Komunitas Pecinta Puisi

Adakalanya kita perlu menangis agar kita tahu hidup ini bukan sekedar tertawa. Adakalanya kita perlu tertawa agar kita tahu betapa mahalnya nilai airmata

Parlin Siagian


ANAK ANGIN

Ingat kamu yang mendamba angin

Terlintas badai yang coba kau tuai

Temani bintang, temani cahaya

Bersama gemerlapnya lampu jalanan

Bunga taman di gelapnya malam

Ditelaga rindu kutemani kamu

Yang menanti, menanti, dan menanti

Semut-semut yang berbaris

Juga menanti, menanti dan menanti

Bersama rinai angin, bersama rintik hujan, bersama asamu dan asaku

Tinggalkan aku disini kekasih

Biarkan dini hari menjemputku

Untuk kembali ke peraduanku

Bersama bayangmu kurajut harap ini

Biarkan aku disini

Anak angin menanti kekasih

Anak angin menuai badai

Anak angin berharap pada setia

Anak angin berkata kepada rembulan

Anak angin menunggu pagi menjelang.

 

POSTED BY PARLIN SIAGIAN | JANUARI 25, 2012, 11:35 AM 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s