Komunitas Pecinta Puisi

Adakalanya kita perlu menangis agar kita tahu hidup ini bukan sekedar tertawa. Adakalanya kita perlu tertawa agar kita tahu betapa mahalnya nilai airmata

“KADO SANG TERDAKWA” Catatan: Dimas Arika Mihardja


“KADO SANG TERDAKWA” DARI PENCINTA SENI BUDAYA
Catatan: Dimas Arika Mihardja

“Kado Sang Terdakwa”, antologi puisi Tangerang Serumpun (Pustaka Serumpun, 2011) memuat 111 puisi karya 20 penulis yang yang tergabung pada Pencinta Seni Budaya Tangerang Serumpun. Buku ini diawali dengan salam pembuka yang antara lain dikemukakan: “buku ini muncul di tengah hingar-bingar dunia perpuisian di dunia maya dan dunia nyata bukanlah sekedar euphoria atau hura-hura sastra, walau sejimpit kami ingin berbagi, ingin punya arti, mohon tidak dicurigai”.

Setelah menderetkan daftar judul puisi, lalu ditampilkan pengantar yang saya kutipkan sebaggian serupa inii: “….Tak ada yang salah dalam puisi. Bisa jadi Penyairlah yang berdosa karena telah menelantarkan karya-karyanya menjadi tak berdaya dan tak bias berbuat apa-apa. Padahal bukan tak mungkin sebuah puisi akan memperbaiki sesuatu yang bengkok jadi lurus kembali, mengentaskan kemiskinan, meningkatkan kecerdasan bangsa, atau bahkan merapihkan carut-marut yang terjadi di sebuah negeri”.

Substansi ucapan salam dan penggalan pengantar itu secara substansial menyangkut “fungsi puisi”, yang jika dirunut mengingatkan apa yang pernah ditulis oleh Taufiq Ismail dalam sebuah puisinya berjudul “Dengan Puisi Aku” : Dengan puisi aku bernyanyi/Sampai senja umurku nanti/ Dengan puisi aku bercinta/Berbatas cakrawala/ Dengan puisi aku mengenang/Kebadian Yang Akan Datang/Dengan puisi aku menangis/Jarum waktu bila kejam mengiris/ Dengan puisi aku mengutuk/Nafas zaman yang busuk/ Dengan puisi aku berdoa/Perkenankanlah kiranya (Tirani dan Benteng, 1983:62). Lantaran buku ini merupakan kado dari pencinta seni budaya, maka wajar jika disambut dan dihayati dengan segenap perasaan cinta. Saya telah membaca puisi-puisi sepenuh cinta dan sepenuh cinta pula membuat catatan ini. Catatan ini diformat dan diniati sebagai apresiasi (bukan eksekusi), sebagai sebentuk pemaknaan (bukan dakwaan), dan sebagai silaturahmi (bukan mengkritisi).

Hal yang menarik dan menumbuhkan pertanyaan awal, apakah judul buku ini ada hubungannya dengan sebuah puisi karya Rini Intama berjudul “Kado Sang Terdakwa” (hal.92)?. Penyair Rini Intama, pada masa lalu (setidaknya sebelum puisi ini ditulis) telah diajukan dalam acara Pengadilan Puisi di komunitas Tangerang Serumpun. Pengadilan puisi ini, jika dirunut dalam perspektif historis, mengingatkan acara yang kurang lebih sama dengan Pengadilan Puisi yang dilaksanakan di Bandung pada masa lalu. Jika format Pengadilan Puisi di Bandung yang dihelat saat itu sebagai “protes” penyair mapan dengan format “dagelan” atau main-main (yang berdampak serius), maka Pengadilan Puisi yang dihelat oleh komunitas Tangerang Serumpun diformat sebagai sebentuk apresiasi puisi. Pasca acara itu lalu lahirlah puisi “Kado Sang Terdakwa” berikut ini:

KADO SANG TERDAKWA
: kepada AY

/1/
Ini pengadilan puisi
Bukan mimpi tentang sepi
Tidak juga malam yang sunyi
Kita saji syair dengan teropong hati

/2/
Tenang,katamu pelan
tunggu saja langit malam dan rembulan
meski kita rasa waktu berangkat lamban
seraya kau tuang secangkir kopi di atas nampan

/3/
Ah, tulus hatimu
menulis saja katamu
tak perlu tersedu menanti rindu
atau kau hanya bias mengukir ragu

2010

Judul buku biasanya terinspirasi dan berangkat dari judul puisi yang dijagokan, atau setidaknya dianggap mewakili keseluruhan isi buku. Bagaimanakah rupa puisi-puisi yang ada dalam buku ini?

