Komunitas Pecinta Puisi

Adakalanya kita perlu menangis agar kita tahu hidup ini bukan sekedar tertawa. Adakalanya kita perlu tertawa agar kita tahu betapa mahalnya nilai airmata

Surat untuk Di


Di di Rini

 

: Dh

 

Dalam gerimis kita menghitung cermin sepanjang jalan

Ada perbincangan dalam ruang tak berbatas itu

tentang tanah ladang, angin, lautan

dan bumi yang tak pernah berhenti menangis

 

gelombang pasang saat langit senja

seperti tangisan suara cinta di sebuah kota tak berpeta

mengejar rasa takut yang berputar cepat

menerbangkan debu debu di sepanjang trotoar

 

semua kita tulis dalam bait bait puisi

Di, bukankah hidup adalah harapan ?

 

Ktbm, 19 Desember 2011

Di,maaf aku suka memanggilmu

dengan sebutan ini.

 

 

SELALU SURAT menjadi penyampai maksud manusia. meski, surat itu hanya dalam bahasa. sepertisurat untuk di ini. surat yang indah dengan membawa “alam” ke dalam ucapan, seperti yang dikatakan oleh baris puisi itu sendiri: semua kita tulis dalam bait bait puisi, katanya. gerangan apakah semua yang dikatakan oleh aku dalam puisi ini, yang mengajak orang lain yang disapanya “kau”. kau-di, oleh aku dalam puisi. cerita apa yang ditulis(kan) ke dalam bait bait puisi itu?

 

dalam gerimis kita menghitung cermin sepanjang jalan, katanya. dan aku terpesona oleh bentukkan dua tiga benda di sana. benda bernama hujan dalam satuan waktu gerimis, benda bernama cermin yang dipasangkan bersama jalan – sepanjang jalan.

 

lama saya mencari tahu letak beda prosa dan puisi dan selama itu pula, saya mencari sebuah gema dalam bahasa. atau prosa, dengan ceritanya, atau puisi, dengan baris katanya, yang selalu mendatangkan bahagia menemuinya adalah gema, dari dua kata yang dibentukkan sang penyair. gema dari bertemunya bentuk bentuk huruf hidup dan huruf mati dalam puisi. gema itulah yang membuat, keindahan bunyi dari isi yang kelak kita lihat, telah masuk menyelinap ke dalam permainan satu kata yang berhubungan dengan satu kata yang lain – yang menimbulkan gema itu. gema seolah sepasang tangan yang membelai kita dengan lembut – tapi juga sepasang tangan yang keluar dari sarung tangannya dan mendatangkan tusukan benda tajam seperti pisau. gema itu adalah nada. dan nada adalah bunyi. bunyi bahasa yang menggemakan nadanya dalam baris baris puisi – dunia khas bagian dari apa yang kita sebut sebagai bahasa sastra atau kesusastraan, yang mensastrakan setiap unsurnya sehingga kita menyebutnya dengan kata kata: ucapan kesastraan, sebuah momen di mana dunia masuk ke dalam kata, dibentukkan berdasarkan aspek aspek dari sastra sebagai bahasa.

 

seperti yang dibentukkan oleh rini intama dengan amatlah indah ini. apakah yang dibawa masuk oleh bahasa puisi itu? tak lain adalah hidup ini juga. tapi apakah gerangan sebenarnya yang kita sebut dengan “hidup ini juga” itu? ke sinilah selalu saya digoda oleh, atau pada saat seorang penyair membentukkan, semua itu ke dalam bahasa puisi.

 

oleh kita sedang bicara gema, maka baik juga kita melihat apa yang dibawa masuk itu kini menggemakan dirinya ke dalam bahasa – puisi.

 

dalam gerimis kita menghitung cermin sepanjang jalan.

 

tentu saja sebuah baris dalam puisi bertaut dengan baris yang lain dalam puisi (mereka dipertautkan sebagai bait dengan baris barisnya, seperti bait yang dipertautkan pula dengan bait baitnya pula; bahkan sebuah puisi dengan puisi yang lain andai kita mencobakan gerak intertekstulipuitik dalam puisi. misal puisi husni dan puisi cepi yang dibentukkan oleh motif yang sama itu, motif sosial; atau puisi cunong dengan puisi mbeling lain yang menjadi gejala juga misal puisi puisi heru emka).

 

puisi siapa saja, seperti baris puisi yang mana saja dalam satu puisi, saling bertaut dan kita mesti membacanya dari muka dan dari belakang, gerak saling berpaut itu. (tidakkah sang bujang bisa mendatangi sang gadis dari belakang atau dari depan? seperti gadis dalam puisi rini intama ini, gadis yang berkata kata dengan suara merdunya – ia melakukan gerak onomatope dari gerak alam, gerak hutan hutan dan senyap sepinya hutan. ia membawa gerak sepi dan sunyinya langit seperti misal yang baru kita saksikan tadi dalam bentuk kesunyian yang ilmuik atas langit yang dikerkah oleh erry armanda dalam momen petir yang ia cungkup dengan awan dari langit yang menyapanya. indah sekali saya kira lintasan hati erry saat berpaut dengan lintasan ilahi dalam bentuk benda langitnya itu.)

