Komunitas Pecinta Puisi

Adakalanya kita perlu menangis agar kita tahu hidup ini bukan sekedar tertawa. Adakalanya kita perlu tertawa agar kita tahu betapa mahalnya nilai airmata


Tinggalkan komentar

PARADE PUISI GRAHA BHAKTI BUDAYA – 3 Okt 2017

Penyelenggaraan Hari Puisi Indonesia 2017 merupakan Hari Puisi yang kelima sejak pertama kali digelar. Dari tahun ke tahun, acara kesusastraan paling prestisius di Indonesia ini terus mengalami peningkatan, mulai dari acara-acara yang disajikan hingga apresiasi dan sumbangsih masyarakat sastra di Indonesia.

Di tahun kelima Hari Puisi Indonesia ini, selain acara tahunan yakni Malam Anugerah Hari Puisi Indonesia, ada juga acara cukup monumental yaitu Parade Puisi (Pejabat, Tokoh, Pengusaha dan Penyair) yang digelar di Graha Bhakti Kebudayaan Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada Selasa 3 Oktober 2017 malam.

Acara ini di meriahkan dengan pembacaan Puisi Oleh  :  Walikota kota Banjarmasin,  walikota Depok, Menteri Tenaga Kerja, kepala PPATK, Bima Arya  Politikus dan para penyair Nasional.

Salah satu pejabat negara yang menggetarkan panggung parade puisi Hari Puisi Indonesia 2017 ialah Menteri Ketenagakerjaan RI (Menaker) M. Hanif Dhakiri.

“Berpedomanlah Pada Cita-cita”, itulah judul puisi karya Ir. Soekarno yang dibacakan Menaker dengan penuh emosi yang meledak-ledak di atas panggung.

Penyair Rini Intama    membawakan puisi Nyanyian Pagi

Bima Arya

Iklan

KIDUNG CISADANE – Sejarah dan Budaya Tangerang Dalam Puisi

Tinggalkan komentar

Rini Intama, pendidik, penulis lahir tanggal 21 Februari di Garut, Jawa Barat, aktifitas mengajar dan menulis.  Menulis puisi, cerpen dan novel.  Anggota Komite Sastra “Dewan Kesenian Kabupaten Tangerang”,  Aktif di Komunitas Saung Sastra Tangerang dan beberapa komunitas Sastra di Tangerang. Buku karya tunggal KIDUNG CISADANE, Sejarah dan Budaya Tangerang dalam Puisi (Kosakatakita), 2016. Meraih Anugerah 5 buku puisi terbaik Hari Puisi Indonesia 2016.   PANGGIL AKU LAYUNG.  Sebuah Novel (Kosakatakita), 2015, A YIN,   kumpulan cerpen (Kinomedia), 2014. Kisah ini dpentaskan di Drama Teater Universitas Muhamadyah Tangerang,  TANAH ILALANG DI KAKI LANGIT,  Kumpulan puisi (Penerbit Senja), 2014, GEMULAI TARIAN NAZ,  Jejak sajak Rini Intama (Q Publisher), 2011. Dan puluhan buku antologi bersama.

 


1 Komentar

ESAI KRITIK PUISI – Firda Rizky Kadidya

ESAI KRITIK PUISI Firda Rizky Kadidya http://esaisastrakita.blogspot.com/2013/05/esai-kritik-puisi-firda-rizky-kadidya.html

RINI INTAMA DALAM PUISI RELIGI-LIMA NOVEMBER

Oleh: Firda Rizky Kadidya

Puisi bisa juga menjadi salah satu cara seseorang penyair untuk mengabadikan seluruh perasaannya agar senantiasa abadi. Perasaan ini bisa berupa perasaan bahagia maupun sedih. Hal semacam ini menunjukkan bahwa puisi sangat dekat dengan kehidupan kita. Puisi bisa menghadirkan segala pujian maupun gugatan.

