Komunitas Pecinta Puisi

Adakalanya kita perlu menangis agar kita tahu hidup ini bukan sekedar tertawa. Adakalanya kita perlu tertawa agar kita tahu betapa mahalnya nilai airmata

32 thoughts on “AFRIZAL

  1. aku lebih terang dalam gelap
    menjadi pendar dalam temaram
    sosok lentera yang terbuang
    menebas sang gelap
    hanya aku yang bersinar….

    mempersunting sang senyap
    mendekapnya dengan erat
    beriringan dalam singasana sunyi
    satu kita…dalam fana

    aku sang pengukir sepi
    menggenggam sekeping asa
    dan kubiarkan membara di pelupuk mata
    biar aku seorang…jadi raja kesunyian

  2. ===Sayap-Sayap yang Tertebas===

    sayap-sayap yang tertebas
    melukis merah darah
    mencoreng sang cakrawala
    biru bercampur merah
    gradasi luka dan tawa…

    sayap-sayap yang tertebas
    terseok memeluk tanah
    terkapar tuk terdiam…
    selama satu tarikan nafas..
    dia menghunus kematian

    sayap-sayap yang tertebas
    jadi sketsa memori hilang
    dilupakan selang waktu berputar
    dihempas angin utara
    menjelang ketiadaan tak berujung

  3. ==Lukisan Malam==

    bayangan luna menebas malam
    sinar menyembur…berkilau
    dari kisi-kisi kamboja
    tetesan tangis perak
    menyentuh serambi biru…bersatu dalam syahdu

    sekeping bintang
    menari gemulai dalam latar gelap
    sorot nya perlahan memancar
    sang bumi tertunduk…
    tepukan riuh daun cemara

    edelweiss membuka mata
    menikmati sepotong anugerah Nya
    sketsa dari jutaan lukisan
    Sang Maha Agung…maestro jutaan mimpi
    inilah keindahan…inilah kemurnian

  4. ==Sang Pecinta==

    Kutapaki jejak menggelap
    menepis laju angin selatan
    biar sanubari ini meratap
    cinta ku kandas…hati tertebas
    namun aku masih ada…
    cinta ini masih nyata

    Akulah sang serigala terbuang
    mengais mimpi ku dari tong-tong sampah
    melihatnya…tuk sebuah luka
    namun embun mata ini membeku
    terbias lepas…direngkuh dunia

    Mencintainya dalam bayang-bayang
    menjadi sebuah pesona dalam fana
    sosok yang terlupa…meski setia menjaganya
    melodi kisah usang
    terus menggema dalam linang sang langit

    Karena aku Sang Pecinta
    menjadi sayapnya walau tak indah
    malaikat tak cemerlang di mimpinya
    tetap putih bait ku untuknya
    karena aku…Sang Pecinta…

    (Trilogi Sang Pecinta)

  5. ==Gelora Sang Pecinta==

    Dalam sajak biru ini
    ku ukir asma indah itu
    mengalir dalam tiap rima
    menjadi pelengkap bait kesunyian
    jemari ku memerah…carikan kertas membara

    Hapus air mata itu..
    wahai rembulan sayu
    katakan arti cinta pada bintang berkilau
    agar dia di sisimu..
    bukan bermain hati dengan mentari

    Sejumput mimpi kuterbangkan
    melukis tiap tetesan embun
    mencoba merangkai kata terindah
    tuk sebuah janji
    akan arti sebuah rasa…
    atas cinta yang ingin terjerat

    Mungkin bumi kan terbelah
    langit curahkan air mata darah
    sebuah kata yang terpendam
    menyeruak…ingin segera bermuara
    dalam sebuah hati….

