KEBENARAN YANG DIBUTAKAN
Saudara cuma kata ……
Buktinya sampai kini aku tertatih sendiri
Walaupun merintih tak akan pernah ada yang peduli
Semua yang kumiliki tak pernah kembali
Tinggal Janji !!…
Itukah orang2 yang kau sayang???
Entahlah….
Apapun yang aku bincangkan kau tak percaya lagi
Seperti yang kau ucapkan
Yang membuat goresan luka dihati
Sampai kini….!!!!
Januari 4, 2010 pada 9:00 am Sigit Indo
UNTUKMU BUNGA BANGSA
Sudah terlalu lama aku mengenalmu…..
Pergilah ………..
Doa dan keiklasanku mengantarmu
Mungkin sudah cukup pengabdianmu
Untuk menjadi pemersatu.
Ketulusanmu tiada berharap
Tiada pamrih walau engkau terlihat letih
Engkau ada dalam semua agama
Karena dirimu merasa sebagai hamba
Dirimu rela untuk berkorban
Karena engkau sangat mengerti ayat-ayat Tuhan
Kau biarkan orang-orang mencacimu
Karena mereka tidak pernah memahami
Tapi kini mereka baru mengerti
Akan makna ketulusan sejati
Selamat Jalan Bunga Bangsa
Selamat jalan Bapak Bangsa
Kembalilah dipangkuan Nya
Doa Kami mengiringimu
Januari 4, 2010 pada 9:04 am Sigit Indo
SENANDUNG SUNYI
Bila aku tak pernah mengucapkan kata cinta
Bukannya aku membencimu
Karena bagiku cinta ada direlung hati dan jiwaku
Tapi kenapa engkau berlalu pergi
Tanpa mencoba untuk mengerti ?
Hanya sepenggal janji tanpa arti
Itu yang ku pegang sampai kini.
Dan aku masih mengingat
Susunan kata yang kau tanyakan padaku
Kenapa tak per…nah kau ucapkan kata Cinta untukku
Setelah itu kau berlalu
Sebelum aku ungkapkan isi hatiku
Dan kau tak pernah kembali sampai kini
30/12/2009 by. Sigit
Januari 4, 2010 pada 9:07 am Sigit Indo
Sebait Puisi untuk “YANI”
Biarlah waktu itu
Tak usah kita simak lagi
Karena yang ada hanyalah rasa cemburu, benci dan dendam.
Itu yang ku tahu
Tentang apa yang ada pada kamu
Januari 4, 2010 pada 9:08 am Sigit Indo
Tentang Kita
Diantara kita sering bersama
Bercanda dalam tawa
Tapi apakah mungkin semua akan berjalan selamanya
Selalu mengingat akan nama, dan selalu bertegur sapa bila bersua
Entahlah……..
Yang kita tahu kita bertemu cuma kebetulan saja.
Setelah itu kita sudah tiada pernah saling mengingat lagi
Januari 4, 2010 pada 9:09 am Sigit Indo
Seberkas Sinar Untuk Sahabaku
Lentara…
Berikanlah sinarmu dimalam yang kudus ini
Aku tak mau semua terlelap dalam gelap
Biarkanlah Mimpi-mimpinya bermain riang dalam terang
Agar himpitan hidup sejenak terlupakan
Biarkanlah ……..
Mereka menyambut dengan suka cita misa yang akan datang
Karena esok adalah hari kemenangan
Dan… biarkanlah mereka bernyanyi dalam syair keagungan
Lentera …….
Tanpa Sinarmu
Kami dalam kegelapan
Januari 4, 2010 pada 9:10 am Sigit Indo
Merpati Yang Kesepian
Aku Terdiam dalam Sepi
Tiada Kata…..
Tiada Suara……
Karena Aku terbelenggu dalam kesendirian
Sahabat berikanlah Senyummanmu
Agar aku bisa bangkit dalam keterpurukkanku
Sahabat ……..
Aku sudah lelah dalam memikul kepedihanku
Tanpa satupun yang tahu …!!!!!
Januari 4, 2010 pada 9:19 am Sigit Indo
SUNYI YANG ABADI
Saat ku peluk kamu
Hanya bau parfummu yang ku ingat sampai kini
Yang diantarkan oleh desahan nafas kita
Hingga ketengah telaga
Dan itu sudah beribu kali kita lalui
Hingga kita lupa akan jalan
Disaat semua aku teriakkan
Saat itu engkau menghilang
Tinggalkan hati yang membiru…….. beku
Disaat aku lupa akan putaran hari
Masih ku ingat bau parfummu
Tapi yang kupeluk kini tinggalah sepi































SAHABATKU, KASIHKU DALAM MIMPI
Engkau datang dalam keremangan, berupa bayang
Mengoyak hatiku dalam galau
Membuat rasa percaya dalam samar
Entahlah, yang jelas aku terlanjur mencintaimu
Didalam setiap langkahku
Sahabatku……….
