Komunitas Pecinta Puisi

Adakalanya kita perlu menangis agar kita tahu hidup ini bukan sekedar tertawa. Adakalanya kita perlu tertawa agar kita tahu betapa mahalnya nilai airmata


Tinggalkan komentar

Kamboja merah muda

meronce mimpi dan bulan yang menusuk malam

lalu matahari akan merahasiakannya esok pagi

 

Perempuan berkebaya ungu,  sanggul panjang menjuntai kesamping

 

Meyelipkan kamboja merah muda di telinga

 

 

 

Rini Intama -2100

 

Puisi Besakih dan aroma bunga

 

 

 

 

 

 


Tinggalkan komentar

Ilalang

bukankah kau ingat juga tentang surat kecil yang ku layangkan ? 

dimana aku tinggalkan catatan itu lalu jatuh di bukit ilalang

terbawa angin dalam kidung rindu yang hilang

Rini Intama – Amara dalam episode setangkai Edelweis

2011


1 Komentar

Edelweiss

Amara, aku dan batangbatang edelweis sepanjang jalan yang terpilih

menyimpan doa yang terinjak tangis ranting kering

 menghitung kata di setiap kelopak kecil edelweis yang putih

tanggalkan lukisan kertas tiga warna di kecipak air danau dalam hening

Amara dalam episode setangkai Edelweiss

Rini Intama -Mei 2011


10 Komentar

Tiga jam di Padang Bai

Tiga jam di Padang Bai

 

kisah ini kutulis di pantai ketika menunggumu

meminang janji tentang kapal yang akan melabuh di dermaga

satu jam berlalu aku masih bernyanyi

mengayuh biduk di danau tiga warna

dua jam  menghitung segenggam pasir

membayang lintasan buihbuih ombak di selat lombok

 

tiga jam, bahkan aku lupa namamu

 

 

Januari 2011

 


2 Komentar

Jejak sajak Rini Intama

Sebuah buku kumpulan Puisi “Gemulai tarian Naz”, Jejak sajak Rini Intama


Estetika Puisipuisi Rini Intama – Sebuah pengantar
Dimas Arika Mihardja

Tema apapun yang diungkapkan oleh penyair menjadi menarik bergantung bagaimana penyair mengemasnya ke dalam teks puisi. Pengemasan teks puisi Rini Intama lebih berpenampilan sederhana dalam hal peng¬gunaan simbol, bahasa kias, metafora, dan gaya bahasa. Dengan pemakaian simbol, bahasa kias, metafora, dan gaya bahasa penyair Rini Intama mencipta¬kan puisi yang secara sederhana menampilkan intensifikasi, korespondensi, dan musikalitas.

Demikianlah, seorang Rini Intama telah menyediakan teks-teks puisi dengan estetika sederhana dan mengajak kita berkomunikasi menangkap lanskap kehidupan yang didedahkan. Komunikasi batiniah yang ditopang spiritualitas menghadapi hidup dan kehidupan niscaya akan banyak mendatangkan manfaat. Selamat membaca dan menggali hikmah positif yang terdedah melalui komunikasi puitik puisi-puisi karya Rini Intama. Saat kita menyelam dan menyelami kedalaman maknanya, percayalah,kita akan tercerahkan oleh estetika sederhana yang dipilih penyairnya.

Salam budaya.
*) Penulis adalah pengajar puisi di Universitas Jambi, penyair, dan pemerhati seni budaya


24 Komentar

Hutanku

Pongah menebang asa yang membelah senyap
gemerisik daun kering terinjak kaki perkasa
burung-burung terbang menghilang
cahaya langit pergi mengusap marah
yang mengintip direrimbun daun
dan kuncup kuncup bunga

tak pelak kayu diam tertebas ayunan sebilah kampak
dan gergaji yang sudah selesai diasah

garang menajam tak dengar keluh mengerang
dengarsuara bumi yang mengaduh hingga memekak
tangisan sang akar tertinggal terkelit sakit
habis darah mengalir dan kayu yang tercacah cacah

hutan tak ingin meranggas sedang angin membawa panas
memanggang kayu dan daun daun

ooh benih benih dari rahim pertiwi
menghitung puluhan tahun menunggu tunas tumbuh
sedang longsor memanggil tanah menimbun segala cinta

terhentilah nafas dan hutanku lampus

Juli 2010
Rini Intama  – Dalam buku Gemulai Tarian Naz


5 Komentar

Nyanyian sang Ombak

Sudah di terbitkan dalam buku “RUANG JINGGA”
Antologi Puisi 12 Penyair Jingga
Penerbit : Q Publisher Jakarta

