Komunitas Pecinta Puisi

Adakalanya kita perlu menangis agar kita tahu hidup ini bukan sekedar tertawa. Adakalanya kita perlu tertawa agar kita tahu betapa mahalnya nilai airmata

Kisah Langit

7 Komentar

Pagi ketika menunggumu adalah kisah langit
Tentang renjana yang menari-nari didadaku
gores menggores diladang kerontang
sedang hujan seperti serakan mimpi

Telah kuhampar ruang dari sekelumit bait disepanjang musim
lalu desir waktu membuka percakapan hati

:: Juni 2010

Penulis: Rini Intama

Rini Intama Wrote several books of literature, novels, poetry. Writing a book child learning modules. How to explore and develop the potential of children. Profil penulis & pengarang perempuan Indonesia Komunitas Pecinta puisi https://riniintama.wordpress.com

7 thoughts on “Kisah Langit

  1. Sejak kilatan itu lebam,langit tersuruk dan tertidur pulas.
    Masih adakah spasi-spasi yang akan kau mainkan menjadi puisi?
    Kita makin dekat pada sebuah geram yang dalam
    Mungkin kita hanya coba sembunyi dari tembakan janji-janji?
    Tapi begitulah kita!

  2. Pagi saat menungguku adalah kisah langit
    Itu katamu…
    karena pagi bagiku adalah senyuman
    nice poem!.

  3. desir pagi
    mengoyak dada
    luluh lantak
    tumpah

    coba desir suara hati
    ringankan dada

    tumpah lagi
    tak terbendung

  4. @Adisulistyo, ya masih ada beberapa spasi yang akan aku mainkan dalam larik dan bait bait puisiku disepanjang musim, sehingga kita makin dekat pada sebuah geram yang dalam….. wah ma kasih ya mas tulisan bagus banget

    @Me, setiap pagi mu adalah senyuman dan itu awal hari yang memberi semangat, layaknya mentari datang memberi hangat, terima kasih tulisannya

    @Nanang, semoga bukan desir pagi yang mengoyak dada…
    tapi serpihan rindu yang membuncah dan menari nari didadaku dan ringankan langkah
    hatur nuhun Nang atas puisinya…!

  5. pagi ketika menunggumu adalah kisah langit
    tentang cahaya yg mcintai hari
    tentang hangat yg merindu bayu

  6. Semburat langit ujungmu beradu siang
    Masihkah lidah ini kelu walau sekedar berkirim salam
    Pada subuh yang tertinggalkan

  7. lewat sunyi fajar
    kutuliskan pesan:
    “aku ternyata tumbang diterjang cinta ”
    tetap seperti kemarin,
    anginpun selalu dingin
    dan mangkir untuk mampir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s