Komunitas Pecinta Puisi

Adakalanya kita perlu menangis agar kita tahu hidup ini bukan sekedar tertawa. Adakalanya kita perlu tertawa agar kita tahu betapa mahalnya nilai airmata

3 thoughts on “INRAINI SYAH

  1. Episode Berlalu

    Hari yang berlalu, memberimu kesempatan,
    Dan kejutan tentunya…
    Please, tak usah munafik atau bergaya seperti gayamu yang kau usung selama ini….
    Coba kutebak :
    Kamu termenung, tercekat,
    dan teringat kenangan
    lalu harap yang pernah ada.

    Harap yang kau lepaskan dengan manis, tanpa penyesalan ataupun keinginan untuk memperjuangkannya.

    Tokh, aku atau dia sama saja.
    Seseorang yang diutus Tuhan untuk menemani harimu dan menjadikannya utuh.
    Aku tak perlu harus aku di jalanmu.
    Coba kupahami walau ternyata…

    Ternyata… aku terlanjur punya mimpi.
    Sekali saja di hidupku, jadi putri…
    Yang berdiri di menara tinggi …
    Dikawal naga api, menanti sang pangeran pujaan hati datang dan menghampiri.
    Berjuang demi aku…
    Berkorban demi cintaku…

    Dan kamu malah meninggalkanku terpuruk sendiri,
    Menunggu menanti…
    Tanpa pernah melihatmu kembali lagi…
    Akh, padahal aku telah memberimu banyak waktu…
    Banyak kesempatan…

    Yang kau sia-siakan….
    Inraini Fitria Syah April 10 at 12:09pm
    meminang cinta musim berlalu

    hanya andai saja, masa’ tak boleh….
    berharap mungkin kejatuhan pinang emas yang bisa kugadai dengan sisa cintamu yang tak jelas. Merambat di sela tanaman hutan yang tumbuh menutupi bekas-bekas namaku yang kau ukir dengan tinta biru jingga di tepian karang pantai padang. Banyak ilalang! Ya, penuh kutukan dewa dewi yang kusuguhkan teh wangi melati yang kupetik telah lama sekali. Baunya tak enak di hati. Rasanya tak nyaman dihayati. Tapi masa’ berandaipun tak boleh….

    Aku Ingin Menjadi Perawanmu Dalam Hikayat Seribu Satu Malam

    IinSyah

    kau hanya tersenyum samar lalu menggiring senyum tawar itu
    ke arah Matahari tenggelam
    senja semakin dalam
    aku terdiam
    Berkecamuk tanya tentang perjalanan tak sudah,
    Tadi pagi yang gelisah…
    Menggantikan gemulai tarian subuh hingga ke singgasana yang rapuh
    Intipmu membuatku lusuh dan merayap mencari kisah mana yang sudi kuperdengarkan lagi padamu
    Ada harap aku inginmu
    Di penantian pagi yang membunuh.

    Aku ingin menjadi pengantinmu di kutub utara

    Lalupun melempar pandangmu sejauh awan
    dan membekukan uap air menjadi salju di kaki langit
    Langit tenggelam
    Tersudut dingin aku terhempas
    Dalam
    Menikam parau dan mati rasa
    Mati hati
    Puas mengengggam biru di telapak
    Puas menegak galau kehampaan
    Puas membidik titik di sudut mata rasa
    Kau…
    Ada pinta aku pujamu
    Di putaran badai menggulung desau

    Aku ingin menjadi ratumu dalam perjalanan menjemput purnama di Alkautsar

    Kau beranjak ke tepian karang dan menggenggam surau-surau hatiku yang meluruh
    runtuh…
    Seperti hendak kau buang utuh ke tengah gulungan buih putih benyanyi
    Laut meradang
    Aku tenggelam….
    Di perang penghantaran jiwa dan akal sehatku
    Bergumul antara janji dan ratapku
    Meredam gusar dan akhir waktuku…

    Aku ingin menjadi Surgamu yang satu dan keseribu

    Separuh waktu terdiam dalam tiada apa-apa…,
    Tapi lalu benarkah…,
    Perlahan,
    Kau mengeja terang,
    mengikat senja ke bulan
    merajut sinar bintang-bintang
    Agar malam berbenang jingga dan silau,
    Aku terdiam…

    “Aku ingin menjadi hikayatmu seumur hidupku”… bisikmu…

    Senja terbenam di pelukan…

    Potongan Sajak Sederhana
    dari Pohon Kamboja yang Berbunga Rindu dari Dahannya
    yang Patah, Layu, dan Akhirnya Jatuh ke Tanah di Tepi Kubur Rinduku

    bertemu kau di waktu yang tak tentu
    terkurung ruang dan dengung pesawat terbang
    kupandangi kamu dengan pandangku yang rindu
    Sumpah, aku rindu
    telah lima tahun kita tak bertemu
    mana tatapmu yang jenaka dulu
    candamu yang menyebalkan itu
    tampangmu yang membosankan saat dulu
    ungu hatiku menatapmu
    menatap kisah tak tentu dari lakon berdebu

    bersua degup yang semu,
    aku rindu
    kenapa kini baru kita bertemu
    padahal puluhan musim telah berlalu
    kau dan aku hanya diam membisu
    aku memilin ujung bajuku
    menunggu kau menyapaku mengajakku berternak ragu
    hingga semua gaunku berubah jadi buluh perindu
    tak jua kau memanggilku untuk meragu bersamamu
    sedang dirimu menghabiskan waktu dengan menghitung jemu
    hingga penuh utuh seluruh keluhmu tak sekalipun kusentuh
    puh!

    dua langkah di depanku
    serangkul di sampingku
    menjinjing tas berat yang kusangkutkan di bahumu
    dan menggandeng lengan bocahku yang mendengus aneh melihat rupamu
    aku tersenyum dan tertawa kecil menengok adamu
    rinduku menunggu seratus tahun ke depan luruh
    di pintu pembatas sapamu dan pergiku
    cukup sampai di situ

    aku berlalu
    menerbangkan asaku serupa awan kelabu
    menebar benih kamboja yang tumbuh juga satu-satu
    mengubur rinduku di hijaunya rasaku yang telah berabu
    menunggu jika nanti kita bertemu
    aku menjadi bunga kamboja yang layu
    dan kamu memungutiku di samping makam rinduku
    tak apa
    telah puas sendu aku menatapmu
    dalam rindu yang tak kunjung sembuh
    hari itu sampai satu abad penuh
    selalu….

  2. Rin, tampilan baru blognya keren!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s