Komunitas Pecinta Puisi

Adakalanya kita perlu menangis agar kita tahu hidup ini bukan sekedar tertawa. Adakalanya kita perlu tertawa agar kita tahu betapa mahalnya nilai airmata

Aku dan kataku..

24 Komentar

Aku dan kata mencintaimu, menyelinap diantara syair syair mengalir bersama butir butir pasir laut, bukankah sama seperti ketika mencoba menumpahkan warna diatas kanvas seraya menunggumu, lantas langit dan awan bergerak pelan…

Aku dan kata kerinduanku, menyelinap diantara derasnya makna aksara dalam untaian kalimat yang menumpah, sama seperti ketika gundukan tanah menggunung dan memuntahkan lahar… deburannya mengalir begitu saja menerabas segala

Aku dan kata kemarahanku, adalah ketika terbengkalainya air disela jemari mengering, menggenggam dan cinta itu sendiri yang memberangus ego dalam kalut, takut atau pengecut. Ada sisa waktu yang berlari dalam rimbun hutan Halimun yang berembun lalu sepi…

Aku dan kata kesetiaanku, adalah merasakan butiran embun sisa malam yang datang pada dedaunan diantara kabut dingin yang menyatu ditanah yang membasah, didetak nadi hari lalu menunggu esok terus datang, meski aku tertunduk lesu

Aku dan kataku………..
10 Maret 2010

Sudah di terbitkan dalam buku “RUANG JINGGA”
Antologi Puisi 12 Penyair Jingga
Penerbit : Q Publisher, Jakarta

Penulis: Rini Intama

Rini Intama Wrote several books of literature, novels, poetry. Writing a book child learning modules. How to explore and develop the potential of children. Profil penulis & pengarang perempuan Indonesia Komunitas Pecinta puisi https://riniintama.wordpress.com

24 thoughts on “Aku dan kataku..

  1. Kau dan kata-katamu adalah senjata yang menyatu dengan peluru. Hentakkannya mengguncang dan mampu meluluhkan, keangkuhan, kebencian, kemarahan, dan ,mengubahnya menjadi rasa mendalam yang tak pernah sirna.

    Kau dan kata-katamu adalah candu yang, membius kalbu, melambungkan bayang-bayang dan harapan, serta mimpi-mimpi yang selalu menemani malammu.

    Kau dan kata-katamu,adalah ekspresi hati, bergemuruh, menggebu, memburu, dan penuh peluh.

    Kau dan kata-katamu adalah keyakinan, penantian, dan cermin kebesaran jiwa, meski ia juga sebuah pertaruhan tanpa kepastian kemenangan

  2. Aku dan kataku, satu kata dari aku, pandangilah hidup ini dengan penuh harapan,…

  3. seandainya aku dapat mengungkapkan kata cinta melalui goresan pena dan dirangkai menjadi sebuh cerita yang indah,mungkin aku akan curahkan semuanya perasaan yang selama ini aku bendung.
    namun apa daya, aku dan kata-katku itu tidak bisa dirangkai seindah bagi puisi

  4. @ Me, Aku dan kataku adalah sebuah senjata… benar katamu..!
    tapi adalah juga sebuah kemenangan mengalahkan rasa ego ..
    biarlah nyanyian itu menjadi bagian dari mimpi…. thx ya

    @Han, Yuuups …. bahwa aku selalu punya harapan… ma kasih !

    @Ruzkolangaz, jangan berandai… goreskan saja penamu…

  5. Aku adalah penggalan kata dari sana
    Berdetak-detak tatkala ditatap dengan mesra
    Berdecak-decak ketika menerima irama
    Berayun dan tersenyum manja
    Layaknya hati yang senang dipuja

    Aku adalah pujangga
    Melayani kehidupan dengan nafas kata
    Menyuapi nurani dengan sajian cinta
    Memelihara tunas-tunas impian semesta
    Dan memangkas ranting-ranting keraguan dari ladang yang tak terjaga

    Aku adalah pujangga…
    Pemahat kata pengukir cinta
    Peracik ramuan maha karya
    Pemabuk yang sering disangka gila
    Dan akupun hanya bisa tertawa
    Hahahaha

    Tahukah kamu siapa aku sesungguhnya??

    Aku adalah genangan air yang tersentuh
    Wujudku keruh lalu menguap separuh
    Tak mungkin aku bisa membasuh rambut-rambut yang lusuh

  6. @banyu, wah puisimu keren lho…
    seperti aku adalah pujangga
    melayani kehidupan dengan nafas kata….
    thx yaaaa…..

  7. aku dan kata puisimu yang hilang
    sebab diriku cuma abjad yang gamang
    di antara samodra pesona yang kau timang….

  8. @Riyadi, terima kasih atas kunjungannyaaaa

  9. spechless, aku dan kataku = adalah satu mewakili saat saat.

