Komunitas Pecinta Puisi

Adakalanya kita perlu menangis agar kita tahu hidup ini bukan sekedar tertawa. Adakalanya kita perlu tertawa agar kita tahu betapa mahalnya nilai airmata

Lembah Keramat

3 Komentar

Malaikat membuka amanat kiamat dalam kumandang ayat
disebuah lembah keramat tak beralamat
bangkai raga atau mayat mayat berserak
menjaga dendam kesumat mengakhiri hayat
menggumam siapa dilaknat dan terlaknat

Aroma anyir darah padat menyengat
luka luka menganga
teriakan menyayat
kalimat taubat mendengung kuat

Tapi mangkat adalah waktu singkat

duka menaburi duka
luka menangisi luka

luruhkan ego, bersikukuh angkuh
tinggalkan hingar bingar bumi tak bertanya harkat

tanah yang terangkat, membelah menelan
tanah yang hancur terpanggang bara

Matahari mengusung bakar memanggul gusar
langit mendekat mencakar terbangkan ruh ruh
yang enggan tinggalkan raga yang membusuk…..

Bumi bulat pepat tak lagi memilih poros meminang waktu
Bulan tak lagi memilih malam tuk singgah

* lembah keramat hanyalah bayang bayang tempat kita menunggu kedahsyatan kiamat….
lalu kita kita bungkam menunggu semua laku bicara lantang bersaksi ..

Maret 2010

Penulis: Rini Intama

Rini Intama Wrote several books of literature, novels, poetry. Writing a book child learning modules. How to explore and develop the potential of children. Profil penulis & pengarang perempuan Indonesia Komunitas Pecinta puisi https://riniintama.wordpress.com

3 thoughts on “Lembah Keramat

  1. to mba’ Rini : about “Lembah Keramat”, one word = marvelous ! Feel like entering the dimension of death.
    However, I love all your poems.

  2. *Just sharing :

    PUISI *ALEXANDER IBLIS BERHATI MALAIKAT

    *Outro Ritme Samar*

    Sayup guruh..
    luruh dalam selaksa peluh..
    memetakan belukar..
    akar..mawar..
    serupa embun..
    yang rimbun..
    di merah hati..
    seranum pipi..
    diri..
    mu ?
    risau melandai..
    seiring runtuhan senja..
    pilar gemawan betapa murung..
    hingga raung taufan mengiris gerimis..
    menyulam gaun temaram..
    dan melarung serpihan kelam..
    selembut kabut…dalam kencana malam..
    ungu lirih sembilu ditelan samar melanskap kedap..
    jelma cakrawala jiwa meraba nyala..
    limbung..
    dalam terjal ajal..
    tanpa bunyi..
    kadangkala
    purnama mati…