Kasihku dalam mimpi
Engkaulah orang pertama yang membuat hatiku tak berbentuk.
Dan kau goreskan luka dengan namamu
Yang tak mungkin kulupa walau hidup telah tiada
HITAMNYA SEKEPING HATI
Kegelisahanmu jangan kau tawarkan padaku
Aku tak perlu itu
Sudah terlalu lama ketenanganku kau siksa
Sampai aku takbisa bersuara
Bukannya aku jera
Tapi aku sudah tak perduli dengan kegundahan yang kau tanam
Yang mengusikku dalam diam
Nikmati saja apa yang kau pilih
Jangan kau bagikan rasa bencimu pada sem…ua orang
Sudahlah ………
Aku begini, bukannya memutuskan hubungan
Tapi aku ingin berdiri, melangkah menatap hari depan
Dan pada saatnya nanti aku akan teriak…..
Selamat tinggal kebencian
Selamat berpisah kedengkian
Aku tak mau kebencian dan kedengkianmu membelengguku Kembali
…. keindahan kata kata indahmu
adalah seni…
……keinginanmu menulis
adalah jiwa…
teruslah berkarya sahabat !!
YANG TERLUKA
“ditulung menthung”
Masih kau ingat beberapa tahun yang lalu
Kau datang tanpa permisi
Dengan membawa beribu kegalauan
Dengan wajah yang lusuh tanpa harapan
Karena langkah demi langkahmu diperkosa oleh waktu
Tapi kami menerima kamu seperti apa adanya
Dan kamu mulai belajar merajut waktu
Untuk menunjukkan kepada semu…a siapa sebenarnya kamu
Tapi kamu lupa, saudaraku
Akan hari-harimu yang lalu
Sehingga dengan kesombonganmu
Kau teriakkan kebencian-kebencian yang lama kau pendam
Dan kamu mulai tidak perduli
Akan masalalumu sendiri
Dengan lantangnya kamu katakan
kalo kami mendekati saudara-saudaramu karena harta
Disitulah hati kami mulai terluka
Hingga mengganga
Dan kamu semakin tak terkendali
Hingga kini !!!!!
TEPIAN KENANGAN
Deburan ombak itu, saksi bisu
Yang tak mungkin kita temui, saat kita kembali
Karena ia hanya sesaat sekali menepi
Setelah itu entah kemana lagi?
Tapi diantara kita masih bisa hadir disini
Berdiri ditempat ini dan saling berpelukan
Sambil menunggu beribu gelombang
Dan kita sama-sama tiada pernah memikirkan
Bila k…enangan akan hilang
tengelam kedasar samudra, membeku menjadi karang
Hingga kita sama-sama lupa
Akan makna suatu teman
DOA ORANG PINGGIRAN
Tuhan ………………
Hari ini waktu begitu menjemukan
Rasa muak telah beranak
Rasa jemu membuat hatiku pilu
Tuhan…………
Aku pinta rasa ini cepat berlalu
Karena aku tak ingin hati ini beku
Berikan hariku penuh warna
Warna yang penuh keteduhan
Tuhan………..
Aku muak dengan kemunafikan
Juga dengan ked…engkian
Tuhan ……………
Jangan kau biarkan hati ini dihinggapi kebencian!
Aku tak ingin hatiku remuk redam!
DOA ORANG PINGGIRAN
Tuhan ………………
Hari ini waktu begitu menjemukan
Rasa muak telah beranak
Rasa jemu membuat hatiku pilu
Tuhan…………
Aku pinta rasa ini cepat berlalu
Karena aku tak ingin hati ini beku
Berikan hariku penuh warna
Warna yang penuh keteduhan
Tuhan………..
Aku muak dengan kemunafikan
Juga dengan kedengkian
Tuhan ……………
Jangan kau biarkan hati ini dihinggapi kebencian!
Aku tak ingin hatiku remuk redam!
KAPADA ANGIN
Katanya disini hukum ditegakkan
Tapi kami tak pernah menemui seperti apa keadilan
Karena antara benar dan salah sulit untuk dibedakan
Dan kami ada keadaan sudah begini
Sehingga tak pernah tahu kebenaran yang hakiki
Kami cuma bisa mendengar dan menyaksikan di TV
Ketimpangan sangat terlihat disini
Sepasang suami ist…ri kelaparan dan mencuri pisang
Untuk dimakan agar mereka tidak mati
Tapi………
Bui sudah menanti
Mereka didekap rasa ketidak adilan tanpa berdaya
Karena dia papa, tak memiliki apa-apa
Tapi disisi lain
Kami melihat di TV
Katanya mereka perampas uang rakyat
Yang jumlahnya mungkin teramat hebat
Disinilah biang rakyat kecil tambah melarat
Tapi…..