Rini Intama hadir dengan puisi yang bertema religi. Puisi yang melukiskan bahwa kematian itu sangat rahasia dan tak ada seorang pun yang bisa mengetahui hari kematiaannya.

Puisi kematian yang diusung kali ini adalah puisi kematian yang tak terkesan menggurui. Puisi kematian yang hanya mencoba menggetarkan jiwa dalam memaknainya.

LIMA NOVEMBER

Lupa pada warna senja yang sebentar lagi turun

Suara ibu memanggilku hingga suara serak berdahak

Lamat menghilang dalam pekat awan yang berserak

Secangkir air mata panas tumpah menyiram hatiku

Malam, kutanya di mana ibu?

Ayah berbisik, sudah di surga sore tadi nak.

November 2010

(diambil dari buku Gemulai Tarian Naz karya Rini Intama halaman 62)

Ketika membaca judul puisi di atas awalnya saya hanya menerka-nerka apa keistimewaan November di mata seorang Rini Intama sehingga harus diabadikan dalam puisi.

Perlahan saya mencoba mengamati kata demi kata yang disusun dan dijadikan puisi dengan dua bait yang utuh, dua bait yang mampu menjawab bahwa segala sesuatu akan menjadi fana tanpa pernah menduganya.

Rini Intama membuka baitnya dengan sebuah sapaan yang membuat kita tersadar dari lena hidup yang kita jalani. ‘Lupa pada warna senja yang sebentar lagi turun’, berarti lupa pada waktukalau suatu saat kita pasti akan kembali.

Bait pertama secara utuh hanya menggambarkan suasana jiwa yang mendebarkan dalam menghadapi kematian, saat-saat yang penuh dengan kegetiran. Saat-saat yang membuat ruh merenung kembali tentang keberadaan yang dijalani. Semua itu disampaikan secara jujur dan tidak klise dengan menambahkan sedikit metafora.

Bait kedua lebih memfokuskan pembahasannya pada kebimbangan seorang penyair dalam mencari tentang kabar keberadaan ibunya, orang yang sangat dicintai dan sangat dirindui. Pertanyaan seperti ini wajar terjadi dan sering kita saksikan dalam hidup ini, utamanya saat kita sangat merindukan sosok ibu yang sering kita lihat, tiba-tiba hilang tanpa sebab.

Kegelisahan penyair dalam mencari sosok ibunya, yang tak kunjung mendapatkan jawaban terlihat dalam baris

Lamat menghilang dalam pekat awan yang berserak. Malam yang menjadi tempat kesunyiaan untuk menanyakan keberadaan sosok orang yang dicintai, akhirnya mulai sedikit terasa lega dengan adanya jawaban dari sosok yang bernama ayah. Ayah yang sangat memahami psikologi keadaan anak yang kehilangan ibunya sebisa mungkin akan mencari bahasa yang lebih menghibur buah hatinya,

Ayah berbisik, sudah di surga nak sore tadi. Begitu indah penyair menutup baitnya.

Dari segala uraian yang telah saya paparkan, paling tidak Rini Intama dalam puisinya berjudul “Lima November” telah berhasil menyampaikan tentang risalah kematian. Rini berbicara kematian namun tak terkesan menggurui. Kematangan penyair dalam menyampaikan imajinasi telah teruji dengan baik.

http://esaisastrakita.blogspot.com/2013/05/esai-kritik-puisi-firda-rizky-kadidya.html

ilktrans7

Puisi ini juga di bacakan di acara TV, program  ILK – trans7 pada tanggal 24 Juni 2014


Tinggalkan komentar

Membaca sastra membaca Bangsa

Dalam rangka ulang tahun Perpustakaan Nasional ke 33 tahun.

kami mengundang sdr/sdri untuk hadir (terbuka untuk umum dan gratis)

Ruang Teater , Perpusatakaan Nasional 15 Mei 2013

Jl. Salemba raya Jakarta Pusat

jam 09.00 – 13.00 WIB

sastra

OLYMPUS DIGITAL CAMERA