    ====================

    *Ketika Senja Mencumbu Bumi Borneo*

    Bumi Borneo..
    laksana taman firdaus yang hilang..
    di mana tiap jengkal tubuhnya adalah keindahan..
    dan separuh jiwa ini betapa melanglang dalam kehampaan..
    deru angin membasuh helai rambut
    dan menyesap ke paru..
    menyelimuti tubuh hingga kalbu..
    cahya mentari menyandarkan peluhnya di atas jembatan Barito nan megah..
    ia mulai terbenam…
    seraya senja yang makin memerah..
    tongkang-tongkang batubara merayap
    empat lima perahu nelayan merambat..
    menyusuri lengan sungai
    dan banjaran pohon bakau..
    bersama biru gelombang yang tenang..
    dimana teratai dan buih itu berdansa dengan pasang..
    bola mata ini tak mampu sejenak berpaling..
    ia tak henti berkedip memandang indah senyumanmu di lembah angkasa
    dan letihku layaknya fatamorgana yang dikecup aroma dingin malam..
    mungkin rindu bagaikan kuntum bunga yang menghiasi altar langit..
    dengan ribuan gemintang yang bertebaran di permadani awan..
    layaknya lilin-lilin para bidadari nirwana yang menyala dan tetap bercahaya..
    ah..
    entah mengapa begitu anggun tatapanmu..
    merasuk kencang..
    serupa elang..
    yang singgah di dadaku..
    dan derap detik pun terus bergulir..
    acuh pada sandaran tubuh di gigir jembatan megah ini..
    jiwaku mengalir bagai anak sungai..
    yang larut dalam cumbuan bibir lautan..
    hanya asap putih yang menari dan menyenggamai udara..
    yang setia pada mulut dan aksara yang membisu..
    dalam genangan keheningan…
    bersama lukisan kunang
    yang menyabit rembulan..
    dan mewarnai langit pikiran…
    ah..
    barito tak peduli…
    pualam dan debur pun tak mengerti..
    mendung pun layaknya patung..
    seperti bebatuan di tepian yang terus bungkam..
    ah..
    mengapa nafas syahdan demikian kelam..
    roda-roda besi terus berkejaran..
    di hadapan punggungku seperti siluet yang membayang dan tenggelam..
    dan pijakan ini tak lebih memaknai senyap malam..
    mungkin hanya dirimu yang mampu menerjemahkan detak jantung ini..
    yang begitu pilu bak gagu
    namun tak ingin layu
    sebab manis wajahmu
    snantiasa mengembun di kalbu
    dan mewangi abadi…
    di hamparan kebun hati..

    ====================

    *Melodi Klasik di Udzur Waktu*

    Kelebat binal kilat menyayat
    temaram..
    di gigir ujung kelam..
    mula-mula gerimis mengiris..
    begitu
    miris hingga mengikis..
    puing-puing cahaya…
    gelegar gaun taifun..
    menggelinjang
    layaknya naga yang membelah angkasa dengan galak nafas didihnya..
    membakar
    bunga-bunga di kepala..
    memuntir …deburan dada..
    dimana bulan
    betapa janda..
    jiwa memperkosa jiwa..
    hati menjamah hati..
    kunang-kunang
    melengang di antara alang-alang..
    garang benderang memecah karang..
    bak
    wangi tubuhmu yang beringas merampas lemas kemaluan..
    untaian indah
    rambutmu layaknya tarian kupu-kupu..
    yang bersetubuh di ufuk subuh..
    manakala
    seorang renta gigil nian..
    dengan perut kerontang di tepian..
    Lengos
    angkuh pijakan tak lebih sekadar ludah yang tolol..
    atau kah ia
    sampah ?
    tak ubahnya onggokan tulang pun kotoran hewan ?
    angin
    melecut raut keriput..
    bagai perompak yang dahaga rampok dan
    darah..
    ah..betapa jiwanya bagai layang-layang..
    terombang-ambing
    di dera muntahan awan..
    nafas demikian patah..
    sdikitpun tak
    mengharap sedekah..
    syahdan airmatanya bagai limbah..
    peduli setan
    mati kepayahan…
    toh…sanak-sanak digerogoti amnesia…
    semua
    menenggak racun fana..
    namun ingatan masih segar..
    seperti debu
    yang setia menggampar..
    baginya Tuhan tak pernah brengsek..
    sontak..
    degub
    jantung..
    terkulai..
    limbung..
    samar..
    kosong…
    gelap..
    pekat..
    malaikat
    tersenyum..
    mengusap ruh berbinar..
    sayap-sayap bersinar..
    dan..
    jasad
    pun membangkai….

