Komunitas Pecinta Puisi

Adakalanya kita perlu menangis agar kita tahu hidup ini bukan sekedar tertawa. Adakalanya kita perlu tertawa agar kita tahu betapa mahalnya nilai airmata

SIGIT INDO


KEBENARAN YANG DIBUTAKAN

Saudara cuma kata ……
Buktinya sampai kini aku tertatih sendiri
Walaupun merintih tak akan pernah ada yang peduli
Semua yang kumiliki tak pernah kembali
Tinggal Janji !!…
Itukah orang2 yang kau sayang???
Entahlah….
Apapun yang aku bincangkan kau tak percaya lagi
Seperti yang kau ucapkan
Yang membuat goresan luka dihati
Sampai kini….!!!!

Januari 4, 2010 pada 9:00 am Sigit Indo

UNTUKMU BUNGA BANGSA

Sudah terlalu lama aku mengenalmu…..
Pergilah ………..
Doa dan keiklasanku mengantarmu
Mungkin sudah cukup pengabdianmu
Untuk menjadi pemersatu.
Ketulusanmu tiada berharap
Tiada pamrih walau engkau terlihat letih
Engkau ada dalam semua agama
Karena dirimu merasa sebagai hamba
Dirimu rela untuk berkorban
Karena engkau sangat mengerti ayat-ayat Tuhan
Kau biarkan orang-orang mencacimu
Karena mereka tidak pernah memahami
Tapi kini mereka baru mengerti
Akan makna ketulusan sejati
Selamat Jalan Bunga Bangsa
Selamat jalan Bapak Bangsa
Kembalilah dipangkuan Nya
Doa Kami mengiringimu

Januari 4, 2010 pada 9:04 am Sigit Indo

SENANDUNG SUNYI

Bila aku tak pernah mengucapkan kata cinta

Bukannya aku membencimu

Karena bagiku cinta ada direlung hati dan jiwaku

Tapi kenapa engkau berlalu pergi

Tanpa mencoba untuk mengerti ?

Hanya sepenggal janji tanpa arti

Itu yang ku pegang sampai kini.

Dan aku masih mengingat

Susunan kata yang kau tanyakan padaku

Kenapa tak per…nah kau ucapkan kata Cinta untukku

Setelah itu kau berlalu

Sebelum aku ungkapkan isi hatiku

Dan kau tak pernah kembali sampai kini

30/12/2009 by. Sigit

Januari 4, 2010 pada 9:07 am Sigit Indo

Sebait Puisi untuk “YANI”

Biarlah waktu itu

Tak usah kita simak lagi

Karena yang ada hanyalah rasa cemburu, benci dan dendam.

Itu yang ku tahu

Tentang apa yang ada pada kamu

Januari 4, 2010 pada 9:08 am Sigit Indo

Tentang Kita

Diantara kita sering bersama
Bercanda dalam tawa
Tapi apakah mungkin semua akan berjalan selamanya
Selalu mengingat akan nama, dan selalu bertegur sapa bila bersua
Entahlah……..
Yang kita tahu kita bertemu cuma kebetulan saja.
Setelah itu kita sudah tiada pernah saling mengingat lagi

Januari 4, 2010 pada 9:09 am Sigit Indo

Seberkas Sinar Untuk Sahabaku

Lentara…
Berikanlah sinarmu dimalam yang kudus ini
Aku tak mau semua terlelap dalam gelap
Biarkanlah Mimpi-mimpinya bermain riang dalam terang
Agar himpitan hidup sejenak terlupakan

Biarkanlah ……..
Mereka menyambut dengan suka cita misa yang akan datang
Karena esok adalah hari kemenangan
Dan… biarkanlah mereka bernyanyi dalam syair keagungan

Lentera …….
Tanpa Sinarmu
Kami dalam kegelapan

Januari 4, 2010 pada 9:10 am Sigit Indo

Merpati Yang Kesepian

Aku Terdiam dalam Sepi

Tiada Kata…..

Tiada Suara……

Karena Aku terbelenggu dalam kesendirian

Sahabat berikanlah Senyummanmu

Agar aku bisa bangkit dalam keterpurukkanku

Sahabat ……..

Aku sudah lelah dalam memikul kepedihanku

Tanpa satupun yang tahu …!!!!!

Januari 4, 2010 pada 9:19 am Sigit Indo

SUNYI YANG ABADI

Saat ku peluk kamu
Hanya bau parfummu yang ku ingat sampai kini
Yang diantarkan oleh desahan nafas kita
Hingga ketengah telaga
Dan itu sudah beribu kali kita lalui
Hingga kita lupa akan jalan
Disaat semua aku teriakkan
Saat itu engkau menghilang
Tinggalkan hati yang membiru…….. beku
Disaat aku lupa akan putaran hari
Masih ku ingat bau parfummu
Tapi yang kupeluk kini tinggalah sepi

51 thoughts on “SIGIT INDO

  1. SAHABATKU, KASIHKU DALAM MIMPI

    Engkau datang dalam keremangan, berupa bayang
    Mengoyak hatiku dalam galau
    Membuat rasa percaya dalam samar

