangi
kau datang juga……………… kamaratih
bertahun tahun beku kau…….
NERAKA SAMAR
karang karang di otaku
gunung gunung di hatiku
liar meliar menjajah bening rasa
cemari langit biru kesejatian
dan kalian tampar aku
dan kalian guyur aku
disaat lelap tidurku
dari mimpi mimpi surga
”dan kalian kenalkan api disaat bangun siangku”
”aaaaah…ah ternyata aku ada di neraka”
lalu kalian kirimkan suara langit
dan kalian turunkan hujan
gerimis……………..
mengiris……………
”aku tunggu kalian melukis pelangi”
aku liat kalian mengulurkan tangan
mencoba meraihku dari lobang yang menyala-nyala
mengapa berontaku selalu ganggu
”meski dalam lobang ku coba merangkak naik”
lalu kalian bisikan
dengan penuh mantap sebuah rahasia
”neraka ada dalam surga”
”surga ada dalam neraka”
[teater sanggar gambuh]
DEBUR RINDU
Debur rindu
Menderu biru
Ombak hampar menghampiri
Gelombang angan inginkan hadir
Meliuk liuk belai membelai
Debur rindu
Jangan beranjak dari hari hari
Bersemayamlah pada lingkar setia
Menginaplah pada ruang cengkerama
Bercokolah dikayuh waktu
Debur rindu
Ku lukis wajah pada luas samudra
Pada daun daun pada mega mega
Pada setiap..dan setiap
Debur rindu
Memaku hayu asmara
Merenda makna kenangan
Memutar indah masa
Mengusung kata pujangga
Memasung dendam, merobek emosi
Debur rindu
Temani aku merindu…
TAK HARUS KU TANGISI LAGI
seperti mimpi yang semula tak pernah kuangankan
mengalir saja dalam perhelatan laga hidup
menyusuri lorong setiap.yang terkadang tanpa rambu
pun aku masih pada sembah langkah ,yang walau belum sempurna
waktu yang semula merindu,kini terbalut kemelut
tawa yang semula mengunduh hasrat
lentik yang berangkat membawa serta penat
lembar lembar itu b e r a i kini
ini adalah sabana keringku
kemarau membakar hijau warna rindu
bara marah sumpah menyumpah tumpah
bumi pun gempa, menganga tanya
menangisku tak ada arti lagi
menghibaku tak mungkin lagi
pintaku tak mungki lagi
suarakupun parau tak bernyawa
selembar hari gundahku
pada malam tanpa mimpi
pada ruang ruang dimana berbincang
pada jenuh saat keluh
tapi sungguh…………………..
masih ada pagi yang menunggu
masih ada udara yang membelai hela
sungguh dan penuh
ku kakatan pada diriku
g e n g g a m l a h
akhir dari sebuah jalan adalah awal jalan yang baru
m e m b u m i l a h
g a m b u h
pada mesra jagad raya
pada kehidupan yang hidup
pada kedahsyatan cinta
pada kidung kudangan cita
B E R S E R A K
Menggelincir kocar kacir mengocar acir
Mulut menganga mengumbar sgala tanpa makna
Terbahak bahak meledak,menggelembung dada angkuh
Pikir kau sembah sembah merintang bentang menantang
Meracuni pepudyan cengkerama mesra
Menyayat rindu menggebu.
Membunuh kebenaran tak segan segan
Memborgol tangan tangan kemesraan
Meluluh lantahkan jembar pemahaman
Enyah saja…!!!
Biarlah alir alurku..
Biarlah darah semangat melaju
Biarlah …!!!
Jangan kebiri langkah
Atau…..
Terpaksa aku meludah serapah..,.?
T E R P A S U N G
teriakanku takkan kau dengar
dalam ingaun panjang mimpi-hambar
mata nanar yang semula binar sinar
tertutup redup kelam ……..belukar
terpasung lingngung
terkungkung dalam bumbung
lengkung ,cembung ,melengkung
mengapung terapung diatas cita yang urung
duh…………………………………………
serpihan tulang tulang kuatku
rontok pada seonggok lamunan belaka
hancur-lebur tak terkubur
cerai berai …..pada letupan sumpah
ini hari tak menikahi ikrar
ini waktu tak bersipadu dengan ruhku
warna rindu enyah dari dada
aku dimana………???
berlari dalam lingkaran qeos
atukah ini mati ………….??
dimana wahai …………..??
terikanlah ditelinga tuliku…!!!!
angin….. tiup aku……semilir
air…….. sirami aku,…dingin
api…….. bakarlah aku..panas
bumi…… jejakan aku….sadar
Duhai… kalimat kalimat indah…
meluncurkan kagum atasnya..
terima kasih Ki !
IDENTIFIKASI ZAMAN
Polah pongah tingkah- meningkah
bak dasamuka membelah- belah serapah
centang perentang gumul- bergumul kata
tindih- menindih megumbar serakah
wajah Tuhan memburam di kalut peradaban
kilah dalih berdalih orasi pembelaan.. [aku]
menggelegar hingar bingar mabuk keunggulan.. [aku]
mengkristal keringat demi pembenaran ..[aku]
para pertapa kehilangan teduh ruang
angkasa hitam menangisi kibirmu
kesabaran bumi tak lagi kita sadari
sepoi belai angin tak lagi kita peduli
identifikasi zaman
kebenaran tercekik kepentingan
jahiliyah lembut selembut sutra mempesona
wajah molek seronok menemu tenar
paha paha mulus meraup dolar
identifikasi zaman
kesalehan tersungkur disingkirkan
bringas culas menumpas,sirri sari mutiara fatwa
warna warna pelangi tak termaknai
kuda tunggangan,menunggangi
Keterpurukan zaman…
menyungkur menyerah pada keadaan.. hilangkan rasa !…
Puisi2 ki gambuh kok ngungsi ng kene?
