Komunitas Pecinta Puisi

Adakalanya kita perlu menangis agar kita tahu hidup ini bukan sekedar tertawa. Adakalanya kita perlu tertawa agar kita tahu betapa mahalnya nilai airmata

FERRY ARBANIA



Semerbak Sayang
by: Ferry Arbania

Ciumlah aku dengan miskinnya kata
jangan pergi sebelum fajar berucap jingga
sebab telah kutandai dinding hatimu dengan lencana
dan puisi-puisimu yang telah lama menyimpan benih rinduku

ku nyatakan lagi takjub ini padamu
menara hati yang menjulangg diangkasa daun
telah kupetik mimpimu
sembari menciumi semerbak aromanya pada kalbu

malam ini kusaksikan gelombang petik laut berkibar kembali
menemani ritual jiwa yang hangat dihantar bianglala surgawi
lalu, kucelupkan getar dada ini pada kolam wajahmu yang nyaris sempurna
duh, mataku terkantuk pula didada benua

wahai cinta
laut dan gelombang cahaya
dimanakah cinta ini mesti kupahatkan lagi
sementara bidadari ini, begitu hangat menggodaku?

Sumenep, 16 Mei 2011

menghantar kelopak jiwa ini serasa bergemuruh
menahan jerit pukau
pada lentik dan rekah bibirmu
yang kurasa menguntum dalam mabukku

mendekatlah permaisuri hatiku
jangan biarkan angin malam mengangkangi wajah bulan
telah kusiapkan lagu-lagu kesukaanmu
sajak-sajak Basrah yang menggigil
atau pada auramu yang menguning dalam do’a suci

bergegaslah…………..

merunduklah pada tegarnya pohon jati
lantaran ceruk malam memahkotai hati dengankekayinan
jangan hiraukan desah daun yang memanjang diranting akasia itu
dengarlah melody kesungguhan ini
denting iramanya telah melahirkan suara Daud
mendiamkan resah pada puisi-puisi kita
syair kehidupan yang digembalakan
seperti pintamu pagi itu
mengajakku bernyanyi dalam riuh gitarku yang mangsai……….

lambaiang kain itu sepertinya telah mengijinkan jemari yang lain
untuk mengusap peluh yang melepuh
pun juga angin yang sesekali menyelinap dalam kantuk
kutemukan semerbak rasa
menyerteku
memaksaku
membopongmu ke ranjang bulan…………………

tidurku tersekap hasrat
dekapmu……………………….

18 thoughts on “FERRY ARBANIA

  1. Setangkai Sajak Melati

    Seumpama melati
    kucari engkau ditaman asri
    kubingkai rasamu dan asaku menjadi satu
    lalu kuikat semerbak cinta ini dengan kesetiaan

    Seumpama Melati
    kucintai engkau dengan separuh sajak-sajakku
    dan separuhnya lagi dengan jiwa
    kuharap tak ada yang pergi
    keculai untuk saling memadu

    Seumpama Melati
    kuabadikan abjad-abjad namamu
    dalam kanvas darah dan airmata
    memesraimu dalam aksara jelita

    Melatiku, peluklah aku
    sebelum sajak-sajakmu kuhabiskan disecangkir kopi.

    Madura, 31 Mei 2010 (Hari Dunia Tanpa Tembakau)

  2. Tasbih Musik Siwalan : “Lautan Tasbih ”

    Tasbih Musik Siwalan : “Lautan Tasbih ”

    Karya : Ferry Arbania

    Persembahan: Tasbih MUsik Siwalan.
    سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيم
    “Lautan TAsbih”

    “Dan bertasbihlah kepada-Nya ketika pagi dan ketika petang”
    [Al-Ahzab: 42]

