Komunitas Pecinta Puisi

Adakalanya kita perlu menangis agar kita tahu hidup ini bukan sekedar tertawa. Adakalanya kita perlu tertawa agar kita tahu betapa mahalnya nilai airmata

Khilaf

7 Komentar

Akulah sipemuja yang memuja bicaralah tentang khilaf
seperti kerikil ditepi jalan yang terinjak kepongahan kota
ruangku tiba tiba saja pengap…

mata tak lekang menatap buas belukar liar
bergoyang tertiup angin
atau menatap kosong rembulan yang meredup kelabu

tapi bukan mata jalang yang nyalang
menangisi malam lalu menadahkan tangan
pada derasnya air mengaliri telapak yang dingin
lirih suara sukma, menjumput sepi yang berjalan lambat
dugaan ku tergilas diam diam……..

Maret 15, 2010

Penulis: Rini Intama

Rini Intama Wrote several books of literature, novels, poetry. Writing a book child learning modules. How to explore and develop the potential of children. Profil penulis & pengarang perempuan Indonesia Komunitas Pecinta puisi https://riniintama.wordpress.com

7 thoughts on “Khilaf

  1. Pro Pemilik Puisi Khilaf:

    Tak siapapun benar-benar siap
    menandai dingin yang merapuh. Sungguh jemarimu telah melahirkan kesan dalam jagaku. Hingga aku berpaling dari secangkir kopi, lantas menandai senyum getirmu dengan pengharapan.Semoga pagi ini, puisi menerbitkan fajar asa dihatimu, yang masih terasa ngilu……sayu…..

  2. Khilaf adalah fitrah
    dan kesaksianmu tentangnya
    tak seharusnya ada
    karena hidup adalah ruang yang luas
    dan ketika kau menadahkan tangan
    mungkin rembulan tak lagi menyembunyikan purnama

  3. meski malu-malu kubaca khilafku juga
    tentang rembulan dan kerinduan yang dalam ….
    puisimu menggelitik jiwaku….
    salam…..

  4. malu aku pada rembulan
    kulihat bayang hitamku
    namun segera kusadar
    akan putihku. salam manizzzzz kaya mbake.

  5. mangga mampir di rumahku mbak…..

  6. dan aku memujanya juga
    yang seharusnya tak kulakukan
    karena semua telah lalu
    dilindas waktu…
    salam mba🙂

  7. pijar cahaya matamu itu,
    telah meruntuhkan hujan embun di kelopak mataku.
    malam ini tak ada yang bisa kulapalkan dalam kesendirian yang mencekam.
    keculai menciumi aroma wajahmu.
    yang melekar dikamar mimpiku….salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s