Komunitas Pecinta Puisi

Adakalanya kita perlu menangis agar kita tahu hidup ini bukan sekedar tertawa. Adakalanya kita perlu tertawa agar kita tahu betapa mahalnya nilai airmata

RESTU HARIYANTO


Lambaian bambu meliuk ditarian bayu, nyata hanya pada pupil mata kita. Tidak pada telinga
Desir angin ciptakan siul panjang, dihalaman kita. Jelas terdengar pada telinga, tidak pada mata.
Pun pada keduanya kita menyepakati bahwa itu tarian atau nyanyian.
Sobat, kebenaran apa yang ada disitu.
Engkau menggelitikku, memandan…g fata morgana. Kebenaran tidaklah kuterbangkan didebu jalanan, tidak juga kuhanyutkan dialir sungai ‘rahim belantara, tidak pula kujunjung pada ketinggian, sebelum smuanya menjadi nyata dan hakiki.

Sobat, kebenaran apa yg hendak kau paparkan, sedangkan kematian sering lahirkan pertengkaran.

===================================================

meski dadaku tak seluas samudra. “Tuk rebahkan kerinduan, aku masih punya telaga bening dikawah berselimut kabut belerang.
Tapi…kerinduankah ini, sementara aku melihatnya sebagai selubung kesedihan, yang berpeluk pada penderitaan memanjang. Titipkanlah dendammu “padaku.
Sebab aku juga masih memiliki satu rubi,… yg sempat kuletakkan di tapak kuda puncak gunung sibayak, Kemarikan ,, agar mampu kusisipkan dicelah celah batu, pada pucuknya paling tinggi.

53 thoughts on “RESTU HARIYANTO

  1. Sebelum keranda malam terkunci, dan diusung kekaki bumi. Aku mulai saja tarian puitis “tentang pelataran diri” biarkan gemulai pena menampilkan keinginan,
    atau jadikan tinta sebagai pelampiasan dahaga ‘ kelana jiwa.

    Aku tidaklah seperti yang engkau sangkakan, ak seorang yang tengah tertatih memikul sekarung sampah.
    Hari yg kulewati berada diterali besi, dikungkungan belantara dan kuda jalanan yakni penjara kehidupan.

    Jika engkau ingin mengenalku, aku bersama lelehan kwarsa penggalang sekaligus penghalang kebebesan pandangku
    Meski tak tergiring kemelaratan, kemewahan juga tak merangkulku.

    Tapi, sebaiknya engkau tidak mengenalku, aku tak ingin aroma sampah pada pundakku tertebar digaun atau pakaian putihmu.
    Cukuplah engkau mengenalku sebagai teman angan dan bayang bayang
    yang slalu mencoba memahami arti dan makna lukisan abstrak jemarimu.

  2. Aku masih punya sehelai rajutan sapu tangan sutra, disatu sisinya disalah satu sudut ada sulaman apel ,tertulis namaku Jika ingin .. ,kemarilah. Singkirkan engganmu ,jangan palingkan wajah pasi itu. Mari…,raihlah tuk penyeka bulir bening dikeningmu. Kemarilah buang sungkanmu, jangan tengadahkan wajah kelu itu. Mari,,, ambillah disenta pintu kamarku ,dikisi kisi angin. Jika engkau suka, bawalah untukmu, simpan sebagai kenangan.
    Setiap kali rindumu melahirkan kesedihan, atau galau tak mampu menghapus rindumu , resapi wangi pecahan cendana, yg rapi terlipat didalamnya.

    Lama membujukmu membuatku resah, engkau lebih memilih cerita yg tertinggal disitu, memaksa lantunkan kenangan ‘yg bagiku kegelisahan memanjang., menautkan pada lembar kisah berbalut kabut.

  3. Harum cendana dibawa smilir angin, berputar seperti hendak merangkul. Tanpa kata menyekap sepi semakin pekat, mengurai lagi ingatan disaat akhir bertemu dengannya.
    Bisikan lembut seperti rekaman , rebah dlm dinding telinga.
    ‘simpan ini, jika sebelumnya dia menenun halus tatapan, kali ini ditinggalkan, terpaku pada siluet nyala api. Tidak kuraih, membiarkan jemarinya menggantung, lirik sudut mataku terhalang bingkai lensa.
    Coba memastikan apa yg tengah digenggamnya.
    Desah suaranya perlahan menikam pasti. ‘ambillah , tertunduk lurus pada buku jari yg membuka, hidangkan tepat diatas meja batu, parau berujar ‘didalamnya , ada pecahan cendana terbalut kertas, peluh jemariku’

  4. Sepi dan desir angin dingin, senandungkan debar asa, alirkan rasa engganku menjemput.
    Lekat mata menatap, mencari keteduhan telaga yg slalu menjabat rinduku.
    Tak jua ia menyambut, seperti arca yg terukir oleh pahat pelangi jiwa,
    anggun.
    kerapkali ciptakan keagungan luar biasa
    ‘Tetap mematung
    biarkan nyala bulan pecah dikeningnya, membiarkan lengan angin mempermainkan rambut legamnya, hingga terberai.
    Berbilang waktu, larut aku dengan keindahan ini. Mengapungkan harap dan keinginan tuk bisa memiliki seutuhnya.

    Kebisuan masih saja memenjarakan kami , galau menyeruak diam diam.

  5. Bulan 18 lahir dimahkota akasia,
    abaikan cacat purnama.
    Di arca gading itu, bayang dedaunan seperti menari saling berkejaran .

    Dengan ketakutan pada temanku yang satu, kutampar wajah , sedar beralih tatap kemeja batu, altar sajian.
    Lengan gaib menatah jemari ‘tuk mengutipnya. Kehalusan lambaian sutra membelai kuku jari, lembut menggelaparkan aroma cendana.

    Sesaat sapu tangan sutra dalam genggaman, kibar suara gaun memecah hening.
    bagai burung lepas dari sangkar, dia berdiri dan berlari .
    Tinggalkan getar jiwa yg tersakiti, gemuruh dadanya membelah malam tanpa nyanyian.
    Entah apa yg menahanku hingga tergugu, menerawang bayang dalam kelam.
    Ah, hanya itukah maumu , bersama dikebisuan yang membeku hanya untuk memastikan sajianmu dalam pelukku.

  6. Bayangan menghilang, mematikan angin hingga beku bibir bergetar
    nyala unggun perlahan padam, tinggalkan sisa bara. Memercikkan setitik panas mengalir diurat nadi, merambah lewati alir alir sungai
    hanyut hingga bermuara dipusaran hati.
    Tak jua beranjak
    mematahkan ranting rapuh dengan kaki telanjang
    Gemertak suara..
    Mendongakkan wajah menatap langit, bulan 18 brada dijantung langit, asyk bercumbu dengan awan kelabu.
    Daun akasia gugur sehelai, melambai tanpa daya. Lambaiannya menggugahku tuk merangkak, tadahkan sebelah tangan sambut daun yatim itu
    lembab dan dingin
    rambah ikuti alir panas yg setitik, namun tak mampu membasuh.
    Coba kuremas, berharap suara serpihan bisa memalingkan langkah mengejar arah bayang yg hilang dilapis kabut
    yg tlah jauh tinggalkanku. Sebab lembabnya daun menguning tdk timbulkan suara.
    Lagi..
    Aku terduduk, tanpa menyadri ranting lahirkan tunas baru dan bulan berbaring menatap nanar fajar pagi.

  7. Hal selanjutnya yang aku ingat, harum cendana membujuk jemari tuk melepas selimut pelapis peluhnya.
    ” dari diary yg berisikan puisi cukuplah kupahami sebagai satu ungkapan perasaanmu hingga melumpuhkanku.
    Tidak ingin kupatahkan, namun betapa resahmu kan smakin memanjang bila kusandarkan ketulusanmu itu, didahanku yg rapuh.

    Kupejamkan mata, resapi makna tulisan itu. Helaan nafas berat terlepas.
    Selembar kertas itu, kuletakkan pada sisa bara perapian malam.
    Perlahan menyala dan melahapnya membiarkan angin meraih dengan suka cita.

    Pecahan cendana
    kulipat rapi dalam kelembutan sapu tangan sutra, yg pada sudutnya sulaman apel bertuliskan namaku.

    Hari hari setelah kisah itu, adalah pengembaaran sepi.