Mereka dengan bebasnya berkeliaran kesana sini
Walaupun ada yang didalam penjara
Mereka hanya pura-pura
Buktinya mereka masih bisa membuat istana disana
Semua penuh reka yasa
Kenapa ?
Mereka Mempunyai segalanya
Sehingga apapun bisa dibeli
Tanpa kecuali
Sudahlah ……..
Tanyakan saja pada angin
Mungkin mereka lebih mengerti
Akan kebenaran yang hakiki
SELEMBAR DOA BUAT YANG ESA
Andaikan masih seperti waktu itu
Dimana didalam darah ini masih mengalir rasa AKU
Engkau akan menjadi jasad tak bertuan
Tapi waktu yang telah merubahku
Rasa amarah dalam diriku telah berkurang
Yang membuatku tak kuat mengangkat sebilah pedang
Tuhan…….
Biarkalah aku tetap seperti ini
Tak ingin rasanya untuk kembali
Pada keangkuhan-keangkuhan yang lalu
Tuhan ……..
Aku ingin besimpuh
Kini Hati dan jiwaku telah rapuh
REMBULAN DI TITIK MALAM
Aku tak bisa bicara
Dalam Mimpipun aku selalu tersisih
Bagai bulan dimalam yang basah
Begitu yang ingin kubisikkan padamu
Tapi bagaimana bisa kau mendengar
Dalam kenyataanpun aku tak bisa bicara
SETANGKAI ANGGREK UNTUK IDA
Ida ………………..
Ini Bunga Anggrek kesukaanmu
Merah Ungu seperti hatimu
Kenapa kau tinggalkan
Sewaktu Aku datang
Ida ………………….
Bila kelak ada seseorang yang datang
Jangan kau kuliti Jiwanya
Biarlah Aku yang tanam
Diladang Hati yang masih telanjang
GEJOLAK HATI
Wahai orang2 yg menghabiskan uang dan hartaku, Lekaslah kembalikan seperti apa yang kau katakan.
Dan Engkau orang2 pengobral janji, Sampai kapan engkau akan menepati
Aku tau apa yang kau katakan bukanlah suara setan.
Dan kau Jin, Dedemit dan makluk halus gentayangan
Enyahlah dari kehidupanku
Aku tak perlu jiwa2 pecundang
ADINDA
Busa-Busa tubuhmu adinya
Mengalir lesu dalam sajakku
Diendapi sisa keramaian pesta
Dan batang kenikmatan darah cinta
Cakrawala dinihari makin semarak
Makin anggun dimandi cinta
Tapi rinduku……. mirip jantung biola
Menggelegar dipacu sepi
Adinda………..
Busa-busa tubuhmu
Mengalir lesu dalam sajakku
Duh… Gusti…………
Pertondo nopo niki
Rakyat alit morat-marit
Kathah wadon alit mboten damel jarit
Wonten negari mriki agamo namung damel tondo
Sopan santun sanes gadahane piyantun
Urip namung dermo glakoni
Engkang mlarat kelewat mlarat
Engkang sugeh kalewat luweh
Roso adil namung gadahane tiyang begajil
28 JANUARI 2010 “KEPADAMU KAWAN”
Ini hari 28 Januari 2010
Kau teriakkan segala kebencian
Tapi untuk siapa?
Jangan atas namakan amarahmu pada saya atau kami
Karena saya atau kami tak pernah mengerti
Akan kepura-puraan yang kau perankan
Entahlah…………………
Aku atau kami tak pernah bisa memahami
Engkau begini, apakah pan…ggung tempatmu berlatih menari
Sudah tiada lagi.???
Aaah……
Terlalu berharap aku padamu untuk menjadi orang-orang yang bernurani
Bilamana semua peranmu dalam drama itu cuma untuk suatu golongan
Atau mungkin hanya untuk sekedar imbalan?
Aku bicara begini cuma sebagai saksi
Untuk menulis mana kebatilan dan mana kebenaran
Karena ditahun 97-98 aku ikut berperan
Untuk menegakkan Demokrasi di Negeri ini
Bukan untuk pribadi
Aaah …….
Terlalu berharap aku kepadamu
Bila yang aku dapat hanya jawaban bisu!!
28 JANUARI 2010 “KEPADAMU KAWAN”
Ini hari 28 Januari 2010
Kau teriakkan segala kebencian
Tapi untuk siapa?
Jangan atas namakan amarahmu pada saya atau kami
Karena saya atau kami tak pernah mengerti
Akan kepura-puraan yang kau perankan
Entahlah…………………
Aku atau kami tak pernah bisa memahami
Engkau begini, apakah panggung tempatmu berlatih menari
Sudah tiada lagi.???
