
Lambaian bambu meliuk ditarian bayu, nyata hanya pada pupil mata kita. Tidak pada telinga
Desir angin ciptakan siul panjang, dihalaman kita. Jelas terdengar pada telinga, tidak pada mata.
Pun pada keduanya kita menyepakati bahwa itu tarian atau nyanyian.
Sobat, kebenaran apa yang ada disitu.
Engkau menggelitikku, memandan…g fata morgana. Kebenaran tidaklah kuterbangkan didebu jalanan, tidak juga kuhanyutkan dialir sungai ‘rahim belantara, tidak pula kujunjung pada ketinggian, sebelum smuanya menjadi nyata dan hakiki.
Sobat, kebenaran apa yg hendak kau paparkan, sedangkan kematian sering lahirkan pertengkaran.
===================================================
meski dadaku tak seluas samudra. “Tuk rebahkan kerinduan, aku masih punya telaga bening dikawah berselimut kabut belerang.
Tapi…kerinduankah ini, sementara aku melihatnya sebagai selubung kesedihan, yang berpeluk pada penderitaan memanjang. Titipkanlah dendammu “padaku.
Sebab aku juga masih memiliki satu rubi,… yg sempat kuletakkan di tapak kuda puncak gunung sibayak, Kemarikan ,, agar mampu kusisipkan dicelah celah batu, pada pucuknya paling tinggi.































Sebelum keranda malam terkunci, dan diusung kekaki bumi. Aku mulai saja tarian puitis “tentang pelataran diri” biarkan gemulai pena menampilkan keinginan,
atau jadikan tinta sebagai pelampiasan dahaga ‘ kelana jiwa.
Aku tidaklah seperti yang engkau sangkakan, ak seorang yang tengah tertatih memikul sekarung sampah.
Hari yg kulewati berada diterali besi, dikungkungan belantara dan kuda jalanan yakni penjara kehidupan.
Jika engkau ingin mengenalku, aku bersama lelehan kwarsa penggalang sekaligus penghalang kebebesan pandangku
Meski tak tergiring kemelaratan, kemewahan juga tak merangkulku.
Tapi, sebaiknya engkau tidak mengenalku, aku tak ingin aroma sampah pada pundakku tertebar digaun atau pakaian putihmu.
Cukuplah engkau mengenalku sebagai teman angan dan bayang bayang
yang slalu mencoba memahami arti dan makna lukisan abstrak jemarimu.
Aku masih punya sehelai rajutan sapu tangan sutra, disatu sisinya disalah satu sudut ada sulaman apel ,tertulis namaku Jika ingin .. ,kemarilah. Singkirkan engganmu ,jangan palingkan wajah pasi itu. Mari…,raihlah tuk penyeka bulir bening dikeningmu. Kemarilah buang sungkanmu, jangan tengadahkan wajah kelu itu. Mari,,, ambillah disenta pintu kamarku ,dikisi kisi angin. Jika engkau suka, bawalah untukmu, simpan sebagai kenangan.
Setiap kali rindumu melahirkan kesedihan, atau galau tak mampu menghapus rindumu , resapi wangi pecahan cendana, yg rapi terlipat didalamnya.
Lama membujukmu membuatku resah, engkau lebih memilih cerita yg tertinggal disitu, memaksa lantunkan kenangan ‘yg bagiku kegelisahan memanjang., menautkan pada lembar kisah berbalut kabut.
Harum cendana dibawa smilir angin, berputar seperti hendak merangkul. Tanpa kata menyekap sepi semakin pekat, mengurai lagi ingatan disaat akhir bertemu dengannya.
Bisikan lembut seperti rekaman , rebah dlm dinding telinga.
‘simpan ini, jika sebelumnya dia menenun halus tatapan, kali ini ditinggalkan, terpaku pada siluet nyala api. Tidak kuraih, membiarkan jemarinya menggantung, lirik sudut mataku terhalang bingkai lensa.
Coba memastikan apa yg tengah digenggamnya.
Desah suaranya perlahan menikam pasti. ‘ambillah , tertunduk lurus pada buku jari yg membuka, hidangkan tepat diatas meja batu, parau berujar ‘didalamnya , ada pecahan cendana terbalut kertas, peluh jemariku’
Sepi dan desir angin dingin, senandungkan debar asa, alirkan rasa engganku menjemput.
Lekat mata menatap, mencari keteduhan telaga yg slalu menjabat rinduku.
Tak jua ia menyambut, seperti arca yg terukir oleh pahat pelangi jiwa,
anggun.
kerapkali ciptakan keagungan luar biasa
‘Tetap mematung
biarkan nyala bulan pecah dikeningnya, membiarkan lengan angin mempermainkan rambut legamnya, hingga terberai.
Berbilang waktu, larut aku dengan keindahan ini. Mengapungkan harap dan keinginan tuk bisa memiliki seutuhnya.
Kebisuan masih saja memenjarakan kami , galau menyeruak diam diam.
Bulan 18 lahir dimahkota akasia,
abaikan cacat purnama.
Di arca gading itu, bayang dedaunan seperti menari saling berkejaran .
Dengan ketakutan pada temanku yang satu, kutampar wajah , sedar beralih tatap kemeja batu, altar sajian.
Lengan gaib menatah jemari ‘tuk mengutipnya. Kehalusan lambaian sutra membelai kuku jari, lembut menggelaparkan aroma cendana.
Sesaat sapu tangan sutra dalam genggaman, kibar suara gaun memecah hening.
bagai burung lepas dari sangkar, dia berdiri dan berlari .
Tinggalkan getar jiwa yg tersakiti, gemuruh dadanya membelah malam tanpa nyanyian.
Entah apa yg menahanku hingga tergugu, menerawang bayang dalam kelam.
Ah, hanya itukah maumu , bersama dikebisuan yang membeku hanya untuk memastikan sajianmu dalam pelukku.
Bayangan menghilang, mematikan angin hingga beku bibir bergetar
nyala unggun perlahan padam, tinggalkan sisa bara. Memercikkan setitik panas mengalir diurat nadi, merambah lewati alir alir sungai
hanyut hingga bermuara dipusaran hati.
Tak jua beranjak
mematahkan ranting rapuh dengan kaki telanjang
Gemertak suara..
Mendongakkan wajah menatap langit, bulan 18 brada dijantung langit, asyk bercumbu dengan awan kelabu.
Daun akasia gugur sehelai, melambai tanpa daya. Lambaiannya menggugahku tuk merangkak, tadahkan sebelah tangan sambut daun yatim itu
lembab dan dingin
rambah ikuti alir panas yg setitik, namun tak mampu membasuh.
Coba kuremas, berharap suara serpihan bisa memalingkan langkah mengejar arah bayang yg hilang dilapis kabut
yg tlah jauh tinggalkanku. Sebab lembabnya daun menguning tdk timbulkan suara.
Lagi..
Aku terduduk, tanpa menyadri ranting lahirkan tunas baru dan bulan berbaring menatap nanar fajar pagi.
Hal selanjutnya yang aku ingat, harum cendana membujuk jemari tuk melepas selimut pelapis peluhnya.
” dari diary yg berisikan puisi cukuplah kupahami sebagai satu ungkapan perasaanmu hingga melumpuhkanku.
Tidak ingin kupatahkan, namun betapa resahmu kan smakin memanjang bila kusandarkan ketulusanmu itu, didahanku yg rapuh.
Kupejamkan mata, resapi makna tulisan itu. Helaan nafas berat terlepas.
Selembar kertas itu, kuletakkan pada sisa bara perapian malam.
Perlahan menyala dan melahapnya membiarkan angin meraih dengan suka cita.
Pecahan cendana
kulipat rapi dalam kelembutan sapu tangan sutra, yg pada sudutnya sulaman apel bertuliskan namaku.
Hari hari setelah kisah itu, adalah pengembaaran sepi.