    Subhanallah, Maha Suci engkau Allah
    Maha bebas engkau dari segal ketidak sempurnaan
    Alhamdulillah, segala puji bagi Allah
    Subhanallah, Maha suci engkau ya Allah, yang telah memandikan kami dengan cahaya, menidurkan kami dengan diwali kantuk, melaparkan kami saat hendak menelan anugerahmu.
    Alhamdulillah, selaksa pujian hanya untukmu, yang telah melegitimasi Muhammad sebagai suri teladan, dan menjadikan ajaran-ajarannya sebagai lentera dalam kegelapan hati dan pikiran kami. Puji sukur atas segala karunia-Mu. Yang senantiasa menyalkan jiwa kami yang pulas dalam keserakahan, hingga berbondong-bondong kami merentangkan sayap kebersamaan, mengibarkan panji-panji persaudaraan, meski pada kenyataannya kami saling mengasah pedang, memanjakan senapan demi sebuah kekuasaan. Padahal kami tahu tidak kau benarkan. Alahmdulilah ya Allah, engkau masih member kami pintu harapan. Saat lobang kegagalan menganga disetiap jengkal usaha kami. Engakau Maha layak untu kami puji. Maha Memilih atas segala pilihan. Karunia-Mu tiada terkira, ampunan-Mu tak terlukis dengan aksara, begitu luas dan Maha Penebus dosa-dosa.
    Alhamdulillah walhamdulillah,

    “Dan orang-orang yang ingkar,
    amal-amal mereka laksana fatamorgana di tanah yang datar,
    yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga,
    tetapi bila didatangi air itu
    tidak didapatinya sesuatu apa pun.
    Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya,
    lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup
    dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya.
    Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam,
    yang diliputi oleh ombak,
    yang di atasnya ombak pula,
    di atasnya lagi awan ;
    gelap gulita yang tindih-bertindih,
    apabila dia mengeluarkan tangannya,
    tiadalah dia dapat melihatnya,
    barangsiapa yang tiada diberi cahaya oleh Allah
    tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun.”

    – QS Al-Nur [24] :39-40 –

    Subhanallah walhamdulillah
    Adalah setangkai kalimat keagungan
    yang mempertegas ketidak samaan antara engkau dan aku
    yang begitu serakah Engkau yang Maha Pengasih

    Subhanallah, Maha Suci Engkau dari sucinya kami yang bersuci,
    betapa suci engkau,
    Betapa tak mungkin kami samakan kehambaan kami dengan-MU
    Engkau yang kholik
    Dan kami yang mahluk
    Memelukmu dalam tasbih
    Menanti-Mu salam sejadah panjang pengharapan.

    Alhamdulillah, Segal Puji bagi-Mu
    Hanya Engkaulah yang sanggup meluluhkan segala kekuasaan dan kesombongan kami,
    Setiap waktu, setiap saat kami berkumpul dalam keteguhan sujud dan do’a-do’a, membangun percakapan dzikir dengan sembahyang, subhanallah wal hamdulillah…………

    Kami menghamba dengan segala sifat ketidaksempurnaan kami padamu ya Allah inilah tasbih pujian terindah, untuk mensucikan dan mendudukkanketidak terpujian kami dengan tahmid atau hamdalah.

    Tasbih kami adalah pernyataan kami
    yang dipenuhi dengan ketidak berdayaan
    memuja-Mu yangSang Maha Sempurna.
    ENgkaulah yang menciptakan semesta
    Kami bernapas Dengan tahmid
    mengakui tak ada yang Maha Kuat melainkan Engkau yang Maha Pemurah
    Engkau menciptakan kami dari ketiadaan menjadi tiada dan kembali tiada
    kami mengakui-Mu sebagai sumber segala kebaikan.
    Kami semua disini,
    dibilik jaman yang merapuh,
    senantiasa mengagungkan ajaran-Mu
    karena Engkaulah yang senantiasa mengajarkan setiap ciptaanmu
    untuk senantiasa bertasbih dan bertahmid:

    “Langit yang tujuh,
    bumi dan semua yang ada di dalamnya
    bertasbih kepada Allah.
    Dan tiada sesuatu pun
    melainkan bertasbih dengan memujinya,
    tetapi kalian tidak mengerti tasbih-tahmid mereka.
    Sesungguhnya Dia Maha Penyantun, Maha Pemurah.”

    – QS Al-Isra [17] ayat 44 –

    Tasbih dan tahmid adalah aktifitas kognitif,
    menyempurnakan pengenalan kita dengan Allah
    mengakui kemakhlukan kita yang spesifik.