Aaah……
Terlalu berharap aku padamu untuk menjadi orang-orang yang bernurani
Bilamana semua peranmu dalam drama itu cuma untuk suatu golongan
Atau mungkin hanya untuk sekedar imbalan?
Aku bicara begini cuma sebagai saksi
Untuk menulis mana kebatilan dan mana kebenaran
Karena ditahun 97-98 aku ikut berperan
Untuk menegakkan Demokrasi di Negeri ini
Bukan untuk pribadi
Aaah …….
Terlalu berharap aku kepadamu
Bila yang aku dapat hanya jawaban bisu!!
” B I A S ”
Kini baru aku mengerti
Hanya coretan-coretan hayalan yang kau tuangkan dalam puisi
Dan engkau begitu mengngagumi
Begitu juga engkau
Dan akan kau ucapkan kata-kata indah
Seindah bunga mawar yang kau petik kemarin sore
Tapi…………
Apakah kau berani menuliskan sebaris puisi tentang kebenaran ?
Aaah…..
Aku rasa kebenaran sangat menakutkan
Atau mungkin kau tak bisa memaknai
BAYANGAN BIRU ”
Suara siapa yang telah mengangkat sepiku
Dari lumpur kebimbangan
Aku tanya menuju jawab
Aku datang menuju pergi
Aku pergi menuju hilang
Aku ada menuju tiada
Suara siapa yang membungkus dukaku
Dalam daging malam
Aku limbung dalam rambu
Aku senyum dalam caci
Aku mati dalam hidup
Aku kalah dalam lidah
Suara siapa yang telah jelajahi batinku
Mendesakku kembali menjadi manusia
Nasib patah oleh kebodohan
Cinta patah oleh keadaan
Keadilan patah oleh kebendaan
Hukum patah oleh kepincangan
Suara siapa yang menyuarakan nasibku
Dalam ajang perburuan harta
” SEBAIT PUISI UNTUK PEREMPUAN-PEREMPUAN MALAM ”
Ada yang sedang menanggalkan pakaianmu
Satu demi satu
Mendudukkamu diperaduan
Mungkin membuatmu bertanya
Untu apa ?
Dan kamu tiada pernah mengerti
Ada yang sedang diam-diam menulis riwayat hidupmu
Dan itu adalah Aku
” KU AJARKAN PADAMU BAGAIMANA MENGGENGGAM SUNYI”
( UNTUKMU DE ESSY ROSE )
Kenapa tidak sekalian kau kirimkan sepasang batu nisan
Agar semua usai
Dan kau kubur semua kenangan-kenangan indah yg dia berikan kepadamu itu
Kadang cinta memang sangat menyakitkan
Tak ubahnya sebutir peluru yg menembus dadamu
Yang mem…buat detak jantungmu berbalut sunyi
Aaahh…
Untuk apa aku mengajarimu bagaimana cara menggenggam sunyi.
Sedang aku sendiri kini dipeluk sepi !!
” A D I N D A ”
Adinda………….
Bungga angrek yang akan kuberikan padamu dulu
Masih ada disini, aku simpan rapi
Cuma harum baunya yang sudah tiada
Seperti yang aku rasa
Adinda……..
Sebenarnya angrek itu akan aku tanam dihatimu
Biar berkembang
Seperti yang kita mau
Tapi sebelum bunga itu tertanam
Jiwaku termakan isyu
Dadaku membara, terbakar cemburu
Adinda………
Emang aku telah berlari
Tapi cuma untuk meredam api
Bukan untuk mengingkari
” SEBUAH PENANTIAN ”
Jangganlah kau siksa diriku dalam penantian
Aku cuma menunggu darimu satu ucapan
Bila pagi menjelang hingga sore datang
Aku selalu menanti kabar itu
Tapi bila malam tiba, Sunyi selalu memperkosa pikiranku
Dan hari-hariku selalu menunggu janji
Sudahlah…….
Beri kabar aku, apapun jawabanmu
Aku akan mengerti
Bila engkau menginginkan, aku datang
Dan bila engkau sudah tak mengingini lagi aku akan pergi
Tapi Berilah aku satu jawaban
Agar aku tak tersiksa dalam penantian
” WARNA ITU ADALAH KAMU ”
Bila pelangi hadir dalam waktu yang sama
Mungkin itu bisa terjadi
Tapi jangan kau tanyakan tentang warna-warna yang tak pernah menyatu itu
Kerena masing-masing memiliki pribadi yang berbeda
Tapi bila ada warna yang selalu ingin menyatu
Tak usah kau beritahu aku
Karena aku sudah tahu sebelum kamu berteriak
Kerena warna itu adalah kamu
” ADIKKU ”
Bunga, adikku yang malang
Engkau tumbuh diantara kehidupan jalang
Aku tak tau, engkau nanti akan jadi apa
Disaat tiang rumah telah rebah
Mungkin engkau tiada merasa
Karena engkau ada, hidup ini sudah begini
Bunga, belahan jiwaku disisi lain
Aku tak rela, kalau hidupmu ternoda
Oleh kehidupan mereka yang hadir lebih dulu
Yang menuangkan luka didalam dendamku
” S A P A M U ”
Tuhan………….
