Komunitas Pecinta Puisi

Adakalanya kita perlu menangis agar kita tahu hidup ini bukan sekedar tertawa. Adakalanya kita perlu tertawa agar kita tahu betapa mahalnya nilai airmata

Pengadilan Puisi


http://oase.kompas.com/read/2010/12/25/21552999/Menyaksikan.Pengadilan.Puisi-3

Menyaksikan Pengadilan Puisi
Editor: Jodhi Yudono
Sabtu, 25 Desember 2010 | 21:55 WIB
Dibaca: 564Komentar: 5

oleh, Rusli Setiawan

Rini Intama saat membacakan pembelaan atas 12 puisi karyanya pada acara “Riungan Tangerang Serumpun”, 21 Desember 2010.
Oleh Divin Nahb

Pecinta Seni Budaya Tangerang Serumpun (PSBTS) atau dikenal dengan sebutan Tangerang Serumpun (TS), pada 21 Desember 2010 kembali mengadakan pengadilan puisi yang kedua. Riungan bulanan yang kerap dilakukan TS memang sengaja mengusung acara ini sebagai penutup tahun. Rini Intama dengan 12 puisinya menjadi terdakwa dalam pengadilan di malam hujan mengguyur Restoran Pesona Laut, Cipondoh.

Seperti pada umumnya pengadilan, dalam pengadilan puisi, ketegangan kerap dirasakan Rini Intama. Namun, ketegangan itu sedikit mencair manakala beberapa peserta sidang mengapresiasikan puisi-puisi terdakwa. Sebut saja, Ay Ka dari Balaraja, Arsyandi dari Semarang, dan Divin Nahb selaku Panitera. Setelah pengapresiasian puisi selesai, jantung terdakwa kembali berdetak kencang mendengarkan tuntunan Abah Yoyok dan Ilenk Rembulan selaku Jaksa Penuntut Umum. 12 puisi Rini Intama yang masuk dalam 2 buku antologi puisi “Ruang Jingga” dan “Phantasy Poetica” seolah ditelanjangi kedua Jaksa Penuntut Umum tersebut.

http://oase.kompas.com/read/2010/12/25/21552999/Menyaksikan.Pengadilan.Puisi-3Struktur fisik puisi yang mencangkup tipologi, diksi, dan imaji menjadi tuntutan yang pertama kali Jaksa Penuntut Umum bacakan. Selanjutnya, Jaksa Penuntut Umum mengupas struktur batin puisi yang mencakup tema atau makna, rasa, nada, dan maksud-tujuan. Dari kedua tuntutan tersebut, Jaksa Penuntut Umum memutuskan bahwa puisi-puisi Rini Intama masih prematur dan belum layak tayang sebagai sebuah karya sastra. Oleh karena itu, terdakwa dituntut untuk tidak menulis puisi dan mempublikasikan karya puisinya selama 6 bulan oleh Jaksa Penuntut Umum.

Tuntutan Jaksa Penuntut Umum sempat mencengangkan ruang sidang di bawah saung-saung bambu. Namun demikian, kembali peserta sidang mencairkan suasana dengan pembacaan puisi. Mh Poetra, Violi Kasherman, Nanang Rusmana, dan musikalisasi puisi oleh Jodhi Yudono selaku Hakim Ketua membuat suasana menjadi hangat.

Tapi, suasana kembali menjadi tegang seperti sebelumnya saat Hakim Ketua memberikan kesempatan pada terdakwa untuk membela diri. Dikatakan bahwa terdakwa tidak sepenuhnya bersalah dalam beberapa masalah, karena puisi baginya lahir dari dalam jiwanya dengan sebuah kesederhanaan. Meski pada akhirnya menjadikan kesederhanaan itu menjadi sesuatu yang rumit di mata Jaksa Penuntut Umum.

Poncowae Lou dan Abu Bakar sebagai pihak Pembela pun ikut andil membela terdakwa. Bagi mereka, waktu 6 bulan tidak berkarya sama saja dengan memenggal kreativitas dan melanggar HAM. Pembelajaran memang diperlukan untuk pematangan puisi-puisi terdakwa, namun waktu 6 bulan tidak berkarya bukanlah sebagai sebuah jawaban. Pembelaan juga mengalir dari Saksi Memberatkan yang tiba-tiba menjadi Saksi Meringankan karena merasa jiwanya terpanggil untuk membela terdaksa. Nana Sastrawan, menyatakan bahwa puisi-puisi terdakwa telah memiliki rasa meski struktur fisik puisi memang masih harus dibenahi. Untuk pembelajaran tersebut, bagi Saksi Meringankan ini hanya diperlukan waktu satu sampai dua bulan saja, bukan 6 bulan tanpa berkarya.

Dua Peserta Sidang—Enes Suryadi dan Nanang Rusmana, sepakat dengan dua Pembela dan Saksi Meringankan. Bagi kedua peserta sidang tersebut bahwa menuntut 6 bulan dengan tidak diperbolehkan untuk menulis puisi dan mempublikasikannya sama saja dengan menghentikan proses pembelajaran puisi terdakwa. Padahal yang dibutuhkan terdakwa adalah kelanjutan dalam proses pembelajaran puisi-puisinya agar menjadi puisi yang kokoh, baik dari struktur fisik puisi maupun struktur batin puisi.

Setelah mendengarkan tuntutan dan pembelaan, Hakim Ketua pun mempertimbangkan dan memutuskan dengan segala kebijakan bahwa Rini Intama selaku terdakwa dalam Pengadilan Puisi pada Riungan Bulanan Tangerang Serumpun ke-7 ini didakwa selama 3 bulan untuk belajar dan memperdalam segala teori puisi pada dua Jaksa Penuntut Umum (Abah Yoyok dan Ilenk Rembulan). Selama 3 bulan itu pula, Rini Intama tetap diperbolehkan untuk mempublikasikan puisinya hasil dari pembelajarannya dengan kedua Jaksa Penuntut Umum.

Perasaan lega tampak terlihat dari raut wajah terdakwa kala mendengar keputusan Hakim Ketua. Dengan damai, Jaksa Penuntut Umum menyalami terdakwa yang pada akhirnya bisa tersenyum kembali. Pembacaan puisi oleh Nana Sastrawan pun menambah keakraban persidangan.

5 thoughts on “Pengadilan Puisi

  1. Kagum pada karya-karya yang tampil, dan acungan jempol buat segenap kegiatan bersastra yang hadir. Salam puisi dari saya, Hans

  2. Ping-balik: Bukankah kita bagian dari tanah gersang ? « Komunitas Pecinta Puisi

  3. Senang sekali membaca beritanya, sayang saya tidak tahu kalau di Tangerang ada komunitas ini,… Bagaimana caranya bergabung ?

  4. Muh Jusran Jufri, silahkan tambahkan saya sebagai teman di facebook atau di twitter , di sana kita bisa banyak bertemu teman2 dan silahkan bergabung dengan senang hati. Ditunggu ya mas.

  5. Jika sidang bersifat terbuka, maka sebagai publik saya tentu berhak diundang hadir untuk memastikan bahwa persidangan berlangsung sesuai rasa keadilan penikmat sastra.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s