Karna Tuhan ada dalam kesakitan
Bisik itu lirih ku dengar
Pergilah pada si miskin pemakan getir
Tengoklah si sakit yang merintih ngilu
Datanglah pada si haus dahaga air
Belailah dengan tangan lembut sebenar tangan
Lihatlah dengan penuh cinta dengan sebenar mata
Duduklah penuh degup hingga hanyut
Gerayanglah dengan jernih akal sebenar akal
Lalu…
Singgasana sesungguhnya ada didalamnya
Cahaya sebenar cahaya ada didalamnya
Bukan rekareka tapi wujud
Bukan sekedar hadir tapi sebenar kehadiran
Kerna Tuhan ada didoa,teriring lengking kesakitan
Mata bukan sebenar mata
Redam ku redam agar tak mengumbar liar
Badai menggemuruh mendesak desak dada
Mengepal tegang bara
Picing matamu meletihkan pena
Mata yang belum sebenar mata
Merobek lembar jalan harap berjabat
Tanganmu belum sebenar tangan
Ku redam hingga padam
Pada tangan kasih tanpa pilih masih rela
Masih ada mata teduh yang membunuh brutalku
Masih ada senyum ikhlas yang meruntuhkan amarah
Kucongkel prasangka dari akarnya
Ku tiup kelangit,agar hanya bintang kupandang
Beninglah,hancurkan keruh air,agarku berkaca
TAK BERGEMING
Merinding tak geming
Nur menyelimuti gigil bugil
gagap kalimat dalam eja malam
Tekuk tengkuk bungkuk,meringkuk,tiada daya
Menyala jagad jiwa,tak kuasa prasangka
Ini negri malakut hanyut melarut
Pikir mengalir mengikuti dzikir
Selebihnya tak sanggup kukata
Bintang gemintang selaras rasa
Geletar merambat dahsyat
Tubuhku melayang ringan layaknya kapas
Terhempas
aku duduk diawan putih,cengkerama bintang
Hanya cahaya.ya hanya cahaya
Bibir pucat pasi tak menyela
kagum ngungun menetes basah
G e m e t a r
Tiba tiba merindu wajah ayumu
Ingin kutulis sederhana menjadi syair wajah sederhanamu
Bibirmu menguntai bait bait
Cumlorot sorot netra anggunkan kata
Biar kupaku dipuisi rinduku
Gairahkanku membaca lagi dan lagi
Jangan pergi,dekap lumat merasuklah dalam kalimat
Rambut berderaimu jadikan ranting aksara aksara
Semikan hijau daun moleknya dengan senyum gemasmu
Ranumkan buah maknanya dengan tutur ramahmu
Ku peluk ayumu jangan ragu
Menginap dikecup kuncup hingga rekah
Rekat lekat jemari didesir tinta pena
Ayuku..cairkan,lahirkan kosa kata penuh cinta
Ayu…sederhanakan rindu,seperti sederhanamu
Perawankan selalu asmara kita
Siapa yang memerankan aku
Andai memang sebuah takdir peran tak lagi bisa dipilih
Apa yang kau lakukan?
Andai takdir peran memang bisa dipilih?
Keingina apa yang di inginmu?
Perdebatan clasic yang tak usai dilaga kehidupan
Gerutu untuk kau yang bergolak pada pilihan
Diam untuk kau yang takut,bingung dihinggapi salah mendifinisi
Ngambang,bimbang,tak hendak bagaimana
Damai untuk kau yang faham memahami
”narimo ing pandum”
”menerima bagain peran”
Kalimat sederhana,namun bukan sesederhana itu
Memilih jalan adalah tugas akal
Dan kau selalu saja bertanya
kenapa aku harus begini
Kenapa aku harus berperan ini
Sedang aku memilih itu
Sedang aku menginginkan ini
”wahai dengar”
Bukan aku, yang membrondong usulan, pertanyaan,tapi kau!
”mana keadilanmu?
”wahai..!
Afala ta’qilun?
Apa kau tak berakal?
MENUJU TELAGA
Dimana telaga itu?
Tolong antarkan aku
Tlah lama kumengayuh bersimbah peluh
Mencari arti mendaki mimpi
Meretas kehidupan menggauli hari
Namun kemana?
Tak kutemukan jua telaga segar berair wangi
Padahal malam tlah utuh dan kualiri
Ah…
Aku harap akan ada hari untuk menggenapi hati yang sunyi
Redup malam sayup harapan
Ke mana harus kutitipkan?
Peganglah tanganku agar hadir tak lagi sepi
Agar tegap kulangkahkan kaki
Untuk telaga segar yang aku cari…
LINGKAR LIAR (PUISI KI GAMBUH R BASEDO)
Berputar di lingkar liar pikir membelukar
Menggelinding bersama tanya berkobar kobar
Acapkali kupergoki sosok berbaju tuhan
Bahkan memperkosa tekad perawan
Kemana
Setelah kutinggalkan timur, mestikah gambuh
Atau hanya terpana qeos menggemuruh
kemana
setelah memburu hantuhantu samar
surga?suuur?gaaaaa? lalu lega? bukan!
