Komunitas Pecinta Puisi

Adakalanya kita perlu menangis agar kita tahu hidup ini bukan sekedar tertawa. Adakalanya kita perlu tertawa agar kita tahu betapa mahalnya nilai airmata

Lupa

8 Komentar

Terjerembab pada jembaran waktu
lupa didetak yang berlari
lupa tergilas keras kaki kota tak berhati
lupa kisikisi ruang tak terisi
lupa realisasikan diksi

Hilang rupa wajah pasi
lupa meski secangkir teh hangat menanti

:: 24 Juli 2010

Penulis: Rini Intama

Rini Intama Wrote several books of literature, novels, poetry. Writing a book child learning modules. How to explore and develop the potential of children. Profil penulis & pengarang perempuan Indonesia Komunitas Pecinta puisi https://riniintama.wordpress.com

8 thoughts on “Lupa

  1. Salam kenal ! numpang Mejeng !🙂
    nICE Puisi !

  2. sepanjang bukan lupa diri terjerambab pun tetap indah dalam diksi. salam kreatif…!

  3. Terjerembab pada jembaran waktu
    lupa didetak yang berlari
    Tersesat d btas yakin dan ragu
    lupa di pintu mana kan kembali

  4. sederhana, kurasa menggabarkan penuh kelelahan…..
    sedang ada apa gerangan

  5. Kata2 Puisi kamu bagus saya suka, Lanjutkan Bro… Lam Kenal aja yach.

  6. lupa… mau kasih komen apa… hehhe

  7. Entah harus bicara apa. Lupa. Seperti ada penghapus dikepalaku. Hehehe.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s