Nyanyian jangkrik.
Kriiik…..rik
krik krik krik
kriiik…..riiek
krik krik krik krrik
simponi dimisteri malam.
tanpa air, mampu membasuh
menyusup lintasi relung sukma.
Kriiiik…….krii….ek
kriiiik……..krii….ek
riii…..ek, riii….ek
simponi misteri malam
tak henti merayu
tanpa api, mampu membakar
menyala sandingkan keinginan.
Kriiik… Kriiik…kriiik
kriek, kriek, kriek
dengarlah
detak iramanya yang sesekali terhenti.
Kriiek
simponi misteri malam, melantunkan kedamaian.
~
met ultah ya rin.
Moga slalu dalam limpahan rahmat dan karuniaNYA.
Aku ~ diriku
aku, bukanlah diri yang coba semaikan jiwa dalam pesakitan.
Namun diri telah menuai pedih pada perih sesalku.
Aku ~ kamu
aku juga kamu adalah pusar hari yang slalu mengenakan bayangan selendang tuhan.
Jika satu aku dan kamu, maka bersuka rialah yg terusir dari langit.
Aku~ dirimu
aku bukanlah dirimu, sebab didalam jiwa putihmu telah kulukai dengan kuas lukis_ku
aku takkan pernah satu dengan dirimu, demikian pula kamu takkan pernah satu dengan diriku.
Diriku ~ dirimu
diriku seperti juga dirimu, adalah jiwa halus yang tumbuh dari satu pohon kearifan.
dimana akar menahan batang yang pada lengannya dipenuhi ranting dan daun, kemudian membuahi kehidupan.
`bibir jingga
… kecupan itu ,
birahi yg tak terlampiaskan.
Meski terima kasih kau ucapkan, engkau membenci malam . Yg rakus mencumbu pusar kerinduanmu.
Eh, udah brapa lama waktumu tak menjabat, kau coba lengahkan angan disibuk jarimu , sementara keinginan terus membuncah.
Kecupan itu,
birahi tak terlampiaskan.
Yg coba kau pungkiri lewat selimut kabut atau nyanyian lara ranting kasihmu.
Lihatlah,
birahi itu terlalu sibuk untuk kau patahkan, terbakar nyala cemburu yang kian membusuk.
Upaya yang kau uapkan ,seperti hangar asap gantungan baju lusuhmu.
Dendam pada gelora dan hasrat , selalu hadirkan tanya dan kekecewaan membatu.
Belati yang kau acungkan pada setan kecilmu, bukanlah ancaman baginya.
Sebab kau masih seonggok tulang berlapis gumpalan darah , bersarungkan
luka dan nanah kehidupan.
Jingga dibibir senja, saat terpahit untuk salami malam.
Sebab kau sedar, lamunan tak mampu meraih keinginan.
Kau sadar, jiwa suci itu kembali terpasung oleh jari jari halus,
lekuk dan gelombang aroma tubuhnya.
Hari terus berlanjut
tertatih diantara repihan daun menguning
menyatu dengan ranting ranting lapuk dan jadikan humus
menyelimuti akar kokoh ditengah belantara.
Nyanyian indah yang pernah mengalir dari bibir ranum itu
menetaskan keperihan
kidungnya meresap kedalam relung sukma
hingga satu kata kekata yang lain jadikan miang bambu diujung tenggorokanku
ribuan titik hitam yang lepas dari pelepahnya
menggumpal, menutupi muara alir nadiku.
Denting harpa yang dimainkan oleh jari jari halusnya
adalah musik termanis
pun nadanya pada keheningan malam
melahirkan nuansa ketidak berdayaan
mengayun diatas dawai dawai hati yang lemah
tak ingin kudengar
namun…
Benih irama telah bertunas
terangkai dikebekuan jiwa
satu puisi
yang disajikan dialtar bulan 18
mengubah segalanya
jiwa yang sempat tertata rapi
mulai terasa gamang
membawa jasad kepengembaraan
dilorong sempit, pantai juga pucuk pucuk bukit
tempat, nyanyian dan kegilaan meracau tak jelas
‘teriakan sia sia tenggelam dalam dentuman ombak
‘jeritan histeris merasuk kerelung lembah
hingga parau suara
melampiaskan kehampaan dan ketidak mengertian
dilorong sempit itu
jarum cemara mengembang, menyusup
lewati alur nafas
ciptakan bayang, angan yang membias halus
menertawakan kepahitan
yang ikut menggelegak diatas buih destilasi anggur
disini
aku temukan sayap sayap lain
yang diremuk lengan kegalaun
merintih dalam kepal tangan kemewahan
mengajariku tentang
yang melukai dan mengobati
sekelumit makna kehidupan
yang tidak kudapat disaat mengail ditelaga bening
~
diatas punggung kelapa
yang berbaring di pinggiran pantai
dan dadanya terkubur waktu
aku duduk disana
dengan telunjuk jari telanjang
membuat sketsa lukisan
merasakan gelinjang pasir
yang sesekali menggigit punuk jemari lain
menumpahkan hayal
gerai rambut
maupun senyum disudut bibir dan dikedua matanya
ada kekecewaan
ketika sketsa tidak mampu menggambarkan bayangan , apalagi dirinya dengan utuh
aku diam termangu
melempar tatap ketengah samudera
takjub, menikmati keindahan jingga
mengalun bersama gelombang pasang
membuai buih hingga ketelapak kaki
perasaan aneh muncul saat ombak menghempas keras
butir butir kabut
ciptakan lukisan wajah itu
dengan warna jingga bercampur keemasan
hanya sesaat
menanamnya dalam pikiranku
dentumnya
jadikan gema berkelanjutan
terekam dalam ruangku
menghanyutkan teriakan kedasar palung terdalam
pecah bersama remahan kulit kerang
lantas, ak lebur dalam gigil kabut
setiap kali purnama beranjak dari peraduannya
setelah usai matahari mencumbu hamparan pucuk bangunan
aku selalu merasa gelisah
kerinduanku pada puncak gunung sibayak
menggugurkan daun daun cemara tua
gejolak dan debar dadaku serasa tak terbendung
tanpa obor, maupun lentera penerang malam
aku lebih sering berjalan sendiri
menembus belukar ataupun sungai sungai mati
sendiri, membuatku terbebas dari keluh
dari serabut waktu
membunuh terali ketakutan dari hantu hantu ciptaanku
seolah olah diriku hidup dan bercengkrama
dengan bayang yang ada disetiap ayunan kaki
tanpa langkah lain mengikuti
membiarkan jiwaku
terlelap diakar akar menggantung
membaur diantara krikil dan bebatuan kali yang telah mati
kesendirian dalam keterasingan
menjelma begitu saja diranting jiwaku
menerabas belantara menyusup kedada
hingga kerelungnya
atau dalam tangkupan tangannya disaat merunduk
kepulkan asap belerang
mendudukan diriku dalam rengkuhan kabut dingin
diatas tapak kuda
dan diantara rekahan rekahan yang sedikit membuka
aku meyimpan batu rubi
menunggu fajar pagi lahir dari bahu sinabung
yang selalu berkalungkan kabut
menikmati lukisan langit dengan nuansa yang tidak pernah sama.
,
lalu, cerita dalam pengembaraan alam terkubur
bersama erangan tubuh
bersama rasa sakit yang tak mampu termuntah kan
dinding putih memenjarakan segala bentuk keinginan,
kaku
lumpuh
berharap pada tetesan air
yang menggantung antara lantai dan langit langit kamar
bertumpu pada cahaya
yang menerabas masuk dari kisi kisi angin
~,
detak jantung masih bergerak lambat
merasakan isak tertahan
lewat kata kata yang dibisikkan ditelingaku
aku merasakan kehadirannya
lewt gemuruh yang mengalun dari dalam dadanya
keperihan merembang
kemudian menetes jatuh pada palung mataku yang tertutup
meresap, melalui akar serabut jiwa
bersama geletar bathinnya
tetesan itu menggapai rantingku
melepas daun menguning, lalu mengganti dengan kehijauan.
seperti didihan air yang terbakar diatas tungku
kata kata yang merintih dengan untain tasbih
coba kupahami
merasakan nafas berhembus
menebarkan aroma melati, menyusup
mengisi rongga rongga raga
dan membungkusku dengan selimut kasihnya
meski mengabutkan jarak pandang
nafas itu
membasuh dahaga panjang
mengutip jelaga di sudut sudut ruangku.
