Komunitas Pecinta Puisi

Adakalanya kita perlu menangis agar kita tahu hidup ini bukan sekedar tertawa. Adakalanya kita perlu tertawa agar kita tahu betapa mahalnya nilai airmata


7 Komentar

Sebuah buku untuk Mandar

akoranSebuah buku Antologi “Analekta Kappung beruq beruq – Mandar Sulawesi

Buku ini ibarat untaian melati yang dalam bahasa Mandar disebut ‘Beruq-beruq’.

Ia  tidak membosankan, semakin lama semakin semerbak. 

Seperti tersebut dalam aforisma Mandar:

beruq-beruq…minang malassu, minang sarrombong sarrinna.

(nulikan di atas tertera di lembar pembuka buku ‘Analekta Beruq-beruq: Perempuan Mandar Menjawab’)

http://kappungberuberu.wordpress.com/2013/04/07/aforisma-mandar/

aberuq

Iklan


Tinggalkan komentar

Layla menangis

Mata perempuan itu berkabut

Menunduk menghitung rasa takut lalu lari

lari dan terus berlari meninggalkan gemetar

yang tak beranjak dari sekepal jantung yang sekarat

 

Berlarilah terus

Bawa semua luka dan bait-bait puisimu yang menangis

Biarkan panah  gerimis bergetar di bumi yang limbung

 

Rini Intama

dalam Puisi Layla , 2012


Tinggalkan komentar

Doa

merenung4Tiba-tiba kota seperti mati sunyi

Pohon ikut diam dan langit berkabut

Tak dia temukan catatan di rongga dada

selain  doa sunyi yang baru saja dia tanam di rahim bumi

twitter : @rini_intama

Rini Intama – Juni 2011

//

//


Tinggalkan komentar

Perang

Wajah anak terluka mencari dada ibu dalam tangis yang pecah

Mata yang bening, wajahwajah hening

yang gelisah

 

 

karena ingin mengeja arti kata pulang dan merdeka

 

 

Rini Intama – 2011

 


1 Komentar

Lindap

Jika bisa memilih, Perempuan itu memilahnya perlahan

lalu menuangkan kedalam bejana cantik

tapi dia berdiri tak menunggu pilihan 

disebongkah batu pinggir jalan, mata nyalang merayu malam

 

Debu dan gerai rambut sebahu sama tertiup angin malam

Semerbak lumut batu menanti tawaran pahit menjamah tubuh

tertindih, tertikam amarah pedih

hidup tetap hidup tapi perut tak mampu menunggu

 

Rini Intama 2010


Tinggalkan komentar

Seperti ketika kecil memaksa

ingin rebah di dada ibu

 

samar suara rindu menggelincir

aliri pembuluh nadi

seperti ketika memaksa

ingin berlari kearahmu

 

Puisi Bungkam

9 Mei 2010


1 Komentar

Tanah asal

menghitung detik  yang menimbun luka tanpa kata

tak perlu lagi ada tanya tentang berapa, apa dan bagaimana

hingga waktu bertanya dalam bahasanya,  sampai di manakah perahu akan berlayar ?

memecah rindurindu menuju jalan kembali pada tanah asal

 

 Puisi Perempuan itu menulis puisinya

Maret 2011