  8. Nyanyian jangkrik.

    Kriiik…..rik
    krik krik krik
    kriiik…..riiek
    krik krik krik krrik
    simponi dimisteri malam.
    tanpa air, mampu membasuh
    menyusup lintasi relung sukma.

    Kriiiik…….krii….ek
    kriiiik……..krii….ek
    riii…..ek, riii….ek
    simponi misteri malam
    tak henti merayu
    tanpa api, mampu membakar
    menyala sandingkan keinginan.

    Kriiik… Kriiik…kriiik
    kriek, kriek, kriek
    dengarlah
    detak iramanya yang sesekali terhenti.
    Kriiek
    simponi misteri malam, melantunkan kedamaian.

    ~
    met ultah ya rin.
    Moga slalu dalam limpahan rahmat dan karuniaNYA.

  9. Aku ~ diriku

    aku, bukanlah diri yang coba semaikan jiwa dalam pesakitan.
    Namun diri telah menuai pedih pada perih sesalku.

    Aku ~ kamu

    aku juga kamu adalah pusar hari yang slalu mengenakan bayangan selendang tuhan.
    Jika satu aku dan kamu, maka bersuka rialah yg terusir dari langit.

    Aku~ dirimu

    aku bukanlah dirimu, sebab didalam jiwa putihmu telah kulukai dengan kuas lukis_ku
    aku takkan pernah satu dengan dirimu, demikian pula kamu takkan pernah satu dengan diriku.

    Diriku ~ dirimu

    diriku seperti juga dirimu, adalah jiwa halus yang tumbuh dari satu pohon kearifan.
    dimana akar menahan batang yang pada lengannya dipenuhi ranting dan daun, kemudian membuahi kehidupan.

  10. `bibir jingga

    … kecupan itu ,
    birahi yg tak terlampiaskan.
    Meski terima kasih kau ucapkan, engkau membenci malam . Yg rakus mencumbu pusar kerinduanmu.
    Eh, udah brapa lama waktumu tak menjabat, kau coba lengahkan angan disibuk jarimu , sementara keinginan terus membuncah.

    Kecupan itu,
    birahi tak terlampiaskan.
    Yg coba kau pungkiri lewat selimut kabut atau nyanyian lara ranting kasihmu.
    Lihatlah,
    birahi itu terlalu sibuk untuk kau patahkan, terbakar nyala cemburu yang kian membusuk.
    Upaya yang kau uapkan ,seperti hangar asap gantungan baju lusuhmu.

    Dendam pada gelora dan hasrat , selalu hadirkan tanya dan kekecewaan membatu.
    Belati yang kau acungkan pada setan kecilmu, bukanlah ancaman baginya.
    Sebab kau masih seonggok tulang berlapis gumpalan darah , bersarungkan
    luka dan nanah kehidupan.

    Jingga dibibir senja, saat terpahit untuk salami malam.
    Sebab kau sedar, lamunan tak mampu meraih keinginan.
    Kau sadar, jiwa suci itu kembali terpasung oleh jari jari halus,
    lekuk dan gelombang aroma tubuhnya.

  11. Hari terus berlanjut
    tertatih diantara repihan daun menguning
    menyatu dengan ranting ranting lapuk dan jadikan humus
    menyelimuti akar kokoh ditengah belantara.

    Nyanyian indah yang pernah mengalir dari bibir ranum itu
    menetaskan keperihan
    kidungnya meresap kedalam relung sukma
    hingga satu kata kekata yang lain jadikan miang bambu diujung tenggorokanku
    ribuan titik hitam yang lepas dari pelepahnya
    menggumpal, menutupi muara alir nadiku.

    Denting harpa yang dimainkan oleh jari jari halusnya
    adalah musik termanis
    pun nadanya pada keheningan malam
    melahirkan nuansa ketidak berdayaan
    mengayun diatas dawai dawai hati yang lemah
    tak ingin kudengar
    namun…
    Benih irama telah bertunas
    terangkai dikebekuan jiwa

    satu puisi
    yang disajikan dialtar bulan 18
    mengubah segalanya

    jiwa yang sempat tertata rapi
    mulai terasa gamang
    membawa jasad kepengembaraan
    dilorong sempit, pantai juga pucuk pucuk bukit
    tempat, nyanyian dan kegilaan meracau tak jelas
    ‘teriakan sia sia tenggelam dalam dentuman ombak
    ‘jeritan histeris merasuk kerelung lembah
    hingga parau suara
    melampiaskan kehampaan dan ketidak mengertian

  12. dilorong sempit itu
    jarum cemara mengembang, menyusup
    lewati alur nafas
    ciptakan bayang, angan yang membias halus
    menertawakan kepahitan
    yang ikut menggelegak diatas buih destilasi anggur

    disini
    aku temukan sayap sayap lain
    yang diremuk lengan kegalaun
    merintih dalam kepal tangan kemewahan
    mengajariku tentang
    yang melukai dan mengobati
    sekelumit makna kehidupan
    yang tidak kudapat disaat mengail ditelaga bening

  13. ~
    diatas punggung kelapa
    yang berbaring di pinggiran pantai
    dan dadanya terkubur waktu
    aku duduk disana
    dengan telunjuk jari telanjang
    membuat sketsa lukisan
    merasakan gelinjang pasir
    yang sesekali menggigit punuk jemari lain
    menumpahkan hayal
    gerai rambut
    maupun senyum disudut bibir dan dikedua matanya

    ada kekecewaan
    ketika sketsa tidak mampu menggambarkan bayangan , apalagi dirinya dengan utuh

    aku diam termangu
    melempar tatap ketengah samudera
    takjub, menikmati keindahan jingga
    mengalun bersama gelombang pasang
    membuai buih hingga ketelapak kaki

    perasaan aneh muncul saat ombak menghempas keras
    butir butir kabut
    ciptakan lukisan wajah itu
    dengan warna jingga bercampur keemasan
    hanya sesaat
    menanamnya dalam pikiranku

    dentumnya
    jadikan gema berkelanjutan
    terekam dalam ruangku
    menghanyutkan teriakan kedasar palung terdalam
    pecah bersama remahan kulit kerang

    lantas, ak lebur dalam gigil kabut

  14. setiap kali purnama beranjak dari peraduannya
    setelah usai matahari mencumbu hamparan pucuk bangunan
    aku selalu merasa gelisah
    kerinduanku pada puncak gunung sibayak
    menggugurkan daun daun cemara tua

    gejolak dan debar dadaku serasa tak terbendung
    tanpa obor, maupun lentera penerang malam
    aku lebih sering berjalan sendiri
    menembus belukar ataupun sungai sungai mati

    sendiri, membuatku terbebas dari keluh
    dari serabut waktu
    membunuh terali ketakutan dari hantu hantu ciptaanku
    seolah olah diriku hidup dan bercengkrama
    dengan bayang yang ada disetiap ayunan kaki
    tanpa langkah lain mengikuti
    membiarkan jiwaku
    terlelap diakar akar menggantung
    membaur diantara krikil dan bebatuan kali yang telah mati

    kesendirian dalam keterasingan
    menjelma begitu saja diranting jiwaku
    menerabas belantara menyusup kedada
    hingga kerelungnya
    atau dalam tangkupan tangannya disaat merunduk
    kepulkan asap belerang
    mendudukan diriku dalam rengkuhan kabut dingin
    diatas tapak kuda

    dan diantara rekahan rekahan yang sedikit membuka
    aku meyimpan batu rubi
    menunggu fajar pagi lahir dari bahu sinabung
    yang selalu berkalungkan kabut
    menikmati lukisan langit dengan nuansa yang tidak pernah sama.

