Komunitas Pecinta Puisi

Adakalanya kita perlu menangis agar kita tahu hidup ini bukan sekedar tertawa. Adakalanya kita perlu tertawa agar kita tahu betapa mahalnya nilai airmata


Tinggalkan komentar

Seperti ketika kecil memaksa

ingin rebah di dada ibu

 

samar suara rindu menggelincir

aliri pembuluh nadi

seperti ketika memaksa

ingin berlari kearahmu

 

Puisi Bungkam

9 Mei 2010


Tinggalkan komentar

Namira

Namira, mengapa tak kau tulis saja puisi ?

seperti doa yang kau rebahkan di malam yang pucat

di antara kelopak waktu dan kabut cinta

sebagai pertanda yang kau tulis dimimpi-mimpi

 

Rini Intama- ktbm, Juni 2012


1 Komentar

Menunggu pelangi

tak ingin memulas warna apapun

pada kertas yang akan kukirim padamu selain putih

karena di atas putih kita menyimpan warnawarna yang pernah ada di tepian mimpi

seperti saat kita berlari di batas lengkung langit menunggu Pelangi sehabis hujan

 

Puisi di sepanjang Broadway

Rini Intama 7 maret 2011 ( dalam buku Gemulai Tarian Naz)


1 Komentar

Edelweiss

Amara, aku dan batangbatang edelweis sepanjang jalan yang terpilih

menyimpan doa yang terinjak tangis ranting kering

 menghitung kata di setiap kelopak kecil edelweis yang putih

tanggalkan lukisan kertas tiga warna di kecipak air danau dalam hening

Amara dalam episode setangkai Edelweiss

Rini Intama -Mei 2011


5 Komentar

Profil Perempuan pengarang dan penulis Indonesia

beredar di TB Gramedia di Jabodetabek dan Bandung.

Buku yang menghimpun 800-an profil perempuan pengarang & penulis di Indonesia dari A sampai Z. Tak hanya membanggakan bagi kaum perempuan tetapi juga layak dikerling sejawatnya para lelaki


Tinggalkan komentar

Perempuan Indonesia

Pada surat-surat Kartini tertulis pemikiran-pemikirannya tentang kondisi sosial saat itu,  bagaimana beliau berkeluh dan menggugat  budaya di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan. Dia ingin wanita memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar. Dan beliau berhasil membuat para perempuan Indonesia bangkit dan terus melaju di segala bidang . Kini Perempuan Indonesia sudah bisa menempatkan diri meneruskan cita-cita ibu kita Kartini.

Terima kasih Ibu, semoga kami memahami arti perjuanganmu,  seperti tercantum dalam suratmu kepada Nyonya Abendon, Agustus 1900  “Kita dapat menjadi manusia sepenuhnya, tanpa berhenti menjadi wanita sepenuhnya”.  

Ibu Kartini tetap menjunjung kodrat perempuan sebagai bagian bari tulang rusuk laki-laki juga menjadi ibu penuh kasih, mendidik dan menunggu anak-anak bermata mutiara yang kemudian terlahir dari rahim emansipasi ini  

Terima kasih ibu Kartini, kami perempuan Indonesia menitikkan air mata untuk perjuanganmu.

Meski sampai saat ini masih banyak Perempuan Indonesia yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga, perempuan pekerja rumah tangga yang bekerja di dalam negeri maupun di luar negeri sebagai buruh migran, perempuan korban kekerasan seksual yang menjalankan proses peradilan, perempuan yang hidup di daerah konflik bersenjata dan, perempuan kepala keluarga yang hidup di tengah kemiskinan di daerah pedesaan.  

21 April 2012


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 5.752 pengikut lainnya.