Komunitas Pecinta Puisi

Adakalanya kita perlu menangis agar kita tahu hidup ini bukan sekedar tertawa. Adakalanya kita perlu tertawa agar kita tahu betapa mahalnya nilai airmata

MENGINTIMI PUISI RINI INTAMA: “AKU DAN KATAKU”, Oleh Dr. Sudaryono, M. Pd (DAM)


Pengantar Oleh Dr. Sudaryono, M. Pd (Dimas Arika Mihardja), Dosen Pendidikan Bahasa, SastraIndonesia, FKIP Universitas Jambi

Ruang jingga”, seperti dinyatakan dalam “Sekapur Sirih” mendedahkan kehidupan dan suara-suaranya, suara hati, suara cinta, suara kepedulian, suara mimpi. Ruang jingga, tidak ubahnya merupakan ruang maya (facebook) yang kemudian menyediakan ruang baca dalam bentuk tercetak (buku). Dua belas penulis puisi di jejaring sosial facebook itu lalu memiliki “mimpi” berupa keinginan jiwa, semangat memadu dan bersatu membidani lahirnya buku “Ruang Jingga”: Antologi Puisi 12 Penyair Jingga. Makna apakah yang bisa diberikan kepada 12 Penyair Jingga? Kenapa warna jingga lalu dipilih?

Ruang Jingga” ini bisa jadi merujuk bilik hati yang menyediakan aneka suara bermakna, setidaknya “Rung Jingga” merujuk pada suasana tempat dan waktu saat senja, saat matahari mencium dan kemudian “angslup” ke dalam laut di batas cakrawala. Tulisan apresiatif ini berpijak pada ruang pembacaan selintas sebagai sebentuk silaturahmi batiniah yang sama sekali tidak disandarkan pada teori sastra, melainkan bersandar pada pencecapan rasa saat membaca. Demi keadilan, akan dinukilkan sebuah puisi yang mewakili masing-masing penyair. Namun, lantaran Facebook memiliki ruang terbatas (jika dibuat tulisan apresiatif yang relatif panjang jarang dibaca) maka kali ini pembacaan diarahkan pada sebiji puisi karya Rini Intama. Puisi lain karya penyair lainnya, jika sempat, akan diumumkan kemudian.

Mengintimi Sebiji Puisi Rini Intama

Rini Intama(lahir 21 Februari di Garut), sebagaimana manusia ujumnya memiliki cinta,kerinduan, kemarahan, dan kesetiaan. Bagaimana intensnya Rini Intama di dunia puisi (kata) dan apa yang menjadi obsesinya? Barangkali sebiji puisi yang bertajuk “Aku Dan Kataku” (hal. 4) berikut ini akan membuat kita mengenalnya:

Aku Dan Kataku

Aku dan kata mencintaimu,
menyelinap diantara syair syair mengalir bersama butir
butir pasir laut, bukankah sama seperti ketika mencoba
menumpahkan warna diatas kanvas seraya menunggumu,
lantas langit dan awan bergerak pelan

Aku dan kata kerinduanku,
menyelinap diantara derasnya makna aksara dalam
untaian kalimat yang menumpah, sama seperti ketika
gundukan tanah menggunung dan memuntahkan lahar…
deburannya mengalir begitu saja menerabas segala

Aku dan kata kemarahanku,
adalah ketika terbengkalainya air disela jemari mengering,
menggenggam dan cinta itu sendiri yang memberangus
ego dalam kalut, takut dan pengecut. Ada sisa waktu
yang berlari dalam rimbun hutan Halimun yang
berembun lalu sepi

Aku dan kata kesetiaanku.
adalah merasakan butiran embun sisa malam yang datang
pada dedaunan diantara kabut dingin yang menyatu lalu menunggu
esok terus datang,meski aku tertunduk lesu

10 Maret 2010

Adatiga ragaam puisi jika dikaji berdasarkan cara pengungkapannya, yakni puisi diaphan, puisi prismatis, dan puisi hermetis. Puisi diaphan terdedah dengan bahasa yang gamblang, terang, jernih, sedikit menggunakan ungkapan perbandingan yang mudah dipahami lantaran model perbandingannya menggunakan perbandingan yang umumnya dipakai dalam pragsis komunikasi. Berbeda dengan puisi yang bercorak diaphan, puisi prismatis serupa “prisma” yang bisa memancarkan aneka cahaya yang menumbuhkan makna. Terakhir, puisi yang bercorak hermetis dapat diibaratkan sebagai kaca gelap, sehingga makna dan pemaknaannya juga terasa gelap. Puisi bertajuk “Aku dan Kataku” (AdK) tergolong puisi yang bening dan jernih yang bisa dikategorikan sebagai puisi diaphan.

Dalam puisi “AdK” yang digubah oleh Rini Intama 10 Maret 2010 terdedah dengan gamblang bagaimana cinta, kerinduan, kemarahan, dan kesetiaan Rini Intama di dalam dunia penciptaan puisi dan di dalam kehidupannya sehari-hari. Rini Intama “mencintai” dunia syair (yang) mengalir bersama butir pasir laut, seperti halnya pelukis menumpahkan waena di atas kanvas (bait 1). Dalam bait ini kita temukan diksi “langit” dan “awan yang bergerak pelan. Diksi “langit” merujuk yang berada di atas dan tinggi (Sang Maha Pencipta) dan diksi “awan” memberikan gambaran aneka masalah yang dihadapi manusia dalam kehidupan.

Rini Intama juga memiliki kerinduan di dunia sastra seperti ungkapan ini: “kerinduanku, menyelinap diantara derasnya makna aksara dalam untaian kalimat yang menumpah seperti gunung menumpahkan magmanya (bait 2). Kerinduan yang begitu dahsyat sehingga “deburannya mengalir begitu saja menerabas segala”. Rini Intama marah dan geram “ketika terbengkalainya air disela jemari mengering…memberangus ego dalam kalut, takut dan pengecut”.

Sebagai penyair yang memiliki lehalusan rasa, Rini Intama memiliki kesetiaan yang serupa “butiran embun sisa malam yang datang pada dedaunan diantara kabut dingin yang menyatu ditanah yang membasah, didetak nadi hari lalu menunggu esok terus datang, meski aku tertunduk lesu”.

Sebiji puisi karya Rini Intama ini, betapapun juga telah memberikan “ruang jingga” untuk dipahami, dinikmati, dan diintimi sehingga pendar dan pijar maknanya yang terdedah dengan bahasa sedikit konotatif yang terpapar dengan cara diaphan memberikan pencerahan. Kita, para pembaca, menjadi mengerti apa makna cinta, kerinduan,kemarahan, dan kesetiaan.

Salam 123, sayang semuanya
Bengkel Puisi Swadaya Mandiri

Jambi, 4 Agustus 2010

Dimas Arika Mihardja

One thought on “MENGINTIMI PUISI RINI INTAMA: “AKU DAN KATAKU”, Oleh Dr. Sudaryono, M. Pd (DAM)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s