Komunitas Pecinta Puisi

Adakalanya kita perlu menangis agar kita tahu hidup ini bukan sekedar tertawa. Adakalanya kita perlu tertawa agar kita tahu betapa mahalnya nilai airmata


2 Komentar

Workshop kepenulisan – Sastra masuk sekolah

ibu2 “Bisa menulis itu keren looh …”  itu tema workshop kepenulisan di SMA San Marino Jakarta, 28 Oktober 2013. yang jelas bisa menulis itu indah karena kita bisa menemukan ide dimana-mana,  menulis itu amanah,  menulislah yang kecil tapi bertenaga dan sederhana tapi bermanfaat.  Salam kreatif

ibu3

ibu1

Iklan


1 Komentar

Lindap

Jika bisa memilih, Perempuan itu memilahnya perlahan

lalu menuangkan kedalam bejana cantik

tapi dia berdiri tak menunggu pilihan 

disebongkah batu pinggir jalan, mata nyalang merayu malam

 

Debu dan gerai rambut sebahu sama tertiup angin malam

Semerbak lumut batu menanti tawaran pahit menjamah tubuh

tertindih, tertikam amarah pedih

hidup tetap hidup tapi perut tak mampu menunggu

 

Rini Intama 2010


2 Komentar

Kekasih

kau datang dengan seikat bunga mawar putih

secarik kertas terakhirmu menerbangkan cerita mimpi

tentang seronce melati di hari pernikahan nanti

seraya terus kita menembang puisi puisi

 

itu cerita kemarin

saat rembulan luruh dalam asap kelabu

hari ini nafasku menyesak dekat pusaramu

 

November 2010

Rini Intama dalam buku “Merapi Gugat”


6 Komentar

Profil Perempuan pengarang dan penulis Indonesia

beredar di TB Gramedia di Jabodetabek dan Bandung.

Buku yang menghimpun 800-an profil perempuan pengarang & penulis di Indonesia dari A sampai Z. Tak hanya membanggakan bagi kaum perempuan tetapi juga layak dikerling sejawatnya para lelaki


Tinggalkan komentar

Perempuan Indonesia

Pada surat-surat Kartini tertulis pemikiran-pemikirannya tentang kondisi sosial saat itu,  bagaimana beliau berkeluh dan menggugat  budaya di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan. Dia ingin wanita memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar. Dan beliau berhasil membuat para perempuan Indonesia bangkit dan terus melaju di segala bidang . Kini Perempuan Indonesia sudah bisa menempatkan diri meneruskan cita-cita ibu kita Kartini.

Terima kasih Ibu, semoga kami memahami arti perjuanganmu,  seperti tercantum dalam suratmu kepada Nyonya Abendon, Agustus 1900  “Kita dapat menjadi manusia sepenuhnya, tanpa berhenti menjadi wanita sepenuhnya”.  

Ibu Kartini tetap menjunjung kodrat perempuan sebagai bagian bari tulang rusuk laki-laki juga menjadi ibu penuh kasih, mendidik dan menunggu anak-anak bermata mutiara yang kemudian terlahir dari rahim emansipasi ini  

Terima kasih ibu Kartini, kami perempuan Indonesia menitikkan air mata untuk perjuanganmu.

Meski sampai saat ini masih banyak Perempuan Indonesia yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga, perempuan pekerja rumah tangga yang bekerja di dalam negeri maupun di luar negeri sebagai buruh migran, perempuan korban kekerasan seksual yang menjalankan proses peradilan, perempuan yang hidup di daerah konflik bersenjata dan, perempuan kepala keluarga yang hidup di tengah kemiskinan di daerah pedesaan.  

21 April 2012



13 Komentar

Berita menarik