Komunitas Pecinta Puisi

Adakalanya kita perlu menangis agar kita tahu hidup ini bukan sekedar tertawa. Adakalanya kita perlu tertawa agar kita tahu betapa mahalnya nilai airmata

Besar kecil huruf Mei

5 Komentar

Ada apa dengan besarkecil huruf Mei ?

//
menjuntai panjang berjenjang
semburat wajah dan mata bulat menelan bulan remang telanjang

aku sedang tak ingin memaksa mengetuk pintu tak berjendela
menanti angin senyap masuk dalam ruang bisuku sendiri

sedang secawan anggur merah menumpah diatas selembar kain
yang menerbang indah tertiup angin

gulana gundah terbungkus manis dibalik pelepah kering
yang kusimpan dalam etalase kacaku

lalu membaca makna besarbesar huruf Mei
dan kebahagiaan dibawah megah meja besarmu

aku sedang tak ingin membaca kecilkecil huruf Mei
dan kegamangan disudut ruang kosong

aku sedang tak ingin memahami dengar gema detak jantung
aksara yang kecil tak terlihat terinjak makna tak bertuan

pecah tangis dan merembes air mata tak terlihat
dibalik dinding suara tawa merenyah rasanya ingin kukunyah

riuh rasa mericuh

:: 16 Juni 2010

Penulis: Rini Intama

Rini Intama Wrote several books of literature, novels, poetry. Writing a book child learning modules. How to explore and develop the potential of children. Profil penulis & pengarang perempuan Indonesia Komunitas Pecinta puisi https://riniintama.wordpress.com

5 thoughts on “Besar kecil huruf Mei

  1. aku tak sedang ingin memaknai tiap bahasa yang belum terucap
    aku tak sedang ingin membaca tiap kata yang belum tertulis
    aku tak sedang ingin menikmati pelangi yang belum terlukis
    karena aku tak sedang ingin menanti hujan di awal kemarau ini…

  2. @Athan, trm kasih yaaa atas puisinya !

    ya ada banyak tersimpan ketika aku berbicara sedang tidak ingin ! maka aku ada diantara kabut yang memutih.

    salam

  3. apakah sebaris kata dapat menguraikan rinduku yg membuncah serupa kaca yg berserakan pecah?bila kukatakan, aku selalu berharap kau tak selalu mempercayainya.balaslah setiap sapaan dengan makian, sebagai tanda cintaku padamu.

  4. oh … sampai kapankah pelepah kering tersimpan di etalase kaca itu..? Semoga datang jua nikmat rasa mengunyah riuh…
    ~Mbak Rini : wah puisinya senantiasa kontemplatif… Salam Kreatif Mbak..

  5. Jangan, jika memang kau tak ingin
    agar tak ada senyap yang mengusik
    agar tak ada kegamangan
    agar tak ada aksara yang tersembunyi
    jadi biarkan saja huruf mei mencari maknanya sendiri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s