  6. ==Gelora Sang Pecinta==

    Dalam sajak biru ini
    ku ukir asma indah itu
    mengalir dalam tiap rima
    menjadi pelengkap bait kesunyian
    jemari ku memerah…carikan kertas membara

    Hapus air mata itu..
    wahai rembulan sayu
    katakan arti cinta pada bintang berkilau
    agar dia di sisimu..
    bukan bermain hati dengan mentari

    Sejumput mimpi kuterbangkan
    melukis tiap tetesan embun
    mencoba merangkai kata terindah
    tuk sebuah janji
    akan arti sebuah rasa…
    atas cinta yang ingin terjerat

    Mungkin bumi kan terbelah
    langit curahkan air mata darah
    sebuah kata yang terpendam
    menyeruak…ingin segera bermuara
    dalam sebuah hati….

    (Trilogi Sang Pecinta)

  7. ==Sang Pecinta Telah TIada==

    Raga itu terbaring dalam senyap
    dingin tak bertuan
    merengkuhnya…menjaganya
    tiada jemari hangat
    ulurkan segenap udara untuknya

    Bait-baitu puisi cintanya yang usang
    terbang…bimbang tuk menyentuh fana
    banyak kata yang terbuang
    sebuah cinta tak terungkap

    Setangkai mawar merah patah
    terkulai di atas raga nya
    menunggu layu..menyatu dalam tanah merah
    sebuah kasih yang tertunda
    mungkin kan berulang…pada awal yang baru

    Hati itu tersayat…darah mengalir deras
    tambalan berlubang
    menyelimuti jiwa putihnya
    namun…cinta itu
    utuh tak tersentuh…untuknya…kekasih dalam gelap

    sosok-sosok putih di sampingnya
    tersenyum dalam sebuah arti
    kan abadi cinta itu..disisi Maha Hati
    langit turunkan tirai sucinya
    pertanda duka lara…
    Sang Pecinta Telah Tiada

    (Trilogi Sang Pecinta)

  8. @Takjub … itu kata pertama yg ingin kuungkap ! kalimatmu mengalir renyah ..
    hingga lama tak ingin beranjak, ma kasih yaaa

  9. sama” mbak…makasih juga buat apresiasinya..

  10. ==Sang Pujangga Sejati===

    Siapakah sang pujangga sejati
    apakah ia…sang penenun mimpi
    merenda tiap kisah fantasi
    dalam tiap guratan kata
    mengalir dalam lautan rima

    Siapakah sang pujangga sejati
    ia kah,,,sang pengukir mutiara
    dari tiap untaian kata cinta
    mengepak sayap malaikat cinta
    melambungkan asa..jutaan asmara

    Siapakah sang pujangga sejati
    mungkinkah ia…pemilik cermin hati
    menorehkan bayangan hati
    dalam tiap helai kertas usang
    mungkin buliran kata nya bukan sajak
    namun ada hati…terselip di tiap baitnya…

  11. kaulah itu sang pujangga
    yang mampu mengukir kalimat dengan indah
    mengusung aksara penuh makna

  12. aku hanyalah insan…yang bercermin dari lembaran kata

  13. ===Malam Meratap===

    Berjalan dalam iringan hujan
    Hitam menggores langit
    Raja kelam merajai waktu
    Satu nafas terenggut
    Jutaan lainnya tersenyum

    Langkah rapuh dalam tirai bening
    Memasang logika di tiap tapaknya
    Nurani menjerit pilu
    Diamnya….membelenggu senyap
    Baginya…dunia bukan miliknya

    Malaikat hitam tertebas sayapnya
    Menggelepar di sudut trotoar
    Menghiba sekeping asa…
    Dia terbuang…dijejalkan di tumpukan sampah
    Merintih…
    Sadarlah kawan…kau hanya sosok lalu

    Mercusuar berdentum…
    Membelah kelopak malam
    Menyatu dengan samudera hening
    Nafas itu…relakan berlalu

  14. ==Sejuta Kata Tak Terucap==

    sejuta kata tak terucap
    milik pujangga lapuk
    lidah nya kelu tertekuk
    rima puisinya luruh…terkubur

    sejuta kata tak terucap
    milik pecinta lemah
    menangisi kelemahan
    enggan mecoba tuk bersinar
    biar ia redup…itu pilihan
    bukan sebuah garis tangan

    sejuta kata tak terucap
    milik jiwa pecundang
    menggaris batas dalam hidupnya
    seolah dia m…aestro takdir
    poros bumi masih berputar kawan…
    berjalan…atau tergilas
    itu adalah pilihan….

