Komunitas Pecinta Puisi

Adakalanya kita perlu menangis agar kita tahu hidup ini bukan sekedar tertawa. Adakalanya kita perlu tertawa agar kita tahu betapa mahalnya nilai airmata


4 Komentar

Buku-buku Keren

 

  1. Gemulai Tarian Naz,  Jejak sajak Rini Intama
  2. Kado sang terdakwa,  antologi puisi Tangerang serumpun
  3. Merapi Gugat, Sastra etnik 13 Penyair
  4. Ruang jingga,  antologi puisi 12 Penyair
  5. Fiksimini, antologi puisi pendek – Kosakatakita,
  6. Phantasy Poetica Imazonation, antologi puisi cerpen, Penulis muda Indonesia,
  7. Gadis dalam cermin, kumpulan cerpen Tangerang Serumpun
  8. Spring Fiesta – Pesta Musim Semi,  kumpulan puisi dua bahasa
  9. Sekuntum Jejak Antologi Puisi Dewan Kesenian Kabupaten Tangerang

10. 105 Penyair dalam kebangkitan Sastra Pekalongan

11. Beranda rumah cinta, antologi puisi 52 penulis

12. Analekta Beruq-beruq (Perempuan Mandar menjawab) Menulis artikel “Pendidikan anak dalam perspektif perempuan Mandar”

13. Profil Perempuan pengarang dan penulis Indonesia(Kosakatakita)

14. Tifa Nusantara Antologi puisi dan cerita rakyat dalam acara ‘Temu karya Sastrawan Nusantara’

 

rini4


Tinggalkan komentar

Puisi-puisi cinta

cericit burung melempar ribuan tanya pada belukar

Berapa banyak anakanak lagikah akan lahir dari persetubuhan alam ?

Berapa banyak perempuan lagikah yang akan lahir dari rahim puisipuisi cinta ?

 

atau  wajah penuh amarah  yang akan lahir dari percikan api di langit malam ?

 

 

 

Puisi Perempuan itu menulis puisinya

Maret 2011

 

 

 


2 Komentar

Perempuan

Perempuan itu menulis Puisinya

 

pada sebuah lagu kutitip makna syair, nada dan irama yang sempurna

tentang perempuan yang meninggalkan tangisan

pada petapeta sajak di tubuhnya yang sunyi

serupa petualang yang memahat cinta hingga berlabuh di dermaga

 

Lalu memutuskan pulang dari perjalanan yang panjang

 

 

 

Puisi Prempuan itu menulis puisinya

Maret 2011

 

 

 


Tinggalkan komentar

Kamboja merah muda

meronce mimpi dan bulan yang menusuk malam

lalu matahari akan merahasiakannya esok pagi

 

Perempuan berkebaya ungu,  sanggul panjang menjuntai kesamping

 

Meyelipkan kamboja merah muda di telinga

 

 

 

Rini Intama -2100

 

Puisi Besakih dan aroma bunga

 

 

 

 

 

 


1 Komentar

Mimpi anak-anak

Melompati pagar berduri siang hari

Menghambur sambangi tanah lapang berilalang

Mengarungi air hingga tengah telaga

Tawa riang, cahaya di binar mata itu ada

Serantang bekal mimpi tentang matahari

Saat awan kelabu, melompat girang menanti hujan

lalu berlari hingga batas langit menunggu pelangi

Anakanak dan khayalan seribu cahaya bintang

Lalu Menembang rembulan, memanggilnya turun saat malam

menunggu kunangkunang sinari wajahnya

bermimpi tentang ayah dan ibu yang menggantung di langit

Melukiskan tawatawa suka dan celoteh yang sempurna

Atau memaknai aksara dan angka, menghitung bilangan hari dengan jemari

Anakanak mengeja namanya di setiap doa, ajari kita bahwa rindu dan cinta itu ada

Februari 2011


1 Komentar

Menkmati “PHANTASY POETICA”, mengintimi puisi Rini Intama

Oleh Dr. Sudaryono, M. Pd (Dimas Arika Mihardja), Dosen Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