@Mas Restu ,
kalimat indahmu
semakin menyusup deras
dan bicara lantang pada malam yg hening… malamku
membasuh dahaga panjang seperti kata dipuisimu….
Terima kasih ya rin,
tubuh itu masih terbujur diatas selimut putih.
Cerita belum juga usai. Abis nulisnya disela sela waktu aja.
Kebetulan nich medan lagi hujan, ya sambilan nunggu2 reda.
=,=
melalui jendela hatinya yang sedikit terbuka
aku melihat
genangan luka mengendap perih
mengembangkan layar diatas perahu harapan
terombang ambing dibawah mega kelabu
aku melihat didalamnya
goresan bayangan dari bayangku.
Hening merangkul
menikamkan belati sepi diparu paruku sebelah kiri
dan sebelum darah bimbang menetes
merembes diatas jantung
lentik jemari menutup luka itu
mengikatnya dengan seulas senyum
seperti halnya butiran embun yang terjebak dijaring laba laba
keindahan membiaskan warna cahaya pagi
sekilas aku menangkap kebahagian
dan.. sebuah hati yang murni berjalan diatasnya
memasuki gua gua dari diriku yang tersimpan
meninggalkan masa lalu
~Aku menulis
agar keinginan tertumpah
melampiaskan rindu bibir pena
tuk mengecup tubuh mulus putih
yang lama menanti disela rimbun waktu
aku melukis
meski tanpa makna smoga tak sia sia
menarik sketsa sketsa kecil
berharap bisa menyelesaikannya nanti
aku menulis
agar tinta yang mengalir diserat
sel sel otakku tak beku
tak lumpuh
melemaskan tarian jemari
diatas gelinjang selembar kertas
dirambut kanvas
mengukir kenangan
memahat hari
menyimpannya disini
~ pulai – 1104’2010
Kisah sebatang pohon
Dari benih yang tertebar dibawa angin
aku tumbuh disini
dipinggir parit dihalaman rumah bambu
meski tanpa pagar
rumah ini terlihat megah
kemegahan yang tak tertulis dengan kata kata
tak terlukis dengan tinta kebohongan
kepalsuan dan kebencian
rumah ini begitu istimewa bagiku
kemegahan yang tercipta karena kasih sayang
cinta dan segala kemurnian
,
disinilah aku mulai tumbuh
akar yang ringkih berpegang pada hara tipis
berpeluk rankaian pasir dan bebatuan
daunku
ah helai lemah tertimpa setetes embun
perlahan matahari menapak
tanpa payung
tanpa bayang bayang menaungi tubuh
‘ada ketakutan merengkuh
menyelimuti alir nadi
‘ada rasa jengah dan tanda tanya
mampukah bertahan
menata niti jalan panjang didepan
mampukah merangkak
berdiri dan tetap tegar
,,
matahari lambat melangkah
panasnya perlahan membawa embun didaunku
entah kemana
terik mulai membakar ilalang diseberang jalan
takut merengkuh
darah dalam urat menggelegak
tak mampu berbuat
khawatir memenjarakanku
gigit rasa takut
tergugu
membiarkan daun daun terkulai menutup ranting
keputus asaan merambah akal
ciptakan kepasrahan yang dalam
,,,
beliung membuncah
bawakan sebuah tarian
kadang gemulai kadang liuknya gempita
murka
desaunya mulai mengitari
entah tarian apa yang tengah dipentaskan
jari halusnya menuntun jilatan api
memapah kesela sela rumput kering didekatku
tidak ada terdengar teriakan maupun jerit histeris
seperti nyanyian subuh dibibir samudra
khidmat menanti kecupan pagi
tidak juga keluh kesah tersampaikan
meski nyala smakin berkobar
berputar hembuskan kabut putih
,,,,
aku termangu
tak mengerti apa
ketika ranting patah gemertak jatuh menimpa
memaksaku rukuk menghadap rumah bambu
nyeri terasa diseluruh alur waktu tubuh
perih lepaskan pasrah
‘disekaratku
tapak kaki beliung tanpa sayap
tinggalkan jejak pada bara ilalang
jemarinya lambai tak lagi kuat menggenggam
langit gelap
pedang cahaya dilengan awan
silau mengakar
gemuruh jantung gelegar bersahutan
tabuhkan genderang harapan
air menetas satu satu
seterusnya deras
uapkan lidah api dan bara ilalang
.
Menggapai harapan yang sempat tertahan
merasakan kesejukan disela akar
meski terbungkuk
bisikan air yang mengalir diparit
halau rasa khawatir
merasakan jiwa kehidupan
menyapu segala prasangka
tentang nyala api
tentang beliung
yang tadinya menebar aroma kematian
.,
aku tumbuh
mengukir batang dalam gurat tegas
terpelintir menggapai matahari
bentangkan lengan keseluruh mata angin
dengan gerai rambut hijau dan kekuningan
dengan kaki menghujam ibu bumi
serabut mengikuti arus
alur lenganku
aku tumbuh sebagai peneduh
mendengarkan belati air mengikis tanah
atau bibir angin mendesik pori
dari waktu kewaktu
dalam dekap gumpalan kabut
dingin
jatuh mengkristal
menyusup k relung rindu
terpasung dan diam
tanpa cerita
tanpa perbincangan kisah
bukan pula kebisuan
gurat lukisan dan getar suaramu yang terbata
masih mampu kubaca
Dengan hatinya yang murni ,Yang dipenuhi kesahduan
Ia melangkah dibawah bayang bayang kabut – relung mataku
Mengutip jejak keindahan ,menggenggam seuntai kalung nestapa
berbisik perlahan
Jika ini cinta, mengapa harus ada diantara kita
Aku begitu khawatir denganmu
Mematahkan dahan sebuah pohon kebersamaan
Adalah kerapuhan ranting melepas daunku
Dan tunas itu terlalu sulit tuk tumbuh
Duapuluh tujuh purnama, aku tersiksa dengan peluh dikertas itu
Lewat geletar luka yang kutoreh, pecutnya memaku gelisah
Namun melihat semangat dari binar yang melarutkan kebahagiaan
Membalut perih sesalku
Ucapnya semakin lirih dan diam
Lima hari, kami sama disini
Saling berbagi cerita, berkisah tentang perjalanan yang pernah kami lalui
Dan itu cukup bagiku bisa mengenalnya dengan baik
Darinya, aku mampu bercermin
Menjadikan keinginan sebagai tawanan dalam terali dan ruang yang sempit
Memenjarakan pemberontakan dalam bathinku tuk meretas garis
Seperti bulu halus yang lepas dari sela sela sayap angsa
Lembut melayang dan sangkut dipucuk ilalang
Suaranya gemetar dipermainkan nafas yang mendesak dari hidung bangirnya
‘”D…parau suaraku memanggilnya lirih
Hanya initial itu ( sebagaimana ratusan puisi didiary yang kuberikan dihari ulang tahunnya )
Memalingkan wajahnya menatapku, seolah olah ingin mendengarkan kembali apa yang kuucapkan, memastikan bahwa aku memanggilnya
Aku tidak mengulang, sakit disekitar pusar mengunci tenggorakan membasahinya dengan darah yang menetes dari ujung lidah.