Serumpun bambu yang tumbuh di Tangerang, agaknya telah diolah dan difungsikan untuk berbagai keperluan. Bambu bias dibuat gedeg (dinding terbuat dari anyaman bilah bambu yang eksotik), telah dibuat seruling, angklung, patok pembatas lahan persawahan, dan bias jadi bamboo runcing. Sembilu adalah juga terbuat dari kulit batang bambu yang bias difungsikan untuk menyayat, mengiris, dan tentu saja melukai. Sebuah besek juga terbuat dari bilah batang bambu yang difungsikan untuk menyimpan penganan saat kenduri. Aneka fungsi bambu yang rumpun-rimpunnya tumbuh di Tangerang ini sebagian dibuat sebagai lincak, tempat duduk bersama membincangkan aneka rupa persoalan keseharian. Fungsi-fungsi bamboo yang serupa itu tampak merunai puisi-puisi yang dimuat dalam buku ini.

Buku ini menyandingkan sejumlah puisi (111 puisi) karya 20 penyair tua-muda usia, penyair yang banyak makan asam garam berpuisi berbaur dengan penyair yang memulai mengawali hobi menulis puisi. Penyair-penyair yang telah banyak mengalami proses berkarya menampilkan puisi yang kuat-menggugat dan dapat dijadikan ingatan kolektif dalam kehidupan manusia. Puisi-puisi yang ditulis oleh penyair yang berangkat dari hobi menulis puisi, mengawali minat menulis untuk berbagai maksud (mengisi waktu luang, iseng, ikut-ikutan, dll) menyajikan puisi yang berangkat dari keresahan, kerinduan, cinta, dan berbagai persoalan lainnya yang terungkap secara apa adanya.

Abah Yoyok, misalnya, secara kuat-memikat menyertakan tiga puisi yang ditulis dengan serius. Puisi pertama “Enth Puisi Apa Ini Namanya” (hal.1) lahir dari rahim kegelisahan seniman sejati menghadapi karut-marut wakil rakyat yang “kampret!”. Saking seriusnya, dua puisi ditulis dengan mengikuti kaidah (pakem, patron, aturan) puisi yang dijadikan inspirasinya seperti Sekar Megatruh yang berumus 12u, 8i, 8u, 8i, 8o (Dalam puisi “Tembang Trenyuh Sekar Megatruh”, hal.3) dan Sekar pangkur yang berumus 8a 11i, 8u, 7a, 12u, 8a, 8i (Dalam puisi “Kidung Negeri Hura Hura”, hal.4). Puisi Abah Yoyok kuat lantaran bertolak dari kejujuran, kebenaran, dan kegelisahan atas berbagai perilaku menyimpang di sekitarnya. Puisinya tentu saja tampil jujur, polos, kritis, tetapi juga tidak meninggalkan norma-norma. Puisi-puisi Abah Yoyok bersandar pada kekuatan diksi (pilihan kata) yang tertata runtut-ngalir-menyihir, tak terlampau risau dengan simbol, metafora dan hal-hal yang merumitkan.
Lain halnya dengan puisi-puisi Enes Suryadi yang mempertaruhkan kekuatan diksi, bersandar pada pilihan simbolisasi, metafora dan perangkat semiotika lainnya seperti tampak pada puisi “Seorang Nelayan Malam di Cisadane” (hal. 31), “Bintang Kejora di Langit Surabaya” (hal. 32), “Puisi Cinta di Wina”, “Catatan Pagi”, dan “Tentang Kelahiran Sebuah Kota” (hal.39). Puisi-puisi Enes Suryadi bercorak serupa gaya berpuisi penyair idolanya: Rendra, Chairil Anwar, dan Taufiq Ismail. Tiga puisi ini pernah say abaca di situs jejaring social fb, beberapa waktu lalu. Enes Suryadi tampak selalu ekstra hati-hati dalam mengemas puisi, cermat, dan penuh perhitungan. Itulah sebabnya produktivitasnya dipertaruhkan hanya untuk mempublikasikan sajak-sajak yang benar-benar “bernyanyi”.

Erry Amanda, yang lebih suka dipanggil “cah Angon” dan tak memusingkan sebutan penyair, justru menampilkan puisi-puisi yang “berat” dalam perenungan dengan pilihan diksi yang kuat-memikat melukiskan aneka lanskap dari pedusunan hingga kota mentropolitan, dari alam mikrokosmos ke makrokosmos, dari alam relitas factual ke realitas imajinatif, dari transparansi ke refleksi. Kita simak judul-judulnya yang terasa menghentak” “Anak Jaman menggugat Jaman II” (hal.41), “Aku Terpaksa Meninggalkan Kotamu” (hal. 42), “Ijinkan Airmata Darah Menjadi Samudera” (hal. 43), Sajak Alit Perlunasan Jiwa” (hal. 44), “Nanenia Amor” (hal. 45) dan “Catatan Badai” (hal. 46). Buku ini menjadi kuat atas kesertaan puisi-puisi Erry Amanda yang telah menulis sajak sejak decade 1960-an. Erry Amanda yang sempat jadi wartawan dan redaktur di beberapa media massa ibu kota dan sebagai pengasuh Majlis Taklim Manaarul ‘Ulum (Revivalist Islamic Community) ini turut menghiasi buku ini dengan perenungannya tentang berbagai hal.

