Komunitas Pecinta Puisi

Adakalanya kita perlu menangis agar kita tahu hidup ini bukan sekedar tertawa. Adakalanya kita perlu tertawa agar kita tahu betapa mahalnya nilai airmata

Kasyaf


  1. SANG PENEBAR REJEKI

    Gelepar seekor pipit menggoyangkan ranting
    bunga Kacapiring yang kini menjadi patung

    Setelah angin reda dan hujan pun pergi
    Hanya genting sesekali menjatuhkan air

    Seekor bebek mematuk tanah
    yang seperti karpet air
    empat ekor ayam pun berputar mematuk-matuk

    Oooi
    betapa hujan memang membawa rejeki
    bukan saja bebek dan ayam
    atau pun si burung pipit

    Pepohon dan tanaman yang seperti mati
    kini segar kembali
    bertumbuh ranum

    Demikian bukankah
    hujan membawa berkah
    menebar rejeki bagi
    sesama ciptaan Ilahi

    kaki bukit , Ahad 8 April 2012
    Ba’da Zuhur

    POSTED BY KASYAF | APRIL 14, 2012, 3:26 AM | EDIT

  2. Zikir Hujan

    Weees…air hujan jatuh di atas
    Menerpa dedaun bunga Bougenville
    daun di ranting pohon Delima
    dan rerumput hijau di halaman

    Gleceecceek…gleceeecceek…
    bunyi air pancuran menuruni
    tembok depan rumah
    jatuh ke bumi

    Menari gemulai reranting bunga
    Delima, Bougenville, Daun Sembung
    Rumput Jepun pun diselimuti karpet air
    Tampak coklat warnanya
    Di atasnya butiran hujan membuat jadi
    Ratusan kupu-kupu menari-nari

    Nyanyian gembira mereka
    atas tebaran kurnia-Nya
    adalah tasbih alam pada Ilahi
    serta syukur mereka atas kurnia-Nya

    Di atas bukit
    pohon kelapa dengan tigabelas pelepahnya
    menjadi arca
    berbaris pula pohon Suren, Rumpun Bambu dan Nangka
    menjadi lukisan alam
    laksana siluet hitam putih oleh kabut

    Kata siapa mereka diam diri
    adalah mati

    mereka seperti patung termenung
    sedang berzikir mengikuti irama
    kehendak Tuhan

    Butiran air dari jauh seperti uban berbaris
    meluncur menuju bumi
    sesekali Guntur menyalip bunyi seaah hujan

    Kilat pun berkelebat seperti tak mau kalah
    mengikuti kehendak-Nya
    berlomba-lomba mereka menyebut asma-Nya

    Kata siapa mereka mati
    karena berdiam diri

    yang mati sesungguhnya
    jiwa manusia
    yang tak mengerti bahasa alam
    jiwa yang keras membatu
    tak mampu
    menangkap gelombang ayat-ayat Tuhan
    yang terbentang

    kaki bukit, Ahad 8 April 2012
    Ba’da Zuhur (13.35)

    * penulis penikmat hujan.Tidak pernah aktip di komunitas sastra manapun. Tinggal kaki bukit barisan gunung Haruman-Guntur.

    POSTED BY KASYAF | APRIL 14, 2012, 3:29 AM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s