Setelah ratusan hari berlalu dalam penantian, semestinya hari ini, esok dan lusa takkan kulepas lagi belenggu hatimu. Namun, inilah hidup dimana bukit kebahagian berada diseberang, dan dibawahnya jurang curam yang kelam. Aku tau bahwa untuk menggapai bukit itu, aku tak mampu membangun jembatan sendirian-
Aku berharap bisa menitinya bersamamu, tapi harapan tinggal sepenggal asa
Menanamkan nisan dengan ukiran nama kenangan
Menjalin benang ketentraman, tidak harus saling memiliki
Aku berharap kamu bisa mengerti itu
Maaf, tidak seharusnya aku mengungkapkan ini saat kamu masih berbaring dan lemah
Hening menjalar diantara dinding dan sekat biru, menciptakan jarak
Menyimpan wajahnya dalam butiran kabut
Mendung membayang tipis ,namun begitu jelas tergambar sebagai bentuk kedukaan
Seperti isak tertahan,menjadikan beban yang sulit dilepaskan
Norma ini terpaksa kutebas
Sebab, esok..detak kan melangkah, menembus samudra
Tiang tiang sauh telah terpancang, layar mengembang
Meski rindu ini belum sempurna, detik terus mengikuti dengan angkuh mengikatkan rantai pada perjanjian yang tak bisa kufahami
Lembut beranjak, dengan lengannya yang gemulai menggeser sekat biru
>lihatlah merpati lelah itu
Sayapnya begitu setia mengepak, hinggap ditempat dan waktu yang sama
Tatapanku mengikuti arah wajahnya,
Menyaksikan dengan jelas sebuah hati lain, tengah lelap diatas sofa
Perasaan asing tiba tiba menyeruak dalam dada, menyelam antara dua paru paruku
Jengah dan nelangsa
Jangan berprasangka yang bukan bukan, jangan menduga apapun tentangku, segala kebaikan ada dikepal jemariNYA yang tak tampak. Dan keindahan yang kamu impikan sebenarnya telah lama bersemayam dihatimu yang lapang.
Keperihan, dan penderitaan dari luka yang memanjang hanyalah coretan usang diserpihan kertas ataupun kain perca. Segalanya telah tertulis, terlukis dari tinta tinta yang mengalir dari mata pena ataupun canting kehidupan
Gapailah apa yang ada diantara dua sayap merpati itu, didalamnya aku melihat ketabahan dan keanggunan seorang wanita.
Kata katanya meluncur tanpa ekspresi, kedukaan lambat berarak dari wajah pasinya, digantikan rona memerah keluar dari hati yang tulus
Dentang jam mengetuk dinding satu kali, memapah malam jadi semakin tua. Dengan sedikit kekuatan dari mata yang mulai redup, aku melihatnya berdiri, menarik selimut menutupi lengan hingga dekat leherku. Berbisik perlahan ‘ terimakasih telah memberi warna dirinduku yang lampus, doaku adalah air penghapus rasa hausmu.
Setelah kata kata itu ,aku tak mampu mengingat apapun kecuali senyum termanis darinya ikut dalam tidurku
Dengan hatinya yang murni ,Yang dipenuhi kesahduan
Ia melangkah dibawah bayang bayang kabut – relung mataku
Mengutip jejak keindahan ,menggenggam seuntai kalung nestapa
berbisik perlahan
Jika ini cinta, mengapa harus ada diantara kita
Aku begitu khawatir denganmu
Mematahkan dahan sebuah pohon kebersamaan
Adalah kerapuhan ranting melepas daunku
Dan tunas itu terlalu sulit tuk tumbuh
Duapuluh tujuh purnama, aku tersiksa dengan peluh dikertas itu
Lewat geletar luka yang kutoreh, pecutnya memaku gelisah
Namun melihat semangat dari binar yang melarutkan kebahagiaan
Membalut perih sesalku
Ucapnya semakin lirih dan diam
Menjalin benang ketentraman, tidak harus saling memiliki
Aku berharap kamu bisa mengerti itu
Maaf, tidak seharusnya aku mengungkapkan ini saat kamu masih berbaring dan lemah
Hening menjalar diantara dinding dan sekat biru, menciptakan jarak
Menyimpan wajahnya dalam butiran kabut
Mendung membayang tipis ,namun begitu jelas tergambar sebagai bentuk kedukaan
Seperti isak tertahan,menjadikan beban yang sulit dilepaskan
Norma ini terpaksa kutebas
Sebab, esok..detak kan melangkah, menembus samudra
Tiang tiang sauh telah terpancang, layar mengembang
Meski rindu ini belum sempurna, detik terus mengikuti dengan angkuh mengikatkan rantai pada perjanjian yang tak bisa kufahami
Lembut beranjak, dengan lengannya yang gemulai menggeser sekat biru
>lihatlah merpati lelah itu
Sayapnya begitu setia mengepak, hinggap ditempat dan waktu yang sama
Tatapanku mengikuti arah wajahnya,
Menyaksikan dengan jelas sebuah hati lain, tengah lelap diatas sofa
Perasaan asing tiba tiba menyeruak dalam dada, menyelam antara dua paru paruku
Jengah dan nelangsa
Lima hari, kami sama disini
Saling berbagi cerita, berkisah tentang perjalanan yang pernah kami lalui
Dan itu cukup bagiku bisa mengenalnya dengan baik
Darinya, aku mampu bercermin
Menjadikan keinginan sebagai tawanan dalam terali dan ruang yang sempit
Memenjarakan pemberontakan dalam bathinku tuk meretas garis
Seperti bulu halus yang lepas dari sela sela sayap angsa
Lembut melayang dan sangkut dipucuk ilalang
Suaranya gemetar dipermainkan nafas yang mendesak dari hidung bangirnya
‘”D…parau suaraku memanggilnya lirih
Hanya initial itu ( sebagaimana ratusan puisi didiary yang kuberikan dihari ulang tahunnya )
Memalingkan wajahnya menatapku, seolah olah ingin mendengarkan kembali apa yang kuucapkan, memastikan bahwa aku memanggilnya
Aku tidak mengulang, sakit disekitar pusar mengunci tenggorakan membasahinya dengan darah yang menetes dari ujung lidah.
Setelah ratusan hari berlalu dalam penantian, semestinya hari ini, esok dan lusa takkan kulepas lagi belenggu hatimu. Namun, inilah hidup dimana bukit kebahagian berada diseberang, dan dibawahnya jurang curam yang kelam. Aku tau bahwa untuk menggapai bukit itu, aku tak mampu membangun jembatan sendirian-
Aku berharap bisa menitinya bersamamu, tapi harapan tinggal sepenggal asa
Menanamkan nisan dengan ukiran nama kenangan
Jangan berprasangka yang bukan bukan, jangan menduga apapun tentangku, segala kebaikan ada dikepal jemariNYA yang tak tampak. Dan keindahan yang kamu impikan sebenarnya telah lama bersemayam dihatimu yang lapang.
Keperihan, dan penderitaan dari luka yang memanjang hanyalah coretan usang diserpihan kertas ataupun kain perca. Segalanya telah tertulis, terlukis dari tinta tinta yang mengalir dari mata pena ataupun canting kehidupan
Gapailah apa yang ada diantara dua sayap merpati itu, didalamnya aku melihat ketabahan dan keanggunan seorang wanita.
Kata katanya meluncur tanpa ekspresi, kedukaan lambat berarak dari wajah pasinya, digantikan rona memerah keluar dari hati yang tulus
Dentang jam mengetuk dinding satu kali, memapah malam jadi semakin tua. Dengan sedikit kekuatan dari mata yang mulai redup, aku melihatnya berdiri, menarik selimut menutupi lengan hingga dekat leherku. Berbisik perlahan ‘ terimakasih telah memberi warna dirinduku yang lampus, doaku adalah air penghapus rasa hausmu.