Poncowae Lou tampil lincah, lucu, dengan sentuhan eksperimentasi dan penjelajahan kreatif melalui puisi-puisinya berjudul “Ibu, Siangku Malam”, “Pelesir Angin”, “Isolasi 1013”, “Sebentar Malam”, dan “Perempuanku Seorang Ibu. Penyair kaya pengalaman Uki Bayu Sejati lebih mengksprolasi kepeduliannya pada hal-hal yang menyentuh perasaannya dalam perspektif hidup dan kehidupan seperti tertuang dalam puisi “Tapis Berlapis”, “Blues Koran Hari ini”, ‘-ulznglah Nak”, “Saksi” “Dari Lapar yang Manahun”, dan “Dusta”. Penyair Salimi Amad lebih cenderung memilih puisi-puisi transenden yang kuat spiritualitas religiusnya melalui puisi-puisinya yang terasa kuat-menyergap mata batin pembaca.

Anak muda yang punya obsesi keliling dunia dan ingin tampil beda, Hardia Rayya menyertakan 5 puisi: “Seorang Tua Menembus Malam”, “Mereka Belum Lagi Remaja”, “Membangitkan Semesta”, “Kau Misteri yang Belum Terungkap”, “Air-air”, dn “Hanyasatu”. Sajak-sajak Hardia Rayya tampil reflektif-ironis terkait dengan “kegelisahan batin” menghadapi hidup-dan kehidupan. Puisinya mengalir jernih dan terkadang menghentak dan menyentak dengan ironi-ironi yang dibangun oleh suasana tertentu. Sebagai pembaca, saya ingin mengikuti jejak lanjutan penyair muda ini untuk membuktikan dirinya berbeda dengan penyair lain dan obsesinya mengelilingi dunia menjadi kenyataan. Khusus sajak “Hanyasatu”, penyair muda ini tampak memaksakan diri untuk tampil beda dengan menyuguhkan tipografi sajak yang serupa pernah dilakukan oleh Sutardji Calzoum Bachrie. Eksperimen yang terlampau berani (nekad?) tentunya. Penyair muda yang sedang mencari bentuk ungkap dan terus gelisah ingin menemukan identitas kedirian dan karyanya ialah Hamartin Putra, Man Atek, dan Yandri Yadi Yansyah. Hal ini tampak pada puisi-puisi yang disertakan dalam buku ini.
Puisi-puisi yang kuat-memikat lantaran penampilannya telah menemukan estetika liris-imajis, yang secara tipografis berbeda dengan puisi-puisi lain dalam buku ini disumbangkan oleh Iman Sembada melalui puisi-puisinya berjudul “Menjaring Mimpi”, “Potret Malam”, “Blues Pulang Kerja”, “Matahari Tak Terbit”, “Menciptakan Cinta” dan “Opera Kota yang Bangkit”. Penyair Nana Sastrawan melalui puisi-puisinya berjudul “Nasi Kucing”. “Greeting”, dan “Hari Bumi Sedunia” tampak telah menemukan gaya ucap yang dipilihnya.Sementara penyair JJ Prabu, tampil dengan puisi-puisi “slengekan”, nakal, binal, dan sekaligus bermain-main dengan ironi. Gaya puisi ini sepola dengan gaya Abah Yoyok yang dengan cerdas dan cadas mengritisi lingkungan yang diresepsinya. Nakal dan binal adalah juga sebuah tawaran nilai yang tentu saja memiliki kebebasan ruang ekspresi.

Buku ini juga memuat 7 penyair wanita: Bunda Anna R, Diah Hastorini, Davin Nahb, Dwi Andari, Mawar Jingga, dan Rini Intama. Wanita penyair ini tampil dengan puisi-puisi yang membahasakan rasa seperti cinta, rindu, resah, kecewa, dan rasa-rasa lainnya. Puisi yang hadir memang telah mengabadikan aneka rasa itu. Tampak ada penyair yang mulai menampakkan jejak sajak seperti Rini Intama, Divin Nahb, dan Diah Hastorini. Tampaknya, wanita penyair ini mulai senang berpuisi, Memang, soal berpuisi di satu sisi dan memuisi di sisi lain memerlukan proses “berdarah-darah”, pergulatan yang intens, dan menulis terus-menerus. Saya yakin, atas gesekan dan gosokan teman-teman Tangerang Serumpun, jika wanita penyair ini mau intens, maka akan lahir dari rahimnya puisi-puisi yang memuisi dan tak jatuh pada kecenderungan berpuisi.

Jambi, 3 Juni 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s