Komunitas Pecinta Puisi

Adakalanya kita perlu menangis agar kita tahu hidup ini bukan sekedar tertawa. Adakalanya kita perlu tertawa agar kita tahu betapa mahalnya nilai airmata

KI GAMBUH


BEGINILAH CINTA [KUMPULAN PUISI KIGAMBUH]

Untukmu kupinang….

Bila saja boleh kuwakili sgala
Duka nestapa
Nyeri duri
Nganga luka
Cukup aku saja

Aku tidak cinta sekedar
Aku tidak rindu sejengkal
Aku tidak rayu menggombal
Cukuplah senyumku gemetar tanda

Beginilah cinta
Tanpa muka marah memb…uncah
Tanpa netra membrutal
Tanpa airmata mengumbar
Maka cukup aku kemesraan

Beginilah cinta
Binar binar menyinar
Dendang dendang melalanglang
Maka cukup aku memancar

Beginilah cinta
Kekasih tanpa gusar
Kekasih tanpa hambar
Kekasih lembut sabda
Kekasih…

46 thoughts on “KI GAMBUH

  1. Kamaratih datanglah aku akan menyerah

    Disetiap lembar daun ,sinar bulan turun
    tonggoret bunyikan isyarat yang panjang mengalun
    di datar tinggi dan dingin penuh embun
    andai- andaiku membelai ayu kekasih lukisan

    di halaman berbunga bunga
    coba lari menembus malam yang mengepung bisu
    tawanan tak sempat lagi berdoa
    hanya mendamba surya ,dikamar sempit bisu

    kau datang…………………juga kamaratih
    dengan degup jantung rindu
    dengan sekaranjang harap
    dengan ronce bunga wangi

    kau datang juga……………… kamaratih
    bertahun tahun beku kau…….

  2. NERAKA SAMAR

    karang karang di otaku
    gunung gunung di hatiku
    liar meliar menjajah bening rasa
    cemari langit biru kesejatian

    dan kalian tampar aku
    dan kalian guyur aku
    disaat lelap tidurku
    dari mimpi mimpi surga

    ”dan kalian kenalkan api disaat bangun siangku”
    ”aaaaah…ah ternyata aku ada di neraka”

    lalu kalian kirimkan suara langit
    dan kalian turunkan hujan
    gerimis……………..
    mengiris……………

    ”aku tunggu kalian melukis pelangi”

    aku liat kalian mengulurkan tangan
    mencoba meraihku dari lobang yang menyala-nyala
    mengapa berontaku selalu ganggu
    ”meski dalam lobang ku coba merangkak naik”

    lalu kalian bisikan
    dengan penuh mantap sebuah rahasia
    ”neraka ada dalam surga”
    ”surga ada dalam neraka”

    [teater sanggar gambuh]

  3. DEBUR RINDU

    Debur rindu
    Menderu biru
    Ombak hampar menghampiri
    Gelombang angan inginkan hadir
    Meliuk liuk belai membelai

    Debur rindu
    Jangan beranjak dari hari hari
    Bersemayamlah pada lingkar setia
    Menginaplah pada ruang cengkerama
    Bercokolah dikayuh waktu

    Debur rindu
    Ku lukis wajah pada luas samudra
    Pada daun daun pada mega mega
    Pada setiap..dan setiap

    Debur rindu
    Memaku hayu asmara
    Merenda makna kenangan
    Memutar indah masa
    Mengusung kata pujangga
    Memasung dendam, merobek emosi

    Debur rindu
    Temani aku merindu…

  4. TAK HARUS KU TANGISI LAGI

    seperti mimpi yang semula tak pernah kuangankan
    mengalir saja dalam perhelatan laga hidup
    menyusuri lorong setiap.yang terkadang tanpa rambu
    pun aku masih pada sembah langkah ,yang walau belum sempurna

    waktu yang semula merindu,kini terbalut kemelut
    tawa yang semula mengunduh hasrat
    lentik yang berangkat membawa serta penat
    lembar lembar itu b e r a i kini

    ini adalah sabana keringku
    kemarau membakar hijau warna rindu
    bara marah sumpah menyumpah tumpah
    bumi pun gempa, menganga tanya

    menangisku tak ada arti lagi
    menghibaku tak mungkin lagi
    pintaku tak mungki lagi
    suarakupun parau tak bernyawa

    selembar hari gundahku
    pada malam tanpa mimpi
    pada ruang ruang dimana berbincang
    pada jenuh saat keluh

    tapi sungguh…………………..
    masih ada pagi yang menunggu
    masih ada udara yang membelai hela
    sungguh dan penuh

    ku kakatan pada diriku
    g e n g g a m l a h
    akhir dari sebuah jalan adalah awal jalan yang baru
    m e m b u m i l a h

    g a m b u h
    pada mesra jagad raya
    pada kehidupan yang hidup
    pada kedahsyatan cinta
    pada kidung kudangan cita

  5. B E R S E R A K

    Menggelincir kocar kacir mengocar acir
    Mulut menganga mengumbar sgala tanpa makna
    Terbahak bahak meledak,menggelembung dada angkuh

    Pikir kau sembah sembah merintang bentang menantang
    Meracuni pepudyan cengkerama mesra
    Menyayat rindu menggebu.

    Membunuh kebenaran tak segan segan
    Memborgol tangan tangan kemesraan
    Meluluh lantahkan jembar pemahaman

    Enyah saja…!!!
    Biarlah alir alurku..
    Biarlah darah semangat melaju
    Biarlah …!!!
    Jangan kebiri langkah
    Atau…..
    Terpaksa aku meludah serapah..,.?

