Komunitas Pecinta Puisi

Adakalanya kita perlu menangis agar kita tahu hidup ini bukan sekedar tertawa. Adakalanya kita perlu tertawa agar kita tahu betapa mahalnya nilai airmata

Episode Ultah


MELACAK JEJAK CINTA RINI INTAMA, Catatan Dimas Arika Mihardja

21 Februari 2012 mbak Rini Intama Berulang Tahun. Saya ingin menukilkan serba sedikit “pengantar” buku antologi puisi “Gemulai Tarian Naz” untuk mengenal jejak sajak Rini Intama, yang lalu diikuti sejumlah puisi dedikasi untuk miladnya. APAKAH  yang menarik dari puisi? Puisi selalu menawarkan daya tarik berupa tawaran dunia fantasi yang diolah berdasarkan diksi dan imajinasi. Setiap puisi sudah barang tentu terdapat diksi, yakni pilihan kata yang dilakukan oleh penyair. Penyair “setengah mati” mempertaruhkan diri dalam memilih kata-kata yang secara tepat dapat mengabadikan pengalaman dan perasaannya ke dalam teks puisi. Penyair selalu selektif dalam memilih kata. Seleksi yang ketat ini biasanya lalu terkait dengan dunia fantasi yang secara nyata hadir dari pilihan dan penggarapan imajinasi. Penyair menyeleksi kata yang secara fantastis menumbuhkan ruang imajinasi bagi para pembaca puisinya. Melaui diksi dan imaji inilah penyair mengajak para pembacanya memasuki dunia fantasi lewat puisi-puisi yang digubahnya.

 Berikut ini kami sertakan puisi dedikasi dari kawan-kawan BPSM(Bengkel Puisi Swadaya Mandiri)  untuk mbak Rini Intama, semoga ada manfaatnya.

Dimas Arika Mihardja (Jambi):

FEBRUARI, 21 JALAN DAN JALIN RINDU

: kado milad Rini Intama

buubulu waktu tumbuh juga di sayapmu

perlahan mengukuhkan kepak sajak melangitkan rindu

semula sepi sapanya, lalu serupa udara terhirup

huruf hidup dan huruf mati jalin-berjalin menjadi kata

“rindu katamu”, “harum nafasku,” begitu yang terlafazkan

pada pengantar buku, di ruas jemari Gemulai Tarian Naz

jika ingin tahu, kemarin dan hari ini larut dalam puisi

hingga tiada henti jemari tiada letih menari

menarik segala kata di rongga dada

: jadilah doa

kemarin dan hari ini atau esok lusa

ada sebuah taman bunga beraneka

dan kita bersama melenggang

: di antara aroma kembang!

bpsm, 22/02/2012

————————————————————————————–

Luluk Andrayani (Hongkong):

Sekilas Kata

: Rini Intama

Debar kasih tak kan pudar

jelma larik sekilas tentang bayang

kilau rona intama, kejar cita di ujung marga

lalu kucoba, ukir di atas kertas

tak panjang, hanya sekejap terucap

tentang rasa sayang yang tak hilang

di jembatan yang berkurang satu

dan aku berseru

: ingatlah depan!

MOS22022012

——————————————————————————————

Ratu Ayu (Cirebon):

KUE ULTAH BUAT NAZ

Puisi sederhana buat teh Rini Intama

ketukan pada dadamu

adalah not hidup mengiringi tarian Naz

gemulai jarimu

memintal puisi indah

tanpa bosan aku membacanya

kadang-kadang aku tersentak

gemerincing tarianmu menghentak

Naz, Naz, Naz

begitu cantiknya kamu

secantik puisimu

tanpa kusadari

dan hampir lupa

tapi tak melupa

kue ultahmu

berkerumun doa

menghantar pada usia dewasa

bukan senja dengan jambul putih di kepalamu

Naz,Naz,Naz

kue ulathmu

manis semanis senyummu

Caraka Pojokan Hati

220212

———————————————————————————-

Kanjeng Senopati (Yogyakarta):

SETETES MATA AIR

Rini Intama

rini intama

begitu biasa disebut

begitu nama dalam wujud

begitu restu bumi menyambut

dan degup hidup berlanjut

engkau telah merupa jejak

pada bentang jalan setapak

beriring rindu jantung berdetak

hingga langkah terus menjejak

tak ada merah mawar kutebar

tanpa melati putih mengahrumi hari

tiada kenanga atau kamboja kuselipkan di telinga

hanya setetes airmata kutitipkan padamu

agar menjelma mata air esa

(KS,022012)

———————————————————————————————-

Ricky Komara Putra (Tasikmalaya):