Setelah kata kata itu ,aku tak mampu mengingat apapun kecuali senyum termanis darinya ikut dalam tidurku.
kita pernah sama meraut sepi, hingga ujungnya tajam lalu patah menyisakan arang
sebagian dari kisah itu sulit tuk diceritakan, kerna terletak di atas rasa yang telah membeku, mematung – laksana pahatan cadas dari titisan air yang terus menerus
menampilkan sosok keindahan dalam selimut kabut sekaligus mempertontonkan keangkuhan dan ketakutan diremang bayang bayang malam
Kita sama sama diam melukis dinding, melampiaskan imaji, hingga pori pori dan wajah terbakar matahari
Sementara bibir yang menghitam , bungkam
Menelantarkan pembicaraan
Wah mas Restu apa kabar ? ketika kita sama diam melukis dinding maka dengarkan aku kau dan celotehanku yang tak henti…
terima kasih tulisanmu semakin membuatku ingin terus menulis…
kabarku baik baik aja Rin. Hihihi seneng dengerin celotehmu
semangat benerrrrr n ber api api.
Bacakan aku puisi, dengan latar desir angin menyentuh dedaunan
Riuh gemuruh ombak mendentum pantai
Teriakan histeris kaum tertindas, detak waktu menebas ruang
Merepih sepi
Bacakan aku puisi
Yang terlahir dari bibir saga dekat bilik jantungmu
Atau, dengarkan saja aku
Mengeja bait demi bait cerita yang sempat kurakit , bermain dialir sungai
Disela sela jemarimu
Tidak
ungkapan dari sela bibir telontar begitu saja
laksana gelap
lelah membujuk cahaya, suaranya nyaris tak terdengar
entah takut atau kalut
namun riuh gemuruh gelombang dalam dada
tiba tiba mengalun lembut
berayun lambat
sepi seperti menjadi kutukan angin
terjebak dalam ruang tanpa celah
hening … lantas diam
mendera ego smakin keras dan kental
tuk sesegera mungkin menghindar
menyisih,
menyingkir lebih jauh
tidak, kata kata itu justru menahanku
memandang gundah arca gading
melihat dengan jelas air yang merembang
menjadi kilatan kilatan tajam membius
lewat bibirnya yang gemetar
basah oleh tetesan luka
darah kemarahan membayang
meski ribuan jemari cahaya rembulan
memahat keindahan dimahkota dan payung dedaunan
lelehan rasa itu merangkak mendekati
menenteng seutas nyeri, melingkarkan nestapa diantara dagu dan dadaku
kebisuan menghempaskan sepi
seperti lirik lagu yang dipersembahkan tuk sebuah kematian
dan dinyanyikan dipusar malam
kebekuan mendera, melemahkan seluruh persendian hingga lunglai
helaan napas disertai gerak langkah berat, menggeser guguran daun dan reranting
mengusir kebuntuan
kutengadahkan wajah, yang tadinya terkulai
mendapati kedua matanya tengah menyulam kebimbangan
merajut benang benang kegelisahan
rembang air perlahan turun dari peraduan
mengecup retak kwarsa berbingkai baja
isaknya yang tertahan degub sedu
memapahku berdiri, hingga denyut tipis ubun ubunnya mampu terlihat
kedekatan ini memompa jantung jadi smakin cepat tak beraturan
menyatukan bayang kewajah bumi
Aku menemukan diriku yang asing, tengah memberontak mencoba melepaskan diri dari satu keinginan mengangkat wajah yang tertunduk layu
Memagut hasrat hingga terbakar dan terbang, laksana air terpanggang terik bertaut dikumpulan mega
Aku menemukan diriku dalam kerisauan dan kekhawatiran, menghunus untaian cahaya sebagai cambuk tuk memisahkan jarak
Sementara aku dan aku yang lain, tanpa riskan menggapai pundaknya, merangkulnya dalam dekapan merasakan salju mulai mencair , mengalir meretas akar pertengkaran
Langkah kecil mendendangkan gema
Memecah sepi
Mengendap , sejenak terhenti dan lambat mendekat
Masih dengan mata tertutup, aku mampu merasakan jemari halus meraba keningku. Perasaan asing menyergap dalam gelap
Kelembutan yang tak sama, membawaku ke alam mimpi dan nyata, aku tersesat dalam genggaman monster ciptaanku sendiri
Ketakutan akan rantai keinginan tuk menggapai keindahan , laksana gemuruh badai yang mempermainkan cemeti cahaya dihamparan padang hijau terbuka, gelegar bersahutan memenjarakan hasrat.
Alunan nafas yang tak sama, menatahku pada ruang hampa, aku tidak menemukan apapun kecuali kekosongan bersemayam dalam diri yang bimbang dan penuh keraguan. Tidak ada apapun selain keinginan keinginan yang terbunuh oleh belati kehidupan terkubur pada hamparan pemikiran yang membosankan
Pada kekecewaan dan kehilangan
Pada gejolak rasa yang tak tentu
Terengkuh dalam tanya yang mencari jawaban
Menciptakan kekalutan sebagai satu sayatan perih
Sementara, malam menyisakan nisan dipusar purnama
Mengiris gumpalan kabut
turun mengecup kedua mataku
KOMA,
Alam bawah sadar membimbingku kedepan cermin, meyakini bayangan didalamnya sebagai diri yang utuh, lewat senyuman dan isyarat lambaian tangannya, aku mendekat , mengamati guratan guratan dilingkaran mata dan helaian cahaya berkilau dirambutnya lebih dari yang gelap. Melihat wajah tua dan lelah.
Memulai percakapan dengan pertanyaan
Siapa engkau wahai lelaki renta
Dengan bibir yang tetap menyimpan senyum ia menjawab “ aku adalah dirimu yang lebih dahulu beranjak menebas waktu, meninggalkan jasadmu yang penuh keraguan, bukan sahabat juga bukan cintamu yang lebih banyak berangan daripada melakukan. Aku adalah dirimu yang terpenjara dalam sesal berkepanjangan, terlunta ditengah semak dan belukar kota, terjerembab dalam gumpalan asap kotor. Lihatlah bibir ini, ini adalah senyum kemunafikan dirimu yang selalu mencela dari balik punggung penderitaan.
Racaunya tak henti mengaing ditelingaku, sebelum lebih panjang, tanganku mengepal, memukul keras kewajahnya hingga kata-kata terhenti dan menjadi dentingan kaca pecah, terserak diatas lantai. Masih dalam berdiri aku berguman “ engkau bukan diriku
Riuh sorak dan tawa serak dari serpihan cermin yang terbuka.
Sesak tangis terisak dari repihan bayang yang tertutup
Menamparku dengan rasa panic, hingga lemah jatuh terkulai menerima tikaman tikaman menyakitkan.
Lantas suasana menjadi hening, dingin menyentuh tengkukku mendudukkan tubuh yang masih setengah limbung kesudut ruang.
Aku adalah dirimu,
ibu yang mengasuh dengan segenap kasih sayang dan kelembutan, yang menyimpan cemas aat kau terluka, memaafkan sebelum kata kata maaf itu sendiri kau haturkan.
ayah yang memikul beban, meletakkan bara kehidupan diantara dua bahu, tanpa pernah menghitung sejauh mana langkah mencecah tanah.
putra yang lahir dari rahim bumi, yang selalu berharap tumbuh diantara rerimbun dedaunan, ditubuh tubuh perkasa belantara.
putri yang selalu bermain dibatas dua lautan, mencintai keindahan dan kedamaian.
Sahabat malam dalam dengkuran panjang hingga subuh terlewati
Karib siang yang berayun lelah direranting terik mentari, mencari untung menemu rugi
Aku adalah dirimu
Aku adalah ……………………….
Aku……………………………………
Kembali suara suara riuh laksana gelombang saling berebut, berkejaran
Kadang lirih
Dan sesekali keras membentak, dengan teriakkan pengakuan bahwa mereka adalah diriku.
Suara suara melambungkan jiwaku dengan celaan, sekaligus membunuhku dengan hempasan pujian.