  15. ==Indonesiaku…Dulu==

    Tahukah kau kawan
    dulu hijau indonesiaku
    tanah lapang tuk semua insan
    sepotong tanah merah
    cukup tuk seribu nafas
    bening air
    hidupi tiap nyawa
    khatulistiwa menyunggingkan senyum

    Tahukah kau kawan
    dulu…
    air mata darah
    tak pernah tercurah di negeriku
    tak kulihat bayi-bayi buncit
    menangis…tenggorokannya memerah
    para penabur padi
    tidak mati di atas lumbungnya

    Tahukah kau kawan
    Sungguh ajaib zamrud ini
    tongkat kayu pun
    mampu menegakkan ratusan pulau
    patu kerikil kenyangkan perut

    kini…
    menara baja tak mampu
    menahan gelombang pasang
    bumi hijau ku jungkir balik
    bambu runcing telah patah

    Siapa yang benar
    Siapa yang durjana
    DIa yang merana
    Dia yang terhina
    semua serba buram kawan
    Mungkin hanya DIa yang tahu…

  16. ==Opera Muka Bumi==

    Tatapan sinis matahari
    Membakar tengkuk jalanan
    Memerah…lalu terbakar
    Perlahan aspal jalanan pun meleleh
    Detelan oleh perut bumi

    Pohon-pohon botak
    Bersuit-suit senang
    Hanya sejenak
    Hanya sekejap
    Lalu terdengar teriak keji
    Dari pucuk-pucuk daun
    yang kini melebur jadi abu

    Dan kini udara mengejek
    Dengan wajah cemong
    Penuh jelaga bau
    Hanya sejenak lagi
    Hanya sekejap lagi
    Karena udara menjerit
    Tercekik..lalu pudar
    Hanya jelaga bau
    Yang tersisa menggantinya

    Kini saat manusia tertawa
    Bangga dan pongah
    Lagi-lagi hanya sejenak
    Lagi-lagi hanya sekejap
    Karena mereka leleh layaknya aspal
    Mereka jadi abu bagai dedaunan
    Dan mereka tercekik tak beda oleh udara

    Lalu tangis kosong
    Mengucur dari hati mereka
    Terlambat….Sangat terlambat….
    Karena tirai panggung
    Telah diturunkan

  17. ==Kawan…==

    Ingatkah kawan
    Dahulu kita menjadi sahabat
    Hanya dengan sebuah tautan jemari
    Tak perlu ego diri
    Tak butuh lingkaran materi

    Coba renungkan kawan
    Saat duka larut bersama tawa
    Ketika kita berkejaran di atas tanah tercinta
    Di bumi terindah
    ya….begitu indah

    Rasakan kembali kawan
    Kita pernah terluka dalam mimpi menjerat dunia
    Namun kita tetap berdiri
    Dan tak berhenti tuk yakini
    Semua pasti nyata
    Semua akan nyata

    Kini kunanti kau kawan
    Tuk satukan hati yang tercerai
    Memastikan dunia tak kan terbelah
    Bersama kita ratakan jurang tak berguna
    Dan mari buka fokus dunia
    Bahwa kita ada
    Bahwa kita sama
    Dalam cinta dan kasih Nya

  18. ==Sobat==

    Hei sobat
    Berjalan kita di depan keangkuhan
    Bersatu kita dalam rasa tanpa arah
    Ego adalah harta kita
    Genggam erat tanganku
    Dan kita raih mimpi yang berpijar
    Satu-satu nafas kita meregang
    Tapi jangan kau lepas genggaman ini
    Karena kita satu dalam harap