  6. T E R P A S U N G

    teriakanku takkan kau dengar
    dalam ingaun panjang mimpi-hambar
    mata nanar yang semula binar sinar
    tertutup redup kelam ……..belukar

    terpasung lingngung
    terkungkung dalam bumbung
    lengkung ,cembung ,melengkung
    mengapung terapung diatas cita yang urung

    duh…………………………………………
    serpihan tulang tulang kuatku
    rontok pada seonggok lamunan belaka
    hancur-lebur tak terkubur
    cerai berai …..pada letupan sumpah

    ini hari tak menikahi ikrar
    ini waktu tak bersipadu dengan ruhku
    warna rindu enyah dari dada
    aku dimana………???

    berlari dalam lingkaran qeos
    atukah ini mati ………….??
    dimana wahai …………..??
    terikanlah ditelinga tuliku…!!!!

    angin….. tiup aku……semilir
    air…….. sirami aku,…dingin
    api…….. bakarlah aku..panas
    bumi…… jejakan aku….sadar

  7. Duhai… kalimat kalimat indah…
    meluncurkan kagum atasnya..
    terima kasih Ki !

  8. IDENTIFIKASI ZAMAN

    Polah pongah tingkah- meningkah
    bak dasamuka membelah- belah serapah
    centang perentang gumul- bergumul kata
    tindih- menindih megumbar serakah

    wajah Tuhan memburam di kalut peradaban
    kilah dalih berdalih orasi pembelaan.. [aku]
    menggelegar hingar bingar mabuk keunggulan.. [aku]
    mengkristal keringat demi pembenaran ..[aku]

    para pertapa kehilangan teduh ruang
    angkasa hitam menangisi kibirmu
    kesabaran bumi tak lagi kita sadari
    sepoi belai angin tak lagi kita peduli

    identifikasi zaman
    kebenaran tercekik kepentingan
    jahiliyah lembut selembut sutra mempesona
    wajah molek seronok menemu tenar
    paha paha mulus meraup dolar

    identifikasi zaman
    kesalehan tersungkur disingkirkan
    bringas culas menumpas,sirri sari mutiara fatwa
    warna warna pelangi tak termaknai
    kuda tunggangan,menunggangi

  9. Keterpurukan zaman…
    menyungkur menyerah pada keadaan.. hilangkan rasa !…

  10. Puisi2 ki gambuh kok ngungsi ng kene?

  11. Karna Tuhan ada dalam kesakitan

    Bisik itu lirih ku dengar
    Pergilah pada si miskin pemakan getir
    Tengoklah si sakit yang merintih ngilu
    Datanglah pada si haus dahaga air

    Belailah dengan tangan lembut sebenar tangan
    Lihatlah dengan penuh cinta dengan sebenar mata
    Duduklah penuh degup hingga hanyut
    Gerayanglah dengan jernih akal sebenar akal
    Lalu…
    Singgasana sesungguhnya ada didalamnya
    Cahaya sebenar cahaya ada didalamnya
    Bukan rekareka tapi wujud
    Bukan sekedar hadir tapi sebenar kehadiran
    Kerna Tuhan ada didoa,teriring lengking kesakitan

  12. Mata bukan sebenar mata

    Redam ku redam agar tak mengumbar liar
    Badai menggemuruh mendesak desak dada
    Mengepal tegang bara

    Picing matamu meletihkan pena
    Mata yang belum sebenar mata
    Merobek lembar jalan harap berjabat
    Tanganmu belum sebenar tangan

    Ku redam hingga padam
    Pada tangan kasih tanpa pilih masih rela
    Masih ada mata teduh yang membunuh brutalku
    Masih ada senyum ikhlas yang meruntuhkan amarah

    Kucongkel prasangka dari akarnya
    Ku tiup kelangit,agar hanya bintang kupandang
    Beninglah,hancurkan keruh air,agarku berkaca

  13. TAK BERGEMING

    Merinding tak geming
    Nur menyelimuti gigil bugil
    gagap kalimat dalam eja malam
    Tekuk tengkuk bungkuk,meringkuk,tiada daya

    Menyala jagad jiwa,tak kuasa prasangka
    Ini negri malakut hanyut melarut
    Pikir mengalir mengikuti dzikir
    Selebihnya tak sanggup kukata
    Bintang gemintang selaras rasa
    Geletar merambat dahsyat
    Tubuhku melayang ringan layaknya kapas
    Terhempas

    aku duduk diawan putih,cengkerama bintang
    Hanya cahaya.ya hanya cahaya
    Bibir pucat pasi tak menyela
    kagum ngungun menetes basah
    G e m e t a r

  14. Tiba tiba merindu wajah ayumu

    Ingin kutulis sederhana menjadi syair wajah sederhanamu
    Bibirmu menguntai bait bait
    Cumlorot sorot netra anggunkan kata
    Biar kupaku dipuisi rinduku
    Gairahkanku membaca lagi dan lagi

    Jangan pergi,dekap lumat merasuklah dalam kalimat
    Rambut berderaimu jadikan ranting aksara aksara
    Semikan hijau daun moleknya dengan senyum gemasmu
    Ranumkan buah maknanya dengan tutur ramahmu

    Ku peluk ayumu jangan ragu
    Menginap dikecup kuncup hingga rekah
    Rekat lekat jemari didesir tinta pena
    Ayuku..cairkan,lahirkan kosa kata penuh cinta

    Ayu…sederhanakan rindu,seperti sederhanamu
    Perawankan selalu asmara kita

  15. Siapa yang memerankan aku

    Andai memang sebuah takdir peran tak lagi bisa dipilih
    Apa yang kau lakukan?
    Andai takdir peran memang bisa dipilih?
    Keingina apa yang di inginmu?

    Perdebatan clasic yang tak usai dilaga kehidupan
    Gerutu untuk kau yang bergolak pada pilihan
    Diam untuk kau yang takut,bingung dihinggapi salah mendifinisi
    Ngambang,bimbang,tak hendak bagaimana
    Damai untuk kau yang faham memahami

    ”narimo ing pandum”
    ”menerima bagain peran”
    Kalimat sederhana,namun bukan sesederhana itu
    Memilih jalan adalah tugas akal
    Dan kau selalu saja bertanya
    kenapa aku harus begini
    Kenapa aku harus berperan ini
    Sedang aku memilih itu
    Sedang aku menginginkan ini
    ”wahai dengar”
    Bukan aku, yang membrondong usulan, pertanyaan,tapi kau!
    ”mana keadilanmu?
    ”wahai..!
    Afala ta’qilun?
    Apa kau tak berakal?