Dekat anak telingaku sebelah kanan, cermin pecah masih tertanam, ujungnya yang tajam membenam, iba tangisnya terisak mengucurkan darah.
Akulah sebenarnya dirimu, kata katanya diucapkan perlahan, namun sangat jelas mengisi sel sel otakku, hingga suara riuh mampu terabaikan
Akulah dirimu “ hati yang bersandar diparu paru sebelah kiri, lentera yang selalu dipermainkan angin, terang menyala ketika ia mati, lemah terhuyung ketika ia kuat berhembus
Jemariku gemetar menyentuh, menggapainya
Sedikit rasa sakit saat getar tanganku meraba sisinya yang lebih tajam
Menemukan hati berselimutkan kabut berwarna merah mendekati kelam, mendapati bayangan diriku dalam keadaan muram
Lagi , gelap merangkulku begitu kuat. Tangan tanganya yang kokoh mencengkram menutup alur nafasku hingga sesak dan tak sadarkan diri.
Mas restu slm kenal yah puisinya bgs,…aku suka puisimu
Hai kas, salam kenal kembali. Terimakasih ya.
Detik detik berdetak,
Jari jari waktu yang lentik mengetuk jendela kamarku
Mengantarkan berkas cahaya , serta aroma khas yang menitiskan kesucian,
Saat mataku membuka dan mengerjap, menjumpai wajah wanita setengah baya, wajah yang tak pernah asing bagiku. Dirinya adalah anugrah terbesar yang diberikan alam untukku, didekatnya aku seperti bayi yang tertidur pulas dalam buaian , kedamain dan keteduhan serasa mengalun dalam peluknya.
ibu, yang mengajarkan cinta dengan bahasa hati, meluruhkan segala bentuk nestapa
Kehadirannya menciptakan kerinduan ,tuk bisa kembali ke masa kecil yang bahagia. Kenangan itu laksana malam yang menitipkan butiran embun dipucuk pucuk rerumputan, dan pagi… lewat kerlip mentari menciptakan berjuta kilau warna keindahan. seperti ayunan langkah kaki dari pusaran mata air belantara menuju muara, tapak tapak terjejak meninggalkan bekas lantas hilang tersaput musim.
Ketika ia menyadari, bahwa sayu mataku memberikan tanda dan harapan, linang air matanya memelukku, sebuah pelukan kasih sayang yang tak terbalaskan. Lalu bisiknya “ bangunlah anakku, ibu tau bahwa dirimu tidak terlalu rapuh dengan keputus asaan.Tersenyumlah, sebab dalam senyum kamu takkan pernah menemui pikiran pikiran duka, lewat senyum , pintu kabut akan terbuka dan didalamnya dapat kamu temui telaga bening lukisan dari jemari keindahan. Bangunlah, bukankah semesta alam telah mengajarimu tentang cinta dan penderitaan. Bukankah rasa sakit juga merupakan bentuk kasih sayangnya yang tak terlihat, memahat kesadaran diatas luka masa mudamu
Untaian kata katanya lembut bagaikan hamparan mutiara yang dipersembahkan rahim laut kepada tepian pantai, kemudian dengan lidahnya yang asin mencumbu mutiara mutiara itu hingga tak sempat kering.
Bisikannya memberikan nyala dalam keremangan dan dibawah gemetar bayang bayang liuk tarian kehidupan berputar mengelilingi jiwaku. Berteman kekuatan serta keinginan tuk sesegera mungkin lepas dari sakit, tanganku menghentak alas tubuh yang membentuk cekungan. Menghambur kerengkuhan ibu, sembari berbisik ‘maaf ibu. Kebebasan yang engkau beri mengikatku pada terali kebodohan, kesenangan dalam gelas yang berisikan anggur hanyalah kepahitan yang menyeretku keruang ini.
Wajahnya berseri memancarkan kegembiraan dan keharuan, dari matanya yang berkaca kaca , aku mampu melihat hidup yang lebih berarti.
Aku tengah berbaring, lelah menggapai diriku
Engkau lihatkah ,pucat wajahku
Pasi ditampar diriku
Lihatlah,Tatapan kedua mataku
Lemah mencari cari cahya diriku
Menggigil sayu
Seperti daun yang tak lagi menemu asupan
Layu mataku,Menguning, merayu diriku
Menggelepar dan gemetar
Terombang ambing hingga kering
Aku butuh diriku, yang gemar bersikukuh denganku
Tegar meski berselimutkan jiwa rapuh
Wuih, aku ternyata lebih membutuhkan pemikiran pemikiranku kembali
Mendengarkan bisikankanya yang terkadang usang dan polos
Pemikiran yang mampu membakar jutaan kertas kosong
Menyalakan keengganan dan ketakutan
Menebas keangkuhan dan kesombongan
Yap, aku membutuhkan pemikiranku kembali
Yang sempat terserak dialiran sungai hitam
Ditepi tepi terotoar
Yang sering tersuruk diarus kelam kehidupan
Di dada
Ada air yang tenang
Ada riak
Ada gemuruh ombak .
Seperti rindu
Tenang dalam kedalaman
Kadang beriak
Terkadang berombak bergemuruh dan membadai
Seperti itulah aku saat ini
Sesaat aku ingin menjadi sungai yang mengalirkan air jernih disepanjang hilir hingga hulu saga hatimu.
Disaat lain, aku ingin menjadi lahar dingin mengairi akar akar jantungmu, membongkar segala tanggul kesepianmu.
Namun aku tak bisa.
Di dada,
Kesunyianku berbalut kafan
Diusung dalam keranda keterbatasan.
Lantas, tanpa nisan, tertanam ditanah tanah ketidak berdayaan.
Seperti halnya sepimu, sunyiku berselimut kabut
Dingin
Tanpa dendam
151110
‘.*
Sesaat lalu, terbersit kenangan akan riuh celotehanmu.
Hanya ada desah dan helaan nafas, ketika harus menepis keindahan dan kerinduan. Kamu boleh menyebutku pengecut, karena aku tidak memiliki keberanian tuk sekedar berbincang denganmu. Selain ketidak ramahan diriku .Rasa salah menjadi bayanganku yang kedua , semakin kucari perasaan itu, semakin aku terbenam dalam kelu. Entah apa .
Mengenalmu bagaikan menemu intan ditumpukan pasir kwarsa. Kuraih lalu kusimpan diantara laci lemari kamarku. Kubuka stiap kali aku mengingat, menatap bias warna warni yang terpancar disana.
Kamu boleh memanggilku penakut, karena aku memang pantas untuk sebutan itu. Aku tidak berharap kamu bisa memahami diriku. Sebab aku hanyalah lukamu yang tersimpan.
Sesaat lalu, terbersit keinginan tuk sekedar mendengar suaramu. Namun keberanianku terlalu lemah, tuk menjangkaumu. Meski tidak utuh, aku bisa merasakan keperihan itu.
Canda tawamu masih membayang
Sungguh keriangan itu mematri kebahagian
Sesaat
Hanya sesaat
Aku terasing dalam kesendirian
Aku dan seorang pemabuk
Sejak cinta menyelingkuhi kemurnian
ia menjadi lelaki pendendam
Berteman kesunyian dan diam
Seperti diamnya tuhan
Tuhannya tuan tuan
Tuannya tuhan tuhan
Jemarinyanya tak lagi gemulai menarik kuas ,
Ia menjadi lelaki pemabuk, terajut dalam serat serat kehidupan .
Bersahabat kesepian dan hening
Seperti heningnya tuah
Tuahnya tuak tuak
Tuaknya tuhan tuan
Suatu kali ia datang menghampiri, dari rongga mulutnya aroma anggur menjadi wewangian ruang dan terhuyung.
