Komunitas Pecinta Puisi

Adakalanya kita perlu menangis agar kita tahu hidup ini bukan sekedar tertawa. Adakalanya kita perlu tertawa agar kita tahu betapa mahalnya nilai airmata


8 Komentar

Buku Perempuan Langit

langit5

langit9

langit10

perempuan langit

kami menulis bersama,  para perempuan langit yang berkarya dengan indah,  sekumpulan puisi yang telah diterbitkan dalam sebuah buku 19 Penulis Perempuan Indonesia pemesanan bisa melalui sms atau inbox Fb saya.  terima kasih

 

perempuan


1 Komentar

ESAI KRITIK PUISI – Firda Rizky Kadidya

ESAI KRITIK PUISI Firda Rizky Kadidya http://esaisastrakita.blogspot.com/2013/05/esai-kritik-puisi-firda-rizky-kadidya.html

RINI INTAMA DALAM PUISI RELIGI-LIMA NOVEMBER

Oleh: Firda Rizky Kadidya

Puisi bisa juga menjadi salah satu cara seseorang penyair untuk mengabadikan seluruh perasaannya agar senantiasa abadi. Perasaan ini bisa berupa perasaan bahagia maupun sedih. Hal semacam ini menunjukkan bahwa puisi sangat dekat dengan kehidupan kita. Puisi bisa menghadirkan segala pujian maupun gugatan.

Rini Intama hadir dengan puisi yang bertema religi. Puisi yang melukiskan bahwa kematian itu sangat rahasia dan tak ada seorang pun yang bisa mengetahui hari kematiaannya.

Puisi kematian yang diusung kali ini adalah puisi kematian yang tak terkesan menggurui. Puisi kematian yang hanya mencoba menggetarkan jiwa dalam memaknainya.

LIMA NOVEMBER

Lupa pada warna senja yang sebentar lagi turun

Suara ibu memanggilku hingga suara serak berdahak

Lamat menghilang dalam pekat awan yang berserak

Secangkir air mata panas tumpah menyiram hatiku

Malam, kutanya di mana ibu?

Ayah berbisik, sudah di surga sore tadi nak.

November 2010

(diambil dari buku Gemulai Tarian Naz karya Rini Intama halaman 62)

Ketika membaca judul puisi di atas awalnya saya hanya menerka-nerka apa keistimewaan November di mata seorang Rini Intama sehingga harus diabadikan dalam puisi.

Perlahan saya mencoba mengamati kata demi kata yang disusun dan dijadikan puisi dengan dua bait yang utuh, dua bait yang mampu menjawab bahwa segala sesuatu akan menjadi fana tanpa pernah menduganya.

Rini Intama membuka baitnya dengan sebuah sapaan yang membuat kita tersadar dari lena hidup yang kita jalani. ‘Lupa pada warna senja yang sebentar lagi turun’, berarti lupa pada waktukalau suatu saat kita pasti akan kembali.

Bait pertama secara utuh hanya menggambarkan suasana jiwa yang mendebarkan dalam menghadapi kematian, saat-saat yang penuh dengan kegetiran. Saat-saat yang membuat ruh merenung kembali tentang keberadaan yang dijalani. Semua itu disampaikan secara jujur dan tidak klise dengan menambahkan sedikit metafora.

Bait kedua lebih memfokuskan pembahasannya pada kebimbangan seorang penyair dalam mencari tentang kabar keberadaan ibunya, orang yang sangat dicintai dan sangat dirindui. Pertanyaan seperti ini wajar terjadi dan sering kita saksikan dalam hidup ini, utamanya saat kita sangat merindukan sosok ibu yang sering kita lihat, tiba-tiba hilang tanpa sebab.

Kegelisahan penyair dalam mencari sosok ibunya, yang tak kunjung mendapatkan jawaban terlihat dalam baris

Lamat menghilang dalam pekat awan yang berserak. Malam yang menjadi tempat kesunyiaan untuk menanyakan keberadaan sosok orang yang dicintai, akhirnya mulai sedikit terasa lega dengan adanya jawaban dari sosok yang bernama ayah. Ayah yang sangat memahami psikologi keadaan anak yang kehilangan ibunya sebisa mungkin akan mencari bahasa yang lebih menghibur buah hatinya,

Ayah berbisik, sudah di surga nak sore tadi. Begitu indah penyair menutup baitnya.