    Hei sobat
    Jalan kita terlalu terjal
    Memerah dan membara kita laluinya
    Langkah berdarah tak kan hentikan kita
    Maju dan tiada pernah gentar
    Hingga esok kan tersenyum
    Menyambut kita

    Hei sobat
    Mungkin waktu kan hancurkan kita
    Dan raga kita harus mencair
    Melebur dalam sungai tak bermuara
    Namun percayalah sobat
    Hatimu dan hatiku…
    Tetap kan satu dan utuh

  19. ==Kesaksian Sebutir Peluru==

    Seandainya saja
    Diriku ini memiliki nurani
    Tak kan ku renggut
    Tawa bahagia dari wajah-wajah itu
    Tak kan kurebut
    Jiwa tak berdosa
    Yang terdiam dalam damainya
    Pangkuan sang bunda
    Serta menggoreskan tangis
    Di gurat wajah mereka

    Seandainya saja
    Diriku diperbolehkan berpikir
    Tak kan kuturuti
    Nafsu manusia yang lalai
    Yang memerintahku
    Tak kupedulikan
    Perintah-perintah biadab itu

    Seandainya saja ya Allah
    Engkau menghendaki
    Diri ini tuk bersaksi
    Akan kutunjukkan pada Mu
    Siapa yang beringas
    Siapa yang tertindas
    Kan kutunjukkan
    Jiwa-jiwa yang terpuji
    Dalam rengkuhan perbuatan keji

    Seandainya saja
    Diri ini sanggup berkata
    Kan kulafalkan syahadar
    Bagi raga-raga itu
    Yang berseru takbir perjuanga tiada henti
    Dan kini terpuruk
    Karena ku dan kaumku
    Akan kulanjutkan dzikir mereka
    Yang harus terputus
    Seandainya saja….

    (tribute to Gaza,Palestine)

  20. ==Sebuah Sajak Untuk Bunda==

    Bunda..
    sebuah sajak biru ku tulis kan untukmu
    Membaur dengan linang tangis bukan pilu
    Nyatakan sebuah rasa tulus tiada tepi

    Bunda…
    Kau relakan sepenggal nafasmu demi hidupku
    Kau sisihkan tangismu untuk tawaku
    Dan tak ragu kau jatuhkan peluhmu
    Tuk wujudkan bahagia ku

    Bunda…
    harapku terlelap dalam pangkuanmu
    saat kuterjerembab dalam puing kepedihan
    Karena di sisimu…kurasa pendar kehangatan
    Yang kuyakin tak lekang oleh zaman

    Bunda…
    Pinta maaf ku tuk setiap butir air mata sucimu
    Karena lalaiku
    Karena ego liarku
    Dalam simpuhku di mana surga bersemayam

    Bunda…
    Kuyakini kau adalah malaikat Nya
    Tuk temaniku yang tersesat dalam sepi
    Menjagaku dari kerapuhanku
    Dalam cintamu yang tiada henti
    Membimbingku menuju cahaya cinta Nya

    (Tribute to My Lovely Mother)

  21. ==Sepetak Surga==

    Berjalan ku dalam dunia tanpa arah
    Berjejer bunga-bunga indah
    Sangat indah…
    Coba ku wujudkan dalam genggam
    Namun hati ini meradang dan berdarah

    Ku terpana…
    Keindahan itu mencengkeram udara membara
    Dan sosok-sosok rapuh…
    Hanyut dalam buainya….semu
    Dusta dan kemunafikan
    Bermesraan di lorong-lorong

    Serasa terbakar mata ini
    Ku tapakkan langkahku
    Dan kutemui sepetak surga
    Dalam keremangan senja
    Di antara duri dunia

    Jiwa yang teduh dalam senyum
    Menuntunku bersemayam
    Berlabuh dalam damai-Nya
    Menjelma rasa dihati ku
    Dalam sebaris dzikir yang mengalun perlahan
    Dan ku tinggalkan hatiku…
    Dalam sepetak surga itu…