HARI INI, Kamis 14 Oktober 2010, saya menerima buku kiriman Rini Intama. Sebuah buku yang memuat puisi dan cerpen karya penulis muda, satu sisi buku bertitel “Phantasy Poetica” dan satu sisi lainnya memuat cerpen yang diberi titel “Imazonation” (PM Publisher, 2010). Masuk dalam jajaran penulis muda yang menyumbang puisi-puisinya adalah: Abdul Majid Kamaludin, Angga Sukma Sky, Astri Poetry, Bekti Yustiarti, Chairul (Rolix) Ikhsan, Dwi Andari, Eros Rosita, Iin Syah, Lasinta Ari nendra Wibawa, Nanang Rusmana, Putri Fatimah Pratama, Restu Ashari Putra, Rini Intama, Riyadi, Suguh Kurniawan, dan Wardjito Soeharso. Penulis cerpen yang dimuat karyanya di antaranya Delasari Pera Belawa, Daud Al Insyirah, Elly Lizzya, Jama’atun Rohmah, Jun An Nizami, Nurfita Kusuma Dewi, Riris Raden, Talitha Huriyah, dan Yathi Hasta.

Dari barisan nama-nama baru ini terselip nama yang cukup familiar, yakni Rini Intama. Review ini dibuat secara khusus terpusat pada puisi-puisi gubahan Rini Intama.


Dalam antologi puisi “Phantasy Poetica” ini Rini Intama menyertakan 5 (lima) puisinya, masing-masing berjudul “Di Persimpangan yang Lindap”, “Sajak Hampa”, “Nyanyian Sang Ombak”, “Merajuk”, dan “Surat pada Mei”. Menilik dan menelisik judul-judulnya ini pembaca mulai disuguhkan permen aneka rasa. Rasa gamang seperti di persimpangan dapat terlacak lewat puisi

“Di Persimpangan yang Lindap” (hlm. 92); rasa hampa tertuang pada puisi “Hampa” (hlm. 93); persoalan gelora riak dan ombak terasa menyergap dalam puisi “Nyanyian Ombak” (hlm. 94), puisi “Merajuk” (hlm.95) secara denotatif memberi pekabaran perihal merajuk; dan persoalan reformasi terdedah melalui judul “Surat Kepada Mei” (hlm.96).

Apakah yang menarik dari puisi? Puisi selalu menawarkan daya tarik berupa tawaran dunia fantasi yang diolah berdasarkan diksi dan imajinasi. Setiap puisi sudah barang tentu terdapat diksi, yakni pilihan kata yang dilakukan oleh penyair. Penyair “setengah mati” mempertaruhkan diri dalam memilih kata-kata yang secara tepat dapat mengabadikan pengalaman dan perasaannya ke dalam teks puisi. Penyair selalu selektif dalam memilih kata. Seleksi yang ketat ini biasanya lalu terkait dengan dunia fantasi yang secara nyata hadir dari pilihan dan penggarapan imajinasi. Penyair menyeleksi kata yang secara fantastis menumbuhkan ruang imajinasi bagi para pembaca puisinya. Melaui diksi dan imaji inilah penyair mengajak para pembacanya memasuki dunia fantasi lewat puisi-puisi yang digubahnya. Di sebuah persimpangan yang lindap, Rini Intama berusaha mengabadikannya dengan diksi dan imaji berikut:

kutebas pedang karat di pucuk rindu senyap

kupinang darah pekat di dada nafasku megap

di langit kisah kisah mengendap

(“Di Persimpangan yang Lindap”, bait 1 hlm. 92)

Pada saat perasaan merasa hampa oleh berbagai sebab, misalnya saat ada pengalaman di rumah sakit jiwa, Rini Intama memilah dan memilih diksi yang memuat imaji yang berdampak fantasi seperti ini:

tak ingkar jika melihat nestapa dalam debar

cahaya memendar melepas di depan cermin kusam

dalam waktu sepanjang badan

(“Sajak Hampa: Senandung Lirih di Sebuah Rumah Sakit Jiwa”, bait 3 hlm. 93)