Entah siapa yang telah kau utus
Untuk membisikkan sebaris doa kepadaku
Disaat aku sujud dihadapanMu
Mungkin suatu teguran
Atau segala yang aku sendiri tiada pernah mengerti
Tapi kucoba untuk menggali dan memahami
Tentang kupasan ayat-ayat Suci
” KEGELISAHAN SEORANG PELACUR ”
Berapa harga yang kau tawarkan hari ini ?
Sampai kau berteriak seperti pelacur menjajakan diri
Dijalan-jalan sepi yang tak berpenghuni laki-laki
Atau mungkin kau resah dengan kehidupanmu nanti
Aku tau kau ingin meraih harapan, tapi tiada pegangan
Dan kulihat, hatimu terlalu bernanah
Begitu parahkah kedengkianmu
Hingga seperti itu
Begitu miris aku untuk berlalu melewatimu
Karena untuk mendengar umpatanmu aku tak mampu
Tapi kenapa begitu hening setelah aku berlalu pergi
Cuma pesanku kepadamu
Janganlah kau memperkosa diri sendiri
Aku tak ingin ada berita seorang pelacur mati diujung pagi
” KASIHKU, BAGAIMANA KAU NANTI ”
Kadang, tak bisa aku mengerti
Kenapa kehampaan selalu saja disini
Menemani bersama sepi
Sedang aku sudah tidak akan lagi sendiri
Tapi dalam setiap ketermenunganku
Aku selalu bertanya, pada diriku sendiri
Bila nanti aku sudah tidak sendiri lagi
Bagaimana engkau nanti ?
Sedang dalam dekapanku
Ada kasih untuk berbagi
Sedang engkau bagaimana nanti?
” TETAP INGIN KU ARUNGI SAMUDRA ITU ”
Sudah sepuluh tahun aku arungi samudra itu
Aku limbung mulai dari tepi
Apa mungkin biduk terlalu penuh akan isi
Hinga aku tak tau kemana arah untuk mengemudi
Detik demi detik biduk dihantam badai
Tapi banyak penumpang yang tak mau mengerti
Hanya mengumpat dan memaki
Cuma itu yang bisa dia beri
Sedang aku mulai goyah terasa kini
Karena gelombang tak jua berhenti
Namun Aku ingin biduk tetap melaju
Walau hati ini terasa pilu
” JANGANLAH KAU MENJADI LENTERA, ANAKKU ” 2
Anakku………..
Seperti yang sudah kukatakan padamu waktu itu
Janganlah kau menjadi lentera
Karena kau akan jadi pemberi cahaya yang akhirnya sirna
Jadi saja kamu rembulan
Karena kau akan memberi cahayamu pada semua
Tanpa harapan
Dan kamu akan hadir disaat kegelapan itu datang
Tanpa mereka meminta
Dan kamu akan ada tanpa mereka harus memuja
Atau kamu jadi saja matahari
Karena sinarmu akan dinanti
Kamu akan hadir diujung pagi tanpa harus menunggu dipuji
Dan kamu akan hilang dijemput malam tanpa ada penyesalan
Karena esok kau akan kembali dengan ketulusan dan keiklasanmu
Terserah kepadamu
Mau jadi rembulan atau matahari
Tapi janganlah kau menjadi lentera
Karena cuma akan meninggalkan Luka Lara
” JANGANLAH KAU MENJADI LENTERA, ANAKKU ” 1
Hidup ini harus memilih
Tapi benar itu belum tentu benar
Mungkin benar bagi mereka, tapi belum tentu untukmu
Dan salah itu belum tentu salah
Mungkin salah baginya, tapi belum tentu untukmu
Cuma pesanku, kepadamu
Janganlah engkau menjadi lentera walau dia terang
Karena engkau akan padam setelah meneranginya
Tapi apakah yang kau terangi akan peduli padamu
Dan janganlah engkau memberi cahaya padanya
Karena kamu akan sirna
apakah mereka akan mengenalmu setelah mendapatkan sinarmu?
Ahhhh……..
Contohnya aku, Nak !!!
Tengelam dalam gelap, walau aku dulu jadi penerang
Menerangi dan menuntun setiap langkah mereka
Tapi mereka lupa
Terlalu lama aku menjadi lentera
Yang akhirnya sirna
Tapi….