    Entahlah, yang jelas aku terlanjur mencintaimu
    Didalam setiap langkahku
    Sahabatku……….
    Kasihku dalam mimpi
    Engkaulah orang pertama yang membuat hatiku tak berbentuk.
    Dan kau goreskan luka dengan namamu
    Yang tak mungkin kulupa walau hidup telah tiada

  2. HITAMNYA SEKEPING HATI

    Kegelisahanmu jangan kau tawarkan padaku
    Aku tak perlu itu
    Sudah terlalu lama ketenanganku kau siksa
    Sampai aku takbisa bersuara
    Bukannya aku jera
    Tapi aku sudah tak perduli dengan kegundahan yang kau tanam
    Yang mengusikku dalam diam
    Nikmati saja apa yang kau pilih
    Jangan kau bagikan rasa bencimu pada sem…ua orang
    Sudahlah ………
    Aku begini, bukannya memutuskan hubungan
    Tapi aku ingin berdiri, melangkah menatap hari depan
    Dan pada saatnya nanti aku akan teriak…..
    Selamat tinggal kebencian
    Selamat berpisah kedengkian
    Aku tak mau kebencian dan kedengkianmu membelengguku Kembali

  3. …. keindahan kata kata indahmu
    adalah seni…

    ……keinginanmu menulis
    adalah jiwa…

    teruslah berkarya sahabat !!

  4. YANG TERLUKA
    “ditulung menthung”

    Masih kau ingat beberapa tahun yang lalu
    Kau datang tanpa permisi
    Dengan membawa beribu kegalauan
    Dengan wajah yang lusuh tanpa harapan
    Karena langkah demi langkahmu diperkosa oleh waktu
    Tapi kami menerima kamu seperti apa adanya
    Dan kamu mulai belajar merajut waktu
    Untuk menunjukkan kepada semu…a siapa sebenarnya kamu
    Tapi kamu lupa, saudaraku
    Akan hari-harimu yang lalu
    Sehingga dengan kesombonganmu
    Kau teriakkan kebencian-kebencian yang lama kau pendam
    Dan kamu mulai tidak perduli
    Akan masalalumu sendiri
    Dengan lantangnya kamu katakan
    kalo kami mendekati saudara-saudaramu karena harta
    Disitulah hati kami mulai terluka
    Hingga mengganga
    Dan kamu semakin tak terkendali
    Hingga kini !!!!!

  5. TEPIAN KENANGAN

    Deburan ombak itu, saksi bisu
    Yang tak mungkin kita temui, saat kita kembali
    Karena ia hanya sesaat sekali menepi
    Setelah itu entah kemana lagi?
    Tapi diantara kita masih bisa hadir disini
    Berdiri ditempat ini dan saling berpelukan
    Sambil menunggu beribu gelombang

    Dan kita sama-sama tiada pernah memikirkan
    Bila k…enangan akan hilang
    tengelam kedasar samudra, membeku menjadi karang
    Hingga kita sama-sama lupa
    Akan makna suatu teman

  6. DOA ORANG PINGGIRAN

    Tuhan ………………
    Hari ini waktu begitu menjemukan
    Rasa muak telah beranak
    Rasa jemu membuat hatiku pilu

    Tuhan…………
    Aku pinta rasa ini cepat berlalu
    Karena aku tak ingin hati ini beku
    Berikan hariku penuh warna
    Warna yang penuh keteduhan

    Tuhan………..
    Aku muak dengan kemunafikan
    Juga dengan ked…engkian

    Tuhan ……………
    Jangan kau biarkan hati ini dihinggapi kebencian!
    Aku tak ingin hatiku remuk redam!

  7. DOA ORANG PINGGIRAN

    Tuhan ………………
    Hari ini waktu begitu menjemukan
    Rasa muak telah beranak
    Rasa jemu membuat hatiku pilu

    Tuhan…………
    Aku pinta rasa ini cepat berlalu
    Karena aku tak ingin hati ini beku
    Berikan hariku penuh warna
    Warna yang penuh keteduhan

    Tuhan………..
    Aku muak dengan kemunafikan
    Juga dengan kedengkian

    Tuhan ……………
    Jangan kau biarkan hati ini dihinggapi kebencian!
    Aku tak ingin hatiku remuk redam!

  8. KAPADA ANGIN

    Katanya disini hukum ditegakkan
    Tapi kami tak pernah menemui seperti apa keadilan
    Karena antara benar dan salah sulit untuk dibedakan
    Dan kami ada keadaan sudah begini
    Sehingga tak pernah tahu kebenaran yang hakiki

    Kami cuma bisa mendengar dan menyaksikan di TV
    Ketimpangan sangat terlihat disini
    Sepasang suami ist…ri kelaparan dan mencuri pisang
    Untuk dimakan agar mereka tidak mati
    Tapi………
    Bui sudah menanti
    Mereka didekap rasa ketidak adilan tanpa berdaya
    Karena dia papa, tak memiliki apa-apa

