Komunitas Pecinta Puisi

Adakalanya kita perlu menangis agar kita tahu hidup ini bukan sekedar tertawa. Adakalanya kita perlu tertawa agar kita tahu betapa mahalnya nilai airmata

Komentar atas puisi karya Rini Intama Oleh Uki Bayu Sedjati



Menikmati seni adalah proses mengingat kembali kenangan masa lalu, memunculkan file-file lama dari harddisk kita, menghadirkannya di masa kini, saat ini.

Karena saya juga aktif bergiat di kancah teater, juga di ranah audio-visual maka sensasi dramatik saya hadir saat membaca puisi Rini, di Phantacy Poetica dan Ruang Jingga:

kau palingkan wajah dan sudut mata mengerling tajam

kau tak mengerti ! katamu pelan tak berintonasi
tak ingin aku mengedip memandang kemarahan yang merah
di sela waktu yang membusuk
karena terlalu lama teronggok
aku tak ingin bertanya lagi Mei ! (Surat Pada Mei)

 

Dari kalimat-kalimat itu moment-moment gerak diam, gerak lambat:

wajah yang berpaling, mata yang mengerling, ucap kata pelan, tak ingin mengedip, kemarahan yang merah – 

mampu melahirkan adegan, seolah ada dua sosok peran yang berinteraksi.

Suasana dramatik ini  menjadi puitik karena diikuti ungkapan : sela waktu yang membusuk.. terlalu lama teronggok, yang secara filmik membentuk setting lokasi: membayangkan sampah misalnya.

Tak sembarang orang bakal mampu membacakan larik-larik puisi ini jika belum memiliki wawasan dan pengalaman bathin yang matang.

Bagi pemula kata marah yang merah, boleh jadi bakal diteriakkan, lengkap dengan mimik wajahnya. Padahal, kalimat2 yang mendahului menunjukkan bahwa bangunan dramatiknya dalam suasana sepi. Malah, jika mata kita mampu menangkap aura /atmosfir suhu di sekitar dua sosok itu bakal melihat warna yang masif bak magma yang menggelegak.

Proses kreatif antara satu dan lain penulis berbeda, namun juga sesekali ada yang mirip, nyaris sama, bahkan persis.

Rini nampaknya menulis puisi tidak hanya dipengaruhi suasana bathin namun juga situasi kondisi sekelilingnya.  Dapat dikatakan, bahwa ketika ia melihat dan atau mengingat sesuatu – maka bersambung bahkan berkelindan dengan qalbu – kalimat puitik lahir

di persimpangan yang lindap
kutebas pedang karat dipucuk rindu senyap
kupinang darah pekat di dada nafasku megap
di langit kisah kuat mengendap

roda pagi arah barat melintang merah lambat
angin resah suara lamat habis terlumat

debu debu sapu sendu

habiskan beku
habiskan waktu
habiskan rindu

Kemelut dalam benak bathin orang per orang sulit untuk bisa tergambarkan jika tidak ditulis atau dilukis. Seorang penulis menuliskannya, bisa secara spontan, bisa pula dengan lebih dahulu mengendapkan, ataupun memilah milih kata yang dirasakan tepat, dan lain sebagainya.

Pemilihan akhiran misalnya, agar menjaga rima, dilakukan Rini dalam puisi  Persimpangan Yang Lindap ini. Meski begitu tak terasa mengganggu, lantaran secara keseluruhan suasana senyap dan tertekan demikian dominan. Ya, mengolah tuliskan rindu dendam, beku, lumat, resah…dan semacamnya memang tak mudah. Sebab yang berlebihan ataupun yang pas relatif sifatnya.

Buktinya di puisi-puisi lainnya Rini belum mengolah-tulis dengan memadai. Di antaranya di : Sajak hampa, Merajuk, Sajak Sang Lelaki, Tetirah.

 

Rini tak perlu gundah karena proses kreatif siapapun bagai gelombang, turun naik. Ahli agama saja bilang: keimanan seseorang saja turun naik apalagi kehidupannya.

Yang penting adalah bagaimana berlatih mengasah pancaindera, intuisi, imaji secara terus menerus. Boleh sebagian hanya diterawang, menghilang, lindap – boleh juga sebagian lain langsung diiingat dan maupun dicatat. Jika membiasakan diri seperti itu, maka boleh jadi yang lindap atau yang hilang itu boleh jadi mendadak muncul, dan dapat ditangkap untuk diolah tulis. Orang bijak bilang: ilham. Barangsiapa mampu terus menerus berlatih bakal mampu mencerap-olah ilham menjadi sesuatu yang bermakna.

Karena ilham adalah bagian dari rezeki, yang Firman Allah menyatakan: min haitsu la yas tahsib, kehadirannya dari arah yang tak terduga.

Nah, karena itu Rini menulis karyanya ada yang panjang ada yang sedang, juga ada yang pendek. Tergantung suasana bathin alias mood. Bisa jadi demikian. Puisi yang bernas menunjukkan banyaknya pengalaman hidup dan keluasan wawasan si penulis, karena juga dioleh dengan kemauan untuk menjalin sinergi antara rohani dengan jasmani, antara aqal-qalbu dengan urat syaraf di jari jemari – saling bergerak, mengalir.

Saya baca satu puisi Rini, yang bernas mengalir…:

AKU DAN KATAKU

Aku dan kata mencintaimu,
menyelinap di antara syair syair mengalir bersama butir butir pasir laut, bukankah sama seperti ketika mencoba menumpahkan warna diatas kanvas seraya menunggumu, lantas langit dan awan bergerak pelan…

Aku dan kata kerinduanku,
menyelinap di antara derasnya makna aksara dalam untaian kalimat yang menumpah, sama seperti ketika gundukan tanah menggunung dan memuntahkan lahar… deburannya mengalir begitu saja menerabas segala

Aku dan kata kemarahanku,
adalah ketika terbengkalainya air di sela jemari mengering, menggenggam dan cinta itu sendiri yang memberangus ego dalam kalut, takut atau pengecut. Ada sisa waktu yang berlari dalam rimbun hutan Halimun yang berembun lalu sepi…

Aku dan kata kesetiaanku,
adalah merasakan butiran embun sisa malam yang datang pada dedaunan diantara kabut dingin yang menyatu ditanah yang membasah, didetak nadi hari lalu menunggu esok terus datang, meski tertunduk lesu

10 Maret 2010

Hemat saya, Rini mesti terus berproses dengan meningkatkan keberanian – sebutlah begitu – untuk memilah-milih kata dan kalimat. Ini perlu latihan yang terus menerus, memang, lantaran pada waktu bersamaan harus pula meluaskan wawasan agar perbendaharaan atau khasanah pengalaman olah bathin renungannya dapat dialirkan dan mengalir melalui uratsyaraf jari tangannya menjadi tulisan, boleh prosa boleh puisi. Kita tunggu karya2 selanjutnya. Majuu..!

Pamulang, 21 Desember 2010

Uki Bayu Sedjati

One thought on “Komentar atas puisi karya Rini Intama Oleh Uki Bayu Sedjati

  1. Ping-balik: Berita hari ini « The lesson of life

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s