Komunitas Pecinta Puisi

Adakalanya kita perlu menangis agar kita tahu hidup ini bukan sekedar tertawa. Adakalanya kita perlu tertawa agar kita tahu betapa mahalnya nilai airmata


Tinggalkan komentar

Gedung Kesenian Sulsel Societeit de Harmonie

Bangunan gedung Societeit de Harmoni yang berciri Eropa abad XIX dengan gaya Reneisance ini bisa juga dianggap sebagai gedung serba guna di zamannya, gedung ini tidak hanya untuk acara kesenian, tetapi juga menjadi tempat pertemuan Gubernur, Walikota, dan pejabat tinggi militer Belanda. Bahkan tidak jarang Gubernur Jenderal Belanda mengundang orang-orang China kaya untuk menghadiri pesta yang diadakan di gedung ini.

Sejarah mencatat gedung kesenian ini dibangun pada tahun 1896 berdampingan dengan kantor gubernur yang saat itu berstatus sebagai Gubernur Celebes(sekarang gedung Balaikota Makassar) dan di sebelah selatannya terdapat Fort Rotterdam serta pemukiman orang-orang Belanda yang disebut Vladingen.

Makassar2

Societeit de Harmonie dibangun ketika pemerintah kolonial Belanda menjadikan kota Makassar sebagai kota pemerintahan dan kota niaga. Di gedung inilah orang-orang Belanda,orang-orang China kaya, dan segelintir kalangan bangsawan pribumi dihibur dengan tonil,drama, dan sandiwara yang merupakan karya para dramawan Eropa terkenal tapi dimainkan secara amatir oleh pemain-pemain drama lokal.

“Hawaian” merupakan salah satu kelompok music yang cukup terkenal saat itu. Kelompok Hawaian yang anggotanya adalah orang-orang Ambon eks KNIL ini tampil secara berkala di gedung itu. Barulah pada pertengahan tahun 1900-an, pihak pengelola gedung mendatangkan rombongan pemain sandiwara dari Belanda dan beberapa Negara Eropa. Group-group tonil dan pemain drama ini biasanya mampir di Makassar, setelah berpentas di Schouwburg Weltevreden di Batavia yang sekarang menjadi Gedung Kesenian Jakarta.

Pada masa pendudukan Jepang, Societeit de Harmonie dijadikan sebagai Balai Pertemuan Masyarakat, selain digunakan untuk rapat-rapat dan kepentingan pemerintah Jepang, gedung ini tetap juga difungsikan sebagai tempat pertunjukan seni, terutama pertunjukan sandiwara. Pemerintah Jepang memberi kesempatan kepada sejumlah grup sandiwara yang terbentuk dari kalangan seniman untuk tampil di gedung tersebut. Langkah itu dilakukan dengan tujuan menarik hati masyarakat pribumi. Namun sangat memprihatinkan, sebab pada masa itulah kondisi dan kelengkapan bangunan mulai hilang dan rusak.

Sementara grup-grup kesenian yang merupakan bentukan Jepang satu persatu mulai berguguran setelah Jepang angkat kaki meninggalkan Makassar. Sebagai gantinya, lahirlah beberapa grup seniman muda. Sayang sekali setelah kepergian Jepang, grup-grup seniman itu tidak dapat tampil secara langsung di Societeit de Harmonie disebabkan orang-orang Belanda, Keturunan Cina, dan golongan pribumi tertentu kembali menguasai gedung itu.

Kini gedung sedang Direnovasi dan Dilindungi Sebagai Asset Peninggalan Bersejarah.Dengan status kepemilikan negara dan dikuasai oleh Pemprov Sulsel, Societeit de Harmonie merupakan aset peninggalan sejarah yang dilindungi undang-undang.


1 Komentar

Jalan-jalan ke Makassar Sulawesi Selatan

makassar1

Makassar2

 


Makassar4

 

Fort Rotterdam ini awalnya dibangun pada tahun 1545 oleh Raja Gowa X dengan nama Benteng Ujung Pandang. Di dalamnya terdapat rumah panggung khas Gowa di mana Raja dan keluarganya tinggal. Pada saat Belanda menguasai are Banda dan Maluku, mereka mutuskan untuk manaklukkan Kerajaan Gowa agar armada dagang VOC dapat masuk dan merapat dengan mudah di Sulawesi. Dalam usahanya menaklukkan Gowa, Belanda menyewa pasukan dari Maluku. Selama setahun lebih Benteng digempur, akhirnya Belanda berhasil masuk serta menghancurkan rumah Raja dan seisi Benteng. Pihak Belanda memaksa sultan Hasanuddin untuk menandatangani Perjanjian Bongaya pada tahun 1667, dimana salah satu pasal dalam perjanjian tersebut mewajibkan Kerajaan Gowa menyerahkan Benteng kepada Belanda.

