
Timur Sinar Suprabana:
cerita buat nin
tak habis ceritalepas kisah
tak usai kisah luncur kesah
tak rampung kesah jiwa ini resah
abadi golakan gelisah
:aku rumputan di maha sunyi
aku riuh dan waswas
dan kamu waktu yang berputar
perputaran murni harihari peradaban
dengan sederhana ke manapun setia pada edarnya
:garis lurus aku tentang sejak mula
kerna jiwa melulu rindu tikungan
begitulah lelaki
bisa sengaja sanggup sial
tanpa pernah butuh tanda baca
jauh dari titik koma
atau apa saja dan keharusan tertentu yang mestinya ada
kadangkadang ingin juga kembali ke Asal
seperti kelelawar di guanya jauh dari lintasan cahya
berikan kepak hanya pada malam saat udara kosong
tanpa angin tanpa plikplak sintuhan helaihelai dedaun
dan tanpa bulan di sebalik cadar malam
mungkin benar gelap itu Kodrat
tapi kegelapan cuma sebagian tipu daya alam
heran kamu begitu Murni
seperti kemauan yang terbebas dari hawamalam
seperti malam yang tak pernah ditinggal rembulan
seperti rembulan yang seolah bersarang di dasar samudra
dan menggerakkan pelayaran dari kedalaman maha hening
biar laju segala ke dunia baru
di luar dunia baja yang menggemuruh
di luar dunia plastik yang palsu
di luar dunia pipapipa bawah tanah yang suram
dan di luar dunia kaca yang melukai jasad dan jiwa
aku terlalu cepat lahir aku celaka dan benci usia
aku berani mati tapi Lupa hidup
lalu nafasmu menyuplai zat asam bagi paruparuku
ketika waktu mengkhianatiku dengan puisi
dan suratsurat cinta bir dan pertemuanpertemuan di hotel
dengan wanitawanita yang tak pernah sepenuhnya
benarbenar kukenal dan harus segera dilupa pada esoknya
aku letih Luruh dan Repih
lalu kepadamu aku belajar menjadi kanakkanak
pengin bisa tanpa dosa

Timur Sinar Suprabana:
pernah kujanjikan
kepada
:helga worotitjan
ya
belum
bahkan tak kan pernah
kulupa
pernah kujanjikan
:kapankapan
kujemput
kau
di jakarta
lalu kuajak
kau
menempuh malam
berkereta
di depanku
beno sing pamungkas tertawa
di jauh sana
engkau juga tertawa
aku tahu engkau tertawa
kerna aku bisa
mendengar derai segarnya
yang tak kutahu
adalah apakah ketika aku menelponmu itu
engkau bahagia?
aku rindu
meski tidak saja terhadapmu
tapi rindu yang Ini
hanya terasa ketika aku
tibatiba kangen kamu
ah, seperti Cemburu
seperti mengingatkan
seperti menggoda
:beno siang pamungkas menyeruput kopinya
ketika ia menatap ke mataku
pandang mripatnya menciptakan lajur berkilau
di atas lingir cangkir
di luar matahari mendadak bergegas lingsir
……
engkau, helga
apakah ketika aku menelponmu
di menjelang sore itu
kamu sedang menulis sajak?
sedang melukar kaos dan menggantinya dengan gaun?
sedang hendak ke gereja?
sedang memandang bungabunga yang
kau bayangkan ngembang mengapungngapung antara jakarta semarang?
atau sedang menyaksikan percintaan dan gurauan
yang tak semua Mata bisa melihatnya?
aku pengin dan butuh bisa tibatiba membongkar batok kepala.
lalu begitu saja meletakkan benak di antara cangkircangkir kopi
dan botolbotol bir yang sudah kosong, dompet, korek
dan beberapa bungkus rokok berwarna hijau itu,
membiarkan ingatan mengembara
ke mana saja
yang di tiap titik tujunya
selalu bertemu kamu
:kamu yang sedang tersenyum,
kamu yang sedang memandang entah wajah atau sebenarnya mataku,
kamu yang sedang berceritera kepadaku mengenai yang tak pernah kaukisahkan
bahkan terhadap dirimu sendiri,
kamu yang tergelakgelak tanpa merasa perlu berbenteng
saat kepadamu kukatakan bahwa aku mencintai Isa karena ia Juga berambut gondrong,
kamu yang tibatiba merasa perlu duduk bersilang kaki, menggigit bibir, menunduk,
meneteskan air mata yang engkau sendiri tak tahu mengapa
namun aku dapat sepenuhnya mengerti seolah Itu adalah aku yang mengalami.
oh ya, tentu, juga kamu yang hatimu selalu jadi alasan mengapa matahari
senantiasa butuh terbit di tiap pagi.
ah,
andai saja ketika itu tibatiba beno siang pamungkas tidak mengajak pulang
tak ada yang aku bisa kenang
tak ada yang aku dapat janjikan
tak ada yang aku perlu ungkapkan
tak ada sajak Ini
…….
tak ada rasa Tiada ini
……