    ====================

    *What if…*

    What if my hair’s grey..
    and I am too old..
    too weak..
    to make you smile ?
    What if at this moment I need your shoulder to cry on ?
    as the moonlight grab my breath..
    my shadow walked away with yours..
    I’ve found your pretty face in the middle of rain..
    between the wound & pain..
    the water wipe this tears..
    and I cold as a snow..
    but your arms so hollow..
    as I kissed the sorrow..
    it doesn’t make any sense..
    how come my heart’s bleeding in the silence..
    it’s hardly to believed..
    why my mind become a pieces…
    I saw your soul across the ocean…
    but my eyes so broken..
    and I never can hug you again..
    touch you..
    feel you..
    or hold you..
    as the time goes by..
    even you never say a goodbye
    an emptiness maps this feet…
    and today I learn to hate myself..
    to hate the Love..
    to hate this life…
    to hate GOD..
    but it’s useless..as I abuse myself..
    forgive me Lord..
    You know how I feel..
    & I know You behind the wall..
    behind the grass..
    behind the sky..
    behind the angel’s wing..
    and You’ll always there..everywhere..
    save me Lord…
    burn me inside your flame..
    a flame of love..
    this feeling is so fuckin’ hurt..
    but I smile through the dawn..
    alone by my own…

    ====================

    *AKU MENCINTAIMU*

    Aku mencintaimu..
    seperti embun subuh yang memeluk kuntum bunga yang hendak bersemi..
    dimana ia ingin tumbuh dan melihat mentari…
    Aku mencintaimu..
    bagaikan musafir yang dahaga akan zam-zam kehidupan..
    bukan fatamorgana semu melainkan hakikat semesta yang rindu akan cintaNYA..
    Aku mencintaimu..
    Layaknya udara yang menyegarkan rongga paru dan sel darahmu..
    dimana rindu bukanlah suatu dosa melainkan ia adalah jantung sebuah makna..
    Aku mencintaimu..
    seperti dedaunan yang gugur dari dahan pepohonan..
    di saat ia telah cukup bijak akan luasnya pintu kearifan dari hikmah jagat raya..
    Aku mencintaimu..
    laksana ajal yang menghamparkan permadaninya kepada akhir usia..
    dimana helai rambut telah memutih
    pun nafas telah terhenti..
    ..dan pasrah akan senyuman Izrail
    Aku mencintaimu..
    seperti butiran pasir yang mencumbu bibir pantai..
    dimana laut adalah ibu dan langit adalah ayah sang bumi..
    Aku mencintaimu..
    seperti aku mencintai jiwamu..
    seperti aku mencintai hatimu..
    seperti aku mencintai rindumu..
    seperti aku mencintai cintamu..
    dan..
    sungguh..
    aku sayang padamu…
    Maha Cinta ALLAH dengan segala CintaNYA…

    ====================

    *MAWAR dan AL FATIHAH*

    Langit menangis…

    gemintang terkikis..

    ketika gunung bergetar..

    dimana halilintar menggelegar..

    dan

    awan –awan terkapar..

    dalam hening..

    malaikat begitu bening..

    mencumbu Sang Jamal..

    dengan untaian mahakaryaNYA

    Wangi hati..

    merasuk…

    tiap sanubari..

    bila kau hayati kelopaknya..

    maka kau pun kan bermekaran bagai bunga..

    ..dan..

    tumbuh sayap kupu-mu..

    meninggalkan kepompong dosa..

    dan dahaga akan cahayaNYA..

    mata air hatimu bagai zam-zam..

    dan seketika nanar..indah tenggelam..

    dalam nafasNYA..

    kau dapati anggur dan manis madu Firdaus…

    namun titian tidaklah mudah..

    dan tak jarang..langit Mekah memerah..

    akan badai dan jiwa yang landai…

    rindu laksana nadi…

    bergulir memecah..

    gelombang pasang..

    samudera waktu..

    namun hati tak mungkin sangkal…

    betapa salju kan runtuh..

    mentari kan rubuh…

    akan dahsyatNYA…

    O..betapa harum itu mengalir…

    mengukir…

    keindahan yang memusnahkan kata…

    dan cinta adalah bahasa jiwa..

    dimana mawar itu mewangi sempurna bersama ayatNYA..