Neraka tak pernah mampir diangan
Lingkar liar
Bagiku setiap warniwarna adalah tuhan
pantaskah mencaci,mencibir mengerdilkan
Tuhan tak menghapus sejarah
Ini jawabanku ketika DEBAT JARAN dengan gerombolan BETHARI RANDEDUGA, DURSURYANA DAN SENGKUINI
Bersama Wadyabalanya
Siang diremang pikiran yang jumpalitan
Bethari randedugo,merayu bethara girumumet
Tentang ambisinya merubah negari
Mengemukakan pendapatnya berapi api
Argumen nggladrah menggiring garang pedang pembodohan
Kupikir kehadiranku akan mendapatkan tambahan ilmu jebul mung padu
Dengan mulut penuh iler banger,dursuryana berkata,mentengkelek
SEMUA YANG USANG USANG JANGAN BUDAYAKAN
Dipojok ruang aku tersenyum
Wo alah sursur lha wong mbiyen mbokmu kuwi jaritan yo pantes,opo nek jaman berubah mbokmu mbok ganti rok mini
Lha wong Tuhan saja tak menghapus kisah
Pembaharu?
Hahahaha,pembaharu kok ugal ugalan kaya ra nduwe dur
Mau dibawa kemana anakanak bangsa ini
Heran!
Sudah tak bisa membuat warisan sejarah, malah yang diwariskan diungkrah ungkrah ra genah
Ah cukup! Tak perlu ku lanjut, ikutikut pikiran pengecut mundak kebacut,pungkasane mung ngetut buntut gak ngerti juntrut
Kukecup atasnama cinta
oleh Ki Gambuh R Basedo
Duduklah sahabat disini
Ditempat dimana yang hanya kauaku tahu
Ceritakan padaku muasal petir yang menyambar dadamu
Tentang amarah yang mendesak untuk menggasak
Lihatlah surya saat ndadari sebenarnya,cermati sejatinya
Tegakkan kaki di pertiwi penuh kesungguhan, luas tak menyudutkan
Tidak sahabat jangan ikut terbakar kasakkusuk
Muntahkan saja,biar membanjir ditangis kehambaan
Matahari tak ingkar janji
Pertiwi tak pilih kasih
Dudukan masalahmu disini saja
Jika kauaku
dihapus diusir karena dianggap mengotori
Dipagar villakeangkuhanya,hingga dindingnyapun diharamkan kausentuh
Jika mereka mengeklusifkan nama,bahkan menahtakanya
Tahukah kau sahabat
Sidratilmuntaha tak menghapus namanama
Percayalah padaku
Usah kau kotori rumahmewah nurani
Api tak mati oleh api
Padamu kukecup lembut
Kurangkul tuju
Ya fatah iftahna futuhal arifin
Jangan kunci pintu rumahmu seperti mereka
Sebab AKU hadir bersama yang terhina dan teraniaya
CANTIK SANG BULAN SUCI [ CLOTER PERTAMA]
oleh Ki Gambuh R Basedo
Tak hanya basabasi lambai ayumu
Tanganmu menarilk lembut menggandeng
Ruang riang pemandian banyu ampuni
Basah basuh kembang kembang rahmati
Pada busuk nafasku yang mengkristal bertahun kerna selingkuh khofi
pada dinding tertempeli arogansi akuku serupa berhala
pada bilik bilik kamar rahasia anak anak iblisku
kau rekahi senyum rahmani tenggelam hingga
Rengkuhmu merangkul tunjuki
Api tak lagi mengapi
Borok borok bobroku tertambal kini
Nafsu, nurani kembali menginstal ikrar sejati
Sajak R e t a k (ki Gambuh R Basedo)
oleh Ki Gambuh R Basedo
Kalimat melompat lompat
Berserakan,tanpa teracik tepat
simpangsiur ngluyur tak sesuai tempat
Jumpalitan tak bersipadu tabiat
Puisi retak
Tak sekompak musik tabuh katak
Hambar terumbar makna rusak
Katakata menjerit terperkosa diwatak
layu luyu tergeletak
Puisi retak
pecahpecah pudar indah
runtut mengkabut lindap cerah
Bolongbolong ronce bengkah
Reyot otot,ringkih tindih menindih,hanya sekeder bongkah
Puisi diatas puisi
oleh Ki Gambuh R Basedo
Netramu membuka kerlip,tebar kosa kata
Asmaradahana muasal saling meraba
Diam bukan bisu, hanya debar menahkoda
Kobaran yang entah apa namanya
Dari helaihelai rambutmu kujumputi aksara
Bibir kembang manja menguntai kata
Elusmu melentik,memetik dawai syahdu
Lenyap segala, tak ada yang selain ini
Ah tak sanggup lagi kuracik kata
Sebab wajahmu puisi
sudah……………
tumpah disetiap molek
Nimas anjasmara
Namun harus terlepas sejenak dekap surgawi
Lihatlah laga menantang gigihku
Tunggu kepulanganku,bersama mahkota di kepala
Sarisari sirri
oleh Ki Gambuh R Basedo
Bukan, aku tak sedang terecoki warnawarni
sungguh kucoba fahami setiap corak watak
disetiap adalah untaian pesona
j e l i t a
bukan,aku tak sedang memanah jantung
nikmat ini setelah berjejal jejal kesal
derita ini kala lupa pemberian
sepi ini,saat merasa sendiri
Surat bukan sekedar aksara
Manis tak hanya gula
Asin tak mesti garam
Panas tak harus membakar
Pada surat ku minum yang tersirat
layaknya kolibri hisap sarisari
PROTES PUISI
oleh Ki Gambuh R Basedo
”aku puisi”
kepada ki Gambuh R Basedo
Kepadamu kuperingatkan
Berapa kali kau sayat luka tubuhku
Berapa kali kau ludah serapah wajahku
Berapakali kau jadikan aku ranjang birahi
Bahkan mungkin tak pantas kutanya berapa,karena sudah acapkali
Kau gelar lalu umbar
Kau cumbui lalu hambar
Kau tempeli aku asesoris curhat picisan semata
Kau jamah tanpa ramah
Kepadamu jujur kupamerkan
Lihatlah
Chairil Anwar
Ws Rendra
KH Mustofa Bisri
Sinar Timur Suprabana
Dan….
