Komunitas Pecinta Puisi

Adakalanya kita perlu menangis agar kita tahu hidup ini bukan sekedar tertawa. Adakalanya kita perlu tertawa agar kita tahu betapa mahalnya nilai airmata


1 Komentar

ESAI KRITIK PUISI – Firda Rizky Kadidya

ESAI KRITIK PUISI Firda Rizky Kadidya http://esaisastrakita.blogspot.com/2013/05/esai-kritik-puisi-firda-rizky-kadidya.html

RINI INTAMA DALAM PUISI RELIGI-LIMA NOVEMBER

Oleh: Firda Rizky Kadidya

Puisi bisa juga menjadi salah satu cara seseorang penyair untuk mengabadikan seluruh perasaannya agar senantiasa abadi. Perasaan ini bisa berupa perasaan bahagia maupun sedih. Hal semacam ini menunjukkan bahwa puisi sangat dekat dengan kehidupan kita. Puisi bisa menghadirkan segala pujian maupun gugatan.

Rini Intama hadir dengan puisi yang bertema religi. Puisi yang melukiskan bahwa kematian itu sangat rahasia dan tak ada seorang pun yang bisa mengetahui hari kematiaannya.

Puisi kematian yang diusung kali ini adalah puisi kematian yang tak terkesan menggurui. Puisi kematian yang hanya mencoba menggetarkan jiwa dalam memaknainya.

LIMA NOVEMBER

Lupa pada warna senja yang sebentar lagi turun

Suara ibu memanggilku hingga suara serak berdahak

Lamat menghilang dalam pekat awan yang berserak

Secangkir air mata panas tumpah menyiram hatiku

Malam, kutanya di mana ibu?

Ayah berbisik, sudah di surga sore tadi nak.

November 2010

(diambil dari buku Gemulai Tarian Naz karya Rini Intama halaman 62)

Ketika membaca judul puisi di atas awalnya saya hanya menerka-nerka apa keistimewaan November di mata seorang Rini Intama sehingga harus diabadikan dalam puisi.

Perlahan saya mencoba mengamati kata demi kata yang disusun dan dijadikan puisi dengan dua bait yang utuh, dua bait yang mampu menjawab bahwa segala sesuatu akan menjadi fana tanpa pernah menduganya.

Rini Intama membuka baitnya dengan sebuah sapaan yang membuat kita tersadar dari lena hidup yang kita jalani. ‘Lupa pada warna senja yang sebentar lagi turun’, berarti lupa pada waktukalau suatu saat kita pasti akan kembali.

Bait pertama secara utuh hanya menggambarkan suasana jiwa yang mendebarkan dalam menghadapi kematian, saat-saat yang penuh dengan kegetiran. Saat-saat yang membuat ruh merenung kembali tentang keberadaan yang dijalani. Semua itu disampaikan secara jujur dan tidak klise dengan menambahkan sedikit metafora.

Bait kedua lebih memfokuskan pembahasannya pada kebimbangan seorang penyair dalam mencari tentang kabar keberadaan ibunya, orang yang sangat dicintai dan sangat dirindui. Pertanyaan seperti ini wajar terjadi dan sering kita saksikan dalam hidup ini, utamanya saat kita sangat merindukan sosok ibu yang sering kita lihat, tiba-tiba hilang tanpa sebab.

Kegelisahan penyair dalam mencari sosok ibunya, yang tak kunjung mendapatkan jawaban terlihat dalam baris

Lamat menghilang dalam pekat awan yang berserak. Malam yang menjadi tempat kesunyiaan untuk menanyakan keberadaan sosok orang yang dicintai, akhirnya mulai sedikit terasa lega dengan adanya jawaban dari sosok yang bernama ayah. Ayah yang sangat memahami psikologi keadaan anak yang kehilangan ibunya sebisa mungkin akan mencari bahasa yang lebih menghibur buah hatinya,

Ayah berbisik, sudah di surga nak sore tadi. Begitu indah penyair menutup baitnya.