 

halo kajitow elkayeni.

majulah maju kawanku

ke mana kita hendak 

inginkan dalam

bahasa

 

seperti kita membaca rini dari belakang dan dari itu adalah judul puisi, untuk turun lagi ke baris pertama itu. saya berhenti di judul rini, sebuah judul yang kerap dipasang banyak orang dalam bahasa: surat untuk di, seperti kafka juga memasang hal yang sama untuk ayahnya. surat untuk ayah, dengan kata kata pembuka: ayah yang kucintai, pernah ayah bertanya mengapa aku takut pada ayah.

 

dengan membawa kafka kita langsung memasuki efek dari bahasa, bahwa di kafka itu ada bahasa neurotik, bahasa kecemasan. tapi tidak di rini ini: bahasanya tak cemas. di sini bukanlah bahasa kecemasan yang menjadi strategi literer penyair dengan mendayakan katanya.

 

cemas adalah sebuah nada seperti lembut juga adalah sebuah nada. hidup penuh dengan bunyi nada atau bunyi membawa setiap nadanya. kita membaca nada dari gema kata yang dibawa masuk penyair dengan berimbangan dalam hitungan ketepatan kata (diksi), keimbangan baris puisi – diksi lagi saat kata yang satu masuk mendukung, atau malah melemahkan, kata lain dalam sebaris puisi.

 

surat untuk di,

 

dan kita dihentikan oleh bunyi di dalam surat untuk di ini. ia hidup sebagai bunyi yang bisa dibawa kemanapun oleh sifat vokalisnya sebagai penyanyi dalam puisi. surat untuk di, yang langsung turun menjadi atau ke dalam baris pertama itu, dengan pengentara sementara waktu (dh), langsung disambut oleh i yang berjatuhan dalam “Dalam gerimis kita menghitung cermin sepanjang jalan”, dan apakah akibat atau efek yang masuk ke dalam jiwa kita, saat dijatuhi oleh fonem i ini?

 

bagi saya gema nada terbentu dari permainan i dan an mulai saat judul terbaca oleh kita: surat untuk di, dengan antaraan dh; terbentang nada dari suatu gema permainan bunyi oleh disusunkannya fonem dari morfem u a i an mulai dari judul yang langsung turun ke baris awal itu. surat untuk di, hiduplah dua bunyi u dan a dalam surat untuk di, dengan akhiran di sehingga kita mengecap bunyi u a i. kita merenung di bunyi ini, bunyi u a i. dan kita berkata: oh indahnya bunyi, yang kita gemakan dalam hati. kita boleh menambahkan satu dua efek di sini yakni efek sugesti dan asosiasi dari rantai tanda yakni kata yang dihubungkan sehingga menjadi sebuah sambung(an) dalam bahasa. adalah surat untuk di.

 

surat apakah, kata kita, untuk di itu. tradisi hidup kita manusia orang mengirimkan surat manakala hendak menyampaikan keperluan dan sang aku jelas membuat surat untuk di, maka kita pun mengikuti maunya sang aku dalam puisi seraya bertanya: surat apakah untuk di itu, yang telah dibentukkan melalui keindahan bunyi dari yang telah kita utarakan tadi. (selamat siang pak erry yang baik.)

 

maka dipakainya kata surat membawa asosiasi kepada hidup nyata manusia dan surat dari pengalaman empirik kemanusiaan membawakan sugesti bahwa, ada hal penting yang hendak dibawakan ke dalam atau melalui surat. jadi kata surat itu sebagai sebuah bahasa, berhasil mensifatkan asosiasi dan sugesti, dan oleh yang diasosiasikan adalah hidup, serta darinya disugestikan pula, agaknya kita lalu tahu bahwa itulah nilai dalam dari sebuah bahasa. bahwa bahasa dengannya menyampaikan nilai keindahan yang itu datang dari pengalaman kemanusiaan.

 

saat surat untuk di itu diterima langsung oleh baris pertama dalam puisi, itu adalah momen waktu dalam puisi di mana gema kini mengubah ngubah bunyi dan nadanya. u tak lagi semata bertemu a dan i dalam satu baris surat untuk di. tapi telah disambut oleh bunyi dengan nada yang lain.

 

rupanya nada yang dibentukkan oleh baris pertama itu adalah sebuah simbolik kehidupan. surat itu juga adalah metapora dari kehendak manusia untuk berkabar kepada orang lain. olehnya lalu kita membaca pecahan pecahan metapor dari dua baris itu, yakni baris judul dan baris isi dalam puisi.

 

surat menjadi metapor bukan oleh kata surat itu sendiri, yakni sebuah kata adalah kata surat. tapi oleh sesuatu yang bergerak dari dalam hati manusia, perasaan jiwa dan raganya (inderanya diminta oleh sang aku misalnya, aku-dalam, agar tolonglah berkirim surat karena rindu sudah tak tertahankan. mata ingin bertemu dan tangan ingin membelai sayang – inilah gerak dari metapora manusia yang ingin, tapi dengan apa membahasakan keinginan ini? tiap ada itu adalah ada dalam dirinya. ada tak bernama. tak suatu bahasa pun melalui instrumen kata-nya bisa membahasakan yang tak terbahasakan itu. tapi konvensi menjemputnya dengan suatu kata yang kita identitaskan untuk sebuah hal yang tak terbahasakan dan itulah dunia arbitrer dalam bahasa).

 

Penulis Esai  Jurnal sastrahudan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s