  15. ,
    lalu, cerita dalam pengembaraan alam terkubur
    bersama erangan tubuh
    bersama rasa sakit yang tak mampu termuntah kan

    dinding putih memenjarakan segala bentuk keinginan,
    kaku
    lumpuh
    berharap pada tetesan air
    yang menggantung antara lantai dan langit langit kamar
    bertumpu pada cahaya
    yang menerabas masuk dari kisi kisi angin

  16. ~,

    detak jantung masih bergerak lambat

    merasakan isak tertahan
    lewat kata kata yang dibisikkan ditelingaku
    aku merasakan kehadirannya
    lewt gemuruh yang mengalun dari dalam dadanya
    keperihan merembang
    kemudian menetes jatuh pada palung mataku yang tertutup
    meresap, melalui akar serabut jiwa
    bersama geletar bathinnya
    tetesan itu menggapai rantingku
    melepas daun menguning, lalu mengganti dengan kehijauan.

    seperti didihan air yang terbakar diatas tungku
    kata kata yang merintih dengan untain tasbih
    coba kupahami
    merasakan nafas berhembus
    menebarkan aroma melati, menyusup
    mengisi rongga rongga raga
    dan membungkusku dengan selimut kasihnya

    meski mengabutkan jarak pandang
    nafas itu
    membasuh dahaga panjang
    mengutip jelaga di sudut sudut ruangku.

  17. @Mas Restu ,
    kalimat indahmu
    semakin menyusup deras
    dan bicara lantang pada malam yg hening… malamku
    membasuh dahaga panjang seperti kata dipuisimu….

  18. Terima kasih ya rin,
    tubuh itu masih terbujur diatas selimut putih.
    Cerita belum juga usai. Abis nulisnya disela sela waktu aja.

    Kebetulan nich medan lagi hujan, ya sambilan nunggu2 reda.

  19. =,=

    melalui jendela hatinya yang sedikit terbuka
    aku melihat
    genangan luka mengendap perih
    mengembangkan layar diatas perahu harapan
    terombang ambing dibawah mega kelabu

    aku melihat didalamnya
    goresan bayangan dari bayangku.

    Hening merangkul
    menikamkan belati sepi diparu paruku sebelah kiri
    dan sebelum darah bimbang menetes
    merembes diatas jantung
    lentik jemari menutup luka itu
    mengikatnya dengan seulas senyum

    seperti halnya butiran embun yang terjebak dijaring laba laba
    keindahan membiaskan warna cahaya pagi

    sekilas aku menangkap kebahagian
    dan.. sebuah hati yang murni berjalan diatasnya
    memasuki gua gua dari diriku yang tersimpan
    meninggalkan masa lalu

  20. ~Aku menulis

    agar keinginan tertumpah
    melampiaskan rindu bibir pena
    tuk mengecup tubuh mulus putih
    yang lama menanti disela rimbun waktu

    aku melukis
    meski tanpa makna smoga tak sia sia
    menarik sketsa sketsa kecil
    berharap bisa menyelesaikannya nanti

    aku menulis
    agar tinta yang mengalir diserat
    sel sel otakku tak beku
    tak lumpuh
    melemaskan tarian jemari
    diatas gelinjang selembar kertas
    dirambut kanvas

    mengukir kenangan
    memahat hari
    menyimpannya disini

    ~ pulai – 1104’2010

  21. Kisah sebatang pohon

    Dari benih yang tertebar dibawa angin
    aku tumbuh disini
    dipinggir parit dihalaman rumah bambu
    meski tanpa pagar
    rumah ini terlihat megah
    kemegahan yang tak tertulis dengan kata kata
    tak terlukis dengan tinta kebohongan
    kepalsuan dan kebencian
    rumah ini begitu istimewa bagiku
    kemegahan yang tercipta karena kasih sayang
    cinta dan segala kemurnian

    ,
    disinilah aku mulai tumbuh
    akar yang ringkih berpegang pada hara tipis
    berpeluk rankaian pasir dan bebatuan
    daunku
    ah helai lemah tertimpa setetes embun

    perlahan matahari menapak
    tanpa payung
    tanpa bayang bayang menaungi tubuh
    ‘ada ketakutan merengkuh
    menyelimuti alir nadi
    ‘ada rasa jengah dan tanda tanya
    mampukah bertahan
    menata niti jalan panjang didepan
    mampukah merangkak
    berdiri dan tetap tegar

    ,,
    matahari lambat melangkah
    panasnya perlahan membawa embun didaunku
    entah kemana

    terik mulai membakar ilalang diseberang jalan

    takut merengkuh
    darah dalam urat menggelegak
    tak mampu berbuat
    khawatir memenjarakanku
    gigit rasa takut
    tergugu
    membiarkan daun daun terkulai menutup ranting
    keputus asaan merambah akal
    ciptakan kepasrahan yang dalam

    ,,,
    beliung membuncah
    bawakan sebuah tarian
    kadang gemulai kadang liuknya gempita
    murka
    desaunya mulai mengitari

    entah tarian apa yang tengah dipentaskan
    jari halusnya menuntun jilatan api
    memapah kesela sela rumput kering didekatku
    tidak ada terdengar teriakan maupun jerit histeris
    seperti nyanyian subuh dibibir samudra
    khidmat menanti kecupan pagi

    tidak juga keluh kesah tersampaikan
    meski nyala smakin berkobar
    berputar hembuskan kabut putih

    ,,,,
    aku termangu
    tak mengerti apa
    ketika ranting patah gemertak jatuh menimpa
    memaksaku rukuk menghadap rumah bambu

    nyeri terasa diseluruh alur waktu tubuh
    perih lepaskan pasrah
    ‘disekaratku
    tapak kaki beliung tanpa sayap
    tinggalkan jejak pada bara ilalang
    jemarinya lambai tak lagi kuat menggenggam

    langit gelap
    pedang cahaya dilengan awan
    silau mengakar
    gemuruh jantung gelegar bersahutan
    tabuhkan genderang harapan
    air menetas satu satu
    seterusnya deras
    uapkan lidah api dan bara ilalang

    .
    Menggapai harapan yang sempat tertahan
    merasakan kesejukan disela akar
    meski terbungkuk
    bisikan air yang mengalir diparit
    halau rasa khawatir

    merasakan jiwa kehidupan
    menyapu segala prasangka
    tentang nyala api
    tentang beliung
    yang tadinya menebar aroma kematian

    .,
    aku tumbuh
    mengukir batang dalam gurat tegas
    terpelintir menggapai matahari
    bentangkan lengan keseluruh mata angin
    dengan gerai rambut hijau dan kekuningan
    dengan kaki menghujam ibu bumi
    serabut mengikuti arus
    alur lenganku

    aku tumbuh sebagai peneduh
    mendengarkan belati air mengikis tanah
    atau bibir angin mendesik pori
    dari waktu kewaktu

  22. dalam dekap gumpalan kabut
    dingin
    jatuh mengkristal
    menyusup k relung rindu

    terpasung dan diam
    tanpa cerita
    tanpa perbincangan kisah

    bukan pula kebisuan
    gurat lukisan dan getar suaramu yang terbata
    masih mampu kubaca

  23. Dengan hatinya yang murni ,Yang dipenuhi kesahduan
    Ia melangkah dibawah bayang bayang kabut – relung mataku
    Mengutip jejak keindahan ,menggenggam seuntai kalung nestapa
    berbisik perlahan
    Jika ini cinta, mengapa harus ada diantara kita
    Aku begitu khawatir denganmu
    Mematahkan dahan sebuah pohon kebersamaan
    Adalah kerapuhan ranting melepas daunku
    Dan tunas itu terlalu sulit tuk tumbuh
    Duapuluh tujuh purnama, aku tersiksa dengan peluh dikertas itu
    Lewat geletar luka yang kutoreh, pecutnya memaku gelisah
    Namun melihat semangat dari binar yang melarutkan kebahagiaan
    Membalut perih sesalku
    Ucapnya semakin lirih dan diam

    Lima hari, kami sama disini
    Saling berbagi cerita, berkisah tentang perjalanan yang pernah kami lalui
    Dan itu cukup bagiku bisa mengenalnya dengan baik
    Darinya, aku mampu bercermin
    Menjadikan keinginan sebagai tawanan dalam terali dan ruang yang sempit
    Memenjarakan pemberontakan dalam bathinku tuk meretas garis
    Seperti bulu halus yang lepas dari sela sela sayap angsa
    Lembut melayang dan sangkut dipucuk ilalang
    Suaranya gemetar dipermainkan nafas yang mendesak dari hidung bangirnya

    ‘”D…parau suaraku memanggilnya lirih
    Hanya initial itu ( sebagaimana ratusan puisi didiary yang kuberikan dihari ulang tahunnya )
    Memalingkan wajahnya menatapku, seolah olah ingin mendengarkan kembali apa yang kuucapkan, memastikan bahwa aku memanggilnya
    Aku tidak mengulang, sakit disekitar pusar mengunci tenggorakan membasahinya dengan darah yang menetes dari ujung lidah.