  16. MENUJU TELAGA

    Dimana telaga itu?
    Tolong antarkan aku

    Tlah lama kumengayuh bersimbah peluh
    Mencari arti mendaki mimpi
    Meretas kehidupan menggauli hari
    Namun kemana?
    Tak kutemukan jua telaga segar berair wangi
    Padahal malam tlah utuh dan kualiri

    Ah…
    Aku harap akan ada hari untuk menggenapi hati yang sunyi
    Redup malam sayup harapan
    Ke mana harus kutitipkan?
    Peganglah tanganku agar hadir tak lagi sepi
    Agar tegap kulangkahkan kaki
    Untuk telaga segar yang aku cari…

  17. LINGKAR LIAR (PUISI KI GAMBUH R BASEDO)

    Berputar di lingkar liar pikir membelukar
    Menggelinding bersama tanya berkobar kobar
    Acapkali kupergoki sosok berbaju tuhan
    Bahkan memperkosa tekad perawan

    Kemana
    Setelah kutinggalkan timur, mestikah gambuh
    Atau hanya terpana qeos menggemuruh
    kemana
    setelah memburu hantuhantu samar
    surga?suuur?gaaaaa? lalu lega? bukan!
    Neraka tak pernah mampir diangan

    Lingkar liar
    Bagiku setiap warniwarna adalah tuhan
    pantaskah mencaci,mencibir mengerdilkan

  18. Tuhan tak menghapus sejarah

    Ini jawabanku ketika DEBAT JARAN dengan gerombolan BETHARI RANDEDUGA, DURSURYANA DAN SENGKUINI
    Bersama Wadyabalanya

    Siang diremang pikiran yang jumpalitan

    Bethari randedugo,merayu bethara girumumet

    Tentang ambisinya merubah negari

    Mengemukakan pendapatnya berapi api

    Argumen nggladrah menggiring garang pedang pembodohan

    Kupikir kehadiranku akan mendapatkan tambahan ilmu jebul mung padu

    Dengan mulut penuh iler banger,dursuryana berkata,mentengkelek

    SEMUA YANG USANG USANG JANGAN BUDAYAKAN

    Dipojok ruang aku tersenyum

    Wo alah sursur lha wong mbiyen mbokmu kuwi jaritan yo pantes,opo nek jaman berubah mbokmu mbok ganti rok mini

    Lha wong Tuhan saja tak menghapus kisah

    Pembaharu?
    Hahahaha,pembaharu kok ugal ugalan kaya ra nduwe dur

    Mau dibawa kemana anakanak bangsa ini

    Heran!
    Sudah tak bisa membuat warisan sejarah, malah yang diwariskan diungkrah ungkrah ra genah

    Ah cukup! Tak perlu ku lanjut, ikutikut pikiran pengecut mundak kebacut,pungkasane mung ngetut buntut gak ngerti juntrut

  19. Kukecup atasnama cinta
    oleh Ki Gambuh R Basedo

    Duduklah sahabat disini
    Ditempat dimana yang hanya kauaku tahu
    Ceritakan padaku muasal petir yang menyambar dadamu
    Tentang amarah yang mendesak untuk menggasak

    Lihatlah surya saat ndadari sebenarnya,cermati sejatinya
    Tegakkan kaki di pertiwi penuh kesungguhan, luas tak menyudutkan
    Tidak sahabat jangan ikut terbakar kasakkusuk
    Muntahkan saja,biar membanjir ditangis kehambaan

    Matahari tak ingkar janji
    Pertiwi tak pilih kasih
    Dudukan masalahmu disini saja
    Jika kauaku
    dihapus diusir karena dianggap mengotori

    Dipagar villakeangkuhanya,hingga dindingnyapun diharamkan kausentuh
    Jika mereka mengeklusifkan nama,bahkan menahtakanya
    Tahukah kau sahabat
    Sidratilmuntaha tak menghapus namanama

    Percayalah padaku
    Usah kau kotori rumahmewah nurani
    Api tak mati oleh api
    Padamu kukecup lembut
    Kurangkul tuju

    Ya fatah iftahna futuhal arifin
    Jangan kunci pintu rumahmu seperti mereka
    Sebab AKU hadir bersama yang terhina dan teraniaya

  20. CANTIK SANG BULAN SUCI [ CLOTER PERTAMA]
    oleh Ki Gambuh R Basedo

    Tak hanya basabasi lambai ayumu
    Tanganmu menarilk lembut menggandeng
    Ruang riang pemandian banyu ampuni
    Basah basuh kembang kembang rahmati

    Pada busuk nafasku yang mengkristal bertahun kerna selingkuh khofi
    pada dinding tertempeli arogansi akuku serupa berhala
    pada bilik bilik kamar rahasia anak anak iblisku
    kau rekahi senyum rahmani tenggelam hingga

    Rengkuhmu merangkul tunjuki
    Api tak lagi mengapi
    Borok borok bobroku tertambal kini
    Nafsu, nurani kembali menginstal ikrar sejati

  21. Sajak R e t a k (ki Gambuh R Basedo)
    oleh Ki Gambuh R Basedo

    Kalimat melompat lompat
    Berserakan,tanpa teracik tepat
    simpangsiur ngluyur tak sesuai tempat
    Jumpalitan tak bersipadu tabiat

    Puisi retak
    Tak sekompak musik tabuh katak
    Hambar terumbar makna rusak
    Katakata menjerit terperkosa diwatak
    layu luyu tergeletak

    Puisi retak
    pecahpecah pudar indah
    runtut mengkabut lindap cerah
    Bolongbolong ronce bengkah
    Reyot otot,ringkih tindih menindih,hanya sekeder bongkah

  22. Puisi diatas puisi
    oleh Ki Gambuh R Basedo

    Netramu membuka kerlip,tebar kosa kata
    Asmaradahana muasal saling meraba
    Diam bukan bisu, hanya debar menahkoda
    Kobaran yang entah apa namanya

    Dari helaihelai rambutmu kujumputi aksara
    Bibir kembang manja menguntai kata
    Elusmu melentik,memetik dawai syahdu
    Lenyap segala, tak ada yang selain ini

    Ah tak sanggup lagi kuracik kata
    Sebab wajahmu puisi
    sudah……………
    tumpah disetiap molek

    Nimas anjasmara
    Namun harus terlepas sejenak dekap surgawi
    Lihatlah laga menantang gigihku
    Tunggu kepulanganku,bersama mahkota di kepala