Tuhan Tuhanku yang lain
Mereka menciptaku tak siasia
Leherku dihias kalung
Tangan bergelang
Jarijemariku bercincin
bahkan mahkota dikepalaku
Kepadamu bolehkah kubisikkan
Tuhanku menahan nafas,lalu ruh ditiupkan
Wening menep madep
Jika dewi cantik menarik pasti
Jika dewa berbaju wibawa
Jika kesatria kekar tekad,langkah gagah
Jika asmara bungacinta tak hanya dahana
Tetes titis mentes
Abadi tak peduli cuaca
”wahai puisi,mestikah kuborgol tangan gusar ini?
”Atau aku tak layak lagi menyentuhmu?
Kepada ki Gambui R Basedo
Tidak! Bukan!
Berkacalah kau
Walau tidak harus menjadi mereka
Setidaknya kau titipermati teliti
Jangan kuburkanku dijahanam sastra
Hingga gosong tak kentara
Jangan kau sekedar cipta tubuh
tanpa ruh
Lantas Bangkai busuk sastra
Renungkan!
Tatahati!
Falsafah sekar macapat
oleh Ki Gambuh R Basedo
1.MASKUMAMBANG
dari kalimat emas dan kumambang(terapung)
Sebuah gambaran ketika manusia dalam perut
2.MIJIL
lahirlah kita diatas muka bumi ini
3.SINOM
Asal kata dari enom(muda,remaja)
4.ASMARADHANA
Dari kata asmara dan dahana,wajar saat remaja mengalami kasmaran muda mudi,dahana dimaksud adalah api,artinya api asmara
5.DANDHANGULO
Gula,atau gendis, bersifat manis,jadi kalau manusia sedang kasmaran,tak ada yang tidak manis
6.GAMBUH
Gambuhlah,ketemulah,menyatulah kita dalam kebersamaan lazim disebut pernikahan
7. DURMA
dalam sebuah kebersamaan,pastilah akan ada riak riak gelombang,UDUR(Beda pendapat,pertengkaran pertengkaran kecil yang bersifat membangkitkan keharmonisan kembali
8.PANGKUR
Dari kata mungkur(berpaling dari sifat keduniawiaan(zuhud)
9.MEGATRUH
proses melangkah pada kehidupan selanjutnya adalah kematian, megat(pisah)
Dipisahkanya antara raga dan ruh
10.PUCUNG
Pucung,atau pocong,dikafani dan masuklah kedalam kubur
11.KINANTHI
Kekanten,dengan membawa apa yang telah dilakukan didunia,selama hidup
(Kutulis sederhana sekali, agar gampang di fahami)
HU… HU….ku, BUKAN HAIKU! PAKEM JAWA SASTRA/BUDAYA INDONESIA ASLI ”DALAM SEKAR GAMBUH MACAPAT
oleh Ki Gambuh R Basedo
begitu banyak digemari sajak atau kau sebut puisi haiku dari jepang saat ini
Tapi secara pribadi saya melihatnya biasa biasa saja
Justru menjadi luar biasa dan heran tercengang,ketika sastra dan budaya indonesia dilupakan
Taukah kalian,ketika bangsa ini masih berupa kerajaan kerajaan ,sastra dan budaya indonesia sudah merekah,lebih lebih dipulau jawa
Salah satu bukti adalah ”Sekar macapat”
Mijil
Asmarandhana
Kinanthi
Dandang gula
Sinom
Pangkur
Pucung
Gambuh
Megatruh
Semuanya menggunakan rumus hitungan matematika/ilmu pasti
Guru lagu
Guru wilangan
Guru gatra
Jadi makanya ketika Haiku muncul dan banyak dipelajari,membuatku tersenyum biasa biasa saja.karena sebelum Haiku jepang muncul
Dijawa ratusan tahun yang lalu sudah ada, sastra/budaya yang melebihinya,baik estetika,makna,kaidah/pakem,sampai hitungan matematikanya hanya saja generasinya putus kini
Sedikit ingin ku suguhkan rumus jawa yang mungkin mirip dengan Haiku dalam sekar gambuh
Sekar gambuh dalam pakem aslinya harus terdiri dari
5 kalimat dengan ketentuan
8u
10u
12i
8u
8a
Delapan,sepuluh,duabelas, dimaksud adalah suku kata ,sedang u dan i adalah hurup akhir atau jatuhnya suara akhir dalam kalimat
Contoh
SEKAR GAMBUH
Bapak tani kabeh iku
Saben dino sregep anenandur
Lombok terong brambang kacang pohong pari
Telo kentang datan kantun
Kabeh kanggo uriping wong
(Ini hanya sebagai pedoman saja, juga bisa dibikin syair dalam bhs indonesia sesuai dengan pedoman yang saya suguhkan,
Begitu pula rumus sekar sekar yang lain ada dalam aturan/pakem yang sudah ditetapkan pasti
Kenapa kita lupa bahwa INDONESIA KAYA BUDAYA,YANG BISA DIANGKAT,SEMENTARA TERHERAN HERAN SESUATU YANG KAU ANGGAP BARU?
MARI KITA GALI DULU MILIK KITA,TUNJUKAN BAHWA BANGSA INI PUNYA SASTRA DAN BUDAYA YANG ADILUHUNG
Sayang generasi terputus
TULISAN INI DIMAKSUD UNTUK MENGINGATKAN KEMBALI PADA KITA
Agar kita tak mudah ”terjajah”
Bahkan bangsa kita ini terkesan ”MISKIN SASTRA DAN BUDAYA”
Mulai dari diri kita masing masing,untuk menyelamatkan melestarikanya.