    Tapi disisi lain
    Kami melihat di TV
    Katanya mereka perampas uang rakyat
    Yang jumlahnya mungkin teramat hebat
    Disinilah biang rakyat kecil tambah melarat

    Tapi…..
    Mereka dengan bebasnya berkeliaran kesana sini
    Walaupun ada yang didalam penjara
    Mereka hanya pura-pura
    Buktinya mereka masih bisa membuat istana disana
    Semua penuh reka yasa
    Kenapa ?
    Mereka Mempunyai segalanya
    Sehingga apapun bisa dibeli
    Tanpa kecuali

    Sudahlah ……..
    Tanyakan saja pada angin
    Mungkin mereka lebih mengerti
    Akan kebenaran yang hakiki

  9. SELEMBAR DOA BUAT YANG ESA

    Andaikan masih seperti waktu itu
    Dimana didalam darah ini masih mengalir rasa AKU
    Engkau akan menjadi jasad tak bertuan
    Tapi waktu yang telah merubahku

    Rasa amarah dalam diriku telah berkurang
    Yang membuatku tak kuat mengangkat sebilah pedang
    Tuhan…….
    Biarkalah aku tetap seperti ini
    Tak ingin rasanya untuk kembali
    Pada keangkuhan-keangkuhan yang lalu

    Tuhan ……..
    Aku ingin besimpuh
    Kini Hati dan jiwaku telah rapuh

  10. REMBULAN DI TITIK MALAM

    Aku tak bisa bicara
    Dalam Mimpipun aku selalu tersisih
    Bagai bulan dimalam yang basah

    Begitu yang ingin kubisikkan padamu
    Tapi bagaimana bisa kau mendengar
    Dalam kenyataanpun aku tak bisa bicara

  11. SETANGKAI ANGGREK UNTUK IDA

    Ida ………………..
    Ini Bunga Anggrek kesukaanmu
    Merah Ungu seperti hatimu
    Kenapa kau tinggalkan
    Sewaktu Aku datang

    Ida ………………….
    Bila kelak ada seseorang yang datang
    Jangan kau kuliti Jiwanya
    Biarlah Aku yang tanam
    Diladang Hati yang masih telanjang

  12. GEJOLAK HATI

    Wahai orang2 yg menghabiskan uang dan hartaku, Lekaslah kembalikan seperti apa yang kau katakan.
    Dan Engkau orang2 pengobral janji, Sampai kapan engkau akan menepati
    Aku tau apa yang kau katakan bukanlah suara setan.
    Dan kau Jin, Dedemit dan makluk halus gentayangan
    Enyahlah dari kehidupanku
    Aku tak perlu jiwa2 pecundang

  13. ADINDA

    Busa-Busa tubuhmu adinya
    Mengalir lesu dalam sajakku
    Diendapi sisa keramaian pesta
    Dan batang kenikmatan darah cinta
    Cakrawala dinihari makin semarak
    Makin anggun dimandi cinta
    Tapi rinduku……. mirip jantung biola
    Menggelegar dipacu sepi

    Adinda………..
    Busa-busa tubuhmu
    Mengalir lesu dalam sajakku

  14. Duh… Gusti…………
    Pertondo nopo niki
    Rakyat alit morat-marit
    Kathah wadon alit mboten damel jarit
    Wonten negari mriki agamo namung damel tondo
    Sopan santun sanes gadahane piyantun
    Urip namung dermo glakoni
    Engkang mlarat kelewat mlarat
    Engkang sugeh kalewat luweh
    Roso adil namung gadahane tiyang begajil

  15. 28 JANUARI 2010 “KEPADAMU KAWAN”

    Ini hari 28 Januari 2010
    Kau teriakkan segala kebencian
    Tapi untuk siapa?
    Jangan atas namakan amarahmu pada saya atau kami
    Karena saya atau kami tak pernah mengerti
    Akan kepura-puraan yang kau perankan

    Entahlah…………………
    Aku atau kami tak pernah bisa memahami
    Engkau begini, apakah pan…ggung tempatmu berlatih menari
    Sudah tiada lagi.???
    Aaah……
    Terlalu berharap aku padamu untuk menjadi orang-orang yang bernurani
    Bilamana semua peranmu dalam drama itu cuma untuk suatu golongan
    Atau mungkin hanya untuk sekedar imbalan?

    Aku bicara begini cuma sebagai saksi
    Untuk menulis mana kebatilan dan mana kebenaran
    Karena ditahun 97-98 aku ikut berperan
    Untuk menegakkan Demokrasi di Negeri ini
    Bukan untuk pribadi

    Aaah …….
    Terlalu berharap aku kepadamu
    Bila yang aku dapat hanya jawaban bisu!!

  16. 28 JANUARI 2010 “KEPADAMU KAWAN”

    Ini hari 28 Januari 2010
    Kau teriakkan segala kebencian
    Tapi untuk siapa?
    Jangan atas namakan amarahmu pada saya atau kami
    Karena saya atau kami tak pernah mengerti
    Akan kepura-puraan yang kau perankan

    Entahlah…………………
    Aku atau kami tak pernah bisa memahami
    Engkau begini, apakah panggung tempatmu berlatih menari
    Sudah tiada lagi.???
    Aaah……
    Terlalu berharap aku padamu untuk menjadi orang-orang yang bernurani
    Bilamana semua peranmu dalam drama itu cuma untuk suatu golongan
    Atau mungkin hanya untuk sekedar imbalan?