  23. Sarisari sirri
    oleh Ki Gambuh R Basedo

    Bukan, aku tak sedang terecoki warnawarni
    sungguh kucoba fahami setiap corak watak
    disetiap adalah untaian pesona
    j e l i t a

    bukan,aku tak sedang memanah jantung
    nikmat ini setelah berjejal jejal kesal
    derita ini kala lupa pemberian
    sepi ini,saat merasa sendiri

    Surat bukan sekedar aksara
    Manis tak hanya gula
    Asin tak mesti garam
    Panas tak harus membakar

    Pada surat ku minum yang tersirat
    layaknya kolibri hisap sarisari

  24. PROTES PUISI
    oleh Ki Gambuh R Basedo
    ”aku puisi”

    kepada ki Gambuh R Basedo

    Kepadamu kuperingatkan

    Berapa kali kau sayat luka tubuhku

    Berapa kali kau ludah serapah wajahku

    Berapakali kau jadikan aku ranjang birahi

    Bahkan mungkin tak pantas kutanya berapa,karena sudah acapkali

    Kau gelar lalu umbar

    Kau cumbui lalu hambar

    Kau tempeli aku asesoris curhat picisan semata

    Kau jamah tanpa ramah

    Kepadamu jujur kupamerkan

    Lihatlah
    Chairil Anwar
    Ws Rendra
    KH Mustofa Bisri
    Sinar Timur Suprabana
    Dan….
    Tuhan Tuhanku yang lain

    Mereka menciptaku tak siasia

    Leherku dihias kalung

    Tangan bergelang

    Jarijemariku bercincin

    bahkan mahkota dikepalaku

    Kepadamu bolehkah kubisikkan

    Tuhanku menahan nafas,lalu ruh ditiupkan

    Wening menep madep

    Jika dewi cantik menarik pasti

    Jika dewa berbaju wibawa

    Jika kesatria kekar tekad,langkah gagah

    Jika asmara bungacinta tak hanya dahana

    Tetes titis mentes

    Abadi tak peduli cuaca

    ”wahai puisi,mestikah kuborgol tangan gusar ini?

    ”Atau aku tak layak lagi menyentuhmu?

    Kepada ki Gambui R Basedo
    Tidak! Bukan!
    Berkacalah kau
    Walau tidak harus menjadi mereka
    Setidaknya kau titipermati teliti

    Jangan kuburkanku dijahanam sastra
    Hingga gosong tak kentara

    Jangan kau sekedar cipta tubuh
    tanpa ruh

    Lantas Bangkai busuk sastra

    Renungkan!

    Tatahati!

  25. Falsafah sekar macapat
    oleh Ki Gambuh R Basedo
    1.MASKUMAMBANG
    dari kalimat emas dan kumambang(terapung)
    Sebuah gambaran ketika manusia dalam perut
    2.MIJIL
    lahirlah kita diatas muka bumi ini
    3.SINOM
    Asal kata dari enom(muda,remaja)
    4.ASMARADHANA
    Dari kata asmara dan dahana,wajar saat remaja mengalami kasmaran muda mudi,dahana dimaksud adalah api,artinya api asmara
    5.DANDHANGULO
    Gula,atau gendis, bersifat manis,jadi kalau manusia sedang kasmaran,tak ada yang tidak manis
    6.GAMBUH
    Gambuhlah,ketemulah,menyatulah kita dalam kebersamaan lazim disebut pernikahan
    7. DURMA
    dalam sebuah kebersamaan,pastilah akan ada riak riak gelombang,UDUR(Beda pendapat,pertengkaran pertengkaran kecil yang bersifat membangkitkan keharmonisan kembali
    8.PANGKUR
    Dari kata mungkur(berpaling dari sifat keduniawiaan(zuhud)
    9.MEGATRUH
    proses melangkah pada kehidupan selanjutnya adalah kematian, megat(pisah)
    Dipisahkanya antara raga dan ruh
    10.PUCUNG
    Pucung,atau pocong,dikafani dan masuklah kedalam kubur
    11.KINANTHI
    Kekanten,dengan membawa apa yang telah dilakukan didunia,selama hidup
    (Kutulis sederhana sekali, agar gampang di fahami)

  26. HU… HU….ku, BUKAN HAIKU! PAKEM JAWA SASTRA/BUDAYA INDONESIA ASLI ”DALAM SEKAR GAMBUH MACAPAT

    oleh Ki Gambuh R Basedo

    begitu banyak digemari sajak atau kau sebut puisi haiku dari jepang saat ini
    Tapi secara pribadi saya melihatnya biasa biasa saja
    Justru menjadi luar biasa dan heran tercengang,ketika sastra dan budaya indonesia dilupakan
    Taukah kalian,ketika bangsa ini masih berupa kerajaan kerajaan ,sastra dan budaya indonesia sudah merekah,lebih lebih dipulau jawa
    Salah satu bukti adalah ”Sekar macapat”
    Mijil
    Asmarandhana
    Kinanthi
    Dandang gula
    Sinom
    Pangkur
    Pucung
    Gambuh
    Megatruh
    Semuanya menggunakan rumus hitungan matematika/ilmu pasti
    Guru lagu
    Guru wilangan
    Guru gatra
    Jadi makanya ketika Haiku muncul dan banyak dipelajari,membuatku tersenyum biasa biasa saja.karena sebelum Haiku jepang muncul
    Dijawa ratusan tahun yang lalu sudah ada, sastra/budaya yang melebihinya,baik estetika,makna,kaidah/pakem,sampai hitungan matematikanya hanya saja generasinya putus kini
    Sedikit ingin ku suguhkan rumus jawa yang mungkin mirip dengan Haiku dalam sekar gambuh

    Sekar gambuh dalam pakem aslinya harus terdiri dari
    5 kalimat dengan ketentuan
    8u
    10u
    12i
    8u
    8a