  10. salam kenal juga..
    wah,,,,
    mantap ey….
    aku suka karya-karya andan….
    aku juga suka bikin puisi-puisi

  11. aku tak bisa komentar apa-apa. tapi aku mau sering kesini numpang baca. boleh?

  12. terobosan baru sudah dibuktikan oleh rini intama….bersama Q Publiser…telah melahirkan 12 penyair jingga.
    …………………………….

  13. Bagus banget karya2 puisimu, walau aq belum mbc semuanya..
    tp aq dah dapat ‘sesuatu’ yang menggelitik..n aq salut…
    Selamat terus berkarya…

  14. Puisinya dalam banget, keren abis…

  15. kamu,katamu, dan aku

    kau lukiskan kata hati dalam pengembaraan. Syairmu mengirama melukiskan keagungan, kau kobarkan benih kecintaan, kerinduan, kemarahan, dan kesetiaan dalam bingkai yang kau ukir dengan harmonisasi jemarimu. kutersentuh, mengikuti alur harmonisasi jemarimu yang lembut, hingga terukir kata dalam kanvas rinduku pd katamu…..salam kreatif mbak

  16. puisi dpt mengungkapkan perasaan dan suasana hati, slm kenal ya

  17. aku dan kata2ku,…adalah jeritan jiwa akan asa dan harapan…..

  18. MENGINTIMI SEBIJI PUISI RINI INTAMA: “AKU DAN KATAKU”

    Pengantar Oleh Dr. Sudaryono, M. Pd (Dimas Arika Mihardja), Dosen Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

    Siang ini (4 Agustus 2010) sebuah paket tiba di rumah. Setelah dibuka paket itu berisi “Ruang Jingga” (Q Publisher, 2010) Buku ini memuat puisi-puisi Rini Intama (8 puisi,), Ki Gambuh R.Basedo (7 puisi), Riyadi (8 puisi), Lendy Soekarno (7 puisi), Restu Hariyanto (7 puisi), Nanang Rusmana (7 puisi), Iin Syah (7 puisi), Bening Hati (7 puisi), Anna Althafunnisa (8 puisi), Hozani Geresis (6 puisi), Afrizal (8 puisi), dan Banyu Segara Pantura (6 puisi). Buku antologi puisi 12 Penjair Jingga yang dikuratori oleh Rini Intama, Ki Gambuh R. Basedo, dan A. Badri AQ.T.

    “Ruang jingga”, seperti dinyatakan dalam “Sekapur Sirih” mendedahkan kehidupan dan suara-suaranya, suara hati, suara cinta, suara kepedulian, suara mimpi. Ruang jingga, tidak ubahnya merupakan ruang maya (facebook) yang kemudian menyediakan ruang baca dalam bentuk tercetak (buku). Dua belas penulis puisi di jejaring sosial facebook itu lalu memiliki “mimpi” berupa keinginan jiwa, semangat memadu dan bersatu membidani lahirnya buku “Ruang Jingga”: Antologi Puisi 12 Penyair Jingga. Makna apakah yang bisa diberikan kepada 12 Penyair Jingga? Kenapa warna jingga lalu dipilih?

    “Ruang Jingga” ini bisa jadi merujuk bilik hati yang menyediakan aneka suara bermakna, setidaknya “Rung Jingga” merujuk pada suasana tempat dan waktu saat senja, saat matahari mencium dan kemudian “angslup” ke dalam laut di batas cakrawala. Tulisan apresiatif ini berpijak pada ruang pembacaan selintas sebagai sebentuk silaturahmi batiniah yang sama sekali tidak disandarkan pada teori sastra, melainkan bersandar pada pencecapan rasa saat membaca. Demi keadilan, akan dinukilkan sebuah puisi yang mewakili masing-masing penyair. Namun, lantaran Facebook memiliki ruang terbatas (jika dibuat tulisan apresiatif yang relatif panjang jarang dibaca) maka kali ini pembacaan diarahkan pada sebiji puisi karya Rini Intama. Puisi lain karya penyair lainnya, jika sempat, akan diumumkan kemudian.

    Mengintimi Sebiji Puisi Rini Intama

    Rini Intama(lahir 21 Februari di Garut), sebagaimana manusia ujumnya memiliki cinta,kerinduan, kemarahan, dan kesetiaan. Bagaimana intensnya Rini Intama di dunia puisi (kata) dan apa yang menjadi obsesinya? Barangkali sebiji puisi yang bertajuk “Aku Dan Kataku” (hal. 4) berikut ini akan membuat kita mengenalnya:

    Aku Dan Kataku

    Aku dan kata mencintaimu,
    menyelinap diantara syair syair mengalir bersama butir
    butir pasir laut, bukankah sama seperti ketika mencoba
    menumpahkan warna diatas kanvas seraya menunggumu,
    lantas langit dan awan bergerak pelan….

