
Puisi – Puisi Riyadi
Mega–Mega Liar
mega-mega liar tertiup angin semakin nanar
membumi rebah ratapan rindu mengendap pedih
jalan tunggu menebing gusar hati berdebar
deru melaju teriak datang beralih-alih
mengetuk dinding malam mengikis jendela kelam
terantuk beku kantuk membatu menyibak pintu
bulan temaram menahan gegas tiap jendela
mengabarkan getar bintang-bintang
bersama, … kegelapan menjadi terang
lenyap pulalah abjad abjad kebohongan
mimpi sumbang saling sambung bersulang seling
selingkuh seru ayat-ayat kejujuran melintas perdu
tabik
begitulah salamku yang pertama
menggelitik
menggeliat
menggoda
meronta
wahai
juntrung kelana ajakan setia
berkoar
berkobar
berkibarlah
bersama untuk semua
begitu senantiasa.
12 April 2010
SENANDUNG RISAU
selimut hatiku bisik kelegaman pikiran di antara akar-akar perindu.
ayat ayat asingmu bukanlah sebuah bisu yang terbaring di cakrawala jingga.
kau telah tinggikan sebuah tonggak yang kerdil dari peradaban yang porak.
kini ada dua jalur yang kokoh membentengi diriku dari rayuan syetan dan bujukan nafsu.
biarkan diriku terkapar dalam dzikir jahar.
dan biarkan malamku menelan dzikir kofi adonanmu.
remang kelu semata menunggu mekarnya pagi.
saat kuseberangi pematang rindu.
masih juga kudengar teriak sunyi…
kulirik durimu sembunyi di antara perdu-perdu.
kuharap tidak kaulukis peta baru.
apalagi dengan darah atas luka di hatiku.
4 April 2010































Lagu Cinta
pada lenyap bayang wajahmu, kutabur mawar perindu
pada rindu langit terangmu, kutautkan hatiku
…
pada deras hujan dan lajunya angin kutelusuri jalan pulang.
menuju pematang malam membawa kenangan saat saat indah bersamamu. …
betapa jalanan gelap merimba …
jerit tumbang pepohonan membentang percik gelimang …
segala perdu melati mawar lenyap ke lubuk hati. meratapi perhentian
jalan kini berujung garis garis hujan.
kesendirianku melawat ke sisi sisi gelap malam.
aku takpeduli dunia maya ada canda.
kutetapkan hati bergeming pada rasa takut yang mulai menyelimut.
…
pematang kecil menimangku dengan hati makin kecil
tiada sinyal terang membuka jalan pulang.
di depan tetap membujur rasa waspada.
kampungku kini berpenghuni peronda waktu yang tak kukenal sejak dulu.
hanya dengan isyarat kami saling bersapa …
mencurah hujan menghening kaca.
masih setia pada ruang dan waktu semakin sempit saja.
di luar musim belum berubah rupa.
jalanan kini mendrainase.
mengalur jejak sungai baru.
mengaliri ladang ladang rindu.
kembali dari kubur ayahnda, aku masih menimang raga.
meski di jagat maya ada pertanda, betapa sulit menyaksikannya.
hujan masih pula merenda cinta.
pada bias kaca kecil yang jadul semata.
kutimang berita kawanan jalang malam.
sulit kugambar ke dalam jiwa.
laknatnya berbaur detak aneka rupa.
obor … obor … obor …
nuansa kampung mulai terbaca berebut cinta kenangan lama.
saatnya kubuka mata, membalas cinta orang orang desa.
doh … hati berelus dada mereka suka berpayung daun.
payung kebesaran alami yang mereka miliki untuk berbakti.
betapa mereka berebut rasa, membantu sesama penuh ikhlas pula.
lantas hatiku memiliki apa.
…
Aku masih berpikir aneka rupa.
Juga bercinta dengan kenangan lama.
Tapi rindu tak karuan juntrungnya, suaranya kabur ke medan hujan, berbaur ronta geliat malam.
