Komunitas Pecinta Puisi

Adakalanya kita perlu menangis agar kita tahu hidup ini bukan sekedar tertawa. Adakalanya kita perlu tertawa agar kita tahu betapa mahalnya nilai airmata


16 Komentar

TUHAN tak marah

Ketika aku marah
seperti sempurnanya Tuhan meredam amarah karena Tuhan tak marah

Tuhan tak lengah
Tuhan tak jengah
lantunkan saja ayatayat dalam surah
hingga rindumu terjamah
karena CahayaNYA yang ramah

Seperti sempurnanya belalang perlahan memamah
pucukpucuk ilalang dan remah daun sirih merah

Tuhan tak ribut
tak susut kerut mulutmulut tersumpal lelah dan takut
hingga kulit mengeriput
hingga Kalam membelah langit dan awan yang tak beringsut

Tuhan tak tidur
sudahi dengkur terpekur
tak perlu menunggu waktu doa yang hanya sumpah serapah tak jujur

seperti sempurna bayang perdu digelincir senja dan tepian rawa
hingga ubun-ubun mengais doa disepanjang jalan berpohon cemara

Tuhan tak kikir
sudahi tarian pucuk daun kenikir
sudahi mimpi getir dan maknai tafsir dzikir
hingga sempurnanya tubuh menggeletar gigil mendesir

14 Juni 2010

Tuhan dalam rumah


3 Komentar

Lembah Keramat

Malaikat membuka amanat kiamat dalam kumandang ayat
disebuah lembah keramat tak beralamat
bangkai raga atau mayat mayat berserak
menjaga dendam kesumat mengakhiri hayat
menggumam siapa dilaknat dan terlaknat

Aroma anyir darah padat menyengat
luka luka menganga
teriakan menyayat
kalimat taubat mendengung kuat

Tapi mangkat adalah waktu singkat

duka menaburi duka
luka menangisi luka

luruhkan ego, bersikukuh angkuh
tinggalkan hingar bingar bumi tak bertanya harkat

tanah yang terangkat, membelah menelan
tanah yang hancur terpanggang bara

Matahari mengusung bakar memanggul gusar
langit mendekat mencakar terbangkan ruh ruh
yang enggan tinggalkan raga yang membusuk…..

Bumi bulat pepat tak lagi memilih poros meminang waktu
Bulan tak lagi memilih malam tuk singgah

* lembah keramat hanyalah bayang bayang tempat kita menunggu kedahsyatan kiamat….
lalu kita kita bungkam menunggu semua laku bicara lantang bersaksi ..

Maret 2010


31 Komentar

Sajak K e m a t i a n

Kelam menggenggam cekam
tapi gumpalan awan menyemai damai
ketika jingga senja menebar
atau suara fajar menuai segar

Sayup Sangkakala terdengar syahdu merayu dayu
menghembus aroma maut kelu dan suara sendu

Ilalang kering ikut riuh
gemuruh menghempas luruh
akar kering ikut tercerabut
dalam takut dan kalut

Tak surut doa turut
tidak sekedar patut
demi polah yang masih carut marut

Nyawa meregang, memisah jasad dingin menegang
Nyawa melayang terbang ruh menghilang
tinggalkan wajah pias membias dalam kenang
Kaku tubuh terbujur tanpa dengkur panjang

waktu telah habis terkikis
dalam telapak jejak bergaris garis
tak lagi sempat merasa miris dan menadah rinai gerimis
apalagi bisa menangis, hanya mata menutup tipis
dan senyum mengiris sakit yang manis

Mati dan kafan putih membentang
sama saja dengan tanah merah basah yang memberi ruang
menanti tutupi jasad mati dan taburan melati ….

….riuh riuh doa memanjat, riuh riuh celoteh burung burung kematian
….riuh riuh isak tangis, riuh riuh jejak jejak meninggalkan tapak…

Tangerang 27 Feb 2010

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 5.752 pengikut lainnya.