Timur Sinar Suprabana
“KUTUNGGU!” katamu
dan betapa sesudahnya bahkan sore tibatiba memilih ikut berdenyar
ke makin bisa lebih cepat menjelmakan malam yang barangkali nanti bakal berbulanbundar
ketimbang berlama meranumkan senja, atau bercakap dengan mawarmawar
yang belakangan mulai sering berkeluhkesah dan mendadak gemetar.
“tunggu aku di jakarta,” kataku.
kuucap, kulepas harap, sembari tersipu.
“KUTUNGGU!” katamu
dan akupun tergelak oleh rasa bahagia bakal bisa memandang dunia bolamatamu,
mengeja senyummu dan menafsir rahasia helaan nafasmu
yang sungguh selalu bikin kap lampu dan vas bunga mendadak bersintuh dengan sendu.
“kekasihku,” bisik jiwaku pada hatimu. “jika nanti kita benar bertemu
biarkan aku mengecup dahimu dan menelisih alis mripatmu
dengan ujung kelingking tangan kananku,
sementara telapak tangan kiriku menyeka peluh yang melembab di tengkukmu.
kerna aku mengasihimu.”

Timur Sinar Suprabana:
sang Pejalan
bahkan ketika duduk Diam
betapa Masih juga ditempuhnya malam
:sendirian menembus kelam
berharap bisa menemu terang dari Kalam
kotakota dan entah berapa banyak dukacita
ia sudah singgahi dan kenali tak saja dengan mata
:tiap langkah jadi jiwa
terhadap di mana jejak tercetak telah ia beri semua
kanakkanak, perawan, wanita dan perempuan
menitip berhelaihelai kerinduan
:minta ia mendendangkannya di tiap perjalanan
dan ia memang lantunkan semua dengan kecintaan
cuaca, musim, dan bahkan berjenisjenis pancaroba
mengenali punggungnya dan akrab dengan bayang tubuhnya
:itulah sebab mengapa mereka selalu lantas menjauhkan mara
tiap terdengar kabar bahwa ia akan menoktah di peta
aku selalu bersamanya
melangkah di samping kirinya
……