Apakah mereka merasa ?
” LUAPAN RASA ANAK JALANAN ”
Bila hidupku tiada doa
Jangan kau salahkan aku
Tanyakan pada mereka
Pernahkah mereka mengajarkannya ?
Bila langkahku tiada doa
Jangan salahkan aku
Tegurlah mereka
Pernahkan mereka membimbingnya ?
Bila diriku ada
Jangan salahkan daku
Tanyakan kepada mereka
Ini kehendak siapa ?
” GORESAN KENANGAN YANG TERTINGGAL ”
Aku ada disini
Bukan untuk menggenapkan sebuah hati yang tinggal sebelah
Aku disini
Bukan untuk mengisi waktu-waktu luang yang hampa belaka
Namun ……………….
Aku hanya ingin mempunyai arti
Bagi seseorang yang aku kasihi
Tapi, apakah daya ?
Kalau dia masih saja mengharapkan cintanya yang hilang
Apakah mungkin, luka lama itu akan berdarah lagi ?
Sedang hati ini tak ingin lagi disakiti.
” KUKATAKAN INI KEPADAMU ”
Yang ada padaku hanyalah kesetiaan
Janganlah kau tanyakan tentang impianmu kepadaku
Karena aku tidak memiliki itu
Yang ada padaku hanyalah kasih sayang
Dan janganlah kau sakiti hatiku seperti tadi malam
Karena cuma akan meninggalkan dendam
Sering kali tiada engkau sadari
Bahwa kata itu begitu tajam
Bila aku seperti ini
Jangan kau salahkan aku
Karena hatiku masih mendendam
” PENGORBANANKU ”
Malam tak ingin datang
Agar aku tak bisa datang
Dan kau tak bisa pergi
Siang tak ingin menjelang
Agar aku tak bisa datang
Dan kau tak bisa pergi
Namun ……………..
Malam pasti akan datang
Dan siang akan menjelang
Agar aku bisa mati untukmu…….
Dan Untukmu ……….
” TERUNGKAP ”
Dulu saat kau katakan bahwa dia berjalan dalam HITAM
Banyak orang tak mempercayaimu
Menyibirmu. Bahkan memakimu
Karena banyak orang menganggapmu nistapa
Dan waktu berjalan untuk mengejar kebenaran
Namun banyak orang yang tidak pedulikanmu
Baginya Dia adalah segalanya
Dan kau diangapnya masih tetap, “NISTAPA”
Kini waktu telah menemukan satu kata “KEBENARAN”
Mereka mau bilang apa ?
Apakah mereka masih tetap Menyibirmu dan memakimu ?
Dalam kenyataan dia tetap berjalan dalam HITAM
Ahh……….
Durjana tetap saja Durjana
Walaupun sejuta orang melindunginya
Dan kamu apakah masih tetap tertipu
Oleh diamnya yang diselimuti tanda tanya.
” TAUBAT ”
Masihkah belum terpikir olehmu
Untuk merangkai untaian zikir dalam sisa waktu
Memohon pengampunan dari yang Satu
Akan dosa-dosamu yang telah lalu
Sedang hari terus saja berlari
Cuma tinggalkan sisa sisa mimpi
Dan harapmu terus saja kau buru
Hingga kau sendiri lupa akan waktu
Tapi kenapa tak jua kau sadari
Sedang ajal datang tak tau pasti
Masih saja kau rangkai tumpukan dosa
Tak ingatkah kau akan panasnya api neraka
Sadarlah kau wahai durjana
Akan hidupmu yang penuh gelimang Noda
Bertaubatlah selagi kau masih mampu
Sebelum ajal menjemputmu
” RINDU MIMPI ”
Bunga teratai yang ada dibalik bukit itu
Dulu selalu memberikan harumnya
Disaat aku tak bisa melupakan cinta yang lalu
Entah petang, hujan atau dukapun
Dia selalu datang untuk menghapus mimpiku dimasa lalu
Tapi disaat aku terbangun dengan sisa-sisa mimpiku
Ku coba untuk merengkuh bunga itu
Disaat itu kau tak pe…rnah kudapati
Bunga teratai dibalik bukit
Mungkinkah kehadiranmu cuma untuk menghempaskan mimpiku
Dan mencampakkanku dalam kehampaan dan sepi
” RINAI HUJAN ”
Wajahmu lusuh, entah apa yang kau genggam dalam hatimu
Kepedihan, kekecewaan atau kegalauan
Kau tapaki diamnya jalan yang habis disiram air hujan
Dan kau tetap membisu seiring gerimis yang mulai datang lagi
Waktupun berganti dan berulang
Kenapa kau masih seperti itu, tanpa membagi kepedihanmu
Kemana senyum dan keceriaan kau sembunyikan
Tanpa seorangpun tau
Apakah kekecewaan yang membuatmu seperti itu
Aahhh…..