    Setelah ratusan hari berlalu dalam penantian, semestinya hari ini, esok dan lusa takkan kulepas lagi belenggu hatimu. Namun, inilah hidup dimana bukit kebahagian berada diseberang, dan dibawahnya jurang curam yang kelam. Aku tau bahwa untuk menggapai bukit itu, aku tak mampu membangun jembatan sendirian-
    Aku berharap bisa menitinya bersamamu, tapi harapan tinggal sepenggal asa
    Menanamkan nisan dengan ukiran nama kenangan

    Menjalin benang ketentraman, tidak harus saling memiliki
    Aku berharap kamu bisa mengerti itu
    Maaf, tidak seharusnya aku mengungkapkan ini saat kamu masih berbaring dan lemah
    Hening menjalar diantara dinding dan sekat biru, menciptakan jarak
    Menyimpan wajahnya dalam butiran kabut
    Mendung membayang tipis ,namun begitu jelas tergambar sebagai bentuk kedukaan
    Seperti isak tertahan,menjadikan beban yang sulit dilepaskan

    Norma ini terpaksa kutebas
    Sebab, esok..detak kan melangkah, menembus samudra
    Tiang tiang sauh telah terpancang, layar mengembang
    Meski rindu ini belum sempurna, detik terus mengikuti dengan angkuh mengikatkan rantai pada perjanjian yang tak bisa kufahami

    Lembut beranjak, dengan lengannya yang gemulai menggeser sekat biru
    >lihatlah merpati lelah itu
    Sayapnya begitu setia mengepak, hinggap ditempat dan waktu yang sama
    Tatapanku mengikuti arah wajahnya,
    Menyaksikan dengan jelas sebuah hati lain, tengah lelap diatas sofa
    Perasaan asing tiba tiba menyeruak dalam dada, menyelam antara dua paru paruku
    Jengah dan nelangsa

    Jangan berprasangka yang bukan bukan, jangan menduga apapun tentangku, segala kebaikan ada dikepal jemariNYA yang tak tampak. Dan keindahan yang kamu impikan sebenarnya telah lama bersemayam dihatimu yang lapang.
    Keperihan, dan penderitaan dari luka yang memanjang hanyalah coretan usang diserpihan kertas ataupun kain perca. Segalanya telah tertulis, terlukis dari tinta tinta yang mengalir dari mata pena ataupun canting kehidupan

    Gapailah apa yang ada diantara dua sayap merpati itu, didalamnya aku melihat ketabahan dan keanggunan seorang wanita.
    Kata katanya meluncur tanpa ekspresi, kedukaan lambat berarak dari wajah pasinya, digantikan rona memerah keluar dari hati yang tulus

    Dentang jam mengetuk dinding satu kali, memapah malam jadi semakin tua. Dengan sedikit kekuatan dari mata yang mulai redup, aku melihatnya berdiri, menarik selimut menutupi lengan hingga dekat leherku. Berbisik perlahan ‘ terimakasih telah memberi warna dirinduku yang lampus, doaku adalah air penghapus rasa hausmu.
    Setelah kata kata itu ,aku tak mampu mengingat apapun kecuali senyum termanis darinya ikut dalam tidurku

  24. Dengan hatinya yang murni ,Yang dipenuhi kesahduan
    Ia melangkah dibawah bayang bayang kabut – relung mataku
    Mengutip jejak keindahan ,menggenggam seuntai kalung nestapa
    berbisik perlahan
    Jika ini cinta, mengapa harus ada diantara kita
    Aku begitu khawatir denganmu
    Mematahkan dahan sebuah pohon kebersamaan
    Adalah kerapuhan ranting melepas daunku
    Dan tunas itu terlalu sulit tuk tumbuh
    Duapuluh tujuh purnama, aku tersiksa dengan peluh dikertas itu
    Lewat geletar luka yang kutoreh, pecutnya memaku gelisah
    Namun melihat semangat dari binar yang melarutkan kebahagiaan
    Membalut perih sesalku
    Ucapnya semakin lirih dan diam

    Menjalin benang ketentraman, tidak harus saling memiliki
    Aku berharap kamu bisa mengerti itu
    Maaf, tidak seharusnya aku mengungkapkan ini saat kamu masih berbaring dan lemah
    Hening menjalar diantara dinding dan sekat biru, menciptakan jarak
    Menyimpan wajahnya dalam butiran kabut
    Mendung membayang tipis ,namun begitu jelas tergambar sebagai bentuk kedukaan
    Seperti isak tertahan,menjadikan beban yang sulit dilepaskan

    Norma ini terpaksa kutebas
    Sebab, esok..detak kan melangkah, menembus samudra
    Tiang tiang sauh telah terpancang, layar mengembang
    Meski rindu ini belum sempurna, detik terus mengikuti dengan angkuh mengikatkan rantai pada perjanjian yang tak bisa kufahami

    Lembut beranjak, dengan lengannya yang gemulai menggeser sekat biru
    >lihatlah merpati lelah itu
    Sayapnya begitu setia mengepak, hinggap ditempat dan waktu yang sama
    Tatapanku mengikuti arah wajahnya,
    Menyaksikan dengan jelas sebuah hati lain, tengah lelap diatas sofa
    Perasaan asing tiba tiba menyeruak dalam dada, menyelam antara dua paru paruku
    Jengah dan nelangsa

    Lima hari, kami sama disini
    Saling berbagi cerita, berkisah tentang perjalanan yang pernah kami lalui
    Dan itu cukup bagiku bisa mengenalnya dengan baik
    Darinya, aku mampu bercermin
    Menjadikan keinginan sebagai tawanan dalam terali dan ruang yang sempit
    Memenjarakan pemberontakan dalam bathinku tuk meretas garis
    Seperti bulu halus yang lepas dari sela sela sayap angsa
    Lembut melayang dan sangkut dipucuk ilalang
    Suaranya gemetar dipermainkan nafas yang mendesak dari hidung bangirnya

    ‘”D…parau suaraku memanggilnya lirih
    Hanya initial itu ( sebagaimana ratusan puisi didiary yang kuberikan dihari ulang tahunnya )
    Memalingkan wajahnya menatapku, seolah olah ingin mendengarkan kembali apa yang kuucapkan, memastikan bahwa aku memanggilnya
    Aku tidak mengulang, sakit disekitar pusar mengunci tenggorakan membasahinya dengan darah yang menetes dari ujung lidah.

    Setelah ratusan hari berlalu dalam penantian, semestinya hari ini, esok dan lusa takkan kulepas lagi belenggu hatimu. Namun, inilah hidup dimana bukit kebahagian berada diseberang, dan dibawahnya jurang curam yang kelam. Aku tau bahwa untuk menggapai bukit itu, aku tak mampu membangun jembatan sendirian-
    Aku berharap bisa menitinya bersamamu, tapi harapan tinggal sepenggal asa
    Menanamkan nisan dengan ukiran nama kenangan

    Jangan berprasangka yang bukan bukan, jangan menduga apapun tentangku, segala kebaikan ada dikepal jemariNYA yang tak tampak. Dan keindahan yang kamu impikan sebenarnya telah lama bersemayam dihatimu yang lapang.
    Keperihan, dan penderitaan dari luka yang memanjang hanyalah coretan usang diserpihan kertas ataupun kain perca. Segalanya telah tertulis, terlukis dari tinta tinta yang mengalir dari mata pena ataupun canting kehidupan

    Gapailah apa yang ada diantara dua sayap merpati itu, didalamnya aku melihat ketabahan dan keanggunan seorang wanita.
    Kata katanya meluncur tanpa ekspresi, kedukaan lambat berarak dari wajah pasinya, digantikan rona memerah keluar dari hati yang tulus

    Dentang jam mengetuk dinding satu kali, memapah malam jadi semakin tua. Dengan sedikit kekuatan dari mata yang mulai redup, aku melihatnya berdiri, menarik selimut menutupi lengan hingga dekat leherku. Berbisik perlahan ‘ terimakasih telah memberi warna dirinduku yang lampus, doaku adalah air penghapus rasa hausmu.
    Setelah kata kata itu ,aku tak mampu mengingat apapun kecuali senyum termanis darinya ikut dalam tidurku.