    Aku bicara begini cuma sebagai saksi
    Untuk menulis mana kebatilan dan mana kebenaran
    Karena ditahun 97-98 aku ikut berperan
    Untuk menegakkan Demokrasi di Negeri ini
    Bukan untuk pribadi

    Aaah …….
    Terlalu berharap aku kepadamu
    Bila yang aku dapat hanya jawaban bisu!!

  17. ” B I A S ”

    Kini baru aku mengerti
    Hanya coretan-coretan hayalan yang kau tuangkan dalam puisi
    Dan engkau begitu mengngagumi
    Begitu juga engkau
    Dan akan kau ucapkan kata-kata indah
    Seindah bunga mawar yang kau petik kemarin sore

    Tapi…………
    Apakah kau berani menuliskan sebaris puisi tentang kebenaran ?
    Aaah…..
    Aku rasa kebenaran sangat menakutkan
    Atau mungkin kau tak bisa memaknai

  18. BAYANGAN BIRU ”

    Suara siapa yang telah mengangkat sepiku
    Dari lumpur kebimbangan
    Aku tanya menuju jawab
    Aku datang menuju pergi
    Aku pergi menuju hilang
    Aku ada menuju tiada

    Suara siapa yang membungkus dukaku
    Dalam daging malam
    Aku limbung dalam rambu
    Aku senyum dalam caci
    Aku mati dalam hidup
    Aku kalah dalam lidah

    Suara siapa yang telah jelajahi batinku
    Mendesakku kembali menjadi manusia
    Nasib patah oleh kebodohan
    Cinta patah oleh keadaan
    Keadilan patah oleh kebendaan
    Hukum patah oleh kepincangan

    Suara siapa yang menyuarakan nasibku
    Dalam ajang perburuan harta

  19. ” SEBAIT PUISI UNTUK PEREMPUAN-PEREMPUAN MALAM ”

    Ada yang sedang menanggalkan pakaianmu
    Satu demi satu
    Mendudukkamu diperaduan
    Mungkin membuatmu bertanya
    Untu apa ?
    Dan kamu tiada pernah mengerti
    Ada yang sedang diam-diam menulis riwayat hidupmu
    Dan itu adalah Aku

  20. ” KU AJARKAN PADAMU BAGAIMANA MENGGENGGAM SUNYI”

    ( UNTUKMU DE ESSY ROSE )

    Kenapa tidak sekalian kau kirimkan sepasang batu nisan
    Agar semua usai
    Dan kau kubur semua kenangan-kenangan indah yg dia berikan kepadamu itu
    Kadang cinta memang sangat menyakitkan
    Tak ubahnya sebutir peluru yg menembus dadamu
    Yang mem…buat detak jantungmu berbalut sunyi

    Aaahh…
    Untuk apa aku mengajarimu bagaimana cara menggenggam sunyi.
    Sedang aku sendiri kini dipeluk sepi !!

  21. ” A D I N D A ”

    Adinda………….
    Bungga angrek yang akan kuberikan padamu dulu
    Masih ada disini, aku simpan rapi
    Cuma harum baunya yang sudah tiada
    Seperti yang aku rasa

    Adinda……..
    Sebenarnya angrek itu akan aku tanam dihatimu
    Biar berkembang
    Seperti yang kita mau
    Tapi sebelum bunga itu tertanam
    Jiwaku termakan isyu
    Dadaku membara, terbakar cemburu

    Adinda………
    Emang aku telah berlari
    Tapi cuma untuk meredam api
    Bukan untuk mengingkari

  22. ” SEBUAH PENANTIAN ”

    Jangganlah kau siksa diriku dalam penantian
    Aku cuma menunggu darimu satu ucapan
    Bila pagi menjelang hingga sore datang
    Aku selalu menanti kabar itu
    Tapi bila malam tiba, Sunyi selalu memperkosa pikiranku
    Dan hari-hariku selalu menunggu janji

    Sudahlah…….
    Beri kabar aku, apapun jawabanmu
    Aku akan mengerti
    Bila engkau menginginkan, aku datang
    Dan bila engkau sudah tak mengingini lagi aku akan pergi

    Tapi Berilah aku satu jawaban
    Agar aku tak tersiksa dalam penantian

  23. ” WARNA ITU ADALAH KAMU ”

    Bila pelangi hadir dalam waktu yang sama
    Mungkin itu bisa terjadi
    Tapi jangan kau tanyakan tentang warna-warna yang tak pernah menyatu itu
    Kerena masing-masing memiliki pribadi yang berbeda
    Tapi bila ada warna yang selalu ingin menyatu
    Tak usah kau beritahu aku
    Karena aku sudah tahu sebelum kamu berteriak
    Kerena warna itu adalah kamu

  24. ” ADIKKU ”