Semakin Lengkap Rasa Cemas Mengendap

: Rini Intama

Rini Intama

Begitu mengejah namamu

Di balik semak belukar

Menyembunyikan Tanya

Jalan yang membentang dihadapanmu

Mirip lorong kehidupan

Berujung di satu titik nadi

Di situ tak ada seorang pun yang mengelak

Walau rongga hatimu dianyam

Zikir laba-laba dalam detik kelahiran

Doanya mengelegar di Rumah Bersalin

Setelah pintu rapat terbuka lebar

Ketika jadwalnya tiba

Malaikat meyembunyikan diri

Entah dalam keadaan sadar

Atau dalam keadaan tersesat

Semakin lengkap rasa cemas mengendap

Meyembunyikan diri dari ajal meyergap tanpa ampun

Mulut terkunci setelah lapad

la ilaha illallah muhammadu rasulullah

2122012

———————————————————————————————

Senja Di Kintamaani (Sukabumi):

KADO TAK BERPITA

: Rini Intama

pada rendezvous yang tertunda

gemulai tarianmu, wahai naz

memutikkan rona kolosal rindu

untuk wajah ayu ibu

dalam perjalanan panjang itu

tembikar menggelar belukar altar

aku ingin melukis pelangi, di sana!

di jenak musim berbunga almanak

ya, lantaran pijar lilin

tengah kepayang, menuju pulang

mendaki geriap lambada: usiamu

membilang wirid pula siluet dealova

lantas apa lagi, naz?

dengan langkah yang gontai

kurapal juga jejak sajak darimu

tanpa retorika, tanpa pledoi

: sekadar kado tak berpita

DIEN MAKMUR

Sukabumi, 22 Februari 2012

———————————————————————————————

Happy Birthday, Wish You All The Best

Maaf  karena tanpa seizinmu telah kucumbui beberapa sajak dalam “Gemulai Tarian Naz”.

————————————————————————————————————

Ki Gambuh R. Basedo (Rembang):

HANYA KADO SEDERHANA UNTUK RINI INTAMA

KADO 1

Detik detak adalah aroma cinta

waktu yang terus mengejarmu

dalam kekalutan kau bawa sebuah hati

dalam kebahagiaan kau bawa tanpa henti

Hidup untuk memberi

Memberi yang berarti

Berarti yang tak harap minta kembali

jadilah matahari menerangi

Rentang waktu

Terkadang membuat kita sadar

Bahwa Tuhan tidak melihat harta dan rupa

Melainkan hati yang di dalam dada pula amal jasad dalam langkah nyata

Waktu adalah pedang, potong atau terpotong Teruslah menari dalam simfoni waktu

Kubisikki lirih lalu

Tari lentik jemarimu yang melahirhadirkan bayi mungil puisi adalah waktu abadi Tak pernah henti hingga

KADO 2

Aku turut berbahagia untukmu Biarkanlah hatimu melebarkan sayap terbang memunguti bintang

Orang yang terkuat bukan orang yang selalu menang dalam segala hal Tetapi yang tetap tegar ketika jatuh

Bahwa penyesalan tidak seharusnya ada di dalam hidup Hanyalah penghargaan abadi atas pilihan kehidupan gagah gigih melakoni

KADO 3

Dengar wahai

Sahabat sejati akan mengerti ketika kau berkata, ” Aku lupa ”

Sahabat sejati akan tetap setia menunggu ketika kau berkata’’tunggu sebentar’’

Sahabat sejati akan tetap tinggal terikat bersamamu ketika kau berkata ‘’tinggalkan aku sendiri’’

Jika kau merasa jauh darinya sesusungguhnya ia sedang menetes titiskan airmata doa

Cucuran airmata dalam hati takkan pernah terhapus sebab ia cahaya tulus

Melangkahlah raih citamu ranggeh mimpimu Bukankah hidup adalah gerak geliat semangat

met milad Rini Intama

Rembang 21-02-2012

————————————————————————————————–

Nabila Dewi Gayatri (Surabaya):

WONG AYU

: terhatur Rini Intama di hari miladnya

aku menekuri jejak almanak

keluasan rasa lunglai ke tepi

hijau keemasan di hari miladmu

wong ayu,

langit timur menjingga

bulirbulir embun berdansa

liuk tarian cinta semesta

indah berkibaran di hatimu

keperkasaan langit mencatat

lukisan sejarah penyair bersahaja

penuh pesona cerlang jiwanya

cerdas pikir dan hatinya

beterbangan melintas musim

bersalam di ziarah pagi matahari

jabat tanganku ukhti,

mari bersimpuh!

kita berhala menjelma kubah Ilah

~ Salam Cinta Pencinta Cinta Bercinta ~

——————————————————————————————————

Muhammad ‘aldy’ Rinaldy (Palembang):

 

BERITA PETANG INI

cerita Anjani hantar ke bilik rona

rupa Sajak, bisu

serpih kasih di sekat pintu

berayun-ayun sulam rindu

tafsir mahligai bingkai mimpi

pada abdi tuah harap

oase kini tak lagi membakar

saling kejar taut-tautan

terekor bidak buah pertalian

temaram nian pucuk pucukan

pada langit arti bintang

tunjuk ruas padang ilalang

tanam sumringah, Intama di tepian

sapa malam yang kian gerlap

petik sadar makna bilangan

pada catatan arah damai

*ihwal februari peraduan cita dan cinta

Palembang,

22/02/2012

——————————————————————————————————–

Astry Anjani  (Hongkong)