  25. kita pernah sama meraut sepi, hingga ujungnya tajam lalu patah menyisakan arang
    sebagian dari kisah itu sulit tuk diceritakan, kerna terletak di atas rasa yang telah membeku, mematung – laksana pahatan cadas dari titisan air yang terus menerus
    menampilkan sosok keindahan dalam selimut kabut sekaligus mempertontonkan keangkuhan dan ketakutan diremang bayang bayang malam

    Kita sama sama diam melukis dinding, melampiaskan imaji, hingga pori pori dan wajah terbakar matahari
    Sementara bibir yang menghitam , bungkam
    Menelantarkan pembicaraan

  26. Wah mas Restu apa kabar ? ketika kita sama diam melukis dinding maka dengarkan aku kau dan celotehanku yang tak henti…
    terima kasih tulisanmu semakin membuatku ingin terus menulis…

  27. kabarku baik baik aja Rin. Hihihi seneng dengerin celotehmu
    semangat benerrrrr n ber api api.

  28. Bacakan aku puisi, dengan latar desir angin menyentuh dedaunan
    Riuh gemuruh ombak mendentum pantai
    Teriakan histeris kaum tertindas, detak waktu menebas ruang
    Merepih sepi

    Bacakan aku puisi
    Yang terlahir dari bibir saga dekat bilik jantungmu

    Atau, dengarkan saja aku
    Mengeja bait demi bait cerita yang sempat kurakit , bermain dialir sungai
    Disela sela jemarimu

  29. Tidak

    ungkapan dari sela bibir telontar begitu saja

    laksana gelap

    lelah membujuk cahaya, suaranya nyaris tak terdengar

    entah takut atau kalut

    namun riuh gemuruh gelombang dalam dada

    tiba tiba mengalun lembut

    berayun lambat

    sepi seperti menjadi kutukan angin

    terjebak dalam ruang tanpa celah

    hening … lantas diam

    mendera ego smakin keras dan kental

    tuk sesegera mungkin menghindar

    menyisih,

    menyingkir lebih jauh

    tidak, kata kata itu justru menahanku

    memandang gundah arca gading

    melihat dengan jelas air yang merembang

    menjadi kilatan kilatan tajam membius

    lewat bibirnya yang gemetar

    basah oleh tetesan luka

    darah kemarahan membayang

    meski ribuan jemari cahaya rembulan

    memahat keindahan dimahkota dan payung dedaunan

    lelehan rasa itu merangkak mendekati

    menenteng seutas nyeri, melingkarkan nestapa diantara dagu dan dadaku

    kebisuan menghempaskan sepi

    seperti lirik lagu yang dipersembahkan tuk sebuah kematian

    dan dinyanyikan dipusar malam

    kebekuan mendera, melemahkan seluruh persendian hingga lunglai

    helaan napas disertai gerak langkah berat, menggeser guguran daun dan reranting

    mengusir kebuntuan

    kutengadahkan wajah, yang tadinya terkulai

    mendapati kedua matanya tengah menyulam kebimbangan

    merajut benang benang kegelisahan

    rembang air perlahan turun dari peraduan

    mengecup retak kwarsa berbingkai baja

    isaknya yang tertahan degub sedu

    memapahku berdiri, hingga denyut tipis ubun ubunnya mampu terlihat

    kedekatan ini memompa jantung jadi smakin cepat tak beraturan

    menyatukan bayang kewajah bumi

    Aku menemukan diriku yang asing, tengah memberontak mencoba melepaskan diri dari satu keinginan mengangkat wajah yang tertunduk layu

    Memagut hasrat hingga terbakar dan terbang, laksana air terpanggang terik bertaut dikumpulan mega

    Aku menemukan diriku dalam kerisauan dan kekhawatiran, menghunus untaian cahaya sebagai cambuk tuk memisahkan jarak

    Sementara aku dan aku yang lain, tanpa riskan menggapai pundaknya, merangkulnya dalam dekapan merasakan salju mulai mencair , mengalir meretas akar pertengkaran

  30. Langkah kecil mendendangkan gema
    Memecah sepi
    Mengendap , sejenak terhenti dan lambat mendekat
    Masih dengan mata tertutup, aku mampu merasakan jemari halus meraba keningku. Perasaan asing menyergap dalam gelap
    Kelembutan yang tak sama, membawaku ke alam mimpi dan nyata, aku tersesat dalam genggaman monster ciptaanku sendiri
    Ketakutan akan rantai keinginan tuk menggapai keindahan , laksana gemuruh badai yang mempermainkan cemeti cahaya dihamparan padang hijau terbuka, gelegar bersahutan memenjarakan hasrat.
    Alunan nafas yang tak sama, menatahku pada ruang hampa, aku tidak menemukan apapun kecuali kekosongan bersemayam dalam diri yang bimbang dan penuh keraguan. Tidak ada apapun selain keinginan keinginan yang terbunuh oleh belati kehidupan terkubur pada hamparan pemikiran yang membosankan
    Pada kekecewaan dan kehilangan
    Pada gejolak rasa yang tak tentu
    Terengkuh dalam tanya yang mencari jawaban
    Menciptakan kekalutan sebagai satu sayatan perih
    Sementara, malam menyisakan nisan dipusar purnama
    Mengiris gumpalan kabut
    turun mengecup kedua mataku

    KOMA,
    Alam bawah sadar membimbingku kedepan cermin, meyakini bayangan didalamnya sebagai diri yang utuh, lewat senyuman dan isyarat lambaian tangannya, aku mendekat , mengamati guratan guratan dilingkaran mata dan helaian cahaya berkilau dirambutnya lebih dari yang gelap. Melihat wajah tua dan lelah.
    Memulai percakapan dengan pertanyaan
     Siapa engkau wahai lelaki renta

    Dengan bibir yang tetap menyimpan senyum ia menjawab “ aku adalah dirimu yang lebih dahulu beranjak menebas waktu, meninggalkan jasadmu yang penuh keraguan, bukan sahabat juga bukan cintamu yang lebih banyak berangan daripada melakukan. Aku adalah dirimu yang terpenjara dalam sesal berkepanjangan, terlunta ditengah semak dan belukar kota, terjerembab dalam gumpalan asap kotor. Lihatlah bibir ini, ini adalah senyum kemunafikan dirimu yang selalu mencela dari balik punggung penderitaan.
    Racaunya tak henti mengaing ditelingaku, sebelum lebih panjang, tanganku mengepal, memukul keras kewajahnya hingga kata-kata terhenti dan menjadi dentingan kaca pecah, terserak diatas lantai. Masih dalam berdiri aku berguman “ engkau bukan diriku
    Riuh sorak dan tawa serak dari serpihan cermin yang terbuka.
    Sesak tangis terisak dari repihan bayang yang tertutup
    Menamparku dengan rasa panic, hingga lemah jatuh terkulai menerima tikaman tikaman menyakitkan.
    Lantas suasana menjadi hening, dingin menyentuh tengkukku mendudukkan tubuh yang masih setengah limbung kesudut ruang.
    Aku adalah dirimu,
     ibu yang mengasuh dengan segenap kasih sayang dan kelembutan, yang menyimpan cemas aat kau terluka, memaafkan sebelum kata kata maaf itu sendiri kau haturkan.
     ayah yang memikul beban, meletakkan bara kehidupan diantara dua bahu, tanpa pernah menghitung sejauh mana langkah mencecah tanah.
     putra yang lahir dari rahim bumi, yang selalu berharap tumbuh diantara rerimbun dedaunan, ditubuh tubuh perkasa belantara.
     putri yang selalu bermain dibatas dua lautan, mencintai keindahan dan kedamaian.
     Sahabat malam dalam dengkuran panjang hingga subuh terlewati
     Karib siang yang berayun lelah direranting terik mentari, mencari untung menemu rugi

    Aku adalah dirimu
    Aku adalah ……………………….
    Aku……………………………………
    Kembali suara suara riuh laksana gelombang saling berebut, berkejaran
    Kadang lirih
    Dan sesekali keras membentak, dengan teriakkan pengakuan bahwa mereka adalah diriku.
    Suara suara melambungkan jiwaku dengan celaan, sekaligus membunuhku dengan hempasan pujian.
    Dekat anak telingaku sebelah kanan, cermin pecah masih tertanam, ujungnya yang tajam membenam, iba tangisnya terisak mengucurkan darah.
    Akulah sebenarnya dirimu, kata katanya diucapkan perlahan, namun sangat jelas mengisi sel sel otakku, hingga suara riuh mampu terabaikan
    Akulah dirimu “ hati yang bersandar diparu paru sebelah kiri, lentera yang selalu dipermainkan angin, terang menyala ketika ia mati, lemah terhuyung ketika ia kuat berhembus
    Jemariku gemetar menyentuh, menggapainya
    Sedikit rasa sakit saat getar tanganku meraba sisinya yang lebih tajam
    Menemukan hati berselimutkan kabut berwarna merah mendekati kelam, mendapati bayangan diriku dalam keadaan muram
    Lagi , gelap merangkulku begitu kuat. Tangan tanganya yang kokoh mencengkram menutup alur nafasku hingga sesak dan tak sadarkan diri.

