Komunitas Pecinta Puisi

Adakalanya kita perlu menangis agar kita tahu hidup ini bukan sekedar tertawa. Adakalanya kita perlu tertawa agar kita tahu betapa mahalnya nilai airmata


Tinggalkan komentar

Rini Intama dan Puisi (2)

Rini Intama, pendidik, penulis lahir tanggal 21 Februari di Garut, Jawa Barat, aktifitas mengajar dan menulis.  Menulis puisi, cerpen dan novel.  Anggota Komite Sastra “Dewan Kesenian Kabupaten Tangerang”,  Aktif di Komunitas Saung Sastra Tangerang dan beberapa komunitas Sastra di Tangerang. Buku karya tunggal KIDUNG CISADANE, Sejarah dan Budaya Tangerang dalam Puisi (Kosakatakita), 2016. Meraih Anugerah 5 buku puisi terbaik Hari Puisi Indonesia 2016.   PANGGIL AKU LAYUNG.  Sebuah Novel (Kosakatakita), 2015, A YIN,   kumpulan cerpen (Kinomedia), 2014. Kisah ini dpentaskan di Drama Teater Universitas Muhamadyah Tangerang,  TANAH ILALANG DI KAKI LANGIT,  Kumpulan puisi (Penerbit Senja), 2014, GEMULAI TARIAN NAZ,  Jejak sajak Rini Intama (Q Publisher), 2011. Dan puluhan buku antologi bersama.

 

 

 

Iklan

KIDUNG CISADANE – Sejarah dan Budaya Tangerang Dalam Puisi

Tinggalkan komentar

Rini Intama, pendidik, penulis lahir tanggal 21 Februari di Garut, Jawa Barat, aktifitas mengajar dan menulis.  Menulis puisi, cerpen dan novel.  Anggota Komite Sastra “Dewan Kesenian Kabupaten Tangerang”,  Aktif di Komunitas Saung Sastra Tangerang dan beberapa komunitas Sastra di Tangerang. Buku karya tunggal KIDUNG CISADANE, Sejarah dan Budaya Tangerang dalam Puisi (Kosakatakita), 2016. Meraih Anugerah 5 buku puisi terbaik Hari Puisi Indonesia 2016.   PANGGIL AKU LAYUNG.  Sebuah Novel (Kosakatakita), 2015, A YIN,   kumpulan cerpen (Kinomedia), 2014. Kisah ini dpentaskan di Drama Teater Universitas Muhamadyah Tangerang,  TANAH ILALANG DI KAKI LANGIT,  Kumpulan puisi (Penerbit Senja), 2014, GEMULAI TARIAN NAZ,  Jejak sajak Rini Intama (Q Publisher), 2011. Dan puluhan buku antologi bersama.

 


3 Komentar

Buku : Tanah Ilalang di Kaki Langit karya Rini Intama

NEGERI ini punya tanah yang bisa bercerita soal sejarah
NEGERI ini ada banyak budaya yang bisa bercerita bagaimana kita punya asa 

Tanah Ilalang di kaki langit,  Penulis : Rini Intama
Tata letak /sampul : Diandracreative design, Penerbit : Pustaka Senja
Cetakan pertama : Juli 2014,  Jogyakarta Diandra Creative 2014
ISBN  : 978-602-1638-35-4 Hak Cipta di lindungi oleh Undang-undang

tidkl2

bukuTanahku

Puisi-puisi Rini Intama dalam buku “Tanah Ilalang di Kaki Langit” ini terdiri dari tujuh subjudul, yang menyiratkan kepedulian sang penyair terhadap berbagai permasalahan yang ia jumpai dalam kehidupan. Nampaknya penyair adalah seorang pengamat, ‘pembaca’, dan penulis yang tak pernah melewatkan moment untuk berkontemplasi. Dalam banyak puisinya, ia mengangkat tempat-tempat bersejarah dan peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi, bahkan beberapa di antaranya disertakan penjelasan tentang tempat/peristiwa yang dipuisikan. Menjadi sedemikian elok, karena dalam beberapa puisinya, ia tidak sekedar mendeskripsikan yang diamati, tetapi lebih jauh mengekspresikan juga perasaan-perasaannya, sehingga puisi yang tercipta menjadi sedemikian menyentuh, (Dhenok Kristianti, Guru & Penyair, tinggal di Denpasar )

 


3 Komentar

Namaku Irena Zilinska

ahujan

Namaku Irena Zilinska,

Bertopi ranting kering bersepatu bulu

Kaki melepuh mengayuh langkah  berpeluh di padang pasir

dan bukit-bukit panas Siberia

Namaku Irena Zilinska

di langit terik tak kutemui burung Attar

yang kan membawaku ke tanah Tibet

yang kan mengajakku ke mata air bening

bumi ini seperti kering dan mati

Namaku Irena Zilinska

letakkan saja aku di tanah berhambur pasir tanpa air

biarkan jiwa berjalan di angan menuju cahayacahaya

dan pulang pada tanah merdeka tanpa perang

 

Juni 2011

dalam buku “Antologi Puisi” Dewan Kesenian Kabupaten Tangerang –Festival Tangerang 2012 – Sekuntum Jejak Antologi Puisi


4 Komentar

Surat untuk Di – Puisi Rini Intama

Quantcast

Dalam gerimis kita menghitung cermin sepanjang jalan

Ada perbincangan dalam ruang tak berbatas itu

tentang tanah ladang, angin, lautan

dan bumi yang tak pernah berhenti menangis

gelombang pasang saat langit senja

seperti tangisan suara cinta di sebuah kota tak berpeta

mengejar rasa takut yang berputar cepat

menerbangkan debu debu di sepanjang trotoar

semua kita tulis dalam bait bait puisi

Di, bukankah hidup adalah harapan ?

Ktbm, 19 Desember 2011

dalam buku “Antologi Puisi” Dewan Kesenian Kabupaten Tangerang –Festival Tangerang 2012 – Sekuntum Jejak Antologi Puisi

Surat untuk Di – sebuah catatan Jurnal SastraHudan