    Delapan,sepuluh,duabelas, dimaksud adalah suku kata ,sedang u dan i adalah hurup akhir atau jatuhnya suara akhir dalam kalimat
    Contoh
    SEKAR GAMBUH
    Bapak tani kabeh iku
    Saben dino sregep anenandur
    Lombok terong brambang kacang pohong pari
    Telo kentang datan kantun
    Kabeh kanggo uriping wong
    (Ini hanya sebagai pedoman saja, juga bisa dibikin syair dalam bhs indonesia sesuai dengan pedoman yang saya suguhkan,
    Begitu pula rumus sekar sekar yang lain ada dalam aturan/pakem yang sudah ditetapkan pasti
    Kenapa kita lupa bahwa INDONESIA KAYA BUDAYA,YANG BISA DIANGKAT,SEMENTARA TERHERAN HERAN SESUATU YANG KAU ANGGAP BARU?
    MARI KITA GALI DULU MILIK KITA,TUNJUKAN BAHWA BANGSA INI PUNYA SASTRA DAN BUDAYA YANG ADILUHUNG
    Sayang generasi terputus
    TULISAN INI DIMAKSUD UNTUK MENGINGATKAN KEMBALI PADA KITA
    Agar kita tak mudah ”terjajah”
    Bahkan bangsa kita ini terkesan ”MISKIN SASTRA DAN BUDAYA”
    Mulai dari diri kita masing masing,untuk menyelamatkan melestarikanya.
    ”OJO GUMUNAN”
    Lalu terjebak!

  27. DEWI WAKTU

    oleh Ki Gambuh R Basedo

    Dewi waktu
    Detak detak,detik mengecup
    Debar debar,debur rindu mencumbu
    Getar gemetar,geletar menjalar

    Dewi waktu
    Rengkuh merengkuh
    Kuhitung setiap kedipan masa
    Kutabur sedusedu dijagat rasa

    Dewi waktu
    Jalinan jemarimu
    Bawaku terbang melangit

  28. Cintaku masih berkelamin

    oleh Ki Gambuh R Basedo

    Mancung hidung
    Lesung pipit
    Bibir sensual
    Mata teduh
    Karena ini aku tergiur padamu
    Ini cinta?

    Kulit mulus
    Jemari halus
    Senyum merekah
    Pipi memerah
    Karena ini aku terperangah
    Ini cinta?

    Dekap hangat
    Rengek manja
    Cium harum
    Desah gelinjang
    Karena ini aku terpana
    Ini cinta?

    juga
    Kabar indah surga
    Istri ribuan bidadari
    Telaga madu mengalir
    Nikmat abadi
    Karena ini lalu kusembah
    Ini cinta?

    Jahanam mengancam
    Bubur timah panas di minumkan
    Dibungkus salju hingga beku
    Dicincang cincang lalu dibakar
    Karena ini aku takut lalu sujud
    Ini cinta?

    Ah cintaku masih berkelamin
    Bahkan hanya birahi belaka
    Cintaku belum cinta,bahkan bukan cinta
    Sungguh!bukan ini

  29. PENA BIDADARI
    oleh Ki Gambuh R Basedo

    Dingin selimuti malam

    Garang udara membacok tulang

    Derit pintu diperkosa angin

    Garing digoreng kehampaan

    Tiba tiba datang bidadari menjelma pena

    Tersenyum manis,lalu mengusap kepala

    Sudahlah kawan,jamahlah aku

    Relaku tubuh ini untuk kau peluk hingga hangat memuncrat kata

    Malu,jemari belum terbasuh air bening

    Dingin kutantang sesaat,demi pergumulan indah

    Basuh sluruh agar keruh runtuh

    Dekati bidadari pena yang setia menanti

    Genggam lembut ,kecup mesra

    Gelarlah permadani putih,lalu cumbui diatasnya

    Dada berdegup serasa terbang ke angkasa mendengar ajaknya

    Ayolah gerakkan aku dengan desahan panjang biar menetes Titis cinta

    Aaaah…… aku makin kaku bisu

    kau tahu?

    tanpa kau buka,tak akan ada gairah, bukalah!

    Mencairlah seketika

    Mengalir desir tak sanggup bendung hujan ronce kalimat

    Aku cantik jika isi kepalamu tak garing

    Aku bermakna jika isi dadamu mesra sungguh

    Aku halus mulus jika jemarimu kau sucikan

    Aku bening jika mendekapku dalam hening

  30. Taburi saja ia dengan pundipundi cinta

    oleh Ki Gambuh R Basedo

    Apa kau bilang
    Haruskah ide ide puisi lahir dari menggila
    Menyusuri jalanjalan tanpa tuan
    Membumbung imagi tak tertali
    Minum anggur memabukan

    Apa kau bilang
    Lahirnya karya selalukah dari uapuap tolol
    Menari jemari mesti dibarengi keterpurukan
    Lalu menetes kalimat cengeng bak surat cinta ala abg
    Bagai drama sinetron picisan

    Apa kau bilang
    Munculnya syair mesti dari mencibir
    Mengalirkan sungaisungai kalimat sumpah serapah
    Menampar nampar matahari
    Meracik baitbait merah bara amarah
    Bolehkah kubilang
    Tak seharusnya,dan bahkan tidak harus
    Jika hanya onani
    Jika hanya birahi
    Taburi ia dengan pundi pundi cinta

  31. API DENDAM KEAKUAN

    oleh Ki Gambuh R Basedo

    Dulu kupikir kau matahari beneran

    Setiap waktu kuintip langit ceria sapamu

    Kutunggu semburat kalimat hari menyinari

    Atau paling tidak wajahmu makin binar bersinar bersama waktu

    Lindap ,mulai sekarat kini

    Terhijab mendung polah tingkah amarah

    Kau sisa gerhana ketidakpastian

    Penggalan asa kocarkacir tak karuan

    yakinku kalian bertanya-tanya siapa?

    Dengan tidak terpaksa bahkan penuh rela kukakatan pada kalian

    Itulah aku dan perangai yang makin kian wagu

    Pelahab bisikan dendam kesumat

    Aku corong keangkuhan

    Moncong kosong kemunafikan

    Wahai kenapa kalian mengernyitkan dahi tidak percaya?