”OJO GUMUNAN”
Lalu terjebak!
DEWI WAKTU
oleh Ki Gambuh R Basedo
Dewi waktu
Detak detak,detik mengecup
Debar debar,debur rindu mencumbu
Getar gemetar,geletar menjalar
Dewi waktu
Rengkuh merengkuh
Kuhitung setiap kedipan masa
Kutabur sedusedu dijagat rasa
Dewi waktu
Jalinan jemarimu
Bawaku terbang melangit
Cintaku masih berkelamin
oleh Ki Gambuh R Basedo
Mancung hidung
Lesung pipit
Bibir sensual
Mata teduh
Karena ini aku tergiur padamu
Ini cinta?
Kulit mulus
Jemari halus
Senyum merekah
Pipi memerah
Karena ini aku terperangah
Ini cinta?
Dekap hangat
Rengek manja
Cium harum
Desah gelinjang
Karena ini aku terpana
Ini cinta?
juga
Kabar indah surga
Istri ribuan bidadari
Telaga madu mengalir
Nikmat abadi
Karena ini lalu kusembah
Ini cinta?
Jahanam mengancam
Bubur timah panas di minumkan
Dibungkus salju hingga beku
Dicincang cincang lalu dibakar
Karena ini aku takut lalu sujud
Ini cinta?
Ah cintaku masih berkelamin
Bahkan hanya birahi belaka
Cintaku belum cinta,bahkan bukan cinta
Sungguh!bukan ini
PENA BIDADARI
oleh Ki Gambuh R Basedo
Dingin selimuti malam
Garang udara membacok tulang
Derit pintu diperkosa angin
Garing digoreng kehampaan
Tiba tiba datang bidadari menjelma pena
Tersenyum manis,lalu mengusap kepala
Sudahlah kawan,jamahlah aku
Relaku tubuh ini untuk kau peluk hingga hangat memuncrat kata
Malu,jemari belum terbasuh air bening
Dingin kutantang sesaat,demi pergumulan indah
Basuh sluruh agar keruh runtuh
Dekati bidadari pena yang setia menanti
Genggam lembut ,kecup mesra
Gelarlah permadani putih,lalu cumbui diatasnya
Dada berdegup serasa terbang ke angkasa mendengar ajaknya
Ayolah gerakkan aku dengan desahan panjang biar menetes Titis cinta
Aaaah…… aku makin kaku bisu
kau tahu?
tanpa kau buka,tak akan ada gairah, bukalah!
Mencairlah seketika
Mengalir desir tak sanggup bendung hujan ronce kalimat
Aku cantik jika isi kepalamu tak garing
Aku bermakna jika isi dadamu mesra sungguh
Aku halus mulus jika jemarimu kau sucikan
Aku bening jika mendekapku dalam hening
Taburi saja ia dengan pundipundi cinta
oleh Ki Gambuh R Basedo
Apa kau bilang
Haruskah ide ide puisi lahir dari menggila
Menyusuri jalanjalan tanpa tuan
Membumbung imagi tak tertali
Minum anggur memabukan
Apa kau bilang
Lahirnya karya selalukah dari uapuap tolol
Menari jemari mesti dibarengi keterpurukan
Lalu menetes kalimat cengeng bak surat cinta ala abg
Bagai drama sinetron picisan
Apa kau bilang
Munculnya syair mesti dari mencibir
Mengalirkan sungaisungai kalimat sumpah serapah
Menampar nampar matahari
Meracik baitbait merah bara amarah
Bolehkah kubilang
Tak seharusnya,dan bahkan tidak harus
Jika hanya onani
Jika hanya birahi
Taburi ia dengan pundi pundi cinta
API DENDAM KEAKUAN
oleh Ki Gambuh R Basedo
Dulu kupikir kau matahari beneran
Setiap waktu kuintip langit ceria sapamu
Kutunggu semburat kalimat hari menyinari
Atau paling tidak wajahmu makin binar bersinar bersama waktu
Lindap ,mulai sekarat kini
Terhijab mendung polah tingkah amarah
Kau sisa gerhana ketidakpastian
Penggalan asa kocarkacir tak karuan
yakinku kalian bertanya-tanya siapa?
Dengan tidak terpaksa bahkan penuh rela kukakatan pada kalian
Itulah aku dan perangai yang makin kian wagu
Pelahab bisikan dendam kesumat
Aku corong keangkuhan
Moncong kosong kemunafikan
Wahai kenapa kalian mengernyitkan dahi tidak percaya?
Menduga duga disebelahmu ada sosok gambaranku
Kalaupun benar ,itupun aku,sebab aku bisa beranak pinak didadamu
Bahkan kalianpun bisa jadi gerombolan dan anak asuhku
Ketahuilah aku tak pernah mati
Kecuali aku menyerah kalah pada orang orang berhati menyamudra tanpa bilik bilik
Aku bisa menjadi apa saja setiap yang kalian suka
Penyair
penyanyi
musisi
Pejabat
Jika aku menjadi penyair tentu kalian amat sangat terlalu mencintai membabi buta
Pun juga ketika menjelma apapun kalian berlebihan mengelu elukanku
Sungguh akulah sutradra dan peran utama
Aku tak kesulitan merasuk didalam dada dada dendam
TENTANG SEMBARANG LEMBAH KHAYAL DAN KATA
oleh Ki Gambuh R Basedo
KEPADA PENYAIR PENYAIR
Ini bukan petuahku-aku
Ini tak sekedar bual buih menindih
Ini tak bicara sakralisasi puisi
Pun jua bukan karena fahamku
Seperti Tuhan telah membentangkan Rel
Sebagai titian agar tak jerembab asal mangap
Sejatinya akal mestilah di teliti darimana akar muasal
Lalu untuk apa berlari dijalan yang salah
Indah tak selamanya benar
Asin tak mesti garam
Hitam tak selamanya kelam
Ojo gebyah uyah podho asine [jangan asal memaknai]
wasy syu’arou yattabi’uhumul ghowuun. alam taro annahum fii kulli wadin yahimuun….