Berjanji pun hati tak kuasa, ingkarnya lahirkan laknat kesumat.
Binatang jalang bersaksi diri, meski diam dalam gigilan, entah berapa rasa lengkingnya tertunda.
Bias kecil dunia maya kembali meronta, meminta sinyal tak kunjung tiba.
Beruntung jalur telah memberi harapan, untuk menimang rembulan dan cakrawala.
Geliat roda mengendus bumi, antara kampung malam dan pasar pagi.
…
Paska peluk sapa jalinan perkara, kutinggalkan mereka di hutan jiwa.
Hatipun melaju melayang pilu.
Laut Berdarah
laut berdarah
ombaknya penuh laknat kianat
kilatan langit cerah, tapi memayung gundah
bayang-bayang menjarah tak lagi ramah
dukamu menderu tak bergeming
lukamu menggenang merah darah
rindumu terbang liar membakar mega mega
duh gusti …. akan Kau-liukkan hati ini ke mana lagi?
coreng moreng muka bopeng tanpa topeng
gelisah tumpah tak mudah raut redakan diri
suara kanan suara kiri sumbang di tengah titian
duh gusti …. sampai kapan suram ini merebah ke bumi?
retak hati menampar nanar pilar demi pilar
sejarah duri menyungging curam jemari legam
meretak lekak kanvas – kanvas beragam buram
laut kesumat
datanglah ombak renggutlah amarah
jaring ke akar-akarnya baringkan medan lagamu
buanglah aku ke cakrawala
buanglah aku kemana kau suka
MEKAR MELATI
kembali seperti saat pertama
meskipun aku juga sudah lupa
bagaimana menyapa mekar melati
suatu pagi setidaknya satu titik sapa
bukan taman tetapi rimba hati
matahari merayap di tiap dinding
mengagummu aku jadi merinding
dinding teteskan luka lama
pada cinta yang pertama menyeberang
yogyakarta mungkin masih sebuah sepi
dikoyak zaman dimangsa ilusi
tiada kukejar sinar peduli
begitu panas menyengat hati
ke ujung jalan rindu bertaut
meraut wajah mekar melati
meski gamang siang menanti
senja lupa tiada terjaga
Purworejo, 9 Maret 2010
Menatapmu Aku Jadi Malu
menatap diri lewat derai hujan
memacu kuda dengan pekik “merdeka”
wajahmu menghadang di depan
sinarnya silaukan mata
berkelok diri lewat jalan pintas
mengejar sudut dengan lirik “merdeka”
lirikanmu mengibas pandangku
dan aku lepas kendali
memutar kuda ke padang senja
membidik curam dengan panah “merdeka”
senyummu melebar menepis gendewa
mengalir sunyi ke bibir sungai
Betapa diriku terjatuh
dalam pekik merdeka tanpa kata
Menatapmu aku jadi malu
Kaupun berlalu tanpa kata.
Introduction (Barangkali ada yang mau berkenalan denganku
Nama : Riyadi
Alamat : Perumahan Doplang Blok O No. 7 Purworejo
Telp. : 0275-3125751
HP : 081225001336 atau 087832478703
E-Mail : riyadi@live.com
Terima Kasih. Salam.
Kilau jingga di ufuk barat tertelan senja benamkan cahya-Nya, suara seraya sunyi, bayang sekilas enyah hanya bayangan bumi yg tiada batas, yg menyelimuti alam tempatku terpaku.
Kusinari tubuhku dgn cahaya kecil di atas pembaringan yg menanti kabar angin, dlm mimpiku datang terangmu terangiku bangunkanku dlm senyuman, senyummu dan senyumku. Salam untukmu “Riyadi”.
By safar
Ahay Safar. Terima kasih rangkaian diksi indahmu. Seindah senyum penerang jiwa. Hmm, rasanya bagai kembali ke Ruang Jingga. Adakah pintu kedua akan terbit sebelum senja kedua. ha ha ha ….