Sajak Pantai Utara, Hutan Bakau dan aroma cinta

Burung burung hanyut bercengkrama lepas dalam gairah yang sublim
diatas akar akar bakau yang menjalar
menyela kokoh dirawa berlumpur
memisah kejauhan dari debur ombak yang menderu

mengalun nyanyian cinta

Burung burung masih menyapa birunya mega dalam kenang
berkubang kisah metamorfosa alam
tentang tanah pantai, kuat cengkram akar bakau
tentang buih air pasang menyeret pasir

tentang tepian merindu nyanyian sang ombak

Getar sayap menari dalam liukan berenergi gelora yang memadu

ada riang kasmaran, lugu tawa merayu
terbang beriringan sayap sepundak menunduk ragu
menunggu rindu kumandang dendang
dan pelukan setumpuk jerami hangat

Kayu kayu api menyisakan kisah akar bakau

akhir Maret 2010
diBuku merah


3 Komentar

Lembah Keramat

Malaikat membuka amanat kiamat dalam kumandang ayat
disebuah lembah keramat tak beralamat
bangkai raga atau mayat mayat berserak
menjaga dendam kesumat mengakhiri hayat
menggumam siapa dilaknat dan terlaknat

Aroma anyir darah padat menyengat
luka luka menganga
teriakan menyayat
kalimat taubat mendengung kuat

Tapi mangkat adalah waktu singkat

duka menaburi duka
luka menangisi luka

luruhkan ego, bersikukuh angkuh
tinggalkan hingar bingar bumi tak bertanya harkat

tanah yang terangkat, membelah menelan
tanah yang hancur terpanggang bara

Matahari mengusung bakar memanggul gusar
langit mendekat mencakar terbangkan ruh ruh
yang enggan tinggalkan raga yang membusuk…..

Bumi bulat pepat tak lagi memilih poros meminang waktu
Bulan tak lagi memilih malam tuk singgah

* lembah keramat hanyalah bayang bayang tempat kita menunggu kedahsyatan kiamat….
lalu kita kita bungkam menunggu semua laku bicara lantang bersaksi ..

Maret 2010


24 Komentar

Aku dan kataku..

Aku dan kata mencintaimu, menyelinap diantara syair syair mengalir bersama butir butir pasir laut, bukankah sama seperti ketika mencoba menumpahkan warna diatas kanvas seraya menunggumu, lantas langit dan awan bergerak pelan…

Aku dan kata kerinduanku, menyelinap diantara derasnya makna aksara dalam untaian kalimat yang menumpah, sama seperti ketika gundukan tanah menggunung dan memuntahkan lahar… deburannya mengalir begitu saja menerabas segala

Aku dan kata kemarahanku, adalah ketika terbengkalainya air disela jemari mengering, menggenggam dan cinta itu sendiri yang memberangus ego dalam kalut, takut atau pengecut. Ada sisa waktu yang berlari dalam rimbun hutan Halimun yang berembun lalu sepi…

Aku dan kata kesetiaanku, adalah merasakan butiran embun sisa malam yang datang pada dedaunan diantara kabut dingin yang menyatu ditanah yang membasah, didetak nadi hari lalu menunggu esok terus datang, meski aku tertunduk lesu

Aku dan kataku………..
10 Maret 2010

Sudah di terbitkan dalam buku “RUANG JINGGA”
Antologi Puisi 12 Penyair Jingga
Penerbit : Q Publisher, Jakarta

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 5.742 pengikut lainnya.