  31. Mas restu slm kenal yah puisinya bgs,…aku suka puisimu

  32. Hai kas, salam kenal kembali. Terimakasih ya.

  33. Detik detik berdetak,
    Jari jari waktu yang lentik mengetuk jendela kamarku
    Mengantarkan berkas cahaya , serta aroma khas yang menitiskan kesucian,
    Saat mataku membuka dan mengerjap, menjumpai wajah wanita setengah baya, wajah yang tak pernah asing bagiku. Dirinya adalah anugrah terbesar yang diberikan alam untukku, didekatnya aku seperti bayi yang tertidur pulas dalam buaian , kedamain dan keteduhan serasa mengalun dalam peluknya.
    ibu, yang mengajarkan cinta dengan bahasa hati, meluruhkan segala bentuk nestapa
    Kehadirannya menciptakan kerinduan ,tuk bisa kembali ke masa kecil yang bahagia. Kenangan itu laksana malam yang menitipkan butiran embun dipucuk pucuk rerumputan, dan pagi… lewat kerlip mentari menciptakan berjuta kilau warna keindahan. seperti ayunan langkah kaki dari pusaran mata air belantara menuju muara, tapak tapak terjejak meninggalkan bekas lantas hilang tersaput musim.
    Ketika ia menyadari, bahwa sayu mataku memberikan tanda dan harapan, linang air matanya memelukku, sebuah pelukan kasih sayang yang tak terbalaskan. Lalu bisiknya “ bangunlah anakku, ibu tau bahwa dirimu tidak terlalu rapuh dengan keputus asaan.Tersenyumlah, sebab dalam senyum kamu takkan pernah menemui pikiran pikiran duka, lewat senyum , pintu kabut akan terbuka dan didalamnya dapat kamu temui telaga bening lukisan dari jemari keindahan. Bangunlah, bukankah semesta alam telah mengajarimu tentang cinta dan penderitaan. Bukankah rasa sakit juga merupakan bentuk kasih sayangnya yang tak terlihat, memahat kesadaran diatas luka masa mudamu
    Untaian kata katanya lembut bagaikan hamparan mutiara yang dipersembahkan rahim laut kepada tepian pantai, kemudian dengan lidahnya yang asin mencumbu mutiara mutiara itu hingga tak sempat kering.
    Bisikannya memberikan nyala dalam keremangan dan dibawah gemetar bayang bayang liuk tarian kehidupan berputar mengelilingi jiwaku. Berteman kekuatan serta keinginan tuk sesegera mungkin lepas dari sakit, tanganku menghentak alas tubuh yang membentuk cekungan. Menghambur kerengkuhan ibu, sembari berbisik ‘maaf ibu. Kebebasan yang engkau beri mengikatku pada terali kebodohan, kesenangan dalam gelas yang berisikan anggur hanyalah kepahitan yang menyeretku keruang ini.
    Wajahnya berseri memancarkan kegembiraan dan keharuan, dari matanya yang berkaca kaca , aku mampu melihat hidup yang lebih berarti.

  34. Aku tengah berbaring, lelah menggapai diriku
    Engkau lihatkah ,pucat wajahku
    Pasi ditampar diriku
    Lihatlah,Tatapan kedua mataku
    Lemah mencari cari cahya diriku
    Menggigil sayu
    Seperti daun yang tak lagi menemu asupan
    Layu mataku,Menguning, merayu diriku
    Menggelepar dan gemetar
    Terombang ambing hingga kering
    Aku butuh diriku, yang gemar bersikukuh denganku
    Tegar meski berselimutkan jiwa rapuh
    Wuih, aku ternyata lebih membutuhkan pemikiran pemikiranku kembali
    Mendengarkan bisikankanya yang terkadang usang dan polos
    Pemikiran yang mampu membakar jutaan kertas kosong
    Menyalakan keengganan dan ketakutan
    Menebas keangkuhan dan kesombongan

    Yap, aku membutuhkan pemikiranku kembali
    Yang sempat terserak dialiran sungai hitam
    Ditepi tepi terotoar
    Yang sering tersuruk diarus kelam kehidupan

  35. Di dada

    Ada air yang tenang
    Ada riak
    Ada gemuruh ombak .

    Seperti rindu
    Tenang dalam kedalaman
    Kadang beriak
    Terkadang berombak bergemuruh dan membadai

    Seperti itulah aku saat ini

    Sesaat aku ingin menjadi sungai yang mengalirkan air jernih disepanjang hilir hingga hulu saga hatimu.
    Disaat lain, aku ingin menjadi lahar dingin mengairi akar akar jantungmu, membongkar segala tanggul kesepianmu.
    Namun aku tak bisa.

    Di dada,
    Kesunyianku berbalut kafan
    Diusung dalam keranda keterbatasan.
    Lantas, tanpa nisan, tertanam ditanah tanah ketidak berdayaan.

    Seperti halnya sepimu, sunyiku berselimut kabut

    Dingin

    Tanpa dendam

    151110

  36. ‘.*

    Sesaat lalu, terbersit kenangan akan riuh celotehanmu.
    Hanya ada desah dan helaan nafas, ketika harus menepis keindahan dan kerinduan. Kamu boleh menyebutku pengecut, karena aku tidak memiliki keberanian tuk sekedar berbincang denganmu. Selain ketidak ramahan diriku .Rasa salah menjadi bayanganku yang kedua , semakin kucari perasaan itu, semakin aku terbenam dalam kelu. Entah apa .
    Mengenalmu bagaikan menemu intan ditumpukan pasir kwarsa. Kuraih lalu kusimpan diantara laci lemari kamarku. Kubuka stiap kali aku mengingat, menatap bias warna warni yang terpancar disana.
    Kamu boleh memanggilku penakut, karena aku memang pantas untuk sebutan itu. Aku tidak berharap kamu bisa memahami diriku. Sebab aku hanyalah lukamu yang tersimpan.

    Sesaat lalu, terbersit keinginan tuk sekedar mendengar suaramu. Namun keberanianku terlalu lemah, tuk menjangkaumu. Meski tidak utuh, aku bisa merasakan keperihan itu.

    Canda tawamu masih membayang
    Sungguh keriangan itu mematri kebahagian

    Sesaat
    Hanya sesaat
    Aku terasing dalam kesendirian

  37. Aku dan seorang pemabuk

    Sejak cinta menyelingkuhi kemurnian
    ia menjadi lelaki pendendam
    Berteman kesunyian dan diam
    Seperti diamnya tuhan
    Tuhannya tuan tuan
    Tuannya tuhan tuhan
    Jemarinyanya tak lagi gemulai menarik kuas ,
    Ia menjadi lelaki pemabuk, terajut dalam serat serat kehidupan .
    Bersahabat kesepian dan hening
    Seperti heningnya tuah
    Tuahnya tuak tuak
    Tuaknya tuhan tuan