Luruhkan saja rasa malumu
Bersama rinai hujan yang akan datang …..!!
Agar aku bisa melihat senyumanmu yang sudah lama hilang
” CINTA BERKABUT HARTA ”
Tutur kata nya halus, setanpun bisa tertipu olehnya
Dia ingin kembali kepelukkanmu katannya mencintaimu
Tapi sepertinya kau tertipu
Karena cintanya bersembunyi di untaian kalung, gelang dan cincin yang dia tunggu
Kesetiaannya hanya menunggu penuh isi dompetmu
Setelah itu dia pasti berlalu, seperti yang lalu-lalu
Hari ini katanya dia pergi meninggalkanmu
Ada apa sebenarnya ?
Kenapa sandiwara tersusun seperti tanpa disengaja ?
Kami cuma bisa bertanya
Karena kami cuma penunggu terminal yang ada
Sudah terlalu banyak orang berlalu lalang disini tanpa permisi
Kami sendiri tak pernah mengerti
Banyak orang gila atau berubah sikapnya karena cinta
Ya sudahlah…….
Kalau anda tak suka singgah disini silahkan pergi
Tak perlu membenci kami
Karena kami cuma penunggu terminal yang hak-haknya anda mutilasi
” UNTUK KAUM PECUNDANG ”
Untukmu kaum pecundang
Kenapa jiwamu meradang
Kulihat hidupmu penuh kegelisahan
Gelisah penuh dengan selubung ambisi
Kulihat kau ingin menjadi orang lain
Dan kulihat engkau ingin memiliki seribu jiwa
Setiap kau lihat seorang teman
Yang kau tanyakan adalah kesalahan
Seperti yang kau inginkan
Yang benar dimatamu
Adalah dirimu sendiri
Hari ini bagaimana kabarmu kaum pecundang
Apakah jiwamu masih meradang
Dan apakah kau sudah mengerti
Arti sebuah teman ?
Aku rasa masih tetap seperti kemarin
” KIDUNG ”
Ojo turu sore kaki
Ono Dewo ngangklang jagat
Karo nyangking bokor kencanane
Sebuah tembang dalam doa
Dan sebuah doa dalam tembang
Suatu permohonan pada yang tunggal
Agar darah dagingnya dapat hidup yang layak dikehidupan kelak
Karena darah yang mengalir pada tubuh anaknya adalah darahnya
Batin dan hati yang ada di anaknya adalah batin dan hatinya
Orang tua selalu mengajarkan yang baik tanpa menggurui
Agar anak mengerti tentang hakekat agar hidup dia bisa selamat
Sopo kang betah melek
Bakal entuk rejekine……
Kita harus bersujud ditengah malam
Untuk memohon ridho dari Nya
Selepas malam kita harus bersiap untuk mengabdi
Mencari rizki untuk mengisi hidup ini
Apakah sekarang masih ada Doa dengan keiklasan ?
Memberi nasehat pada anak tanpa harus menyakiti ?
Mencari rizki dengan menggunakan nurani ?
Sepertinya kita harus belajar hidup dari masa lalu
Dengan kidung kita bisa mengambil berjuta makna
Dengan kidung tanpa ada yang terluka
Karena alunan demi alunan kita bisa dengar
Dan belajar tanpa harus terpaksa
” SEBUAH KERINDUAN ”
Resah ……………………….
Kupeluk dalam desah
Kuberlari untuk susuri
Dengan peluh yang tiada henti
Aku tetap berpacu
Walau terasa ngilu
Waktupun terus berlalu
Tapi aku tetap menyatu
Sudah ………………………..
Hanya suatu kata sanggah
Tapi aku tetap terjepit
Dari dosa yang masih melilit
Susah ………………………..
Bila masih terdengar desah
Akupun mulai gelisah
Masihkah bisa untuk bertahan
Bila diri sudah semutan
Rebah ………………………
Patah !