Hal yang pasti Penyair penyair pedomani
usah tenggelamkan diri dalam sembarang lembah hayal dan kata
Bahkan tak satupun kerjakan yang di ujarkan
merdekakan jiwa raga dari kungkungan syak wasangka
Ki Gambuh R Basedo[penjelasan]
Penyair-penyair itu diikuti orang-orang yang dungu. Tidakkah kau lihat mereka menenggelamkan diri dalam sembarang lembah khayalan dan
kata. Dan mereka sering mengujarkan apa yang tak mereka kerjakan. Kecuali mereka yang beriman, beramal bai…k, banyak mengingat dan menyebut Allah dan melakukan pembelaan ketika didzalimi. (QS As-Syu’ara, 24-27)
Di dalam literatur kesusastraan Arab, sebagaimana direkam oleh Syauqi Dlaif dalam buku Tarikh al-Adab al-Arabi (Kairo: Dar al-Maarif, 1968), dijelaskan ahwa Alquran diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw, tidak saja membawa petunjuk yang benar, tapi juga sebagai ‘penyaing’ keulungan sastra Jahily.
Keulungan sastra Jahily saat itu memang tak diragukan lagi oleh banyak pengamat kebudayaan. Manuskrip-manukskrip kuno (sastra Jahily), membuktikan hal itu. Tetapi, pada zaman itu jangan ditanya bagaimana etika dan moral masyarakatnya. Ibnu Qutaibah dalam buku Asy-Syi’ir wa as-Asyu’ara (Beirut: Dar ats-Tsaqafah, 1969) menceritakan dengan detail prilaku (kebiasaan) masyarakat Jahily (penyair Jahily) yang amarol dan amat asusila.
Pertanyaannya, kenapa sastra yang konon sebagai penyangga suatu peradaban seperti tak berguna? Tentu, karena Islam percaya, hanya karya sastra yang beretika (baca: bermoral), dan yang mengajak dalam kebaikan, serta menjauhi segala kefasadanlah yang bisa membawa kehidupan masyarakat menjadi lebih baik, yang mampu menyangga peradaban.
PERGILAH
Padahal aku tak pernah menamparmu
Apalagi meludahimu
Berkali kali tiap aksara tertata terlihat percikan api dimatamu
Setiap katakata terangkai membara dahana
Mengobarkan api dendam dadamu
Bunuh saja aku
Bila aku merontokan ranum baitbait
Mengeringkan daundaun kalimat
Mematahkan rantingranting kekuatan tubuh gemulai syair
Kini kubaca hanya kata gerutu dan dongkol bercokol
Tiada puisi
Tiada sajak
Hanya sepahan buncah
Curahan hati terpolesi maaf
Kau tahu
Bukan maaf yang sebenar maaf,sekedar permisi untuk meludahi dahi
Masih juga berkelit, aku hanya ingin mengalir saja tanpa tuju
Bergegas wahai tinggalkanku
Sebelum terlambat benar benar liar mengumbar prasangka
Begini caraku mencintai,agar kau kembali utuh menjadi dirimu
Pergilah!
Sungguh!
Aku tak tega melihatmu dibuntingi kecewa berkepanjangan
Sajak sejuk
Semilir sapa
Menemu belai
Dalam rangkul bening rasa
Sesaji punjung cinta
Ku untai puspa wangi kata
Ku ramu jamu penawar kecewa
Seduh penuh rindu diwadah madah
Ku hidangkan dalam jamuan rela,lembut galih
Masihkah mengapi
Masihkan gerah
Bukalah pintu
Hadirku bersama serah maaf
Atau roncekanku sajak sejuk
Ku tunggu
T E R A P I ( KI Gambuh R Basedo)
Sebelum melanjutkan membaca rangkain kata
Sejenak kumohon pejamkan mata
Hela nafas panjang
Tahan dibawah pusar hembuskan kemudian perlahan lewat hidung
Bacalah!