    ====================

    *Uap*

    Ketika bayang parasmu menikam langit hati..
    cahya bulan mencumbu sel-sel jiwa..
    serupa rotasi Mars di kepala..
    dan dalam rahim malam..
    surga bagai terbakar..
    kala neraka membeku gila..
    puing nafasmu bertebaran..
    sperti milyaran Terabytes file..
    yang mengendap di sela saraf otak..
    cumbuanmu layaknya mercusuar yang menyilau..
    menderap di selat…menjilati buih-buih lautan rindu..
    indah matamu seanggun renaisance…
    aku terpasung di pagoda airmata..
    betapa jiwamu menunggang halilintar..
    dengan muatan satu Geopbyte..
    yang meratakan bongkahan fraseku..
    gemercik gerimis menghajar amnesia..
    raut gemintang begitu pucat..
    pun malaikat enggan berdansa..
    karna dawai harpa sontak patah..
    mengapa dinding hatimu begitu putih ?
    sedang samudera hatiku mengabu ?
    ingin kumengembrio di palung ruhmu..
    bersampan menuju gelombang badai kalbumu..
    tenggelam dalam dirimu..
    O..betapa darahku terdistorsi dosa..
    dan aku takkan pernah ingkar akan Arsy-NYA..
    aku telanjang tanpa jubah………

    ====================

    *API YANG SEKARAT DAN MEREGANG NYAWA*

    Tiap lekuk tubuhmu adalah sajak…
    Seperti puisiku yang menyetubuhi hati dan jiwa yang mengerti…
    dan Cinta memang tak mengenal gravitasi..
    semacam distorsi yang meradang bagai kabut tsunami..
    wajahmu sebentuk memori..yang manis bagai racun yang berdarah dingin..
    dan ketika mendung mulai menari…seraya ia meludahi layang dan rerumputan..
    aku terpaku dalam kesunyian…dan betapa hujan setia menemaniku…
    ia menjamah tubuh..hati..dan jiwa..yang berserakan..
    berantakan bagai..pasir ditelan ombak pasang..
    mungkin darah semacam madu…
    dan kan kuteguk tiap tetesnya yang keluar dari nadiku yang teriris manis…
    rindu ini layaknya belati..yang mencabik pori-pori hati..merobek anal langit..dan menggoreskan luka jiwa..
    seperti hantu tanpa kepala…mayat jiwaku berkeranda…tanpa kafan..dan hanya telanjang…
    pada ufuk senja…engkau taburkan..bunga di dada…
    dimana duri mawar itu..kau mahkotakan di kepala rohku…
    dan kau salibkan aku atas nama kepalsuan…
    dan cinta adalah kekosongan bagai asap yang berdansa dengan lidah api..
    dan bersenggama dengan kawanan angin…
    kecuplah bibir ini dengan menawan bibirmu kasih…
    bukankah cumbuanmu semacam sengatan listrik dengan jutaan voltase..
    maka biarkanlah aku terbakar bersama tangisan pelangi dan rintihan hujan..
    mungkin kaku dan membiru dalam aliran listrik betapa indah..
    seindah cintamu yang laksana pedang tajam…
    yang membelah dan merobek dinding hati ini…
    aku memintamu memenggal kepalaku…agar tak lagi kulihat kecantikanmu yang bagai empedu..
    sungguh betapa jiwa ini luruh dalam kehampaan..
    ia mengelana di bulan dan menyelam di telaga kesunyian…
    tenggelam dalam dimensi tak bertuan..
    cinta memang sebentuk tragedi..
    seperti remah roti yang disuapkan Yesus kepada muridnya..
    dan anggur itu adalah bisa…
    yang membius layaknya rindu yang menggantung rohku..
    ketika gemintang mencumbu langit malam…
    aku terpaku bagai pualam..di danau yang dalam..
    basah…mata ini…namun…gersang…ladang hati ini…
    izinkan kubangun altar kehidupan..
    dengan hiasan kamboja dan dupa mawar hitam..
    dan malam ini adalah perjamuan..
    dimana aku merayakan kematianku bersama para hantu dan malaikat malam
    dimana jasadku mereka sirami dengan bisa ganas dan racun ular…
    dan jiwaku mereka rajam dengan cambuk dan batuan lahar..
    betapa mereka menghisap darah ini hingga habis…
    dan aku lemas..dalam senyuman..dan genangan air mata..
    lirih adalah bahasa kebisuan…yang sempurna bagai surga yang tak mendidih sperti halnya neraka…
    aku terkapar di bawah purnama dan dera gerimis…
    jiwamu memang secantik air..
    yang mengalir…dari oase gurun pasir…
    dan jiwaku adalah api yang meregang nyawa…berdansa dalam kepedihan…
    mungkin subuh adalah saksi..
    dimana api bunuh diri dan tenggelam dalam air…
    dan kematianku melahirkan uap keindahan…
    yang mendekap mentari………..

