Komunitas Pecinta Puisi

Adakalanya kita perlu menangis agar kita tahu hidup ini bukan sekedar tertawa. Adakalanya kita perlu tertawa agar kita tahu betapa mahalnya nilai airmata


9 Komentar

Buku Perempuan Langit

langit5

langit9

langit10

Iklan


Tinggalkan komentar

Secawan rindu

pesan  di desa Palak kutulis manis buat eremde

tentang aroma tanah, rasa lelah dan secawan rindu

dipuncak bebatu dan kebun edelweiss

 

 

 

Rini Intama – 2011

Puisi : Besakih dan aroma bunga

 

 


Tinggalkan komentar

Puisi buat sahabat

Puisi buat sahabat

 di sana kau menulis dunia

seperti menoreh sejarah tak sengaja

bagaimana penamu bicara jenaka penuh tawa

ah… menabur pesonapesona

menggurat cintacinta

 

Tangerang, 31 Januari 2011

Rini Intama – membaca puisi Abah Yoyok


Tinggalkan komentar

Menuju Ranupani

Tumpang, Gubug klakah dan apel hijau

Menawari sepinggan cinta

Yang ingin kubawa pulang

 

 

Puisi : menuju Ranupani ( dalam Buku Gemulai Tarian Naz)

Rini Intama Februari 2011


Tinggalkan komentar

Sembalun Lawang

Sembalun lawang

 

Dibatas anjangsana

Bagaimana  mengingat Aikmel, Masbagik,

hutan obelobel dan Sembalun lawang

Kicau burung , aroma bawang putih di hamparan ladang

riuh senandung kidung gembala sepanjang pematang

 

direlung waktu mengeja kata kenang

dibatas ingatan saat usia kita menua

 

ada perempuan dan kayu penenun

ada kain dan selendang menyelempang tutupi leher jenjang

 

aku bukan petualang

tapi rindu ini tak pernah hilang

 

Sembalun Lawang dalam kenang

Januari 2011 – dalam buku Gemulai Tarian Naz


2 Komentar

Kekasih

kau datang dengan seikat bunga mawar putih

secarik kertas terakhirmu menerbangkan cerita mimpi

tentang seronce melati di hari pernikahan nanti

seraya terus kita menembang puisi puisi

 

itu cerita kemarin

saat rembulan luruh dalam asap kelabu

hari ini nafasku menyesak dekat pusaramu

 

November 2010

Rini Intama dalam buku “Merapi Gugat”


1 Komentar

Jejak yang menghilang

Aku mencarimu sepanjang jalan tadi

Tak kusebut dahi yang berpeluh

Dan tangis kaki yang tak henti

Dada bidangnya yang kurebahi dalam diam

saat kuingat mata hitamnya yang menghujam

mata yang  telah kusimpan di laci tua sebulan yang lalu

saat bulan hanya setengah dan kueja dengan getar

seperti halnya sebuah sketsa 

yang kucoret di dinding paling senyap dalam jeda waktu yang panjang

Jejak yang  menghilang di bias warna

Rini Intama

Februari 2011