    Tasbih adalah sinergitas moral,
    menuju keagungan moral Allah yang ditegaskan oleh para makhluk
    Tasbih adalah romantisme yang dibangun makhluk
    menghubungkan diri kepada Yang Maha Dibutuhkan.
    Meski pada kenyataannya, kita sering ingkar
    Kita senantiasa bertasbih dan bertahmid
    Untuk perjalanan kemakhlukan
    Demi Berbagi dalam Kemuliaan dan Keagungan Sang Pencipta.
    Lantaran kita tak bisa dengan sendirinya mengenal Allah
    Kecuali dengan bantuan-Mu sendiri
    Wahai Engkau dzat yang Maha Memiliki Segalanya.
    Engkau adalah cahaya langit dan bumi.

    “Dan orang-orang yang ingkar, amal-amal mereka laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatangi air itu tidak didapatinya sesuatu apa pun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya. Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak pula, di atasnya lagi awan ; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, barangsiapa yang tiada diberi cahaya oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun.”

    Ya Allah,
    Engkaulah Sumber segala Petunjuk,
    pemilik para penunjuk,
    Pemilik risalah dan kami telah menjadi ahli waristnya
    Dan telah ditunaikan melalui para kekasih-MU
    Para Rasul dan pewaris-pewaris lainnya,
    Tetapi kenapa, kita masih saling menghakimi dan berpecah belah dalam kerakusan, kita telah menjadi tuli dan seolah-olah mengunci hati dengan nafsu kebinatangan kita, lalu menutup rapat jendela-jendela gelap. Hingga halaman depan, belakang dan kanan kiri kita dipenuhi dengan pagar penindasan dan ketidak adilan. Bukankah Tuhan tidak pernah menginstruksikan kita untuk merusak tatan social dan kemanusiaan.

    Madura, Mei 2010

  3. Kidung Musyafir

    kurasakan sukmamu bernyanyi dalam irama pasir
    yang bertasbih dipantai cinta
    sembab pandanganmu
    seketika berubah jingga
    mengajakku bersiul dan bernyanyi dalam kidung asmaradana

    sore yang begini sepi
    saat panorama rembang senja hari manari dilangit majasku
    kutemukan rajukmu seperti ombak
    mengulum buih yang letih
    dan melempar asinnya laut pada ikan-ikan tanya
    “Bisakah kau merajuk dalam pintaku yang putih..??”

    Madura, 31 Mei 2010

  4. Riuh Musim

    Seumpama sayap melati yang terbang dilembah kalbu
    kau taburkan pesona dialtar jiwa yang putih
    lantas kau seret sukmaku tenggelam dilaut rindu

    Sementara diatas langit pengharapanku
    angin bersemi dalam lentik musim cahaya
    dan sandarkan gelisah ini padamu
    hingga jemari bertukar hangat
    mengadu decak kagum
    pada debar
    didada
    akh,
    kau
    d
    a
    n
    aku
    ternyata adalah satu.

  5. PROKLAMASI CINTA

    Kita Memang tak perlu bicara
    sebab mata telah sama-sama membatin

    kita memang tak perlu bicara
    karena ini bukan diskusi politik dan birokrasi

    kita perlu bicara,
    jika tawa telah melahirkan renyah dan desah
    untuk kita perjuangkan bersama]
    menjadi PROKLAMASI CINTA………………..

  6. Larut
    Ferry Arbania

    Makin larut saja hati ini
    tenggelam dalam peluh rasa
    bertukar kabar dengan hati dan pikir
    sejenak,
    bahkan berlama-lama dengan keyakinan
    kutemukan wajah ini berselimut mangsai
    lalu kutengadahkan pandang pada langit
    kutanya sepi
    kau jawab ilusi
    ku pinta rindu
    kau jawab abu-abu
    lantas kupetik bintang dikeningmu
    ternyata hati berbuah bulan
    duh ritme hati yang basah
    “Mengapa larut dalam gairahmu”

    Madura, 14 Juni 2010 disebuah Pemilukada

  7. Indonesia Kata

    Begitu dekat
    begitu memikat
    suaraku tersekat
    Indonesia berkarat
    dalam lumut puisiku yang muncrat……….

    (20 Juni 2010 1.16 Di sebuah dini hari yang menari)

  8. puisipuisi mu semakin indah Fer !