  22. ==Dia==

    Dia…
    tak cukup ribuan kata
    dari jutaan pujangga cinta
    merekamnya dalam bait
    menyematnya dalam rima..
    tinta pun tak kuasa
    menjejak indah dirinya

    Dia…
    sepotong rusuk yang tertinggal
    kini lengkapi kisah..jadi satu dalam makna
    belahan nafas yang terlepas
    merengkuhnya dalam mimpi

    DIa…
    kisah yang tak terucap
    biar kita menyatu
    dalam lorong waktu
    dalam celah ruang bumi
    menjadi semu…

    DIa….
    Dia…
    Dia…

    Sentuh hati ini…

  23. ==1000.10010.01111.01111.00001.01101.01101.00101.10010==

    Kami adalah seniman tak berpena
    Menderas baris sajak
    Bagi mereka hanya angka
    …Bagi mereka hanya aksara
    Rima dari simfoni tak nyata

    Kami adalah seniman tanpa pahat
    Penempa pedang bermata dua
    Kamilah integrasi gelap terang
    Yin…memeluk Yang…

    Kami adalah seniman tanpa kata
    Memahami yang tak dipahami
    Mengerti yang terbuang
    Yang tak pernah mengeluh…dan berpeluh
    Kami…seniman dalam maya..

    (Sepenggal Aksara..bagi penerjemah 0 dan 1)

  24. ==Selongsong Waktu==

    Wajah merona itu kini memudar
    berpusar dalam senyum hampa
    dikeramatkan sang dunia
    direngkuh gelap lembab

    Dunia tetap menari dalam detaknya
    namun langkahku tetap terpaku
    dalam hening aku meraja
    dalam rerumputan gersang
    dalam awal tak berujung

    Aku dan bait kisahku
    menepi dalam aliran waktu
    terbelenggu…kunikmati itu
    cahaya benderang tertikam belati tajam
    dan kuhanya mampu meratap…
    dalam sepiku…dalam selongsong waktu

  25. ==Bocah-Bocah Baja==

    Menatap dunia muram
    seolah taman impian
    berlarian di atas bara
    menari dengan kegelapan
    ya…mereka sang penguasa sejati

    Mimpi mereka boleh diterkam zaman
    meronta-ronta dalam sanubari
    tapi ada mulut yang meratap
    ada perut yang berderap

    Tiap sudut nestapa
    adalah kisah yang terlupa
    mereka menertawakan kepedihan
    mereka sang pejuang di rimba metal

    Ratapan…tangisan
    secarik kertas yang mereka lindas
    tak cukup ruang untuk sesak
    tak cukup waktu tuk menjerat nelangsa
    hidup dalam tatapan sinis dunia
    ya…mereka tak kan gentar

  26. ==Dalam Seutas Mimpi==

    Bumi berpusar liar
    bergolak tiap harap senyap
    manusia-manusia rapuh…meniti buih kusam
    ……tergerus segala untaian asa
    zaman telah berubah…zaman telah menerkam

    Kutatap langit tak bergeming
    masih kurasa biru itu
    masih berpijar bara mimpiku

    Kelokan jalan ini..
    meredam lentera yang redup
    mengikis harapan yang tlah runtuh

    Demi raut sang penginjak surgaku
    sumpah kutegakan dalam hati
    kan kurengkuh harap itu
    walau kayuhku patah
    walau perahuku patah

    (18 Agustus 2010….Dalam Gerbong Komuter…Dalam Jarak Menggapai Mimpi)

  27. ‎==Gaung Lapuk==

    Gaung itu masih terdengar olehku
    dalam riuh rimba plastik
    diantara derak baja membelah dunia
    …rentetan dentuman yang menghujam nafas putih

    Menelisik sekeping hatiku
    tentang darah yang membasuh intan
    tentang jiwa-jiwa yang berkobar
    tentang keperkasaan sepotong bambu