    Bunga, adikku yang malang
    Engkau tumbuh diantara kehidupan jalang
    Aku tak tau, engkau nanti akan jadi apa
    Disaat tiang rumah telah rebah
    Mungkin engkau tiada merasa
    Karena engkau ada, hidup ini sudah begini

    Bunga, belahan jiwaku disisi lain
    Aku tak rela, kalau hidupmu ternoda
    Oleh kehidupan mereka yang hadir lebih dulu
    Yang menuangkan luka didalam dendamku

  25. ” S A P A M U ”

    Tuhan………….
    Entah siapa yang telah kau utus
    Untuk membisikkan sebaris doa kepadaku
    Disaat aku sujud dihadapanMu
    Mungkin suatu teguran
    Atau segala yang aku sendiri tiada pernah mengerti
    Tapi kucoba untuk menggali dan memahami
    Tentang kupasan ayat-ayat Suci

  26. ” KEGELISAHAN SEORANG PELACUR ”

    Berapa harga yang kau tawarkan hari ini ?
    Sampai kau berteriak seperti pelacur menjajakan diri
    Dijalan-jalan sepi yang tak berpenghuni laki-laki
    Atau mungkin kau resah dengan kehidupanmu nanti
    Aku tau kau ingin meraih harapan, tapi tiada pegangan
    Dan kulihat, hatimu terlalu bernanah
    Begitu parahkah kedengkianmu
    Hingga seperti itu
    Begitu miris aku untuk berlalu melewatimu
    Karena untuk mendengar umpatanmu aku tak mampu
    Tapi kenapa begitu hening setelah aku berlalu pergi
    Cuma pesanku kepadamu
    Janganlah kau memperkosa diri sendiri
    Aku tak ingin ada berita seorang pelacur mati diujung pagi

  27. ” KASIHKU, BAGAIMANA KAU NANTI ”

    Kadang, tak bisa aku mengerti
    Kenapa kehampaan selalu saja disini
    Menemani bersama sepi
    Sedang aku sudah tidak akan lagi sendiri
    Tapi dalam setiap ketermenunganku
    Aku selalu bertanya, pada diriku sendiri
    Bila nanti aku sudah tidak sendiri lagi
    Bagaimana engkau nanti ?
    Sedang dalam dekapanku
    Ada kasih untuk berbagi
    Sedang engkau bagaimana nanti?

  28. ” TETAP INGIN KU ARUNGI SAMUDRA ITU ”

    Sudah sepuluh tahun aku arungi samudra itu
    Aku limbung mulai dari tepi
    Apa mungkin biduk terlalu penuh akan isi
    Hinga aku tak tau kemana arah untuk mengemudi
    Detik demi detik biduk dihantam badai
    Tapi banyak penumpang yang tak mau mengerti
    Hanya mengumpat dan memaki
    Cuma itu yang bisa dia beri
    Sedang aku mulai goyah terasa kini
    Karena gelombang tak jua berhenti
    Namun Aku ingin biduk tetap melaju
    Walau hati ini terasa pilu

  29. ” JANGANLAH KAU MENJADI LENTERA, ANAKKU ” 2

    Anakku………..
    Seperti yang sudah kukatakan padamu waktu itu
    Janganlah kau menjadi lentera
    Karena kau akan jadi pemberi cahaya yang akhirnya sirna
    Jadi saja kamu rembulan
    Karena kau akan memberi cahayamu pada semua
    Tanpa harapan
    Dan kamu akan hadir disaat kegelapan itu datang
    Tanpa mereka meminta
    Dan kamu akan ada tanpa mereka harus memuja

    Atau kamu jadi saja matahari
    Karena sinarmu akan dinanti
    Kamu akan hadir diujung pagi tanpa harus menunggu dipuji
    Dan kamu akan hilang dijemput malam tanpa ada penyesalan
    Karena esok kau akan kembali dengan ketulusan dan keiklasanmu

    Terserah kepadamu
    Mau jadi rembulan atau matahari
    Tapi janganlah kau menjadi lentera
    Karena cuma akan meninggalkan Luka Lara

  30. ” JANGANLAH KAU MENJADI LENTERA, ANAKKU ” 1

    Hidup ini harus memilih
    Tapi benar itu belum tentu benar
    Mungkin benar bagi mereka, tapi belum tentu untukmu
    Dan salah itu belum tentu salah
    Mungkin salah baginya, tapi belum tentu untukmu

    Cuma pesanku, kepadamu
    Janganlah engkau menjadi lentera walau dia terang
    Karena engkau akan padam setelah meneranginya
    Tapi apakah yang kau terangi akan peduli padamu

    Dan janganlah engkau memberi cahaya padanya
    Karena kamu akan sirna
    apakah mereka akan mengenalmu setelah mendapatkan sinarmu?

    Ahhhh……..
    Contohnya aku, Nak !!!
    Tengelam dalam gelap, walau aku dulu jadi penerang
    Menerangi dan menuntun setiap langkah mereka
    Tapi mereka lupa

    Terlalu lama aku menjadi lentera
    Yang akhirnya sirna
    Tapi….
    Apakah mereka merasa ?