    Aku dan kata kerinduanku,
    menyelinap diantara derasnya makna aksara dalam
    untaian kalimat yang menumpah, sama seperti ketika
    gundukan tanah menggunung dan memuntahkan lahar…
    deburannya mengalir begitu saja menerabas segala

    Aku dan kata kemarahanku,
    adalah ketika terbengkalainya air disela jemari mengering,
    menggenggam dan cinta itu sendiri yang memberangus
    ego dalam kalut, takut dan pengecut. Ada sisa waktu
    yang berlari dalam rimbun hutan Halimun yang
    berembun lalu sepi….

    Aku dan kata kesetiaanku.
    adalah merasakan butiran embun sisa malam yang datang
    pada dedaunan diantara kabut dingin yang menyatu lalu menunggu
    esok terus datang,meski aku tertunduk lesu

    10 Maret 2010

    Ada tiga ragaam puisi jika dikaji berdasarkan cara pengungkapannya, yakni puisi diaphan, puisi prismatis, dan puisi hermetis. Puisi diaphan terdedah dengan bahasa yang gamblang, terang, jernih, sedikit menggunakan ungkapan perbandingan yang mudah dipahami lantaran model perbandingannya menggunakan perbandingan yang umumnya dipakai dalam pragsis komunikasi. Berbeda dengan puisi yang bercorak diaphan, puisi prismatis serupa “prisma” yang bisa memancarkan aneka cahaya yang menumbuhkan makna. Terakhir, puisi yang bercorak hermetis dapat diibaratkan sebagai kaca gelap, sehingga makna dan pemaknaannya juga terasa gelap. Puisi bertajuk “Aku dan Kataku” (AdK) tergolong puisi yang bening dan jernih yang bisa dikategorikan sebagai puisi diaphan.

    Dalam puisi “AdK” yang digubah oleh Rini Intama 10 Maret 2010 terdedah dengan gamblang bagaimana cinta, kerinduan, kemarahan, dan kesetiaan Rini Intama di dalam dunia penciptaan puisi dan di dalam kehidupannya sehari-hari. Rini Intama “mencintai” dunia syair (yang) mengalir bersama butir pasir laut, seperti halnya pelukis menumpahkan waena di atas kanvas (bait 1). Dalam bait ini kita temukan diksi “langit” dan “awan yang bergerak pelan. Diksi “langit” merujuk yang berada di atas dan tinggi (Sang Maha Pencipta) dan diksi “awan” memberikan gambaran aneka masalah yang dihadapi manusia dalam kehidupan.

    Rini Intama juga memiliki kerinduan di dunia sastra seperti ungkapan ini: “kerinduanku, menyelinap diantara derasnya makna aksara dalam untaian kalimat yang menumpah seperti gunung menumpahkan magmanya (bait 2). Kerinduan yang begitu dahsyat sehingga “deburannya mengalir begitu saja menerabas segala”. Rini Intama marah dan geram “ketika terbengkalainya air disela jemari mengering…memberangus ego dalam kalut, takut dan pengecut”.

    Sebagai penyair yang memiliki lehalusan rasa, Rini Intama memiliki kesetiaan yang serupa “butiran embun sisa malam yang datang pada dedaunan diantara kabut dingin yang menyatu ditanah yang membasah, didetak nadi hari lalu menunggu esok terus datang, meski aku tertunduk lesu”.

    Sebiji puisi karya Rini Intama ini, betapapun juga telah memberikan “ruang jingga” untuk dipahami, dinikmati, dan diintimi sehingga pendar dan pijar maknanya yang terdedah dengan bahasa sedikit konotatif yang terpapar dengan cara diaphan memberikan pencerahan. Kita, para pembaca, menjadi mengerti apa makna cinta, kerinduan,kemarahan, dan kesetiaan.

    Salam 123, sayang semuanya
    Bengkel Puisi Swadaya Mandiri
    Jambi, 4 Agustus 2010

    Dimas Arika Mihardja

  19. oke aku barusan buka dan liat, cukup menarik dan menggoda imajinasi, slamat

  20. Puisi yang mengungkapkan kegelisan estetiknya seorang Rini Intama. Jernih dan original. Kedalaman maknanya semakin membuat puisi ini mempesona.

    Berkat kemauannya menyelami puisi. Sukses slalu mbak Rini…:-)

  21. Puisi yang bening dan original. Menggambarkan kegelisan estetikanya seorang Rini Intama. Kedalaman maknanya juga membuat puisi ini semakin mempesona.
    Dengan segenap kemauannya menyelami puisi.

    Sukses slalu mbak Rini…:-)

  22. saat mulut enggan berucap biarkan jemari menari di atas kertas tumpahkan segala sesak. kau dan kata mu gambarkan jiwa yang penuh imaji.

  23. aku dan kataku…..biarlah waktu menguji semua milik kita..kalau memang kesetiaan adalah rasa yang harus ada..mengapa mesti menjadi beban..bukankah jiwa kita dibekali kesadaran bahwa kita saling memiliki..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s