Dari segala uraian yang telah saya paparkan, paling tidak Rini Intama dalam puisinya berjudul “Lima November” telah berhasil menyampaikan tentang risalah kematian. Rini berbicara kematian namun tak terkesan menggurui. Kematangan penyair dalam menyampaikan imajinasi telah teruji dengan baik.

http://esaisastrakita.blogspot.com/2013/05/esai-kritik-puisi-firda-rizky-kadidya.html

ilktrans7

Puisi ini juga di bacakan di acara TV, program  ILK – trans7 pada tanggal 24 Juni 2014


Tinggalkan komentar

Membaca sastra membaca Bangsa

Dalam rangka ulang tahun Perpustakaan Nasional ke 33 tahun.

kami mengundang sdr/sdri untuk hadir (terbuka untuk umum dan gratis)

Ruang Teater , Perpusatakaan Nasional 15 Mei 2013

Jl. Salemba raya Jakarta Pusat

jam 09.00 – 13.00 WIB

sastra

OLYMPUS DIGITAL CAMERA


6 Komentar

Spring Fiesta – Pesta Musim Semi

spring2

Antologi Puisi Bilingual SPRING FIESTA [Pesta Musim Semi] adalah antologi puisi yang diikuti oleh 63 penyair dari 9 negara [Libia, Arizona, Serbia, Pakistan, India, Hongkong, Malaysia, Singapura, dan Indonesia]. Antologi yang diterbitkan oleh INDONESIAN AND ENGLISH POETRY Group dan Araska Publisher ini akan diluncurkan di Sanggar Satoeempatsatoe Indonesia,

pada Sabtu 25 Mei 2013/19.30-21.30 WIB (Halaman Olah Raga SMP PGRI I, Jl, perintis Kemerdekaan II, Kompleks Perkantoran, Cikokol, Tangerang. Kepada seluruh kawan peserta dan pecinta sastra di mana saja berada diharapkan kehadirannya. Terima kasih


Pengantar  Kurator

IBARAT selembar sobekan peta, Buku Antologi Puisi Dua Bahasa SPRING FIESTA [PESTA MUSIM SEMI] ini adalah sebuah lembar wilayah yang berskala kecil, namun berhimpun aneka macam morfologi dan bentang alam yang dibedakan, lewat nama-nama sungai, kampung, gunung, sehingga memiliki keterangan dan deskripsi yang lengkap. Maka buku ini tampil untuk mewakili semua morfologi dari para penyair dari berbagai daerah di Indonesia dan luar negeri, yang masing-masing memiliki gairah dan genre bertutur yang sangat variatif.

Mengapa SPRING FIESTA [PESTA MUSIM SEMI] menjadi pilihan judul buku ini? Belajar dan berusaha menghormati nilai demokrasi dari semua penyair yang kemudian ditiadakan model pemberian judul buku dengan mengambil salah satu judul puisi dari salah satu penyair, maka suasana kebatinan yang fair ini akan dirasakan menjadi cukup enjoy, karena kemudian tak ada pengkultusan atas sebuah puisi. Karena terdapat anggapan: “Biarkan setiap puisi lahir, besar, dan mati dengan alami! Namun kelahiran dan kematian itu akan terus dikenang.”

S[An. Kurator: Budhi Wiryawan]


6 Komentar

DENGAN PUISI AKU (Taufiq ismail)

taufikDENGAN PUISI AKU (Taufiq ismail)

Dengan puisi aku bernyanyi

Sampai senja umurku nanti

Dengan puisi aku bercinta

Berbatas cakrawala

 Dengan puisi aku mengenang

Keabadian Yang Akan Datang

Dengan puisi aku menangis

Jarum waktu bila kejam mengiris

Dengan puisi aku mengutuk

Napas jaman yang busuk

Dengan puisi aku berdoa

Perkenankanlah kiranya