  31. ” LUAPAN RASA ANAK JALANAN ”

    Bila hidupku tiada doa
    Jangan kau salahkan aku
    Tanyakan pada mereka
    Pernahkah mereka mengajarkannya ?

    Bila langkahku tiada doa
    Jangan salahkan aku
    Tegurlah mereka
    Pernahkan mereka membimbingnya ?

    Bila diriku ada
    Jangan salahkan daku
    Tanyakan kepada mereka
    Ini kehendak siapa ?

  32. ” GORESAN KENANGAN YANG TERTINGGAL ”

    Aku ada disini
    Bukan untuk menggenapkan sebuah hati yang tinggal sebelah
    Aku disini
    Bukan untuk mengisi waktu-waktu luang yang hampa belaka

    Namun ……………….
    Aku hanya ingin mempunyai arti
    Bagi seseorang yang aku kasihi
    Tapi, apakah daya ?
    Kalau dia masih saja mengharapkan cintanya yang hilang
    Apakah mungkin, luka lama itu akan berdarah lagi ?
    Sedang hati ini tak ingin lagi disakiti.

  33. ” KUKATAKAN INI KEPADAMU ”

    Yang ada padaku hanyalah kesetiaan
    Janganlah kau tanyakan tentang impianmu kepadaku
    Karena aku tidak memiliki itu
    Yang ada padaku hanyalah kasih sayang
    Dan janganlah kau sakiti hatiku seperti tadi malam
    Karena cuma akan meninggalkan dendam
    Sering kali tiada engkau sadari
    Bahwa kata itu begitu tajam
    Bila aku seperti ini
    Jangan kau salahkan aku
    Karena hatiku masih mendendam

  34. ” PENGORBANANKU ”

    Malam tak ingin datang
    Agar aku tak bisa datang
    Dan kau tak bisa pergi
    Siang tak ingin menjelang
    Agar aku tak bisa datang
    Dan kau tak bisa pergi
    Namun ……………..
    Malam pasti akan datang
    Dan siang akan menjelang
    Agar aku bisa mati untukmu…….
    Dan Untukmu ……….

  35. ” TERUNGKAP ”

    Dulu saat kau katakan bahwa dia berjalan dalam HITAM
    Banyak orang tak mempercayaimu
    Menyibirmu. Bahkan memakimu
    Karena banyak orang menganggapmu nistapa

    Dan waktu berjalan untuk mengejar kebenaran
    Namun banyak orang yang tidak pedulikanmu
    Baginya Dia adalah segalanya
    Dan kau diangapnya masih tetap, “NISTAPA”

    Kini waktu telah menemukan satu kata “KEBENARAN”
    Mereka mau bilang apa ?
    Apakah mereka masih tetap Menyibirmu dan memakimu ?
    Dalam kenyataan dia tetap berjalan dalam HITAM

    Ahh……….
    Durjana tetap saja Durjana
    Walaupun sejuta orang melindunginya
    Dan kamu apakah masih tetap tertipu
    Oleh diamnya yang diselimuti tanda tanya.

  36. ” TAUBAT ”

    Masihkah belum terpikir olehmu
    Untuk merangkai untaian zikir dalam sisa waktu
    Memohon pengampunan dari yang Satu
    Akan dosa-dosamu yang telah lalu

    Sedang hari terus saja berlari
    Cuma tinggalkan sisa sisa mimpi
    Dan harapmu terus saja kau buru
    Hingga kau sendiri lupa akan waktu

    Tapi kenapa tak jua kau sadari
    Sedang ajal datang tak tau pasti
    Masih saja kau rangkai tumpukan dosa
    Tak ingatkah kau akan panasnya api neraka

    Sadarlah kau wahai durjana
    Akan hidupmu yang penuh gelimang Noda
    Bertaubatlah selagi kau masih mampu
    Sebelum ajal menjemputmu

  37. ” RINDU MIMPI ”

    Bunga teratai yang ada dibalik bukit itu
    Dulu selalu memberikan harumnya
    Disaat aku tak bisa melupakan cinta yang lalu
    Entah petang, hujan atau dukapun
    Dia selalu datang untuk menghapus mimpiku dimasa lalu
    Tapi disaat aku terbangun dengan sisa-sisa mimpiku
    Ku coba untuk merengkuh bunga itu
    Disaat itu kau tak pe…rnah kudapati
    Bunga teratai dibalik bukit
    Mungkinkah kehadiranmu cuma untuk menghempaskan mimpiku
    Dan mencampakkanku dalam kehampaan dan sepi

  38. ” RINAI HUJAN ”

    Wajahmu lusuh, entah apa yang kau genggam dalam hatimu
    Kepedihan, kekecewaan atau kegalauan
    Kau tapaki diamnya jalan yang habis disiram air hujan
    Dan kau tetap membisu seiring gerimis yang mulai datang lagi
    Waktupun berganti dan berulang
    Kenapa kau masih seperti itu, tanpa membagi kepedihanmu
    Kemana senyum dan keceriaan kau sembunyikan
    Tanpa seorangpun tau
    Apakah kekecewaan yang membuatmu seperti itu
    Aahhh…..
    Luruhkan saja rasa malumu
    Bersama rinai hujan yang akan datang …..!!
    Agar aku bisa melihat senyumanmu yang sudah lama hilang

