Komunitas Pecinta Puisi

Adakalanya kita perlu menangis agar kita tahu hidup ini bukan sekedar tertawa. Adakalanya kita perlu tertawa agar kita tahu betapa mahalnya nilai airmata

El Gibran


setelah hujan…

Siapa kah dia yang duduk di sudut kursi kayu dihadapku?
Matanya bertabur cahaya keindahan yang menukik tajam menenggelamkan..
Menyilaukan ke sudut mataku yang hampir ter butakan olehnya
Kerudung hijab birunya menyerap semua rona hijau di sekelilingku
Aku saja hampir terbata tak sanggup berkata….

Baru kemarin pagi aku meratapi hujan
Takut badai tak bergegas pergi dengan halilintar besarnya…
Aku tak bisa berteriak, hanya diam menggigil dilangit yang kudiami
Redalah reda …
Hanya doa sederhana itu yang aku tasbihkan
Dan cahaya langit pun mulai benderang menghampiri

Aku rasa Tuhan mendengar doaku..
Doa dari hati dan wajah yang selalu ingin bertemu
Betapa tidak…
Dia seperti bunga indah yang selalu kupandangi ketika hujan bulan Januari
Dimana harum nya selalu ku ingat mengikat…
Harum yang terbawa angin dari timur ke barat
Menjadi doa yang panjang kala aku tak diharapmu

Elgibran
Cisangkuy 080312

http://puisiduahati.blogspot.com/2012/03/setelah-hujan.html#comment-form

POSTED BY ELGIBRAN | MARET 17, 2012, 6:38 AM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s