    Suatu kali ia datang menghampiri, dari rongga mulutnya aroma anggur menjadi wewangian ruang dan terhuyung.
    > Aku lapar
    Aku tak butuh asupan tubuhku, lama aku berdiri ditiang palka , menatap gulungan ombak, menentang badai , hatiku haus dan lapar
    Sela lenganku bertumpu pada lengkungan gitar, lemah wajahku bersandar dipunuknya yang satu, jemari kiri menekan senar pada ruangnya,sementara jemari kanan memetik pelan satu satu. Musik aku mainkan perlahan, dentingnya menjadi musik jiwa.Kesedihan bercengkrama dengan keperihan, agar bayangan duka tak tampak , keningku menekur.
    > Hatiku haus dan lapar, nada nada itu mencerai beraikan keinginanku, hentikanlah.
    < Engkau angkuh, kataku datar
    kamu itu angkuh, tidakkah kau lihat diriku yang lebih fakir darimu
    Lihatlah , malam malam telah berguguran ditelapak waktu, diriku masih seperti ini, meminta bahkan memelas untuk bisa menemu jalan.
    bantu aku, terlalu lama aku dalam lelah, beri aku secangkir nasihat, ucapnya liat
    sebelum gerak jantungku terhenti, sebaiknya kita tinggalkan tempat ini, “aku tidak sanggub menyaksikan dirimu yang meregang , lunglai mengejang, ah ,betapa zalim rajamu merajam” seketika lirih suaranya melemah, namun lebih jelas daripada sebuah rengekan.
    kami kembali berjalan bersisihan, meninggalkan lorong itu, kabut mulai menipis.
    Sesampai diluar, masih dalam keadaan limbung ia berdiri , dan menatapku, pandangannya seakan akan belas kasihan.
    Lagi tangannya memelukku, dan diam menjadi satu satunya bahasa kebenaran, terangkum dalam berjuta kisah.
    Lama bibir kami disulam jarum kebisuan,
    sementara _purnama dimahkota tiang listrik menyisakan separuh bayang , separuh lagi pendar cahaya berselimutkan lapisan awan tipis
    embun menitik, menambah dinginnya kebekuan, merambah kebuntuan
    perlahan lima jemarinya memukul pundakku , tanpa ucapan perpisahan ia melangkah, terhuyung meninggalkanku
    dan aku, kembali menjadi raja atas diriku
    merebut anak panah yang terselip dari balik dada diriku

  38. jemari imaji

    tik
    .
    tarian jemari imaji
    sejenak terhenti
    mati suri

    terkubur dalam keheningan

    serupa kekosongan
    sering tertuang di tiap baris puisi
    tanpa warna
    kehilangan rasa

    seperti kehampaan
    sering terhempas di tiap penantian
    tarian imaji
    rebah
    kehilangan aura

  39. MAUT

    Kaukah
    Sosok yg berdiri dipintu itu
    Sesekali melintas lewat ekor mataku

    Kaukah
    Berbalut dingin tanpa wajah
    Wewangian bekumu aroma ruangku

    Kaukah
    Atau hanya karna gigil rinduku
    mencipta bayangmu

  40. Catatan kaki

    Ketika kau baca ini, mungkin aku tengah melangkah, meninggalkan berkas catatan, dipasir dan bebatuan.
    Kata kata kutuliskan dikedua tapak kaki, bukan puisi .
    Memakai jarum kebisuan, ia kusulam perlahan
    Serasa ada perih terkadang geli.

    Ketika kau baca ini, mungkin aku tengah duduk, menatap ciplakan kata tersebut, diatas pasir dan batuan.
    Diatas pasir dan batuan, bukan diatas lumpur maupun telaga yang dikeruk jemari hujan.

    Jika kau tau aku tengah menyalami tangan tangan keraguan, sebab begitu kaburnya kalimat itu, bahkan sebahagian hilang terhapus jejak yang mengikuti ku.

    Catatan kaki
    Dengan pisau silet
    Kukiliti lagi pelan pelan
    Mungkin, kekosongan ini bisa lebih baik

  41. bukan sawit

    dibawah remang bayang
    aku masih tertidur dan bermimpi
    dengan langkah timpang
    berjalan dari pusaran mata air belantara , menuju muara
    tapak tapak terjejak
    meninggalkan bekas
    lalu hilang tersaput musim

    aku masih saja bermimpi
    menjemput hatimu
    untuk bisa kembali menanam hutan yang gundul
    bukan sawit
    sawit hanyalah fata morgana kekayaan
    mengisi kantung kantung juragan tambun
    bukan sawit
    yang perlahan tumbuh
    akarnya merambah jutaan hektar lahan
    menyerap tanggung jawab keserakahan

    dibawah remang
    menuju gelap
    aku tiada lelap
    kerna bayangbayang telah menjadi gambar ketakutan
    akan bencana
    akan geram dan amarah

  42. jembatan waktu

    lelaki yang melintasi jalan itu
    menatap aliran air
    berlari cepat melebehi hitungan detik

    memandang gumpalan mengeras
    duduk menunggu abaikan putaran hari

    melihat luruh dedaunan
    bergerak lambat
    berdiri kaku
    merasakan terik
    dingin malam
    hempasan
    bahkan elusan lembut tangan tangan angin

    jembatan waktu
    dibawahnya
    sungai
    batu
    pepohonan
    menjadi waktu

  43. diam

    diam itu
    sepi yang tersimpan dalam lipatan daun daun kering
    membungkus sunyi didingin malam

    diam itu
    rangkaian kata terkunci dalam almari merah
    atau dalam gelombang air yang ada diruang kepala

    diam itu
    bukan tanpa suara
    kerna deburnya melebihi teriakan
    bukan pula lingkaran emas

    diam itu
    diamku
    diam
    dia
    di
    d
    di
    dia
    diam
    diamku

  44. bangunlah

    siangmu yang lelah
    lemah berayun direranting terik
    bermain mengumpulkan remahan waktu , hanya tuk menggapai suatu kenikmatan dan kesenangan

    dan aku
    tidak bermaksud membangunkanmu
    ketika malam merangkulmu dalam lelap
    memeluk tubuh rentamu dengan impian kosong

    bangunlah, rembang pagi mulai membayang
    hamparan sajadah telah membentang, hadapkan jasadmu dengan kemurnian
    sujudlah, basuh hatimu dengan sanjung dan puji.
    dengan segala cinta yg diberikan untukmu

    duh hati
    bangunlah
    mengapa terus rebah bermalasan

  45. Aku suka senja ini

    Dimana selendangnya yang jingga, bergelayut indah dileher bukit.
    Sungguh
    Aku suka senja ini
    Dimana bayangmu, menyerupai tarian api yang dimainkan beribu pucuk bunga ilalang.

    Aku menikmati nuansa ini
    Dan keinginanku menceritakan padamu, tentang awan yang berpola
    Tentang riak kecil air sungai barumun yang memantulkan kemilau emas
    Tentang elusan tangan mengayuh dari atas perahu

    Ah, inilah keindahan itu
    Meski kau diam
    Aku kan menceritakannya
    Lewat pucuk rerumputan yang mengangguk
    Lewat suara suara
    Bahkan melalui nyanyian jangkrik

    Lihatlah
    Lihatlah
    Jelas, dari mataku yang dipenuhi binar binar kekaguman.
    Halus, dari senyum yang menyimpan keharuan

    !9mei!!

  46. Teruntuk sahabat mayaku ( D )

    Usailah sudah senja indah itu
    Menyisakan remang disimpang
    Merangkul hening

    Dan kita

    Masih memperbincangkan puisi
    Mencari makna dan kekisruhan

    Tulisanmu
    Ibarat bayang dibalik kaca gelap
    Ada
    Namun samar tertangkap
    ‘kata itu membekas hingga kini

    Kita
    Masih terus berbincang
    Lewat alur
    Melalui sela waktu dan jejaring

    Sementara aku terus mencari
    Membenahi diri
    Mencoba menisik jarum diatas kain dari lingkaran ram tenun tangan
    Merajut satu satu benang kata
    Menyulamnya
    Hingga kata kata itu menjadi lukisan dengan paduan warna

    Sadar
    Inilah tulisanku
    Buram
    Bahkan dapat dikatakan gelap
    Tidak ada gelembung nafas
    Apalagi bayang bayang

    Lantas
    Perbincangan kita
    Pupus
    Terhapus jarak
    Terengkuh kesibukan

    Tapi, benarkah

    Tidak

    Ternyata kamu telah menghapusku
    Menyimpan rasa kecewa
    Dan tanda tanya
    Luka mana yang telah kutoreh
    Coretan mana yang membuatmu tidak suka keberadaanku

    Jika memang ada duri dibalik lidahku
    Jika memang ada api ditinta catatanku
    Maafkan aku
    Maafkan
    Maaf
    Kerna hanya kata itu yang bisa kusampaikan
    Dari rasa salah
    Dari perasaan tersisih
    Dari mati suri tulisantulisan
    Dari kebodohan dan egoisku

    Maaf
    Sekali lagi maaf

    270511

  47. Hanya pengen nulis

    aku dan pemikiranku yang asing

    Jam dilingkaran tanganku menunjukkan pukul sebelas kosong tujuh.
    Waktuwaktu seperti ini , biasanya aku sudah terlelap dalam ranjang, dalam kelelahan dua belas jam kerja ditambah dua jam perjalanan.