> Aku lapar
Aku tak butuh asupan tubuhku, lama aku berdiri ditiang palka , menatap gulungan ombak, menentang badai , hatiku haus dan lapar
Sela lenganku bertumpu pada lengkungan gitar, lemah wajahku bersandar dipunuknya yang satu, jemari kiri menekan senar pada ruangnya,sementara jemari kanan memetik pelan satu satu. Musik aku mainkan perlahan, dentingnya menjadi musik jiwa.Kesedihan bercengkrama dengan keperihan, agar bayangan duka tak tampak , keningku menekur.
> Hatiku haus dan lapar, nada nada itu mencerai beraikan keinginanku, hentikanlah.
< Engkau angkuh, kataku datar
kamu itu angkuh, tidakkah kau lihat diriku yang lebih fakir darimu
Lihatlah , malam malam telah berguguran ditelapak waktu, diriku masih seperti ini, meminta bahkan memelas untuk bisa menemu jalan.
bantu aku, terlalu lama aku dalam lelah, beri aku secangkir nasihat, ucapnya liat
sebelum gerak jantungku terhenti, sebaiknya kita tinggalkan tempat ini, “aku tidak sanggub menyaksikan dirimu yang meregang , lunglai mengejang, ah ,betapa zalim rajamu merajam” seketika lirih suaranya melemah, namun lebih jelas daripada sebuah rengekan.
kami kembali berjalan bersisihan, meninggalkan lorong itu, kabut mulai menipis.
Sesampai diluar, masih dalam keadaan limbung ia berdiri , dan menatapku, pandangannya seakan akan belas kasihan.
Lagi tangannya memelukku, dan diam menjadi satu satunya bahasa kebenaran, terangkum dalam berjuta kisah.
Lama bibir kami disulam jarum kebisuan,
sementara _purnama dimahkota tiang listrik menyisakan separuh bayang , separuh lagi pendar cahaya berselimutkan lapisan awan tipis
embun menitik, menambah dinginnya kebekuan, merambah kebuntuan
perlahan lima jemarinya memukul pundakku , tanpa ucapan perpisahan ia melangkah, terhuyung meninggalkanku
dan aku, kembali menjadi raja atas diriku
merebut anak panah yang terselip dari balik dada diriku
jemari imaji
tik
.
tarian jemari imaji
sejenak terhenti
mati suri
terkubur dalam keheningan
serupa kekosongan
sering tertuang di tiap baris puisi
tanpa warna
kehilangan rasa
seperti kehampaan
sering terhempas di tiap penantian
tarian imaji
rebah
kehilangan aura
MAUT
Kaukah
Sosok yg berdiri dipintu itu
Sesekali melintas lewat ekor mataku
Kaukah
Berbalut dingin tanpa wajah
Wewangian bekumu aroma ruangku
Kaukah
Atau hanya karna gigil rinduku
mencipta bayangmu
Catatan kaki
Ketika kau baca ini, mungkin aku tengah melangkah, meninggalkan berkas catatan, dipasir dan bebatuan.
Kata kata kutuliskan dikedua tapak kaki, bukan puisi .
Memakai jarum kebisuan, ia kusulam perlahan
Serasa ada perih terkadang geli.
Ketika kau baca ini, mungkin aku tengah duduk, menatap ciplakan kata tersebut, diatas pasir dan batuan.
Diatas pasir dan batuan, bukan diatas lumpur maupun telaga yang dikeruk jemari hujan.
Jika kau tau aku tengah menyalami tangan tangan keraguan, sebab begitu kaburnya kalimat itu, bahkan sebahagian hilang terhapus jejak yang mengikuti ku.
Catatan kaki
Dengan pisau silet
Kukiliti lagi pelan pelan
Mungkin, kekosongan ini bisa lebih baik
bukan sawit
dibawah remang bayang
aku masih tertidur dan bermimpi
dengan langkah timpang
berjalan dari pusaran mata air belantara , menuju muara
tapak tapak terjejak
meninggalkan bekas
lalu hilang tersaput musim
aku masih saja bermimpi
menjemput hatimu
untuk bisa kembali menanam hutan yang gundul
bukan sawit
sawit hanyalah fata morgana kekayaan
mengisi kantung kantung juragan tambun
bukan sawit
yang perlahan tumbuh
akarnya merambah jutaan hektar lahan
menyerap tanggung jawab keserakahan
dibawah remang
menuju gelap
aku tiada lelap
kerna bayangbayang telah menjadi gambar ketakutan
akan bencana
akan geram dan amarah
jembatan waktu
lelaki yang melintasi jalan itu
menatap aliran air
berlari cepat melebehi hitungan detik
memandang gumpalan mengeras
duduk menunggu abaikan putaran hari
melihat luruh dedaunan
bergerak lambat
berdiri kaku
merasakan terik
dingin malam
hempasan
bahkan elusan lembut tangan tangan angin
jembatan waktu
dibawahnya
sungai
batu
pepohonan
menjadi waktu
diam
diam itu
sepi yang tersimpan dalam lipatan daun daun kering
membungkus sunyi didingin malam
diam itu
rangkaian kata terkunci dalam almari merah
atau dalam gelombang air yang ada diruang kepala
diam itu
bukan tanpa suara
kerna deburnya melebihi teriakan
bukan pula lingkaran emas
diam itu
diamku
diam
dia
di
d
di
dia
diam
diamku
bangunlah
siangmu yang lelah
lemah berayun direranting terik
bermain mengumpulkan remahan waktu , hanya tuk menggapai suatu kenikmatan dan kesenangan
dan aku
tidak bermaksud membangunkanmu
ketika malam merangkulmu dalam lelap
memeluk tubuh rentamu dengan impian kosong
bangunlah, rembang pagi mulai membayang
hamparan sajadah telah membentang, hadapkan jasadmu dengan kemurnian
sujudlah, basuh hatimu dengan sanjung dan puji.
dengan segala cinta yg diberikan untukmu
duh hati
bangunlah
mengapa terus rebah bermalasan
Aku suka senja ini
Dimana selendangnya yang jingga, bergelayut indah dileher bukit.
Sungguh
Aku suka senja ini
Dimana bayangmu, menyerupai tarian api yang dimainkan beribu pucuk bunga ilalang.
Aku menikmati nuansa ini
Dan keinginanku menceritakan padamu, tentang awan yang berpola
Tentang riak kecil air sungai barumun yang memantulkan kemilau emas
Tentang elusan tangan mengayuh dari atas perahu
Ah, inilah keindahan itu
Meski kau diam
Aku kan menceritakannya
Lewat pucuk rerumputan yang mengangguk
Lewat suara suara
Bahkan melalui nyanyian jangkrik
Lihatlah
Lihatlah
Jelas, dari mataku yang dipenuhi binar binar kekaguman.
Halus, dari senyum yang menyimpan keharuan
!9mei!!
Teruntuk sahabat mayaku ( D )
Usailah sudah senja indah itu
Menyisakan remang disimpang
Merangkul hening
Dan kita
Masih memperbincangkan puisi
Mencari makna dan kekisruhan
Tulisanmu
Ibarat bayang dibalik kaca gelap
Ada
Namun samar tertangkap
‘kata itu membekas hingga kini
Kita
Masih terus berbincang
Lewat alur
Melalui sela waktu dan jejaring
Sementara aku terus mencari
Membenahi diri
Mencoba menisik jarum diatas kain dari lingkaran ram tenun tangan
Merajut satu satu benang kata
Menyulamnya
Hingga kata kata itu menjadi lukisan dengan paduan warna
Sadar
Inilah tulisanku
Buram
Bahkan dapat dikatakan gelap
Tidak ada gelembung nafas
Apalagi bayang bayang
Lantas
Perbincangan kita
Pupus
Terhapus jarak
Terengkuh kesibukan
Tapi, benarkah
Tidak
Ternyata kamu telah menghapusku
Menyimpan rasa kecewa
Dan tanda tanya
Luka mana yang telah kutoreh
Coretan mana yang membuatmu tidak suka keberadaanku
Jika memang ada duri dibalik lidahku
Jika memang ada api ditinta catatanku
Maafkan aku
Maafkan
Maaf
Kerna hanya kata itu yang bisa kusampaikan
Dari rasa salah
Dari perasaan tersisih
Dari mati suri tulisantulisan
Dari kebodohan dan egoisku
Maaf
Sekali lagi maaf
270511
Hanya pengen nulis
aku dan pemikiranku yang asing
Jam dilingkaran tanganku menunjukkan pukul sebelas kosong tujuh.