    Masih kurasa gaung itu
    terselip dalam raungan kesatria renta
    berjingkat di atas menara yang menebas langit
    refleksi super ego..para penggerak zaman
    terinjak kuda-kuda baja
    menggelepar di sudut gelap

    kata mereka merdeka…
    kata mereka terpenjara…

    (18 Agustus 2010-St.Wonokromo….sajak putra merah dan putih)

  28. ==Jingga==

    Siluet jingga..
    menerpa kisi-kisi hatiku yang buram
    menelisik sanubari yang meratap
    …merngkuhnya dalam hangatnya dekapan

    Riak-riak air menjamah lamunku
    terperosok jauh dalam bayangmu yang memudar
    menyisakan dering kepedihan

    Lukamu menggores jiwaku
    tiap butiran air matamu
    menghujam akalku
    mengaburkan anganku

    Karena kau sepucuk cinta di hatiku
    kau…jinggaku

  29. -Anak-anak pribumui-

    Dalam renungan malam pekat
    berkisah kami tentang mimpi pribumi
    tentang harapan petani lapuk
    …meretas arti tangis bayi-bayi khatulistiwa

    Sejuta angan dipeluk kabut pucat
    akan kelana bintag-bintang pias
    atas sebuah serpihan harap
    di tangan para penjilat dusta

    Ini tentang tana moyangku…kawan
    ada bara merah dalam nadi kami
    ada selembar jiwa patriot tertanam
    terhempas…ditebas roda zaman

    Ini bumi kami kawan
    Ini tanah yang dibayar darah dan jiwa
    akankah kita tetap membisu…
    menatap tanah yang kini mulai terbelah…

  30. ‎==Serenada Ujung Waktu==

    Dalam bias jingga yang menghitam
    sosok renta mengais sisa nafas
    meniti jalannya yang kian beku
    …cukupkah kisahnya
    cukupkah mimpinya

    Seleret doa menderas dari bibirnya
    mengharap sekeping derma
    namun langit telah bergeming
    bayangnya t’lah terhenti
    tak mampu lagi menatap sorot mentari

    Dalam rintihan..tangisnya terurai
    asma-asma paling indah dia kumandangkan
    namun kilau itu bukan untuknya
    indah itu bukan saatnya…
    menantinya…di ujung lorong membara
    menantinya…saat dia t’lah melebur tulisannya

  31. ……..

    Tiada kata tersirat
    Mengikis lembaran kisah yang senyap
    Aku menebas masa-masa bayangan
    Ketika kurasakan dingin pagi
    Masih meremas punggung telanjang
    Itukah kau pemilik kata
    Dari pusaran hati kau bertahta

    Sang pujangga kehilangan baitnya
    Saat surya telah disampingnya
    Merasa bulan mendekap erat tubuhnya
    Melepaskan semua aksara
    Hanya cinta…yang ia rengkuh dalam hasrat

    Kutelanjangi anganku
    Siapa kah pengunci jawab liar ku
    Akankah kutemukan dalam semu hari ini
    Imajinasi seolah mengejek galau hati
    Meninggalkan selongsong beku
    Ya…aku kehilangan bait-baitku

  32. Sudah lama jemari ini tidak memainkan rima
    seolah hati dan tangan ini tak lagi seirama
    kebisuan hati yang kini tak bersuara
    mungkin karena roda dunia yang terlalu cepat berputar
    sehingga bahkan mimpi pun tak lagi indah dalam pena

    Pujangga yang terbungkam
    sajak dan cintanya entah kemana
    tersembunyi dalam aliran rutinitas
    hambar,namun dia menikmatinya
    layaknya sungai tak bermuara
    hatinya dibiarkan lepas..bebas

    Lembaran kertas kehilangan tintanya
    bayangan rembulan merindukan hadirnya
    dalam temaram senja mengais tiap kata
    kini dia dan dunianya berlainan
    berganti kisah dengan yang lain

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s