    ====================

    *ENGKAU MELUDAHIKU*

    Engkau meludahiku dalam reffrain malam..
    sembari menyuguhkan kapak berlumur darah dan noda kelam..
    kepak gagak menangisi purnama bersama bayang mayat mengqishas gulita retina..

    Engkau meludahiku dalam sedu sedan..
    meletuskan lava pijar di rongga dada..
    ketika kupu-kupu itu teduh dalam rindang prahara..
    betapa petaka merubuhkan menara siang..
    sekejap kelebat sayap senja begitu patah layaknya udzur mercusuar nan ringkih tak berpelita..

    Engkau meludahiku dalam hamparan kebekuan raflesia..
    sontak gemawan gusar dan kabut pun begitu liar..
    betapa hati bagai pecahan gletser..leleh dalam nista samudera..

    Mungkin aku pembunuh berdarah dingin..
    yang pernah menjagal rembulan..
    seraya ia menyabit jiwa yang penuh luka..
    namun amuk airmata mustahil membendung taifun dosa..
    nafas mendidih dalam kuali semesta..
    tetesan peluh gugur sperti puing fajar..
    yang gelepar layaknya serakan mawar-mawar..

    Bibirmu gigil memilu..sepincang runtuhan petang..
    igau raung harimau memadamkan kerlip gemintang..
    gundah gaduh mengaduh tumbuh patah payah merambah lemah seperti darah..yang tumpah ruah..membalut rahim malam..
    mungkin cumbuanmu seharum ganja..
    dan telaga hatimu sebening vodka..
    seperti butiran kristal sabu..engkau begitu gagu..ditindih buram cahaya..
    Kau dan aku adalah atom tak bernama..
    saling memagut mega-mega..
    sungguh asam sianida membanjiri kanal jiwa..
    membuih dalam bulir perih..
    menafikan dimensi peri-peri..
    tanpa rupa..dalam aroma dupa..
    menjala sorot senja..
    seperti mata..
    tanpa ruang..tanpa alang-alang..
    engkau memburdah sperti stupa..
    yang beryoga..
    gemercik gerimis mengamnesiakan waktu..
    aku disenggamai rindu..

    meski ALIFBATA-ku tak mungkin mencium pipi-MU..
    namun hati yang kudus tunduk sujud di kaki-MU..
    bermetamorfosa sperti oase nan sejuk tuk para musafir..
    seteduh Gereja kaum Nasrani..sekokoh Kuil Yahudi..
    sehening Vihara..seindah Pagoda..
    dan sedamai Surau di semesta..pun lainnya..
    Oh hati..
    sungguh lapang bagaikan sayap-sayap malaikat yang terbentang..
    luas..
    nan setia menaungi para jiwa pencinta yang bermunajat kepadaNYA..
    Maha Cinta ALLAH dengan segala CintaNYA

    ====================

    *All poems by : Alexander Iblis Berhati Malaikat

  3. Seperti juga kematian
    Kiamat adalah sebuah kepastian yang akan datang
    maka bersujudlah bagi ridhoNYA.

    Sebuah cermin yang mencerahkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s