Waktuwaktu seperti ini , biasanya aku sudah terlelap dalam ranjang, dalam kelelahan dua belas jam kerja ditambah dua jam perjalanan.
Bandul pengikat tirai, berayun, sesekali berputar dipermainkan angin.
Tatapanku mengikuti gerakan itu
Sementara, pikaranpikaran asingku mengambang, menuju kepermukaan.
Ibarat pelampung yang tersangkut diantara rekahan karang didasar laut, lepas oleh arus yang keras.
Pikiranku mengambang, terombang ambing, kadang dipuncak gelombang, kadang dilembahnya.
Pikiranku adalah pelampung
Angin sebagai naluri
Air menjadi rasa
Daratan, bentuk dari jasad yang digerakkan oleh simpulsimpul akar kehidupan
Dan cahaya, serupa batas pandangan.
Pikiranku
Adalah pelampung
Berada diatas rasa, menuju seonggok jasad
dipermainkan naluri
dan batas.
Pikiranku adalah pelampung
Yang membatasi antara angin dengan angin
Angin dengan air
Angin dengan daratan
Angin dengan cahaya
Sekarang
Pikiranku berubah menjadi angin
Terkurung dalam keterbatasan
Berujud sebagai aku
Yang asing
Bagi diri
Bagi pemikiranpemikiran yang tidak bisa mengenalku .
Pikiranku adalah angin
Mengapung dalam pelampung
Pecah terberai dihalaman ini
Jam dilingkaran tanganku menunjukkan duabelas kosong enam. Kuberharap dilain waktu pikiranpikiran lainnya tidak seasing tulisan ini.
.
di akhir tikungan
setelah melintasi tanjakan dan menyebrangi banyak lembah
kutemukan jalan lurus penuh lubang dan batuan
mencoba terus berjalan
menghindari sudut batu yang tajam
melompati kubangan lumpur
smakin keras menghindar
smakin kukuh melompat
tapak kaki tetap saja terluka
tetap saja basah
ujung jalan tlah tampak
membentuk titik
membayang sebagai misteri
dengan gemetar kuterus melangkah
meski tapak penuh darah
genangan memerah
langkah tetap beranjak
berpijak
sebab dibalik titik
ada gelap yang menyimpan cahaya
penghubung ‘kau, aku
.
akhir dari sebuah catatan
juga
merupakan awal dari suatu perjalanan lain
wahai
jika keangkuhan adalah selendang milikmu
mengapa
helainya, masih saja mengikat saga hatiku
hingga aku
sering berpaling dari dirimu
duh wahai
jika cinta adalah perwujudan dirimu
mengapa
durinya, masih saja tertanam dibelahan paru kiriku
hingga aku
terkadang lari
dari cinta itu sendiri
dari kasih sayangmu
wahai
rengkuhlah aku
raih
dalam dekapmu
bakar helai helai kesombongan dan duri kebencianku
cahaya
didalam gelap ada keindahan
tak tampak memang
namun
kita mampu merasakan
walau hanya sekedar kenangan
didalam gelap ada kekelaman
hitam
pekat memang
namun
kita tidak pernah tau
bahwa dari seluruh penjuru
berkasberkas cahaya selalu menerabas masuk
mencari lubang melalui retakan dan celah
retakan
retakan yang tercipta sebelum ada kegelapan
celah
celah yang mengalir dari darah murni
diantara alur hitam
dikedalaman kelam
ketika cahya itu
menitik
keindahan maya tenggelam
terbias keindahan hakiki
bulan separuh bayang
duadua limapuluh
aku mulai membuka halaman ini
diluar
dalam selimut kabut
bulan merah pucat
menyisakan separuh bayang
bulan masih separuh
separuh bertaruh bias
separuhnya lagi gemetaran berperahu
gemetar berpeluk bayang
duaempat kosong tiga
aku ingin kau meniupkan kantuk
agar kau tau
akulah bayang itu
separuh
bertaruh bias
Nbk blk9
Yg kurasakan, engkau tak mengingatku lagi
Lirih suaranya mengambang diantara kesadaranku
Akupun bersandar didinding, berpangku siku. Mencari asal suara itu.
Selain desau angin menjerit dari sela pintu kamar mandi, tidak kutemui apapun.
Lantas malam menarik kesunyianku ketempat paling hening
Tempat yang menyimpan sebuah hati dipalung terdalam kerinduan
Yakni, tempat teruntai kata dalam wujud keremangan
Kantuk menjerat mata, sementara rasa penasaran menusuk jarum pada pikiran, membuat suatu suasana trance,dimana kesadaranku terombang ambing oleh suara misteri yg muncul sejenak tadi.
Tidurlah
Tidurlah wahai jiwa lelah
Lelaplah dalam buaian renta nan pongah
Kembali suara itu berbisik lemah, namun terasa sangat jelas menggema diruang kepalaku.
Lagi, aku terduduk
Mengabaikan rasa kantuk yg sangat berat.
Duduk berpeluk lipatan kedua tungkai kaki.
Kemudian berbicara tanpa suara ‘aku tidak lelah, tidak pula pongah, lihatlah betapa kuatnya kedua jemariku mengepal bara, dimana api kehidupan terus menyala membakar garisgaris retas pada langkah yang telah kutinggalkan.
Lihatlah, meski melepuh, aku selalu menjauhi keluh.
Derit ranjang besi dan dengkur dari kamar sebelah menepis keheningan, menghentikan ucapanku.
Denting tiga kali dari pipa besi yang dipukul peronda, menyadarkanku. Malam sudah terlalu larut, dan aku tak ingin terbawa rasa penasaran dari suara yang tak begitu kukenal.
Membiarkan catatan ini mengambang.
Tulislah
Walau penamu bertintakan air mata
Tulislah
Diatas kertas
Atau didinding hati
Tulislah meski sebaris kata
Kerna ia buah dari pikiran
Dari perjalanan yang disampaikan melalui mata dan telinga
Engkau kan menemui berjuta keajaiban
Bahkan mukjizat terbesar dari dunia
Teruslah menulis wahai
Ceritakan
Tentang punuk gelombang
Tentang badai dan halilintar
Atau seribu warna benang yang dirajut oleh jemari kehidupan
Lagi, suara itu menggema pelan
Meninabobokkan
Blok9
Sekedar ingin berkabar
Aku baikbaik saja
Meski dalam keheningan, aku masih baikbaik
Mengurai satusatu rajutan hari
Terus belajar dari yang sedikit , dari permainan hidup yang selalu berubah
Aku masih suka menulis, walau beberapa kalimat, lantas terbuang.
Satu hal yang tidak kusuka ketika menulis, disaat memulai, aku harus berpikir, entah kenapa. Sepertinya aku bukan pengarang yang baik, bukan pula penulis yang pintar.
Tulisanku ucapanku
Kata kata digelombang halimun dalam pikiranku
Jika saja aku mampu melukis
Tulisanku kan menjadi bayangan
Menjadi gambar atas hening maupun keriuhan jiwaku
Tulisanku Lisanku
terungkap dan mengalir begitu saja
Mengisi dingin malam
Mengais diterik siang
Menjadi puisi
Menjadi bahasa hati
bergetar lembut didesir darah dan detak jantung
Tulisanku ucapanku lisanku
Aku berharap tetap terjaga
Dari amarah
Dari gemuruh rasa iri dan gejolak kebencian
Aku baikbaik saja
Smoga demikian pula adanya kamu
Blok9