Timur Sinar Suprabana:
pintu
adakah yang Sungguh merindumu
melebihi kangen Pintu terhadap datangmu?
adakah yang sungguh menahan Sedu
melebihi isak Pintu pada pergimu?
adakah yang selalu menyambutmu
sekaligus menghantarmu Selain pintu?
bahkan hatipun tak tentu
…..
Timur Sinar Suprabana:
di gelak tawa. di mata. di berpeluk Mesra dengan cinta
menjadi kanak-kanak kita sebelum lalu tibatiba meremaja.
sempat, berdua, gaprak di bawah cuaca bergugus-gugus mega
sebelum lalu umbul bersama curahan cahya surya.
di sana, di kelokan tajam pojok selatan tanah lapang,
ada yang memanggil-manggil angin kerna pengin mengunda layang-layang
kerna tak sabar bisa segera ampatan.
tetapi hari dan bahkan hati mendadak berhujan.
padahal Sungguh bersamaku namun tetap kutanya padamu
:di mana kini engkau, wahai, ketika waktu melaju, menghelamu
menuju ke yang sungguh tak terbayangkan kalbu?
di mana kini aku, duhai, ketika engkau di mana bersama entah siapa
yang barangkali sedang menyulam atau menisik baju warna kesumba.
di mana kini kita, o, di mana ketika betapa segala menjadi dingin
dan di manamana yang menderu melulu angin?
kubayangkan, kurindukan, kuharapkan, kucoba wujutkan,
sungguh di Sini kita, o, kekasih yang mengembara di garis tangan
:di gelak tawa. di mata. berpeluk Mesra dengan cinta.
menanam pepohonan, merangkai bunga, memasang taplak meja,
melakukan halhal sederhana, menjadikannya bermakna dan berguna.
ah, baru kemarin rasanya
ketika kepadamu aku bertanya, “apakah kamu bersedia
menjadi istri lelaki pemetik hidup dari ujung pena
dan bersamaku, kita bikin tiap kata jadi Nyata.”
baru kemarin rasanya
ketika engkau tak berucap apa-apa
selain menjawab dengan binar pandang mata yang menjelaskan Segala
sungguh. baru kemarin rasanya
…..
Timur Sinar Suprabana:
makan malam
begitulah. kami makan malam di restoran
yang terletak tepat di perpotongan garistangan.
kami duduk berhadaphadapan
dengan pandang mata saling tak henti berbagi senyuman.
“engkau tahu?” tanyanya tibatiba, “suatu hari aku ingin bisa
kita makan malam di musim dingin yang bikin segala
terlihat berkilau putih semua.”
tak sepenuhnya faham aku berkata, “kekasihku, kiranaku,
bagaimana itu Bisa jika betapa hatimu sungguh kaya warna?
kerna bukankah bahkan hitam selalu mengesumba
bahkan cukup ketika engkau memandangnya?”
di sini, sekarang, di keheningan yang lengang
kusua Kenangan berlenggang
mengapa tapi dengan airmata berlinang?































oH! tahukah kau? sungguh menggembirakan ketika menemu bahwa sajaksajakkupun, bahkan sekaligus juga fotogotoku, engkau patutkan untuk layak hadir di ruangmu yang Indah ini, rini intama.
sungguh…, terimakasih.
memang bagus puisinya…
Puisi mu memang bagus Mas Timur, terima kasih sudah berbagi
Begitu dalam menyentuh dan indah itu sungguhlah ada,
Jadi apa salahnya sedikit berguru pada maknanya,,
Maaf mbak Rini,,saya numpang baca,
katakata INDAH tertata URUT dan BERMAKNA…
matur suwun sanget GURU…
INDAH,
sangat menawan……..
Menentukan pilihan memang sesuatu yang menyulitkan, penuh dengan pertimbangan karena ingin mendapatkan hasil yang memuaskan. Sepintar apapun manusia, Logica dari otak manusia hanya bisa menimbang nimbang saja dan berfikir secara maksimal untuk menentukan sebuah pilihan, dan tidak ada satu manusiapun yang bisa menentukan dengan pasti hasil akhir dari sebuah pertimbangan yang matang sekalipun.
Dunia ini dan segala isinya yang menciptakan adalah Alloh S.W.T dan Alloh lah yang maha tau apa yang akan terjadi karena semua yang terjadi di Dunia ini pasti atas kehendak dan seizin-Nya. Oleh karena itu sudah sepantasnya lah kita selalu memohon petunjuk dari-Nya, untuk itu dibutuhkan keyakinan dan kepercayaan penuh bahwa Alloh lah yang maha tau dan sebagai Penolong!
Keyakinan adalah sebagai kunci, karena tanpa keyakinan yang kuat, akan selalu muncul rasa ragu. Bicara keyakinan terkait erat dengan Keimanan, karena Iman sebagai tali pengikat untuk membulatkan keyakinan dan
mas, mau nanya.. puisinya yang dibacain pas MEMBACA INDONESIA itu yang mana aja ya? apa disini ada teksnya? trimakasih,..
eh, maaf.. mbak, ya..