Bacalah diri
Bacalah manusia
Bacalah alam semesta
Saudaraku
Pernahkan dikehidupan ini engkau selalu mengajak jama’ah jiwa raga bersipadu
layaknya musik saling mengisi nada nada
Mulut kita yang tak selamanya berkata jujur
Telinga kita yang muak mendengar suara suara kalam
Tangan kita tergenggam medit,bahkan sering menampar
Kaki kita berjalan kemana sesuka
Pikiran kita yang melahirkan syak wasangka
Mencaci mencibir sesama
Pikiran kita yang yang selalu merasa paling benar,paling hebat
Acapkali memakai baju Tuhan demi kepentingan diri
Pejamkan mata lalu hela nafas lagi katakan sejujurnya,ya memang
Saudaraku
Jerit anak anak yatim piatu yang rindu peluk orang tua
Penghuni kolong jembatan,gelandangan menjerit histeris
Orang orang yang terlilit hutang
Saudara saudara kita yang tergeletak sakit
Pejamkan mata tarik nafas hembuskan perlahan, tanyakan pada diri,pernahkah kita peduli
Saudaraku
Bacalah alam semesta
Bencana bencana yang terjadi
Kejadian kejadian yang kau fahami murka Tuhan
Pernahkah kita sadar kerusakan bumi adalah ulah tangan tangan nakal manusia
Jika bumi tak sabar tentulah tak menunggu lagi waktu
Pejamkan mata seraya do’a
Pada diri sendiri yang terkadang tak adil
Pada sanak saudara handai taulan yang menjerit kesakitan
Kekurangan,dililit hutang,tertimpa bencana
Pada negri ini yang tak pernah lepas dari penjarah bernama koruptor
Ketimpangan ketimpangan sosial,ketidak adilan kebiadaban
Kepada pemimpin pemimpin lalim yang menjadi tangan panjang fir’aun dan qorun
Kepada kapitalis kapitalis negeri yang mencaplok dan memeras setiap keringat orang orang kecil
Kepada seluruh yang berkelakuan iblis diatas muka bumi ini
Pejamkan mata,tarik nafas panjang tahan dibawah pusar hembuskan perlahan
Bukalah matahati
Jika pada diri sendiri masih timpang koreksi
Yakini pasti esok mentari menyambut kita dengan senyum mengembang bersama perbaikan perbaikan
Terapi diri teruskan hari hari
CIPTONING KIDUNG PANGKUR
oleh Ki Gambuh R Basedo
chobra abrar ing pucuking ndriya
aras lellintang kumedap pindha mutiarahararas
madya ratri telenging kidung pangkur
manungkul mungkur hanggrayangi
Jiwa angon raga
Hangangen lampah ing nguni
kebak cidra saha dosa
cep tumancep trecep rasa sumarah pasrah
Ciptoning kidung pangkur
Sinawur sarisarining kembang
Jer kaula hanamung titah wantah
Sembah manah mugi rumentah berkah
Ciptoning kidung pangkur
* Laksitaning subroto tan nyipto marang pringgo bayaning lampah (dalam perjalanan untuk meraih cita – cita luhur usah peduli dengan segala bentuk rintangan dan cobaan)
* Meper Hardaning Pancadriya (kita harus selalu menahan/menekan gelora nafsu)
* Heneng – Hening – Henung (dalam diam akan menemu hening dan dalam hening kita akan mencapai cita cita luhur).
CIPTANING KIDUNG PANGKUR [ TERJEMAHAN GEGURITAN]
oleh Ki Gambuh R Basedo
Elok semburat dahsyat pada pucuk puncak
Cahaya lintang turun menjamah ,bak kilau mutiara
Tengah ratri ,jantung kidung pangkur
Simpuh tinggalkan sejenak duniawi,grayangi luput
Jiwa gembalakan raga
Renungi cerita purba
Gelimang tak jujur dan dosa
Cep tumancep tancapkan,dinginkan ingin sumarah serah
Ciptaning kidung pangkur
Bertabur wangi puspa
Aku hanya manusia biasa
Sembah hati ini di Engkau, harap berkah
ciptaning kidung pangkur
Terjang penghalang
brangus nafsu merusuh
diam hening renung ,agungkan
heneng hening henung
TUHAN TAKKAN LAGI MERALAT AYAT
oleh Ki Gambuh R Basedo
Tuhan tak akan lagi meralat ayat tersurat
Mestinya engkau faham bahwa sebelum yang kau kagum semua terangkum
Segala yang kau takjub telah termaktub
Tiada timpang tiada janggal
Tuhan tak akan lagi meralat ayat
Cukup sudah segala tinggal jalankan
Singkap ungkap,gegap hadirkan
Tangkap tandatanda lalu hikmat
Namun seharusnya sadar,Tuhan mencipta ayat
Yang kau lihat
yang didalam diri
yang diluar diri
Sudahkah cermat membaca dengan kresna pikir
HAIKU HARI ala Gambuh
oleh Ki Gambuh R Basedo
Senin//Sendiko hangestuaken perintahipun hyang widhi
Nindaki janji suci engkang kaserat ing kitab suci
Selasa// Setuhune ingkang prayogi donga dinongo
Lampah sampun jinangkung ingkang maha agung
Sayekti pinanggih ingkang kasuprih
Rabu// Ra budhal ora bakal entuk ngilmu
Budi luhur ora bakal tinemu
Kamis// kamongko ono unen unen becik ketitik ala ketara
Isamu mung plenthas plenthus gemagus ra tau adus
Jumat// Jumbuh gambuh marang kaweruh kanti pituduh asepuh
Ati ati anggonmu niti margi tinuntun guru sejati
Sabtu// Saben tumindak kedhah kapetung permati
Tumusing lahir saha batin sinareng giliging tekad niat ucap salajeng krekat
Minggu//Migunani tumraping agama bangsa lan nagara jejuluk satria gung binathara
Nggugat bangsat laknat keparat ,ngenteke duit rakyat ndandeke nagara dadi mlarat
HAIKU PANDAWA LIMA ala Gambuh
oleh Ki Gambuh R Basedo pada
