Komunitas Pecinta Puisi

Adakalanya kita perlu menangis agar kita tahu hidup ini bukan sekedar tertawa. Adakalanya kita perlu tertawa agar kita tahu betapa mahalnya nilai airmata

NANANG RUSMANA


Tentang Rasa Ini Hanya Aku dan Kau Yang Tahu
( Untuk Sahabatku Alm. Khadafi )

Melayangkan kata kata di balik senja yang muram
kerna langit biru menghitam tiba di ujung senja,
saat jemari membimbing alam bathinku temui wajah di balik
tautan kata katamu yang indah memesona bahkan bidadari syurga pun terpana.

Sahabat,
Kau sungguh sangat memikat
walau kini dalam lautan pekat
di ruang tanpa sekat.
tunggui aku di wangsa yg tepat.

jakarta; 240910
rhuzmana

12 thoughts on “NANANG RUSMANA

  1. Wanita Berbaju Hitam

    berdiri di sudut jalan
    dalam untaian roda kehidupan
    wanita muda
    berbaju hitam
    dengan tas tangan terlingkar liar

    lurus tergerai rambut hitammu
    melambai lambai bermain
    bersama angin jalanan
    yang berhembus menembus kalbu

    menyisakan kesesakan dalam dada
    melambatkan aliran darah
    menuju tulang utama
    yang teriak melolong bagaikan serigala

    wanita muda
    berbaju hitam
    senyummu lembut bagai sutera
    sapamu indah bagai kiasan
    jika aku malang melintang
    kiranya engkau sudah kupinang

    Bekasi,090410. buat wanita 11 lantai di gedung perkantoran

  2. Nang, baju hitam yg menyimpan misteri ? hahaha
    thx yaaa

  3. hahaha…untung Rini pake baju kuning bukan hitam….hehehe

  4. Peluh Lelaki

    Peluhku jatuh satu satu basahi dada, basahi hati
    hampiri seluruh jiwa di tengah pekak bising kota
    manjakan mata , lelahkan nafsu

    ke mana aku kan berdiri ?
    hampiri siapa tanya siapa?
    semua serba tak bisa ditanya!

    adakah ini sebuah tanda
    bahwa jiwa sedang mendua?
    ahhhh….di manakah lagi aku kan berdiri menyongsong sepi
    ambli kemudi dan segera sembunyi.

    Tidak !

    suara dari lembah itu nyaring terdengar nyaring , bawakan syair beribu kata
    nina bobokan jiwa yang lelah dimakan dengus hitam kota.
    aku mengerling mencari seruling
    kan kuiringi nyanyian syair yang gemerincing semakin nyaring
    tapi sekali lagi….
    tak kutemukan bambu seruling

    hanya suara bising semakin nyaring
    pekakan genderang telinga
    hilangkan suara

    tapi ada yang kudapatkan
    semakin merapat suara bathin
    temui hati di ruang jingga.

    Bekasi; 180510

  5. Di Manakah Putihmu Kau Sandang?

    Puisi nanangrusmana
    Untuk Saudaraku FPI

    Teriak . Engkau teriak serak
    serakan suara hingga jauh tak terdengar

    dengar !
    suara musim . musim suara !
    suarakan siapa untuk siapa?
    selimutkan baju koko dan kopiah putih.

    Putihmu tak lagi putih dalam langkah kaki .
    Putihmu adalah hitam jika engkau tenggelam dalam kemarahan.
    Atas nama pembelaan , engkau terkam.
    Cabik !
    HAncurkan !
    Lantakan !
    Oooooo……….Dimanakah putihmu kau sandang?
    di kolong jembatan ataukah di surau dekat jalan !

    Di manakah putihmu kau sandang?

    Bekasi; 170710
    rhuzmana: Untuk Saudaraku FPI

  6. Rembulan Tak Lagi Indah Ditatap

    Rembulan tak lagi indah ditatap
    bahkan saat malam purnama
    semburatkan cahaya pendarkan kegelisahan gelap malam
    yang kian pendar memecahkan keindahan
    yang mestinya kudekap dalam seribu rasa membunga
    lalu bersenggama di jauh lubuk bathin malam

    ahh…

    hilang tertelan awan yang lalu lalang
    hilang sembunyi di balik gunung yang berdiam mematung melindung pelindung yang linglung

    bahkan saat kutatap mata rembulan
    dengan penuh harap yang mungkin engkau takkan pernah tahu bahwa kutatap penuh dengan lingkar kornea hitamku yang penuh ,
    Kau tak kan pernah tahu bahwa kini kusadari engkau telah begitu jauh……..
    melambaikan tanganmu dalan lingkar senyum yang semakin tak kumengerti artinya sebab kau dan aku sudah jauh memasang marka pembatas bathin ,
    meski hanya untuk sekadar menyapa:
    ” hai, aku di sini menunggumu…”

    Jakarta; 240910
    rhuzmana: saat sapa sudah tak pernah lagi kudengar….

  7. Mencari seribu bunga di jembangan di balik tirai warna warni
    kurasakan getaran cium aroma wewangi
    yang entah sudah keberapa kali kujenabat bermandikan bunga di balik aroma aroma tajam menusuk sukma.

    Hingga kini bahkan saat kudekam sepi
    dalam sudut ruang tepi waktu
    tak satupun wewangi terserap kuliku hingga mekar bersemi
    tak ada…
    ya…
    hilang entah dimana, mungkin berpindah atau menjadi layu lalu merajuk kembali ke tanah ingin
    hingga hilang wewangi hanya tinggal angin yang semilir
    membisik : ” Maaf……kumeninggalkanmu….”