Setelah Benteng diserahkan kepada Belanda, Benteng kembali dibangun dan ditata sesuai dengan arsitektur Belanda kemudian namanya diubah menjadi Ford Rotterdam. Benteng ini kemudian digunakan sebagai pusat pemerintahan   dan penampungan rempah-rempah di Wilayah Indonesia Timur. Pada masa penjajahan Jepang, Benteng ini difungsikan sebagai pusat studi pertanian dan bahasa. Kemudian TNI dijadikan sebagai pusat komando. Dan sekarang Benteng ini menjadi pusat kebudayaan dan seni.

Di dalam Benteng ini terdapat beberapa ruang tahanan/penjara yang slaah satunya digunakan untuk menahan Pangeran Diponegoro. Selain itu, terdapat juga sebuah gereja peninggalan Belanda dan Meseum La Galigo yang menyimpan kurang lebih 4.999 koleksi. Koleksi tersebut meliputi koleksi prasejarah, numismatic, keramik asing, sejarah, naskah, dan etnografi. Koleksi Etnografi ini terdiri dari berbagai jenis hasil teknologi, kesenian, peralatan hidup dan benda lain yang dibuat dan digunakan oleh suku Bugis, Makassar, Mandar, da Toraja. Saat ini, selain sebagai tempat wisata bersejarah, Benteng ini juga dijadikan sebagai pusat kebudayaan Sulawesi Selatan.

makassar3


2 Komentar

Temu Karya Sastrawan Nusantara

Alhamdulillah. Terima kasih atas sumbangsih para sahabat dari berbagai provinsi di Nusantara tercinta.
Setelah mencermati 515 karya sahabat-sahabat tercinta, tim penyunting menyampaikan 116 nama sebagaimana terlampir di bawah ini sebagai sastrawan/partisipan yang diundang menghadiri pesta sastra dan lesehan sastra yang akan membincang (kembali) sastra dan sastrawan masuk sekolah

116 Sastrawan/partisipan Temu Karya Sastrawan Nusantara

tksn2

Aant S. Kawisar   – Yogyakarta,    Abah Yoyok   –  Tangerang,  Adriana TjandraDewi – Jakarta,    

Agus Warsono   –  Indramayu , Agustav Triono   – Purbalingga,  Ahmadun Yosi Herfanda – Tangerang
Ali Syamsudin Arsi  – Banjarbaru, Kalsel, Andre Theriqa   – Tangerang,  Arafat AHC    – Demak
Arif Hidayat   –  Purbalingga,   Arinda Risa Kamal – Tasikmalaya, Arsyad Indradi  – Banjarbaru, Kalsel
Ary Nurdiana  – Ponorogo,     Astri Primanita  – Tangerang, Atin Lelya Sukowati  – Yogyakarta    

Aulia Nur inayah – Tegal, A’yat Khalili Sumenep – Madura, Ayid Suyitno PS  – Bekasi,   Ayu Cipta   – Tangerang
Azizah Nur Fitriana   – Medan, Badrul Munir Chair  – Sumenep Madura,     

Bambang Widiatmoko  – Jakarta, Betta Anugrah Setiani – Bogor, Bode Riswandi –    Tasikmalaya
Budhi Setyawan  –  Bekasi, Cipta Arief Wibawa  – Medan

Darajatul Ula      –  Tangerang,     Dasuki D Rumi    –  Tangerang, Devi Hermasari    –  Yogyakarta

Dharmadi      –   Purwokerto, Didi Kaha    – Tangerang,      Dimas Arika M ihardja  –  Jambi

Dimas Indiana Senja   – Purwokerto,      Dwi Klik Santosa   –  Jakarta

Eko Tunas  – Semarang , eL Trip Umiuki – Tangerang,      En kurliadi nf  – Bekasi
Enes Suryadi – Tangerang,    Erry Amanda – Tangerang, Evan YS  – Bekasi

F. Pratama – Medan,    Faizy Mahmoed Haly –  Semarang, Fatih El Mumtaz  –  Pekanbaru , Riau

Gampang Prawoto – Bojonegoro,     Gito Waluyo    –  Serang, Gunoto Saparie –    Semarang

Hardia Rayya      –  Tangerang,   Hasan Bisri BFC  –  Jakarta, Hermansyah Adnan  –  Aceh

Husnul Khuluqi    – Tangerang, Imam Safwan – Tanjung, NTB,   Irma Agryanti  – Mataram, NTB

Isbedy Stiawan ZS – Tanjungkarang,     Ishack Sonlay    –  Kupang
J. Betara Kawhie  –  Cilacap,      Julia Hartini   – Bandung, Kiki Sulistyo    –  Mataram NTB

Kusnadi Arraihan    –    Yogyakarta, Kyai Matdon    –     Bandung    

L.K. Ara     –     Aceh,        Lailatul Kiptiyah     –    Jakarta, Lanang Setiawan    –   Tegal