    Menduga duga disebelahmu ada sosok gambaranku

    Kalaupun benar ,itupun aku,sebab aku bisa beranak pinak didadamu

    Bahkan kalianpun bisa jadi gerombolan dan anak asuhku

    Ketahuilah aku tak pernah mati

    Kecuali aku menyerah kalah pada orang orang berhati menyamudra tanpa bilik bilik

    Aku bisa menjadi apa saja setiap yang kalian suka

    Penyair

    penyanyi

    musisi

    Pejabat

    Jika aku menjadi penyair tentu kalian amat sangat terlalu mencintai membabi buta

    Pun juga ketika menjelma apapun kalian berlebihan mengelu elukanku

    Sungguh akulah sutradra dan peran utama

    Aku tak kesulitan merasuk didalam dada dada dendam

  32. TENTANG SEMBARANG LEMBAH KHAYAL DAN KATA

    oleh Ki Gambuh R Basedo

    KEPADA PENYAIR PENYAIR

    Ini bukan petuahku-aku

    Ini tak sekedar bual buih menindih

    Ini tak bicara sakralisasi puisi

    Pun jua bukan karena fahamku

    Seperti Tuhan telah membentangkan Rel

    Sebagai titian agar tak jerembab asal mangap

    Sejatinya akal mestilah di teliti darimana akar muasal

    Lalu untuk apa berlari dijalan yang salah

    Indah tak selamanya benar

    Asin tak mesti garam

    Hitam tak selamanya kelam

    Ojo gebyah uyah podho asine [jangan asal memaknai]

    wasy syu’arou yattabi’uhumul ghowuun. alam taro annahum fii kulli wadin yahimuun….

    Hal yang pasti Penyair penyair pedomani

    usah tenggelamkan diri dalam sembarang lembah hayal dan kata

    Bahkan tak satupun kerjakan yang di ujarkan

    merdekakan jiwa raga dari kungkungan syak wasangka

    Ki Gambuh R Basedo[penjelasan]
    Penyair-penyair itu diikuti orang-orang yang dungu. Tidakkah kau lihat mereka menenggelamkan diri dalam sembarang lembah khayalan dan
    kata. Dan mereka sering mengujarkan apa yang tak mereka kerjakan. Kecuali mereka yang beriman, beramal bai…k, banyak mengingat dan menyebut Allah dan melakukan pembelaan ketika didzalimi. (QS As-Syu’ara, 24-27)
    Di dalam literatur kesusastraan Arab, sebagaimana direkam oleh Syauqi Dlaif dalam buku Tarikh al-Adab al-Arabi (Kairo: Dar al-Maarif, 1968), dijelaskan ahwa Alquran diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw, tidak saja membawa petunjuk yang benar, tapi juga sebagai ‘penyaing’ keulungan sastra Jahily.

    Keulungan sastra Jahily saat itu memang tak diragukan lagi oleh banyak pengamat kebudayaan. Manuskrip-manukskrip kuno (sastra Jahily), membuktikan hal itu. Tetapi, pada zaman itu jangan ditanya bagaimana etika dan moral masyarakatnya. Ibnu Qutaibah dalam buku Asy-Syi’ir wa as-Asyu’ara (Beirut: Dar ats-Tsaqafah, 1969) menceritakan dengan detail prilaku (kebiasaan) masyarakat Jahily (penyair Jahily) yang amarol dan amat asusila.

    Pertanyaannya, kenapa sastra yang konon sebagai penyangga suatu peradaban seperti tak berguna? Tentu, karena Islam percaya, hanya karya sastra yang beretika (baca: bermoral), dan yang mengajak dalam kebaikan, serta menjauhi segala kefasadanlah yang bisa membawa kehidupan masyarakat menjadi lebih baik, yang mampu menyangga peradaban.

  33. PERGILAH

    Padahal aku tak pernah menamparmu

    Apalagi meludahimu

    Berkali kali tiap aksara tertata terlihat percikan api dimatamu

    Setiap katakata terangkai membara dahana

    Mengobarkan api dendam dadamu

    Bunuh saja aku

    Bila aku merontokan ranum baitbait

    Mengeringkan daundaun kalimat

    Mematahkan rantingranting kekuatan tubuh gemulai syair

    Kini kubaca hanya kata gerutu dan dongkol bercokol

    Tiada puisi

    Tiada sajak

    Hanya sepahan buncah

    Curahan hati terpolesi maaf

    Kau tahu

    Bukan maaf yang sebenar maaf,sekedar permisi untuk meludahi dahi

    Masih juga berkelit, aku hanya ingin mengalir saja tanpa tuju

    Bergegas wahai tinggalkanku

    Sebelum terlambat benar benar liar mengumbar prasangka

    Begini caraku mencintai,agar kau kembali utuh menjadi dirimu

    Pergilah!

    Sungguh!

    Aku tak tega melihatmu dibuntingi kecewa berkepanjangan

  34. Sajak sejuk

    Semilir sapa

    Menemu belai

    Dalam rangkul bening rasa

    Sesaji punjung cinta

    Ku untai puspa wangi kata

    Ku ramu jamu penawar kecewa

    Seduh penuh rindu diwadah madah

    Ku hidangkan dalam jamuan rela,lembut galih

    Masihkah mengapi

    Masihkan gerah

    Bukalah pintu

    Hadirku bersama serah maaf

    Atau roncekanku sajak sejuk

    Ku tunggu

  35. T E R A P I ( KI Gambuh R Basedo)

    Sebelum melanjutkan membaca rangkain kata

    Sejenak kumohon pejamkan mata

    Hela nafas panjang

    Tahan dibawah pusar hembuskan kemudian perlahan lewat hidung

    Bacalah!