Dari segala uraian yang telah saya paparkan, paling tidak Rini Intama dalam puisinya berjudul “Lima November” telah berhasil menyampaikan tentang risalah kematian. Rini berbicara kematian namun tak terkesan menggurui. Kematangan penyair dalam menyampaikan imajinasi telah teruji dengan baik.

http://esaisastrakita.blogspot.com/2013/05/esai-kritik-puisi-firda-rizky-kadidya.html

ilktrans7

Puisi ini juga di bacakan di acara TV, program  ILK – trans7 pada tanggal 24 Juni 2014


4 Komentar

Buku-buku Keren

 

  1. Gemulai Tarian Naz,  Jejak sajak Rini Intama
  2. Kado sang terdakwa,  antologi puisi Tangerang serumpun
  3. Merapi Gugat, Sastra etnik 13 Penyair
  4. Ruang jingga,  antologi puisi 12 Penyair
  5. Fiksimini, antologi puisi pendek – Kosakatakita,
  6. Phantasy Poetica Imazonation, antologi puisi cerpen, Penulis muda Indonesia,
  7. Gadis dalam cermin, kumpulan cerpen Tangerang Serumpun
  8. Spring Fiesta – Pesta Musim Semi,  kumpulan puisi dua bahasa
  9. Sekuntum Jejak Antologi Puisi Dewan Kesenian Kabupaten Tangerang

10. 105 Penyair dalam kebangkitan Sastra Pekalongan

11. Beranda rumah cinta, antologi puisi 52 penulis

12. Analekta Beruq-beruq (Perempuan Mandar menjawab) Menulis artikel “Pendidikan anak dalam perspektif perempuan Mandar”

13. Profil Perempuan pengarang dan penulis Indonesia(Kosakatakita)

14. Tifa Nusantara Antologi puisi dan cerita rakyat dalam acara ‘Temu karya Sastrawan Nusantara’

 

rini4


Tinggalkan komentar

Membaca sastra membaca Bangsa

Dalam rangka ulang tahun Perpustakaan Nasional ke 33 tahun.

kami mengundang sdr/sdri untuk hadir (terbuka untuk umum dan gratis)

Ruang Teater , Perpusatakaan Nasional 15 Mei 2013

Jl. Salemba raya Jakarta Pusat

jam 09.00 – 13.00 WIB

sastra

OLYMPUS DIGITAL CAMERA


4 Komentar

Struktur Batin Puisi

Struktur Batin Puisi

  • Tema/makna (sense); media puisi adalah bahasa. Tataran bahasa adalah hubungan tanda dengan makna, maka puisi harus bermakna, baik makna tiap kata, baris, bait, maupun makna keseluruhan.
  • Rasa (feeling), yaitu sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat dalam puisinya. Pengungkapan tema dan rasa erat kaitannya dengan latar belakang sosial dan psikologi penyair, misalnya latar belakang pendidikan, agama, jenis kelamin, kelas sosial, kedudukan dalam masyarakat, usia, pengalaman sosiologis dan psikologis, dan pengetahuan. Kedalaman pengungkapan tema dan ketepatan dalam menyikapi suatu masalah tidak bergantung pada kemampuan penyairmemilih kata-kata, rima, gaya bahasa, dan bentuk puisi saja, tetapi lebih banyak bergantung pada wawasan, pengetahuan, pengalaman, dan kepribadian yang terbentuk oleh latar belakang sosiologis dan psikologisnya.
  • Nada (tone), yaitu sikap penyair terhadap pembacanya. Nada juga berhubungan dengan tema dan rasa. Penyair dapat menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, bekerja sama dengan pembaca untuk memecahkan masalah, menyerahkan masalah begitu saja kepada pembaca, dengan nada sombong, menganggap bodoh dan rendah pembaca, dll.
  • Amanat/tujuan/maksud (itention); yaitu pesan yang ingin disampaikan penyair kepada pembaca

Arti Pengertian Perulangan Kata

 

Kata ulang sangat banyak digunakan dalam percakapan kita sehari-hari dalam bahasa Indonesia. Lihat saja kata sehari-hari pada kalimat di atas adalah termasuk kata ulang. Di bawah ini merupakan arti dari kata ulang yang ada di Indonesia, yaitu antara lain :

 

1. Kata ulang yang menyatakan banyak tidak menentu

Contoh :- Di tempat kakek banyak pepohonan yang rimbun dan lebat sekali.- Pulau-pulau yang ada di dekat perbatasan dengan negara lain perlu diperhatikan oleh pemerintah.