Pada jiwa dan rasa bergolak, rasa cinta, rindu, sendu, dan aneka rasa lainnya secara imajinatif terpapar melalui diksi ombak. Kita simak “Nyanyian Sang Ombak” (hlm. 94) secara utuh-menyeluruh agar kita bisa menikmati diksi, imaji, dan dunia fantasi yang diciptakan oleh Rini Intama:

NYANYIAN SANG OMBAK

Sajak Pantai Utara, Hutan Bakau, dan Aroma Cinta

Burung burung hanyut bercengkerama lepas dalam gairah yang sublim

di atas akar akar bakau yang menjalar

menyela kokoh di rawa berlumpur

memisah kejahan dari debur ombak yang menderu

mengalun nyanyian cinta

Perasaan dan sikap “merajuk” dapat kita nikmati dalam puisi bertajuk “Merajuk” dan “Surat Pada Mei”. Seseorang dapat saja merajuk oleh berbagai sebab. Sikap merajuk ini tentu saja bukan semata merupakan kecengengan, sebab di dalamnya terdapat juga sebuah gambaran sikap. Bagaimana gambaran sikap “merajuk” seorang Rini Intama ketika menghadapi peristiwa Mei saat reformasi terjadi? Kita nikmati saja puisi satu bait berjudul “Surat Pada Mei” (hlm. 96):

 

SURAT PADA MEI

ketika bertanya pada Mei, purnama menungguku
di tengah bulan yang terbebas, lantas menangis
bah …
kau palingkan wajah dan sudut mata mengerling tajam
kau tak mengerti! katamu pelan tak berintonasi
tak ingin aku mengedip memandang kemarahan yang merah
di sela waktu yang membusuk
karena terlalu lama teronggok
aku tak ingin bertanya lagi Mei!
kecuali ketika pucuk cemara tertawa geli
mengundang debu jalan yang tersapu angin

Kita telah mencicipi puisi-puisi gubahan Rini Intama dalam buku “Phantasy Poetica”. Puisi memang selalu memberikan ruang fantasi, ruang kontemplasi, penuh dengan pilihan diksi yang kaya imajinasi. Sebagai pereview, saya tak mau dikelompokkan pada golongan yang nyinyir menelanjangi puisi, memberikan ruang tafsir yang njlimet dan bisa jadi membuat kepala mumet. Rini Intama yang terlahir di Garut 21 Februari (dan menyembunyikan tahunnya ini) . Memang, terkadang usia tidak menjamin kematangan karya, tetapi semangat muda untuk berkarya tentulah perlu diberi penghargaan. Rini Intama, tentu saja tak tergolong tua, tak pula masuk dalam barisan muda-remaja dalam berkarya.

Setidaknya, diam-diam sudah lama saya mengincar karya dan kekaryaan seorang Rini Intama yang memang perlu diintimi. Begitulah, review singkat ini dibuat, semoga tercerahkan. Salam DAM: 123 sayang semuanya.

Kota Beradat, 14 Oktober 2010


15 Komentar

NEGERI PUISI

NEGERI IBU
Hamparan sawah, hutan jati dan ruang-ruang purba, melukis
sejarah sepi dan beku di antara ribuan ilalang.

NEGERI ANGAN-ANGAN
Angan-angan menjelma secangkir kopi di atas meja makan.

NEGERI PUISI
Rahim bumi melahirkan puisi para petinggi, ada janji, manipulasi
dan korupsi yang tersimpan dalam kopor di bandara luar negeri.

NEGERI LUKA
Kebenaran dan keadilan seperti mimpi terbujur kaku. Luka
menganga dan darah menetes tak henti.

Rini Intama - Juli 2011
(dalam Buku  : Antologi 600 Fiksimini (Penerbit KOSAKATAKITA 2011)