    Bacalah diri

    Bacalah manusia

    Bacalah alam semesta

    Saudaraku

    Pernahkan dikehidupan ini engkau selalu mengajak jama’ah jiwa raga bersipadu

    layaknya musik saling mengisi nada nada

    Mulut kita yang tak selamanya berkata jujur

    Telinga kita yang muak mendengar suara suara kalam

    Tangan kita tergenggam medit,bahkan sering menampar

    Kaki kita berjalan kemana sesuka

    Pikiran kita yang melahirkan syak wasangka

    Mencaci mencibir sesama

    Pikiran kita yang yang selalu merasa paling benar,paling hebat

    Acapkali memakai baju Tuhan demi kepentingan diri

    Pejamkan mata lalu hela nafas lagi katakan sejujurnya,ya memang

    Saudaraku

    Jerit anak anak yatim piatu yang rindu peluk orang tua

    Penghuni kolong jembatan,gelandangan menjerit histeris

    Orang orang yang terlilit hutang

    Saudara saudara kita yang tergeletak sakit

    Pejamkan mata tarik nafas hembuskan perlahan, tanyakan pada diri,pernahkah kita peduli

    Saudaraku

    Bacalah alam semesta

    Bencana bencana yang terjadi

    Kejadian kejadian yang kau fahami murka Tuhan

    Pernahkah kita sadar kerusakan bumi adalah ulah tangan tangan nakal manusia

    Jika bumi tak sabar tentulah tak menunggu lagi waktu

    Pejamkan mata seraya do’a

    Pada diri sendiri yang terkadang tak adil

    Pada sanak saudara handai taulan yang menjerit kesakitan

    Kekurangan,dililit hutang,tertimpa bencana

    Pada negri ini yang tak pernah lepas dari penjarah bernama koruptor

    Ketimpangan ketimpangan sosial,ketidak adilan kebiadaban

    Kepada pemimpin pemimpin lalim yang menjadi tangan panjang fir’aun dan qorun

    Kepada kapitalis kapitalis negeri yang mencaplok dan memeras setiap keringat orang orang kecil

    Kepada seluruh yang berkelakuan iblis diatas muka bumi ini

    Pejamkan mata,tarik nafas panjang tahan dibawah pusar hembuskan perlahan

    Bukalah matahati

    Jika pada diri sendiri masih timpang koreksi

    Yakini pasti esok mentari menyambut kita dengan senyum mengembang bersama perbaikan perbaikan

    Terapi diri teruskan hari hari

  36. CIPTONING KIDUNG PANGKUR
    oleh Ki Gambuh R Basedo

    chobra abrar ing pucuking ndriya

    aras lellintang kumedap pindha mutiarahararas

    madya ratri telenging kidung pangkur

    manungkul mungkur hanggrayangi

    Jiwa angon raga

    Hangangen lampah ing nguni

    kebak cidra saha dosa

    cep tumancep trecep rasa sumarah pasrah

    Ciptoning kidung pangkur

    Sinawur sarisarining kembang

    Jer kaula hanamung titah wantah

    Sembah manah mugi rumentah berkah

    Ciptoning kidung pangkur

    * Laksitaning subroto tan nyipto marang pringgo bayaning lampah (dalam perjalanan untuk meraih cita – cita luhur usah peduli dengan segala bentuk rintangan dan cobaan)
    * Meper Hardaning Pancadriya (kita harus selalu menahan/menekan gelora nafsu)
    * Heneng – Hening – Henung (dalam diam akan menemu hening dan dalam hening kita akan mencapai cita cita luhur).

  37. CIPTANING KIDUNG PANGKUR [ TERJEMAHAN GEGURITAN]
    oleh Ki Gambuh R Basedo

    Elok semburat dahsyat pada pucuk puncak

    Cahaya lintang turun menjamah ,bak kilau mutiara

    Tengah ratri ,jantung kidung pangkur

    Simpuh tinggalkan sejenak duniawi,grayangi luput

    Jiwa gembalakan raga

    Renungi cerita purba

    Gelimang tak jujur dan dosa

    Cep tumancep tancapkan,dinginkan ingin sumarah serah

    Ciptaning kidung pangkur

    Bertabur wangi puspa

    Aku hanya manusia biasa

    Sembah hati ini di Engkau, harap berkah

    ciptaning kidung pangkur

    Terjang penghalang

    brangus nafsu merusuh

    diam hening renung ,agungkan

    heneng hening henung

  38. TUHAN TAKKAN LAGI MERALAT AYAT
    oleh Ki Gambuh R Basedo

    Tuhan tak akan lagi meralat ayat tersurat

    Mestinya engkau faham bahwa sebelum yang kau kagum semua terangkum

    Segala yang kau takjub telah termaktub

    Tiada timpang tiada janggal

    Tuhan tak akan lagi meralat ayat

    Cukup sudah segala tinggal jalankan

    Singkap ungkap,gegap hadirkan

    Tangkap tandatanda lalu hikmat

    Namun seharusnya sadar,Tuhan mencipta ayat

    Yang kau lihat

    yang didalam diri

    yang diluar diri

    Sudahkah cermat membaca dengan kresna pikir

  39. HAIKU HARI ala Gambuh
    oleh Ki Gambuh R Basedo

    Senin//Sendiko hangestuaken perintahipun hyang widhi

    Nindaki janji suci engkang kaserat ing kitab suci

    Selasa// Setuhune ingkang prayogi donga dinongo

    Lampah sampun jinangkung ingkang maha agung

    Sayekti pinanggih ingkang kasuprih

    Rabu// Ra budhal ora bakal entuk ngilmu

    Budi luhur ora bakal tinemu

    Kamis// kamongko ono unen unen becik ketitik ala ketara

    Isamu mung plenthas plenthus gemagus ra tau adus

    Jumat// Jumbuh gambuh marang kaweruh kanti pituduh asepuh

    Ati ati anggonmu niti margi tinuntun guru sejati

    Sabtu// Saben tumindak kedhah kapetung permati

    Tumusing lahir saha batin sinareng giliging tekad niat ucap salajeng krekat

    Minggu//Migunani tumraping agama bangsa lan nagara jejuluk satria gung binathara

    Nggugat bangsat laknat keparat ,ngenteke duit rakyat ndandeke nagara dadi mlarat

  40. HAIKU PANDAWA LIMA ala Gambuh
    oleh Ki Gambuh R Basedo pada

    Puntadewa//pun jika kau tanya padaku tentang sabar

    Takkan langkahku ragu dan bimbang

    Dengan yakinku pastilah gemilang

    Waktu yang kunikahi lalu nyawiji

    Werkudara//werdi gunung julang agung cinta membumbung, dalam kesaksian kebesaran sang maha