Aku terkulai
Dan aku tersenyum geli
Ternyata hanya sebuah mimpi
Kulirik potretmu
Gambarmu tersipu malu
Dan ku ucapkan satu kata
Maaf ………………………
Ini hanya mimpiku
Ini hanya rinduku
” K E S A M B E T ”
Hari ini setan mana yang menuntun engkau kesini
Mendengar ceritamu aku geli
Datang dengan segerobak impian
Tapi tolong jangan kau jajakan impianmu disini
Sudah terlalu banyak orang untuk mengerti
Sebenarnya lewat mana waktu kamu kesini
Hingga kau kesambet seperti ini
Apakah ada sesajen yang lupa kau suguhkan kemarin malam
Kembang tujuh rupa sebagai perlengkapan
Atau semangkok kemenyan pengiring dupa pengikat pewangian
Sudah sampai mana mantra-mantra kau ucapkan
Atau ada yang alpa untuk kau lantunkan sebagai pujian
Tembang asih pada yang kinasih
Tembang kinanti pengingat akan satu janji
” TEMAN SAMPAIKAN KEPADA NYA ”
Kadang ingin aku terlelap
Untuk melepas penat
Tapi sampai saat ini aku masih terbelenggu oleh waktu
Dimana lelah sudah menunggu
Teman, tolong sampaikan pada Tuhan
Aku masih setia dalam panjatkan doa
Mungkin cuma itu yang aku bisa
Karena aku seorang musafir
Hidup diujung jalan yang terpingir
Teman, tolong sampaikan pada Tuhan
Dalam pencariannku
Aku masih bisa memilih tentang kebenaran
Teman, tolong sampaikan kepada Nya
Dalam pencarianku
Aku masih membenci kedengkian
” POTRET ”
Dengan badannya yang tegap
Dia berdiri nanar
Senjata ditangan, seolah diajaknya bicara
Tapi dalam hening
Dalam hatinya terjadi pergulatan
Dan ribuan tanda tanya
Akan dibawa kemana tumpah darah yang dia perjuangkan ini
Dalam diamnya…..
Kadang selalu bercerita
Di IRIAN BARAT Dia hampir mati
Ribuan butir peluru sering memburunya
Seandainya mati, dia rela demi negri ini
Seandainya mati, dia rela demi generasi
Perjuangannya bukan untuk tanda jasa
Perjuangannya bukan atas nama keluarga
Tapi demi berdiri tegaknya negeri ini
Sampai menjelang akhir hayatnya
Dia masih bertanya
Pada dirinya sendiri
Mau dibawa kemana tanah air yang kami perjuangkan ini ?
Dengan berderet tanda jasa
Makam pahlawan bukan keinginan terakhirnya
Kini dia beristirahat dibawah pohon trembesi
Berbaring dengan ketenangan dan keteduhan
Dan dia hanya salah satu potret tanpa kanvas
Kita cuma bisa meneladani
Dan merenungi dengan sejuta tanda tanya
Akan sebuah kata yang dia bawa sampai hidupnya usai
puisi puisi mu smakin keren git !… teruslah menulis agar aku terus bisa menikmati tulisanmu
” KERAGUANMU ”
Hadir……..!
Suratmu menyampaikan rasa kekecewaan
Karena kau merasa ketidak pedulianku
Diwaktu kasih hadir menemuiku
Hadir……..!
Dalam surat kau sertakan
Rasa ketidak pastian tentang aku
Dengan tiga pertanyaan tentang kamu
“JANGAN KAU TANYAKAN PADAKU”
Mungkin sudah terlalu lama bait-bait puisi tidak tertulis disini
Tapi bukan berarti kumpulan syair telah mati
Hanya puisi-puisi usang yang kau baca kemarin hingga kini
Dan tanda tanya yang kau alamatkan kepadaku
Ada apa dengan tangan, hati dan pikiranku
Hingga sepertinya membeku
Tapi jangan kau tanyakan lagi
Karena aku tak ingin membagi sepi
Kepadamu…
Dan ku biarkan kumpulan syair ter onggok disini
Beralas sunyi..
Tapi….
Masihkan kau mengingatku dikala puisi tak kutulis lagi
Atau masih mengenangku disaat syair tak ada disini
Hanya satu yang ku pinta kepadamu
Kenanglah…
Kenanglah aku
Seperti waktu itu !
masih jelas aku mengingat
tulisan mu yang meliuk halus
mengena dan indah…
jangan lagi membuat jeda panjang
hingga aku menunggu …..
seraya meniris hujan dalam kabut
” TIDAK SEPERTI YANG AKU KIRA ”
Tak seperti yang aku rasa
Kau menikah, beranak pinak dan bahagia
Begitu juga aku
Tapi jiwaku terpangang oleh rasa
Mengembara menelusuri jalan tak berujung
Tanpa ada satupun kata sapa
Mungkin lebih baik bagimu
Menapaki hari penuh dengan sensasi
Merangkai senyum dari hari ke hari
Dalam pasti
Sedang aku makin terpuruk dalam sepi
Bagai lentera tanpa api
sunyi..dingin angin menyentuh kulit…
menunggu matahari yang lama muncul…
terbungkusnya hayalan oleh kertas keras yang disebut dengki…
muncul seakan membius diri…
senyuman di jasad tak kunjung terbuka…
air mata kering yang muncul terasa perih…
buaian embun mulai membasahi..
upaya mengobati rasa perih…
tp apa yang terjadi??
bukan harap yang terwujud…
gelap tak kunjung pergi…
ingin rasa dimengerti…
hanya caci yang diberi…