  39. ” CINTA BERKABUT HARTA ”

    Tutur kata nya halus, setanpun bisa tertipu olehnya
    Dia ingin kembali kepelukkanmu katannya mencintaimu
    Tapi sepertinya kau tertipu
    Karena cintanya bersembunyi di untaian kalung, gelang dan cincin yang dia tunggu
    Kesetiaannya hanya menunggu penuh isi dompetmu
    Setelah itu dia pasti berlalu, seperti yang lalu-lalu
    Hari ini katanya dia pergi meninggalkanmu
    Ada apa sebenarnya ?
    Kenapa sandiwara tersusun seperti tanpa disengaja ?
    Kami cuma bisa bertanya
    Karena kami cuma penunggu terminal yang ada
    Sudah terlalu banyak orang berlalu lalang disini tanpa permisi
    Kami sendiri tak pernah mengerti
    Banyak orang gila atau berubah sikapnya karena cinta
    Ya sudahlah…….
    Kalau anda tak suka singgah disini silahkan pergi
    Tak perlu membenci kami
    Karena kami cuma penunggu terminal yang hak-haknya anda mutilasi

  40. ” UNTUK KAUM PECUNDANG ”

    Untukmu kaum pecundang
    Kenapa jiwamu meradang
    Kulihat hidupmu penuh kegelisahan
    Gelisah penuh dengan selubung ambisi
    Kulihat kau ingin menjadi orang lain
    Dan kulihat engkau ingin memiliki seribu jiwa

    Setiap kau lihat seorang teman
    Yang kau tanyakan adalah kesalahan
    Seperti yang kau inginkan
    Yang benar dimatamu
    Adalah dirimu sendiri

    Hari ini bagaimana kabarmu kaum pecundang
    Apakah jiwamu masih meradang
    Dan apakah kau sudah mengerti
    Arti sebuah teman ?
    Aku rasa masih tetap seperti kemarin

  41. ” KIDUNG ”

    Ojo turu sore kaki
    Ono Dewo ngangklang jagat
    Karo nyangking bokor kencanane
    Sebuah tembang dalam doa
    Dan sebuah doa dalam tembang
    Suatu permohonan pada yang tunggal
    Agar darah dagingnya dapat hidup yang layak dikehidupan kelak
    Karena darah yang mengalir pada tubuh anaknya adalah darahnya
    Batin dan hati yang ada di anaknya adalah batin dan hatinya
    Orang tua selalu mengajarkan yang baik tanpa menggurui
    Agar anak mengerti tentang hakekat agar hidup dia bisa selamat

    Sopo kang betah melek
    Bakal entuk rejekine……
    Kita harus bersujud ditengah malam
    Untuk memohon ridho dari Nya
    Selepas malam kita harus bersiap untuk mengabdi
    Mencari rizki untuk mengisi hidup ini

    Apakah sekarang masih ada Doa dengan keiklasan ?
    Memberi nasehat pada anak tanpa harus menyakiti ?
    Mencari rizki dengan menggunakan nurani ?

    Sepertinya kita harus belajar hidup dari masa lalu
    Dengan kidung kita bisa mengambil berjuta makna
    Dengan kidung tanpa ada yang terluka
    Karena alunan demi alunan kita bisa dengar
    Dan belajar tanpa harus terpaksa

  42. ” SEBUAH KERINDUAN ”

    Resah ……………………….
    Kupeluk dalam desah
    Kuberlari untuk susuri
    Dengan peluh yang tiada henti
    Aku tetap berpacu
    Walau terasa ngilu
    Waktupun terus berlalu
    Tapi aku tetap menyatu

    Sudah ………………………..
    Hanya suatu kata sanggah
    Tapi aku tetap terjepit
    Dari dosa yang masih melilit

    Susah ………………………..
    Bila masih terdengar desah
    Akupun mulai gelisah
    Masihkah bisa untuk bertahan
    Bila diri sudah semutan

    Rebah ………………………
    Patah !
    Aku terkulai
    Dan aku tersenyum geli
    Ternyata hanya sebuah mimpi
    Kulirik potretmu
    Gambarmu tersipu malu
    Dan ku ucapkan satu kata
    Maaf ………………………
    Ini hanya mimpiku
    Ini hanya rinduku

  43. ” K E S A M B E T ”

    Hari ini setan mana yang menuntun engkau kesini
    Mendengar ceritamu aku geli
    Datang dengan segerobak impian
    Tapi tolong jangan kau jajakan impianmu disini
    Sudah terlalu banyak orang untuk mengerti

    Sebenarnya lewat mana waktu kamu kesini
    Hingga kau kesambet seperti ini
    Apakah ada sesajen yang lupa kau suguhkan kemarin malam
    Kembang tujuh rupa sebagai perlengkapan
    Atau semangkok kemenyan pengiring dupa pengikat pewangian