    Ku di Engkau ikrar

    Dalam gagah kujangkah tanpa resah

    Ratap minggat satria kusandang denawa goda ku tendang

    Harjuna//harapan adalah kekuatan kaki niat

    Jujur adalah pembeningan jiwa,nyawa matahati

    Nangisku bukan ringkih,ia alir madah mantra cinta

    Nakula//Nagri diri ini butuh tangan adil mengatur

    Ku dalam kempis kering perutku menggiring doa

    Lantas kemana lagi,selain bergegas menata

    Sadewa//satukan tekad bulatkan niat brangkatkan jiwa raga menghamba

    Dengan penuh sungguh,simpuh puja puja

    Walau cemeti duniawi menguliti,takkan merubah tujuan arah

  41. IJINKAN KU BELAJAR BERSAJAK
    oleh Ki Gambuh R Basedo

    Tentang ambisi yang lantang menentang setiap warna

    Ingimu aku menjadi kau yang merasa paling

    Sedang setiap gores hanya mrenges

    Lahir dari dada bergumpal serbet menyumpal

    Aksara disebar untuk ditata bukan diumbar sambar menyambar

    Kata kata diracik pernik pernik,pamor ku tiup

    kalimat kalimat ku mesrai agar resah enyah

    Kurangkul dalam nur ,dlembar jujur

    Di setiap aku berguru, buang ragu agar tak rancu

    Di puisimu ku kerdil sungguh,justru semangati laju

    Di laut ilmu aku bukan siapa siapa, sadarku diamanat nyawa

    Seperti petuah guru guruku, bersungguh penuhlah

    Wahai langit

    Wahai bumi

    Wahai gunung

    Wahai lembah

    Ajari aku agar tak kaku gagu

  42. KRESNA TRIWIKRAMA

    KRESNA TRIWIKRAMA// Kadya bledeg ngampar

    Rinujit rujit manahipun

    Enggal jumugrug sak gunung anakan ,gumreget

    Sigro jumgkah hambrastha angkara

    Nindaki jejering kautaman

    Amrih jejeging nagri

    Tumindak kang ngrusak kedah katumpes

    Reksa rineksa lampah hamba,sinareng kekiatan paduka

    Inggih,hamba mugi kapayungan qohar jabbar

    Wahyu suci rumentah dhateng pundi Gusti

    Ing pundi paugeran jati

    Kagol tyasmami hanyumerapi lelakon puniki

    Rasa wening musna ,mijil begejil candala

    Agung tan ka junjung

    Murka sangsaya ngremabaka

    Adeg adeg ,hangadeg hamba ing marganing shangyang wikan

    II

    KRESNA TIWIKRAMA// Kala petir menyambar gempar gempur

    Rujit terujit hati

    Egomu menciptaku menjadi sebesar gunung semangat

    Segera gegas ku tebas angkara

    Niat telah ku tancap,meniti hakiki

    Agar ini nagri kembali berdiri

    Tingkah polah kesewenangan mesti di tumpas

    Reksa hamba,langkah ini di kekuatan paduka

    Iring hamba di payung qohar jabbar

    Wahyu suci ini mesti untuk siapa

    Ini tanya resah,dimana aturan mesti

    Kini buncah gundahku meraung raung

    Rasa jernih ketulusan musnah,lahirlah kejahatan

    Agung keagungan tak lagi di junjung

    Murka kian menjamur

    Aku akan tetap tegap berdiri dijalan sang maha adil

  43. NEGRI BENALU
    Oleh: Ki Gambuh R Basedo

    Negri benalu

    Menghisap saripati kejujuran kepala kepala dhuafa

    Akar mencengkeram, memborgol tangan keberanian

    Negri benalu

    Pemimpinya pohon benalu

    Punggawanya ranting benalu

    Retorikanya bunga benalu

    Makan minum dari kepiawaian menipu

    Tujuanya menggendut hijaukan daun benalu

    Negri benalu

    Dibangun tanpa malu malu

    Dikokoh kukuhkan diatas kursi hasil pertarungan kekuatan kemaluan tanpa malu

    Negri benalu

    ………….mengencingi dada ibu pertiwi hari hari

    Memeras air susu ibu bumi tak henti tanpa peduli

    Memlontosi rambut ibu pertiwi dengan atasnama palsu

    (Tulisan ini hasil

    Rekaman percakapan dengan kere kere dan gunung gunung yang di plontosi oleh tangan tangan murka)

  44. kanda aku ingin jadi pelacur
    oleh Ki Gambuh R Basedo 15:17

    Dari tulang rusuk bungkuk lekuk liuk

    Aku jawaban Tuhan,tentang kesepian adam

    Hadir menyihir untukmu kanda

    Pesona ini kupersembahkan

    Tarian molek lembut

    Dada penuh ranum

    gerai rambut angendan

    wajah indah sumringah

    :kusuguhkan menu nikmat mamlakat

    panggil aku adinda kanda

    ;agar perawan selalu cinta ini

    sebut aku istri kanda

    ;agar jiwa raga ini halal

    Empukanku kanda, untuk benih jernih

    pada desah ranjang malam

    aku hanya ingin menjadi pelacurmu

    pe//penghidang bak bidadari surga

    la//laguku kidung asmaradhana

    cur//curahiku hasrat,tumpahi madah

    sebab bagiku,salihah itu keutuhan

  45. RAYU YANG TERTOLAK (puisi ke 444, persembahan untukmu kekasih)
    oleh Ki Gambuh R Basedo

    Engkau lepas dari rangkul mesra

    Kata apalagi yang lebih indah selain ketelanjangan utuh

    Aku mencintaimu seperti klorofil pada daun

    lengket takkan berai

    Pagi

    Sapaku renyah rekah

    geliat hasrat harap sambutmu

    Rindu gagah kuatkan langkah

    Tiada jua hadirmu

    Siang

    Kuracik larik mantra rayu

    Pada sekujur tubuhmu kutuang lalu

    Puisi terindah kulantunkan di telingamu

    Tetap saja angkuh,tiada senyummu

    Malam

    Bintang gemintang kupunguti

    Membinari gelap pekat sekaratku

    Desah asmara memanah jantung

    Pula tak engkau jawab hingga kini

    Duh

    Kekasih,mesti berapa rayu lagi agar pintumu terbuka

    atau memang hatiku tak lagi sanggup menangkap geletarmu

  46. Begitulah cinta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s