    Bandul pengikat tirai, berayun, sesekali berputar dipermainkan angin.
    Tatapanku mengikuti gerakan itu
    Sementara, pikaranpikaran asingku mengambang, menuju kepermukaan.
    Ibarat pelampung yang tersangkut diantara rekahan karang didasar laut, lepas oleh arus yang keras.
    Pikiranku mengambang, terombang ambing, kadang dipuncak gelombang, kadang dilembahnya.
    Pikiranku adalah pelampung
    Angin sebagai naluri
    Air menjadi rasa
    Daratan, bentuk dari jasad yang digerakkan oleh simpulsimpul akar kehidupan
    Dan cahaya, serupa batas pandangan.
    Pikiranku
    Adalah pelampung
    Berada diatas rasa, menuju seonggok jasad
    dipermainkan naluri
    dan batas.

    Pikiranku adalah pelampung
    Yang membatasi antara angin dengan angin
    Angin dengan air
    Angin dengan daratan
    Angin dengan cahaya

    Sekarang
    Pikiranku berubah menjadi angin
    Terkurung dalam keterbatasan
    Berujud sebagai aku
    Yang asing
    Bagi diri
    Bagi pemikiranpemikiran yang tidak bisa mengenalku .

    Pikiranku adalah angin
    Mengapung dalam pelampung

    Pecah terberai dihalaman ini

    Jam dilingkaran tanganku menunjukkan duabelas kosong enam. Kuberharap dilain waktu pikiranpikiran lainnya tidak seasing tulisan ini.

  48. .

    di akhir tikungan
    setelah melintasi tanjakan dan menyebrangi banyak lembah
    kutemukan jalan lurus penuh lubang dan batuan
    mencoba terus berjalan
    menghindari sudut batu yang tajam
    melompati kubangan lumpur

    smakin keras menghindar
    smakin kukuh melompat
    tapak kaki tetap saja terluka
    tetap saja basah

    ujung jalan tlah tampak
    membentuk titik
    membayang sebagai misteri
    dengan gemetar kuterus melangkah
    meski tapak penuh darah
    genangan memerah
    langkah tetap beranjak
    berpijak
    sebab dibalik titik
    ada gelap yang menyimpan cahaya
    penghubung ‘kau, aku

    .
    akhir dari sebuah catatan
    juga
    merupakan awal dari suatu perjalanan lain

  49. wahai

    jika keangkuhan adalah selendang milikmu
    mengapa
    helainya, masih saja mengikat saga hatiku
    hingga aku
    sering berpaling dari dirimu

    duh wahai
    jika cinta adalah perwujudan dirimu
    mengapa
    durinya, masih saja tertanam dibelahan paru kiriku
    hingga aku
    terkadang lari
    dari cinta itu sendiri
    dari kasih sayangmu

    wahai
    rengkuhlah aku
    raih
    dalam dekapmu
    bakar helai helai kesombongan dan duri kebencianku

  50. cahaya

    didalam gelap ada keindahan
    tak tampak memang
    namun
    kita mampu merasakan
    walau hanya sekedar kenangan

    didalam gelap ada kekelaman
    hitam
    pekat memang
    namun
    kita tidak pernah tau
    bahwa dari seluruh penjuru
    berkasberkas cahaya selalu menerabas masuk
    mencari lubang melalui retakan dan celah

    retakan
    retakan yang tercipta sebelum ada kegelapan

    celah
    celah yang mengalir dari darah murni
    diantara alur hitam
    dikedalaman kelam

    ketika cahya itu
    menitik
    keindahan maya tenggelam
    terbias keindahan hakiki

  51. bulan separuh bayang

    duadua limapuluh
    aku mulai membuka halaman ini

    diluar
    dalam selimut kabut
    bulan merah pucat
    menyisakan separuh bayang

    bulan masih separuh
    separuh bertaruh bias
    separuhnya lagi gemetaran berperahu
    gemetar berpeluk bayang

    duaempat kosong tiga
    aku ingin kau meniupkan kantuk
    agar kau tau
    akulah bayang itu
    separuh
    bertaruh bias

    Nbk blk9

  52. Yg kurasakan, engkau tak mengingatku lagi

    Lirih suaranya mengambang diantara kesadaranku
    Akupun bersandar didinding, berpangku siku. Mencari asal suara itu.
    Selain desau angin menjerit dari sela pintu kamar mandi, tidak kutemui apapun.

    Lantas malam menarik kesunyianku ketempat paling hening
    Tempat yang menyimpan sebuah hati dipalung terdalam kerinduan
    Yakni, tempat teruntai kata dalam wujud keremangan

    Kantuk menjerat mata, sementara rasa penasaran menusuk jarum pada pikiran, membuat suatu suasana trance,dimana kesadaranku terombang ambing oleh suara misteri yg muncul sejenak tadi.

    Tidurlah
    Tidurlah wahai jiwa lelah
    Lelaplah dalam buaian renta nan pongah

    Kembali suara itu berbisik lemah, namun terasa sangat jelas menggema diruang kepalaku.
    Lagi, aku terduduk
    Mengabaikan rasa kantuk yg sangat berat.
    Duduk berpeluk lipatan kedua tungkai kaki.
    Kemudian berbicara tanpa suara ‘aku tidak lelah, tidak pula pongah, lihatlah betapa kuatnya kedua jemariku mengepal bara, dimana api kehidupan terus menyala membakar garisgaris retas pada langkah yang telah kutinggalkan.
    Lihatlah, meski melepuh, aku selalu menjauhi keluh.

    Derit ranjang besi dan dengkur dari kamar sebelah menepis keheningan, menghentikan ucapanku.

    Denting tiga kali dari pipa besi yang dipukul peronda, menyadarkanku. Malam sudah terlalu larut, dan aku tak ingin terbawa rasa penasaran dari suara yang tak begitu kukenal.

    Membiarkan catatan ini mengambang.

    Tulislah
    Walau penamu bertintakan air mata

    Tulislah
    Diatas kertas
    Atau didinding hati

    Tulislah meski sebaris kata
    Kerna ia buah dari pikiran
    Dari perjalanan yang disampaikan melalui mata dan telinga
    Engkau kan menemui berjuta keajaiban
    Bahkan mukjizat terbesar dari dunia

    Teruslah menulis wahai
    Ceritakan
    Tentang punuk gelombang
    Tentang badai dan halilintar
    Atau seribu warna benang yang dirajut oleh jemari kehidupan

    Lagi, suara itu menggema pelan
    Meninabobokkan

    Blok9

  53. Sekedar ingin berkabar

    Aku baikbaik saja
    Meski dalam keheningan, aku masih baikbaik
    Mengurai satusatu rajutan hari
    Terus belajar dari yang sedikit , dari permainan hidup yang selalu berubah

    Aku masih suka menulis, walau beberapa kalimat, lantas terbuang.
    Satu hal yang tidak kusuka ketika menulis, disaat memulai, aku harus berpikir, entah kenapa. Sepertinya aku bukan pengarang yang baik, bukan pula penulis yang pintar.

    Tulisanku ucapanku
    Kata kata digelombang halimun dalam pikiranku
    Jika saja aku mampu melukis
    Tulisanku kan menjadi bayangan
    Menjadi gambar atas hening maupun keriuhan jiwaku

    Tulisanku Lisanku
    terungkap dan mengalir begitu saja
    Mengisi dingin malam
    Mengais diterik siang
    Menjadi puisi
    Menjadi bahasa hati
    bergetar lembut didesir darah dan detak jantung

    Tulisanku ucapanku lisanku
    Aku berharap tetap terjaga
    Dari amarah
    Dari gemuruh rasa iri dan gejolak kebencian

    Aku baikbaik saja
    Smoga demikian pula adanya kamu

    Blok9

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s