    Sudah sampai mana mantra-mantra kau ucapkan
    Atau ada yang alpa untuk kau lantunkan sebagai pujian
    Tembang asih pada yang kinasih
    Tembang kinanti pengingat akan satu janji

  44. ” TEMAN SAMPAIKAN KEPADA NYA ”

    Kadang ingin aku terlelap
    Untuk melepas penat
    Tapi sampai saat ini aku masih terbelenggu oleh waktu
    Dimana lelah sudah menunggu

    Teman, tolong sampaikan pada Tuhan
    Aku masih setia dalam panjatkan doa
    Mungkin cuma itu yang aku bisa
    Karena aku seorang musafir
    Hidup diujung jalan yang terpingir

    Teman, tolong sampaikan pada Tuhan
    Dalam pencariannku
    Aku masih bisa memilih tentang kebenaran

    Teman, tolong sampaikan kepada Nya
    Dalam pencarianku
    Aku masih membenci kedengkian

  45. ” POTRET ”

    Dengan badannya yang tegap
    Dia berdiri nanar
    Senjata ditangan, seolah diajaknya bicara
    Tapi dalam hening
    Dalam hatinya terjadi pergulatan
    Dan ribuan tanda tanya
    Akan dibawa kemana tumpah darah yang dia perjuangkan ini

    Dalam diamnya…..
    Kadang selalu bercerita
    Di IRIAN BARAT Dia hampir mati
    Ribuan butir peluru sering memburunya
    Seandainya mati, dia rela demi negri ini
    Seandainya mati, dia rela demi generasi

    Perjuangannya bukan untuk tanda jasa
    Perjuangannya bukan atas nama keluarga
    Tapi demi berdiri tegaknya negeri ini
    Sampai menjelang akhir hayatnya
    Dia masih bertanya
    Pada dirinya sendiri
    Mau dibawa kemana tanah air yang kami perjuangkan ini ?

    Dengan berderet tanda jasa
    Makam pahlawan bukan keinginan terakhirnya
    Kini dia beristirahat dibawah pohon trembesi
    Berbaring dengan ketenangan dan keteduhan

    Dan dia hanya salah satu potret tanpa kanvas
    Kita cuma bisa meneladani
    Dan merenungi dengan sejuta tanda tanya
    Akan sebuah kata yang dia bawa sampai hidupnya usai

  46. puisi puisi mu smakin keren git !… teruslah menulis agar aku terus bisa menikmati tulisanmu

  47. ” KERAGUANMU ”

    Hadir……..!
    Suratmu menyampaikan rasa kekecewaan
    Karena kau merasa ketidak pedulianku
    Diwaktu kasih hadir menemuiku

    Hadir……..!
    Dalam surat kau sertakan
    Rasa ketidak pastian tentang aku
    Dengan tiga pertanyaan tentang kamu

  48. “JANGAN KAU TANYAKAN PADAKU”

    Mungkin sudah terlalu lama bait-bait puisi tidak tertulis disini
    Tapi bukan berarti kumpulan syair telah mati
    Hanya puisi-puisi usang yang kau baca kemarin hingga kini
    Dan tanda tanya yang kau alamatkan kepadaku
    Ada apa dengan tangan, hati dan pikiranku
    Hingga sepertinya membeku

    Tapi jangan kau tanyakan lagi
    Karena aku tak ingin membagi sepi
    Kepadamu…
    Dan ku biarkan kumpulan syair ter onggok disini
    Beralas sunyi..

    Tapi….
    Masihkan kau mengingatku dikala puisi tak kutulis lagi
    Atau masih mengenangku disaat syair tak ada disini

    Hanya satu yang ku pinta kepadamu
    Kenanglah…
    Kenanglah aku
    Seperti waktu itu !

  49. masih jelas aku mengingat
    tulisan mu yang meliuk halus
    mengena dan indah…
    jangan lagi membuat jeda panjang
    hingga aku menunggu …..
    seraya meniris hujan dalam kabut

  50. ” TIDAK SEPERTI YANG AKU KIRA ”

    Tak seperti yang aku rasa
    Kau menikah, beranak pinak dan bahagia
    Begitu juga aku
    Tapi jiwaku terpangang oleh rasa
    Mengembara menelusuri jalan tak berujung
    Tanpa ada satupun kata sapa

    Mungkin lebih baik bagimu
    Menapaki hari penuh dengan sensasi
    Merangkai senyum dari hari ke hari
    Dalam pasti

    Sedang aku makin terpuruk dalam sepi
    Bagai lentera tanpa api

  51. sunyi..dingin angin menyentuh kulit…
    menunggu matahari yang lama muncul…
    terbungkusnya hayalan oleh kertas keras yang disebut dengki…
    muncul seakan membius diri…
    senyuman di jasad tak kunjung terbuka…
    air mata kering yang muncul terasa perih…
    buaian embun mulai membasahi..
    upaya mengobati rasa perih…

    tp apa yang terjadi??

    bukan harap yang terwujud…
    gelap tak kunjung pergi…
    ingin rasa dimengerti…
    hanya caci yang diberi…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s