Komunitas Pecinta Puisi

Adakalanya kita perlu menangis agar kita tahu hidup ini bukan sekedar tertawa. Adakalanya kita perlu tertawa agar kita tahu betapa mahalnya nilai airmata

PLEDOI BAGI SANG TERDAKWA Oleh: Dimas Arika mihardja


Ini catatan lanjutan sebuah respon atas ‘Kado Sang terdakwa’ (Antologi Puisi Tangerang Serumpun) yang memuat 111 puisi karya 20 penyair tua-muda yang berdomisili di kawasan Tangerang. Penyair Tangerang mengerang, meradang, dan sekaligus melenggang menghadapi karut-marut hidup. Ya, hidup di negeri sulapan, badut-badutan, dan ditengah tingkat stres yang akut, orang-orang merindukan kibaran selendang dalam tarian yang memukau, membuat sakau. Orang-orang lalu memilih dendang, menembangkan suara hati, jiwa dan perasaan mereka melalui perasan perasaannya masing-masing. Penyair tangerang sedang merayakan pesta panen di serumpun bambu.

Rumpun-rumpun bambu itu, seperti sudah saya tulis, agaknya telah diolah dan difungsikan untuk berbagai keperluan. Bambu bias dibuat gedheg (dinding terbuat dari anyaman bilah bambu yang eksotik), telah dibuat seruling, angklung, patok pembatas lahan persawahan, dan bisa jadi bambu runcing. Sembilu adalah juga terbuat dari kulit batang bambu yang difungsikan untuk menyayat, mengiris, dan tentu saja melukai. Sebuah besek juga terbuat dari bilah batang bambu yang difungsikan untuk menyimpan penganan saat kenduri. Aneka fungsi bambu yang rumpun-rimpunnya tumbuh di Tangerang ini sebagian dibuat sebagai lincak, tempat duduk bersama membincangkan aneka rupa persoalan keseharian. Fungsi-fungsi bamboo yang serupa itu tampak merunai puisi-puisi yang dimuat dalam buku ini. Poalannya, siapakah yang telah jadi terdakwa?

Dalam kata pengantar ditulis “APAPUN adanya, kehadiran puisi sebagai salah satu wacana untuk mengekspresikan cita rasa seni seseorang adalah syah-syah saja.” Dalam konteks ini, siapakah yng berani membantah kebenaran pernyataan ini? Puisi, apapun adanya, kehadirannya memang sebagai salah satu wacana untuk mengekspresikan cita rasa seni. Hal yang layak dikritisi ialah, memang puisi merupakan sebentuk ekspresi seni, akan tetapi “seni puisi” memerlukan wawasan konsep-konsep keindahan seperti keselarasan, keseimbangan, keserasian, dan adanya fokus tertentu yang ingin ditekannya. Hal yang menjadi riskan dan sekaligus menjadi risiko ialah bahwa realitasnya cita rasa seni itu menyediakan rentangan yang sangat lapang dan bertingkat-tingkat yang merupakan jenjang tersendiri. Rentangan dan sekaligus jenjang itu terbentang antara yang bercita rasa rendah sangat tinggi. Maslahnya adalah siapakah yang layak dan mau dijadikan terdakwa soal kepemilikan cita rasa seni ini?

Selanjutnya dalam Kata pengantar ditulis “Menulis puisi bukanlah tindak pidana korupsi”. Ya, menulis puisi bukanlah tindak pidana korupsi, melainkan terkait dengan manipulasi. Maksudnya? Dalam proses penulisan puisi selain ada proses sublimasi, ternyata tak bisa menghindari manipulasi (bunyi,kata, frase, simbol, ungkapan, tipografi, enjambemen, rasa, nada, irama, dan sebagainya). Dalam konteks tertentu dan untuk keperluan tertentu bisa saja penyair “mengkorup dan sekaligus memanipulasi” aneka aspek terkait dengan puisi, misalnya pengungkapannya dibiarkannya terbuka (open ended), mengakhiri puisi dengan sebentuk pertanyaan dan pembaca sendiri yang harus memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Tetapi masalahnya adalah siapakah yang layak dijadikan terdakwa soal manipulasi dan korupsi di dalam menulis puisi?

Selanjutnya, “Siapa saja silahkan berpuisi ria karena memang tidak ada aturan atau pun undang-undang yang melarangnya”. Benar, persoalan menulis puisi adalah soal pilihan, cita rasa pribadi, dan bahkan menjadi muara untuk sarana katharsis, obat stres, dan berbagai tujuan pragmatis lainnya. Sebut saja tujuan menulis puisi sekedar iseng, memanfaatkan bakat dan minat, mengisi waktu luang, menyalurkan hasrat, meningkatkan harkat dan martabat dengan cara memanusiakan manusia, ingin menambah gengsi, memperluas persahabatan, menambah income, mengkomunikasikan apapun, dan bisa jadi ingin diakui sebagai penyair yang berkelas. Seseorang bisa bebas dan leluasa menulis puisi: untuk diri sendiri, untuk kekasih, untuk disosialisasikan ke hadapan khalayak pembaca, untuk disimpan di buku harian, dan sebagainya. Dalam menulis puisi memang tidak ada aturan formal dan undang-undang, akan tetapi bukankah puisi itu sendiri menyediakan seperangkat aturan yang semestinya dipenuhi? Misalnya soal bahasa sebagai medium pengkungkapannya juga menyediakan kaidah (bahasa indonesia, misalnya, harus ditulis dari kiri ke kanan). Undang-undang pun tidak ada dalam menulis puisi, melainkan terdapat sejumlah konvensi yang sepantasnya juga menjadi acuan dalam menulis puisi (meski ada juga keleluasaan menabrak konvensi). Masalahnya, siapakah yang layak jadi terdakwa?

“Benarkah Sang Penyair yang jadi terdakwa dan harus mempertanggungjawabkan karya-karyanya. Kenapa? Salah apa puisi? Apa dosa Sang Penyair?” demikianlah tertulis dalam Kata Pengantar. Dalam konteks ini dapat dinyatakan bahwa penyair mestilah punya tanggug jawab (pada diri sendiri, masyarakat, dan di hadapan Sang Khaliq). Penyair tak bisa lepas dari tanggung jawab, sebab Allah telah menurutkan Surat khusus Ayat-ayat Penyair. Serupa apakah bentuk tanggung jawab itu? Bisa jadi bertanggung jawab untuk berkarya secara total dan maksimal, jauh dari keisengan, main-main atau motif-motif lainnya. Dalam konteks ini lalu kembali muncul sebuah tanya, siapakah yang sepantasnya duduk sebagai terdakwa?

PLEDOI akan dimulai setelah muncul respon terhadap berbagai pertanyaan ini. Silakan merespon dan memberikan tanggapan. Dalam hal ini kita tak sedang memburu “kambing hitam” untuk dijadikan korban, melainkan bagaimana kita bisa mengurbankan pemikiran kita untuk menyehatkan ekologi sastra (kreator, karya, kritisi, peminat sastra?).

Salam DAM, damai senantiasa.

2 thoughts on “PLEDOI BAGI SANG TERDAKWA Oleh: Dimas Arika mihardja

  1. Ping-balik: Esai dan kritik Sastra « Komunitas Pecinta Puisi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s