KETIKA KAU SUNTING GAUNNYA
Rini Intama

Ada yang berjejal di nadi
Saat angin timur memberi kabar
Tentang gaun indah sri wedari
Dipersunting dewi dari istana maya

Naz, degup deru sampaikan salam
Adakah ini hari perayaan atas pestamu
Hingga didih batin bergejolak mencari makna
Di antara kiasan kata yang menggelora

Februari melenggang pergi
Sementara Naz anggun memakai gaun
Di tangannya melingkar dzikir
Satu telunjuk ke jantungNya

Hongkong, 23/02/12

—————————————————————————————–

Amin mulyanto (Palembang)

Album kata

: rini intama

seberkas surat tertandang
mendiami dan menandai satu peristiwa
tangis pun menyapa haru
membukakan kasih yang dirindukan

kau usap belaian
dekapan erat sang perindu
seakan mengilhami kekuatan
yang elok menawan

kini kembali mengingat
sekuntum bunga mekar merindu
menghiasi ruang jingga
sesiapa pun berkata

ukiran dan catatan kembali menanda
terangkai dalam setiap kata bersapa
semoga hari-hari tetap tertata
mengukir genangan antarsesama

23022012

—————————————————————————————————

Restu Hariyanto (Medan)

21022012

Ketika 21 pebruari menjadi harimu
Kamu berada sendirian
Meniti hari dan terpekur menatap lintasan2 waktu yang berlalu
Apa yang kamu lakukan
Memagut sepi dalam rasa syukur
Atau memecah hening dengan penyesalan
… kedua rasa ini pasti berbaur
Seperti halnya syukur ,sesal adalah embun pembasuh, menyejukkan hati, membangun jiwa kelangkah terbaik.

Apa yang kamu lakukan
Bersimpuh dipangkuan ibu sambil berbisik ‘terimakasih ibu, perantara rahimmu enkau telah melahirkanku kedunia ini
Dengan kasih sayangmu, aku mampu memahami kelembutan dan kerasnya perjalanan hidup
Dengan kasih sayangmu, aku mengenal cinta yang sesungguhnya, dimana hidup memiliki arti dari hidup itu sendiri

Apa yang kamu lakukan …
Bersimpuh dipangkuan ibu ,lalu mendekapnya mesra sambil menatap dalam matanya yang menyimpan berjuta keharuan
Atau bertepuk tangan, setelah meniup nyala lilin dikeriuhan sebuah perayaan, tentunya kamu tidak sendirian.
Suami dan anakanak yang kini tumbuh dewasa,bagian dari belahan jiwa yang dipersembahkan alam untukmu, lantas memberikan warna disetiap detik perjalanan, turut mendampingi.

22022012

Selamat ulang tahun …, tulisan diatas mestinya sudah kukirim kemarin, dimana 21 pebruari adalah harimu.
Namun aku terlalu hanyut , terbawa dalam bayangmu yang kuciptakan sendiri, dan terlelap tidur hingga subuh.
Kembali kebingkisan diatas, aku sempat tertegun, kenapa ibu yang menjadi sorotannku. Dan aku menyadari , bahwa hal itu mengalir dari alam bawah sadarku, dimana keinginan terpendam terpapar begitu saja. Sebuah keinginan disetiap hari yang menjadi hariku, ibu menjadi orang pertama yang harus kutemui, mengucapkan terimakasih atas kasih sayang dan kesabarannya.
Hihihi, terlalu naib kali ya …,

Selamat ulang tahun sahabatku, semoga limpahan berkah dan rahmat dari Allah selalu mendampingi kamu beserta keluarga.
Hatur maaf atas keterlambatan bingkisan kecil ini.

Jabat tanganku seperti ini atau cukup seperti ini.

————————————————————————————————————–

Abdul Malik  (Mojokerto)

Repetisi Meritual
: Milad Rini Intama

ulang berulang terulang
dengan diri yang sama

dengan nafas yang sama
berhembus tanpa diminta

dengan darah yang sama
mengalir tanpa diminta

siapakah yang berulang waktu?

——————————————————————————————————-

Mahbub Junaedi (Bumiayu-Jateng)

:Rini Intama

duuh, hari yang khusuk
merendanyapun khusus
lama, dulu di suatu moment
ada yang terselip dari setiap cakap

di panggungmu ada kembara cinta
di gelaran yang sengaja kau tebar
seolah aku termangu
menikmati wajah, ada mimik mukamu, serius

kini semua berlalu
menjejak yang lain
membelah mimpi menjadi ambigue
selalu meraih tepat si sisi yang nyaman

dari sini kau ke sini
merajut dengan ayunan langkahmu
menuju kedirian yang menatap lugas
matahari ternyata masih di timur..

21022112.

One thought on “Episode Ultah

  1. Ping-balik: Berita hari ini « The lesson of life

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s