 

2. Kata ulang yang menyatakan sangat

Contoh :- Jambu merah pak raden besar-besar dan memiliki kenikmatan yang tinggi.- Anak kelas 3 ipa 1 orangnya malas-malas dan sangat tidak koperatif.

 

3. Kata ulang yang menyatakan paling

Contoh :- Setinggi-tingginya Joni naik pohon, pasti dia akan turun juga.- Mastur dan Bornok mencari kecu sebanyak-banyaknya untuk makanan ikan cupang kesayangannya.

 

4. Kata ulang yang menyatakan mirip / menyerupai / tiruan

Contoh :- Adik membuat kapal-kapalan dari kertas yang dibuang Pak Jamil tadi pagi.- Si Ucup main rumah-rumahan sama si Wati seharian di halaman rumah.

 

5. Kata ulang yang menyatakan saling atau berbalasan

Contoh :- Ketika mereka berpacaran selalu saja cubit-cubitan sambil tertawa.- Saat lebaran biasanya keluarga di rt.4 kunjung-kunjungan satu sama lain.

 

6. Kata ulang yang menyatakan bertambah atau makin

Contoh :- Biarkan dia main hujan! lama-lama dia akan kedinginan juga.- Ayah meluap-luap emosinya ketika tahu dirinya masuk perangkap penipu kartu kredit.

 

7. Kata ulang yang menyatakan waktu atau masa

Contoh :- Orang katro dan ndeso itu datang ke rumahku malam-malam.- Datang-datang dia langsung tidur di kamar karena kecapekan.

 

8. Kata ulang yang menyatakan berusaha atau penyebab

Contoh :- Setelah kejadian itu dia menguat-nguatkan diri mencoba untuk tabah.

 

9. Kata ulang yang menyatakan terus-menerus

Contoh :- Anjing buduk dan rabies itu suka mengejar-ngejar anak kecil yang lewat di dekat kandangnya yang bau.- Mirnawati selalu bertanya-tanya pada dirinya apakah kesalahannya pada Bram dapat termaafkan.

 

10. Kata ulang yang menyatakan agak (melemahkan arti)

Contoh :- Karena berjalan sangat jauh kaki si Adul sakit-sakit semua.- Jangan tergesa-gesa begitu dong! Nanti jatuh.

 

11. Kata ulang yang menyatakan beberapa

Contoh :- Sudah bertahun-tahun nenek tua itu tidak bertemu dengan anak perempuannya yang pergi ke Hong Kong.- Mas parto berminggu-minggu tidak apel ke rumahku. Ada apa ya?

 

12. Kata ulang yang menyatakan sifat atau agak

Contoh :- Lagak si bencong itu kebarat-baratan kayak dakocan.- Wajahnya terlihat kemerah-merahan ketika pujaan hatinya menyapa dirinya.

 

13. Kata ulang yang menyatakan himpunan pada kata bilangan

Contoh :- Coba kamu masukkan gundu bopak itu seratus-seratus ke dalam tiap plastik!- Jangan beli beyblade banyak-banyak nak! Nanti uang sakumu habis.

 

14. Kata ulang yang menyatakan bersengang-senang atau santai

Contoh :- Dari tadi padi si Bambang kerjanya cuma tidur-tiduran di sofa.- Ular naga panjangnya bukan kepalang berjalan-jalan selalu riang kemari.

 

sumber : http://organisasi.org

 


1 Komentar

Tanah asal

menghitung detik  yang menimbun luka tanpa kata

tak perlu lagi ada tanya tentang berapa, apa dan bagaimana

hingga waktu bertanya dalam bahasanya,  sampai di manakah perahu akan berlayar ?

memecah rindurindu menuju jalan kembali pada tanah asal

 

 Puisi Perempuan itu menulis puisinya

Maret 2011