Majenis Panggar Besi    –   Bengkulu, Mariyana Marabahan    –   Kalsel, Moh Mahfud      –     Banjarmasin, Kalsel
Muhammad Asqalani eNeSTe    –   Pekanbaru, Riau, Muhammad Rois Rinaldi      –    Cilegon, 

Mustaqiem Eska   –   Palembang, Nana Sastrawan    –   Tangerang,    Nani Karyono    –  Bandung, 

Nani Tandjung     –   Jakarta,   Nastain Achmad Attabani    –   Tuban. Niken Kinanti   –    Solo,      Noi Bonita (Ade Julia Dewi)    –    Serang

Novy Noorhayati Syahfida     –   Tangerang, Nur Hadi     –    Kaliwungu, Kendal

Pudwianto Arisanto      –   Jakarta, Qeis Surya Sangkala     –    Tasikmalaya 

Raka Mahendra      –    Jakarta,   Ratna Ayu Budhiarti    –   Garut, Ratna M. Rochiman – Bandung,      

Ria Oktavia Indrawati   –    Depok, Rini Intama    –    Tangerang,   Riyanto    –    Purwokerto

buku

Rezqie Muhammad AlFajar Atmanegara    –    Banjarmasin, Kalsel, Sartika Sari    –   Medan,     Satmoko Budi Santoso   –   Yogyakarta

Seruni    –    Solo,   Shah Kalana Alhaji     –    Samanrinda, Kaltim,  Sholichudin al-Gholany    –    Kudus,    
Shourisha Arashi    –    Cilacap, Sobih Adnan     –     Cirebon, Soekoso DM    –    Purworejo
Sofyan RH. Zaid    –   Bekasi,    Sri Runia Komalayani   –   Sukabumi
Sri Wintala Achmad    –    Cilacap
Suryati Syam    –   Bekasi,    Sus. S. Hardjono    –    Sragen, Suyitno Ethex     –    Mojokerto,
Syarif hidayatullah    –    Barito kuala. Kalsel

Tatang Rudiana Alghifari     –    Tasikmalaya, Tawakal M. Iqbal    –    Bogor

Thomas Haryanto Soekiran    –    Purworejo, Tina K.    –    Jakarta
Tjak S. Parlan    –     Mataram, NTB,    Uki Bayu Sedjati     –    Tangerang

Vanera el Arj      –     Wonosobo,     Villy J. Roesta    –     Tangerang, Wahyudi    –   Cirebon

Windu Mandela    –   Sumedang, Wyaz Ibn Sinentang    –   Pontianak, Kalbar

Y.S. Agus Suseno    –    Banjarmasin, kalsel,             
Yandri Yadi Yansah     –   Lampung,     Yudhie Yarcho     –    Jepara,   Yuditeha    –    Karanganyar
Yusran Arifin     –    Tasikmalaya

Acara “Temu Karya Sastrawan Nusantara 2013”
21 s.d. 23 Desember 2013,  di FAME Hotel – jl Boulevard Gading Serpong Tangerang

Kepanitiaan

Penyelenggara

Kepala DisporaBudpar Kabupaten Tangerang
Dewam Kesenian Kabupaten Tangerang

temukarya


2 Komentar

Workshop kepenulisan – Sastra masuk sekolah

ibu2 “Bisa menulis itu keren looh …”  itu tema workshop kepenulisan di SMA San Marino Jakarta, 28 Oktober 2013. yang jelas bisa menulis itu indah karena kita bisa menemukan ide dimana-mana,  menulis itu amanah,  menulislah yang kecil tapi bertenaga dan sederhana tapi bermanfaat.  Salam kreatif

ibu3

ibu1


Tinggalkan komentar

Namira

Namira, mengapa tak kau tulis saja puisi ?

seperti doa yang kau rebahkan di malam yang pucat

di antara kelopak waktu dan kabut cinta

sebagai pertanda yang kau tulis dimimpi-mimpi

 

Rini Intama- ktbm, Juni 2012


Tinggalkan komentar

Ilalang

bukankah kau ingat juga tentang surat kecil yang ku layangkan ? 

dimana aku tinggalkan catatan itu lalu jatuh di bukit ilalang

terbawa angin dalam kidung rindu yang hilang

Rini Intama – Amara dalam episode setangkai Edelweis

2011


1 Komentar

Edelweiss

Amara, aku dan batangbatang edelweis sepanjang jalan yang terpilih

menyimpan doa yang terinjak tangis ranting kering

 menghitung kata di setiap kelopak kecil edelweis yang putih

tanggalkan lukisan kertas tiga warna di kecipak air danau dalam hening

Amara dalam episode setangkai Edelweiss

Rini Intama -Mei 2011