    Hanya itukah yang ingin kau bisikan
    hingga kudekap angin dalam mati rasa?
    ohh………

    jakarta:240910
    rhuzmana

  8. Untukmu

    Gelak tawa yang inginkan ku hadir dalam
    setiap candamu makin tak tertera di sana
    di lembaran kertas putih yang kuselipkan di balik saku bajumu dahulu.
    Ingat ?
    mungkin engkau lupa bahwa aku selipkan canda tawaku di sana atau bahkan engkau sungguh tak tahu bahwa aku menitipkan bahkan hanya sekedar canda tawaku hanya sedikit ingin mejadi penghibur lara mu..?
    Sungguh sedikit yang kau tahu tentang
    segala rasa
    segala cerita yang ingin kukata
    di balik sinar mata ku yang ingin menjamah bening kornea matamu saat lubuk hatimu pecahkan kebeningan dengan sebulir bening menggelantung di sudut kelopak mata.
    Yaaa….
    engkau takkan pernah sadar sedari saat kutitipkan senyumku hanya ingin seka bening di kelopak mu.
    kerna ku tahu bahwa bening matamu takkan tergantikan bening di kelopakmu.

    Hai.
    Kemana saat kudekap sepi
    Kemana saat kurajut benang rindu
    Kemana saat gemericik air mendera gigil tubuh bathinku?

    Jakarta;240910
    rhuzmana

  9. Tentang Rasa Ini Hanya Aku dan Kau Yang Tahu
    ( Untuk Sahabatku Alm. Khadafi )

    Melayangkan kata kata di balik senja yang muram
    kerna langit biru menghitam tiba di ujung senja,
    saat jemari membimbing alam bathinku temui wajah di balik
    tautan kata katamu yang indah memesona bahkan bidadari syurga pun terpana.

    Sahabat,
    Kau sungguh sangat memikat
    walau kini dalam lautan pekat
    di ruang tanpa sekat.
    tunggui aku di wangsa yg tepat.

    jakarta; 240910
    rhuzmana

  10. Hari Ini
    ( puisi nanangrusmana )

    hari ini kapan telah jadi kemarin?
    dan lusa baru saja kulewati

    matahari terasa terik bakar rambutku yang memutih
    sedangkan tongkatku hilang entah di mana

    kini, aku ada di persimpangan waktu
    yang tak bisa kulewati sambil berlari
    hanya duduk memegang erat bijibiji bebatuan bertali

    di kacamataku, huruf-huruf arab itu makin bias
    menjadi tumpukan kalkulator
    yang menghitung untung rugi dan utang piutang

    sajadahku
    terhampar di rumahrumah tetangga
    terlipat berantakan di beranda karib kerabat

    aku,
    hari ini terpaku.

    Jakarta; maret 2013

  11. Aku Masih Di Sini

    Aku masih di sini, ketika mulai kubaca satu satu apapun yang telah kau tuliskan entah untuk siapa. Tak penting buatku pada siapa kau tujukan. Yang sangat terasa penting untukku saat ini adalah melihatmu dan membaca pikiranmu serta membaca hatimu yang entah kapan lagi bisa kutemui. Aku masih di sini, sementara waktu masih saja berdetak pergi memutari hari hari yang makin saja terasa sunyi. Ya, kesunyian yang tiba tiba saja makin hari makin menyelimuti dan entah sampai kapan. Rasanya, semua suara bising deru megapolitan , segala kepongahan, segala kepalsuan, segala kesombongan , segala kesucian , makin terasa jauh menghilang dan entah ada di mana. Hanya suara detik jarum jam digital yang selalu menemaniku saat ini, keheningan yang begitu sangat terasa makin senyap. Kadang aku bertanya, bertanya dan bertanya pada sang diri, apa yang telah terjadi. Sebelum tiba tiba kutemukan sejuta jawaban yang entah kebenarannya ada di mana , aku hanya menemukan sebuah jawaban yang mungkin saja kuyakini sangat : RINDU.

    Aku masih di sini, ketika kutuliskan apapun yang ingin kutuliskan. Seperti seekor burung yang sudah lama terbaring dan ingin terbang kembali , sekedar melihat lihat dan berkeliling mencari apapun yang bisa sangat menarik , menyaksikan segala polah manusia yang ada di atas bumi, ya, seperti burung yang ingin terbang namun lama terbaring, aku hanya bisa menggerakkan sedikit saja ujung sayapku , sebelum tiba tiba debu lebih dahulu beterbangan membuyarkan kerinduanku. Agh…..rasanya memang aku sedang merindu .

    Aku masih di sini, ketika langit sudah lama kosong diam, ketika angin sudah lama tak pernah berdesir bahkan dedaunan tak lagi bergoyang, ketika buku ini masih saja terbungkus rapi, ketika helai helai kertas masih saja berserak tanpa tulisan apapun yang dulu sangat sering aku dan kau tuliskan semua ocehan ocehan pinggir jalan, sekedar basa basi, sekedar haha hihi, tapi itu semua bukan hanya sekedar, melainkan amat sangat berarti kini ketika semuanya seperti bulan sabit yang makin menghilang .

    Aku masih di sini, ketika bening air tak lagi memantulkan cahaya.

  12. mba Rini, linknya tolong diganti sudah nggak http://www.nanangrusmana.com lagi, diganti balik lagi ke wordpress. http://nanangrusmana.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s