Puntadewa//pun jika kau tanya padaku tentang sabar
Takkan langkahku ragu dan bimbang
Dengan yakinku pastilah gemilang
Waktu yang kunikahi lalu nyawiji
Werkudara//werdi gunung julang agung cinta membumbung, dalam kesaksian kebesaran sang maha
Ku di Engkau ikrar
Dalam gagah kujangkah tanpa resah
Ratap minggat satria kusandang denawa goda ku tendang
Harjuna//harapan adalah kekuatan kaki niat
Jujur adalah pembeningan jiwa,nyawa matahati
Nangisku bukan ringkih,ia alir madah mantra cinta
Nakula//Nagri diri ini butuh tangan adil mengatur
Ku dalam kempis kering perutku menggiring doa
Lantas kemana lagi,selain bergegas menata
Sadewa//satukan tekad bulatkan niat brangkatkan jiwa raga menghamba
Dengan penuh sungguh,simpuh puja puja
Walau cemeti duniawi menguliti,takkan merubah tujuan arah
IJINKAN KU BELAJAR BERSAJAK
oleh Ki Gambuh R Basedo
Tentang ambisi yang lantang menentang setiap warna
Ingimu aku menjadi kau yang merasa paling
Sedang setiap gores hanya mrenges
Lahir dari dada bergumpal serbet menyumpal
Aksara disebar untuk ditata bukan diumbar sambar menyambar
Kata kata diracik pernik pernik,pamor ku tiup
kalimat kalimat ku mesrai agar resah enyah
Kurangkul dalam nur ,dlembar jujur
Di setiap aku berguru, buang ragu agar tak rancu
Di puisimu ku kerdil sungguh,justru semangati laju
Di laut ilmu aku bukan siapa siapa, sadarku diamanat nyawa
Seperti petuah guru guruku, bersungguh penuhlah
Wahai langit
Wahai bumi
Wahai gunung
Wahai lembah
Ajari aku agar tak kaku gagu
KRESNA TRIWIKRAMA
KRESNA TRIWIKRAMA// Kadya bledeg ngampar
Rinujit rujit manahipun
Enggal jumugrug sak gunung anakan ,gumreget
Sigro jumgkah hambrastha angkara
Nindaki jejering kautaman
Amrih jejeging nagri
Tumindak kang ngrusak kedah katumpes
Reksa rineksa lampah hamba,sinareng kekiatan paduka
Inggih,hamba mugi kapayungan qohar jabbar
Wahyu suci rumentah dhateng pundi Gusti
Ing pundi paugeran jati
Kagol tyasmami hanyumerapi lelakon puniki
Rasa wening musna ,mijil begejil candala
Agung tan ka junjung
Murka sangsaya ngremabaka
Adeg adeg ,hangadeg hamba ing marganing shangyang wikan
II
KRESNA TIWIKRAMA// Kala petir menyambar gempar gempur
Rujit terujit hati
Egomu menciptaku menjadi sebesar gunung semangat
Segera gegas ku tebas angkara
Niat telah ku tancap,meniti hakiki
Agar ini nagri kembali berdiri
Tingkah polah kesewenangan mesti di tumpas
Reksa hamba,langkah ini di kekuatan paduka
Iring hamba di payung qohar jabbar
Wahyu suci ini mesti untuk siapa
Ini tanya resah,dimana aturan mesti
Kini buncah gundahku meraung raung
Rasa jernih ketulusan musnah,lahirlah kejahatan
Agung keagungan tak lagi di junjung
Murka kian menjamur
Aku akan tetap tegap berdiri dijalan sang maha adil
NEGRI BENALU
Oleh: Ki Gambuh R Basedo
Negri benalu
Menghisap saripati kejujuran kepala kepala dhuafa
Akar mencengkeram, memborgol tangan keberanian
Negri benalu
Pemimpinya pohon benalu
Punggawanya ranting benalu
Retorikanya bunga benalu
Makan minum dari kepiawaian menipu
Tujuanya menggendut hijaukan daun benalu
Negri benalu
Dibangun tanpa malu malu
Dikokoh kukuhkan diatas kursi hasil pertarungan kekuatan kemaluan tanpa malu
Negri benalu
………….mengencingi dada ibu pertiwi hari hari
Memeras air susu ibu bumi tak henti tanpa peduli
Memlontosi rambut ibu pertiwi dengan atasnama palsu
(Tulisan ini hasil
Rekaman percakapan dengan kere kere dan gunung gunung yang di plontosi oleh tangan tangan murka)
kanda aku ingin jadi pelacur
oleh Ki Gambuh R Basedo 15:17
Dari tulang rusuk bungkuk lekuk liuk
Aku jawaban Tuhan,tentang kesepian adam
Hadir menyihir untukmu kanda
Pesona ini kupersembahkan
Tarian molek lembut
Dada penuh ranum
gerai rambut angendan
wajah indah sumringah
:kusuguhkan menu nikmat mamlakat
panggil aku adinda kanda
;agar perawan selalu cinta ini
sebut aku istri kanda
;agar jiwa raga ini halal
Empukanku kanda, untuk benih jernih
pada desah ranjang malam
aku hanya ingin menjadi pelacurmu
pe//penghidang bak bidadari surga
la//laguku kidung asmaradhana
cur//curahiku hasrat,tumpahi madah
sebab bagiku,salihah itu keutuhan
RAYU YANG TERTOLAK (puisi ke 444, persembahan untukmu kekasih)
oleh Ki Gambuh R Basedo
Engkau lepas dari rangkul mesra
Kata apalagi yang lebih indah selain ketelanjangan utuh
Aku mencintaimu seperti klorofil pada daun
lengket takkan berai
Pagi
Sapaku renyah rekah
geliat hasrat harap sambutmu
Rindu gagah kuatkan langkah
Tiada jua hadirmu
Siang
Kuracik larik mantra rayu
Pada sekujur tubuhmu kutuang lalu
Puisi terindah kulantunkan di telingamu
Tetap saja angkuh,tiada senyummu
Malam
Bintang gemintang kupunguti
Membinari gelap pekat sekaratku
Desah asmara memanah jantung
Pula tak engkau jawab hingga kini
Duh
Kekasih,mesti berapa rayu lagi agar pintumu terbuka
atau memang hatiku tak lagi sanggup menangkap geletarmu