Komunitas Pecinta Puisi

Adakalanya kita perlu menangis agar kita tahu hidup ini bukan sekedar tertawa. Adakalanya kita perlu tertawa agar kita tahu betapa mahalnya nilai airmata

DIMAS ARIKA MIHARDJA


MEMBANGUN MALAM

00:00 detik membangunkan kesadaran
air mengucur dri selang kehidupan
membasah segala yang kubasuh
memercik debudebu hanyut ke selokan waktu

01:00 detak berloncatan di dada luka
kubalut luka sujud usai tahajud
air kehidupn deras mengalir di danau hati
tiktok-Nya berdenyut di dinding, berdenting
dan berdentang mengiring suara gemuruh menuju danau
mengalir dan menyihir lalu mencair di dermaga
tempat sampan dan harapanku tertambat

o, aku bangun malammalam penuh keintiman
mengurai makna dan magma cinta
sebelum pada akhirnya matahari bangun oleh kicau burung
dan nafas lafaz tandas di gelas bening
yang mendentingkan keharuan

bengkel puisi swadaya mandiri, 7 mei 2011

IBU, PEREMPUAN YANG MENEMU
~ milad ke-71 penyair diah hadaning

di teratak ini, pilarpilar menyangga atap
menampung hujan kerinduan saling berdekapan
bunga bakung menyumbulkan kelopak putih
di tepian telaga warna dan emprit gantil hinggap di dahan kantil
prenjak pun memanggilmanggil sepenuh gigil

aku, perempuan yang menemu sejatinya rindu
yang rindang; telah kuronce kembang tujuh rupa
pada musim pancaroba; rabalah dada cintaku
ciumlah punggung tanganku: aroma senja kian menyata
menyatu di pokok pohon gondosuli

panggil namaku mei, bulan ontranontran telah kukandung
bersama melarutnya embun; telah kudulang emas intan berlian
berkilauan dari cahaya batinku

bengkel puisi swadaya mandiri, 4 mei 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s