Komunitas Pecinta Puisi

Adakalanya kita perlu menangis agar kita tahu hidup ini bukan sekedar tertawa. Adakalanya kita perlu tertawa agar kita tahu betapa mahalnya nilai airmata

Ruang Jingga

4 Komentar

ku bawakan kau selusin bunga
ku lukiskan kau selusin jingga
ku dendangkan kau selusin kidung asa
ku tuliskan kau selusin larik pujangga…..di Ruang ini

Penulis: Rini Intama

Rini Intama Wrote several books of literature, novels, poetry. Writing a book child learning modules. How to explore and develop the potential of children. Profil penulis & pengarang perempuan Indonesia Komunitas Pecinta puisi https://riniintama.wordpress.com

4 thoughts on “Ruang Jingga

  1. aku datang
    tanpa seikat kembang di tangan
    tanpa suara dan niatan apa-apa
    hanya datang,
    begitu saja

  2. RUANG JINGGA

    Ini adalah ruang jingga
    Pendulum warna kala senja menyapa
    Terik beranjak sayup mengintip damai tercipta
    Kelepak malam kelelawar muda sambut gulita
    Rembulan merah mengunggun di samping jendela
    Ah…
    Alam raya mendadak penuh pesona

    Ini adalah ruang jingga
    Tempat para pertapa memungut kebijakan yang biasa dilupa
    Kadang berbisik, tersenyum, lalu tertawa
    Kadang menyimpannya di lumbung malam
    Hingga lelap selimut hangat mampu terjaga
    Dan dalam ruang jinga tersimpan sajian nan penuh pesona

    Dan ketika ku bertahta di atas singgasana kata
    Bermahkota cinta berpayung cakrawala
    Bernaung dalam redup senja berpijak assa
    Pesona gulita menyeret sejumlah nyawa
    Hingga kesadaran terbenam di ufuk cahaya

    Inilah ruang jingga
    Berdesir semilir air menyapu hawa
    Mengemban harum sejuk menggoda
    Mengembang sayapku jua diterpa bunga
    Dikelilingi kupu-kupu yang sayapnya terukir rindu

    Ini adalah ruang jingga
    Tempat dimana aku bercengkrama dengan para pujangga
    Mengukir bait-bait hingga fatwa
    Menoreh huruf-huruf terselip nyawa
    Dan kami melingkari untaian bunga dalam torehan kata
    Berkerumun…
    Mengabarkan segala rasa yang terbersit di dada

  3. CAKRAWALA RUANG JINGGA

    awalnya mega-mega perkasa

    melipat langit

    rebah membumi

    malam sesak gelayut dunia maya

    gurindam di duabelas sudut kelam

    bangkit dari kubur-kubur wacana

    subuh itu

    dirimu masih sebuah ilusi sepi

    putik-putik memar meranting deru

    kuncup-kuncup malu menyungging perdu-perdu

    embun belum berlalu

    beningmu masih terbangun dari mimpi

    hendak menerangi jagat

    cahayamu membara di puncak-puncak bukit

    memerah asa semburat

    menerbangkan sorot matahari merakit

    cakrawala ruang jingga

    di kedaimu aku meminang matahati

    melabuhkan mega-mega sunyi

  4. Apakah ruang jingga itu serupa itu? Oh aku baru tahu rini intama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s