  9. Gerai

    Gerai malam berderai
    menabik salam dalam kisah duri
    yang sesekali menusuk hati

    gerai
    lekat
    hingga pekat

    aku tak paham bahasa-mu kekasih
    kecuali telunjukmu menunjuk keulu hatiku
    malam ini…………….

  10. Tak perlu lagi menitik air mata
    lantaran ibu tak berair susu lagi
    pulangkan saja nafsu pada krikil malam
    lalu kembali pada rengkuhan sujud bumi

    langit-langit do’a
    Kepulan asap dupa
    dan hembusan angin dilangit Jakarta
    menidurkan lelahku ditunjuk timur madura

    Tuhan
    betapa tak bersalah lagi dosa-dosa
    saat cinta-Mu merontoki dengkur debu di nadiku
    yang berkarat

    hingga kupalingkan muka ini pada lentik simponi
    mencarimu dialtar kesucian
    dengan cahaya cinta
    dan air mata yang tak berucap

  11. Sarankan teman untuk bertaut
    biarkan yang lain berbagi waktu
    disini aku menunggumu
    dengan sempalan mimpi para bidadari

  12. rini intama :
    puisipuisi mu semakin indah Fer !

    …….mksh ya rini…puisi jauh lebih mendayu-dayu disukma …..

  13. Ferry Arbania :

    rini intama :
    puisipuisi mu semakin indah Fer !

    …….mksh ya rini…puisimu malah jauh lebih mendayu-dayu disukmaku, lbh berasa dekatnya …..

    Ferry Arbania :

    rini intama :
    puisipuisi mu semakin indah Fer !

    …….mksh ya rini…puisi jauh lebih mendayu-dayu disukma …..

  14. Aku Datang
    by: Ferry Arbania

    Kutanam resah pada kantuk
    kueja engkau dengan indahnya pengharapan
    betapa tak kuasa menahan rindu
    saat jemari tak lagi meraba disukmaku

  15. Biarkan cinta menyala
    Episode Jingga

    …biarkan cinta mengembara
    biarkan laut berwarna api
    aku tetap duduk disini
    menemani secangkir kopi
    sambil mengakrabi bait-bait manja
    yang bersederet di rekah bibirmu…..
    (Surabaya,Sabtu Malam disebuah Notebook Kecil Berwarna Merah Jambu)

  16. Kukapak Saja Negeriku
    by: Ferry Arbania

    Kukapak saja wajah negeriku
    biar merahnya memerahkan merah benderaku
    lantaran putih cinta tak jarang dinodai
    kapal-kapal pelecut laut ditenggelamkan
    asahan maut dan lempengan janji-janji politik memuak dikepala
    dayu angin
    merayu
    membiru pula kapak cinta

    kukapak saja wajah negeriku
    melubangi sisa jantung yang masih berdenyut di istana negara
    lalu kubacakan ayat-ayat suci dan kursi
    sambil berharap, kau datang padaku sebagai Pertiwi yang baru

    jika harus kukapak wajah negeriku
    dengan kapak apa lagi mesti kuenyahkan luka bangsaku??

    Sumenep, 18 Des. 2010: Untuk Para Buruh Yang Tak BIsa Lagi Berburuh

  17. SAJAK NOL SAMPAH
    by: Ferry Arbania

    suatu ketika
    saat matahari telah merontokkan daun-daun dan gaun kecantikanmu
    kuyakin bumi akan terkesiap dalam keriput ambang batas dan sendu
    seperti juga akan menitipkan senggama pada air mata

    wahai ketinggian dan nyala api yang menjulang di hati
    masih panasnya cemburu membakar rumah-rumah cinta
    sementara peluk cium dan desahan jiwa kian tak berirama
    lantas pada siapa lagi kualamatkan birahi ini.

    Tuhan diam-diam talah mengembalikan muasal aku
    dan kau tetap bersikukuh pada mudamu
    memoles bibir dengan rayu dan gelitik syahdu
    hingga tanpa sadar, kau renggut kelaminku dengan sembilu

    Jawa Timur, 18 Mei 2001

  18. indah…
    aku suka mas…
    sedikit mengobati rinduku padamu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s