
Di lorong kota pohon diam langit berkabut. Tak ada catatan
selain doa sunyi di rahim bumi. ‘Tuhan ajari aku hidup’
Dalam buku “Antologi Fiksimini”
Tiga jam di Padang Bai
kisah ini kutulis di pantai ketika menunggumu
meminang janji tentang kapal yang akan melabuh di dermaga
satu jam berlalu aku masih bernyanyi
mengayuh biduk di danau tiga warna
dua jam menghitung segenggam pasir
membayang lintasan buihbuih ombak di selat lombok
tiga jam, bahkan aku lupa namamu
Januari 2011
Melompati pagar berduri siang hari
Menghambur sambangi tanah lapang berilalang
Mengarungi air hingga tengah telaga
Tawa riang, cahaya di binar mata itu ada
Serantang bekal mimpi tentang matahari
Saat awan kelabu, melompat girang menanti hujan
lalu berlari hingga batas langit menunggu pelangi
Anakanak dan khayalan seribu cahaya bintang
Lalu Menembang rembulan, memanggilnya turun saat malam
menunggu kunangkunang sinari wajahnya
bermimpi tentang ayah dan ibu yang menggantung di langit
Melukiskan tawatawa suka dan celoteh yang sempurna
Atau memaknai aksara dan angka, menghitung bilangan hari dengan jemari
Anakanak mengeja namanya di setiap doa, ajari kita bahwa rindu dan cinta itu ada
Februari 2011
Labirin
Ribuan kata indah yang dikirim laki-laki pemimpi itu berserakan di setiap sudut ruang, Acrodite mabuk dan terjebak dalam ruang tak berjendela
Perjalanan
Seorang anak bertanya pada ibunya, “setiap hari kita berjalan, di mana ujung perjalanan ini bu ?“ , Sang ibu membawa anak itu ke makam ayahnya. “Di sini nak”, katanya pelan
Lelaki tua
Dia menyimpan kenangan di lembaran buku, ada beberapa nama perempuan meliuk indah dalam tulisannya. Sekarang tak satupun nama itu menemani hari tuanya
Cirebon, 5 November 2011
Rini Intama
Cara pertama adalah mencari bentuk buku yang disukai seorang anak. Jika anak menyukai gambar-gambar dinosaurus, maka Anda harus mencari cara bagaimana menyuarakan huruf dari kata-kata yang ada dalam buku tersebut. Toko buku dan perpustakaan bisa menjadi sarana untuk mengajak anak lebih menyukai membaca.
Kedua, membiasakan anak membaca setiap hari. Perlu diketahui, membaca adalah keterampilan. Semakin banyak anak berlatih membaca, maka keterampilan ini akan semakin terasah. Buatlah semacam jadwal tersendiri yang dibuat agar menjadi rutinitas anak belajar membaca. Dalam hal ini termasuk menambah jumlah bacaan si anak berupa buku-buku baru yang asing baginya.
Ketiga, adalah membuat anak terfokus pada pilihan kata tertentu. Maksud cara ketiga ini adalah, orangtua hendaknya bisa menghadirkan buku dengan pilihan kata yang sering dimunculkan. Misalnya, huruf yang ada dalam kata itu sendiri atau berupa padanan atau sinonim atau persamaan dari kata-kata yang disukai si anak. Contohnya ‘dinosaurus’ dengan ‘thyranosaurus’ dan berbagai kata lainnya.
Keempat, memperkaya penguasaan kata. Sebagai contoh cara ini dilakukan dengan menambahkan kata-kata baru yang mirip namun memiliki arti yang berbeda. Contohnya ‘tall’ dan ‘ball’.
Kelima, mengajari anak untuk pengejaan kata-kata yang sulit dieja, misal Arnold Schwarzenegger.
• VIVAnews
Kelam menggenggam cekam
tapi gumpalan awan menyemai damai
ketika jingga senja menebar
atau suara fajar menuai segar
Sayup Sangkakala terdengar syahdu merayu dayu
menghembus aroma maut kelu dan suara sendu
Ilalang kering ikut riuh
gemuruh menghempas luruh
akar kering ikut tercerabut
dalam takut dan kalut
Tak surut doa turut
tidak sekedar patut
demi polah yang masih carut marut
Nyawa meregang, memisah jasad dingin menegang
Nyawa melayang terbang ruh menghilang
tinggalkan wajah pias membias dalam kenang
Kaku tubuh terbujur tanpa dengkur panjang
waktu telah habis terkikis
dalam telapak jejak bergaris garis
tak lagi sempat merasa miris dan menadah rinai gerimis
apalagi bisa menangis, hanya mata menutup tipis
dan senyum mengiris sakit yang manis
Mati dan kafan putih membentang
sama saja dengan tanah merah basah yang memberi ruang
menanti tutupi jasad mati dan taburan melati ….
….riuh riuh doa memanjat, riuh riuh celoteh burung burung kematian
….riuh riuh isak tangis, riuh riuh jejak jejak meninggalkan tapak…
Tangerang 27 Feb 2010

Aku dan kata mencintaimu, menyelinap diantara syair syair mengalir bersama butir butir pasir laut, bukankah sama seperti ketika mencoba menumpahkan warna diatas kanvas seraya menunggumu, lantas langit dan awan bergerak pelan…
Aku dan kata kerinduanku, menyelinap diantara derasnya makna aksara dalam untaian kalimat yang menumpah, sama seperti ketika gundukan tanah menggunung dan memuntahkan lahar… deburannya mengalir begitu saja menerabas segala
Aku dan kata kemarahanku, adalah ketika terbengkalainya air disela jemari mengering, menggenggam dan cinta itu sendiri yang memberangus ego dalam kalut, takut atau pengecut. Ada sisa waktu yang berlari dalam rimbun hutan Halimun yang berembun lalu sepi…
Aku dan kata kesetiaanku, adalah merasakan butiran embun sisa malam yang datang pada dedaunan diantara kabut dingin yang menyatu ditanah yang membasah, didetak nadi hari lalu menunggu esok terus datang, meski aku tertunduk lesu
Aku dan kataku………..
10 Maret 2010
Sudah di terbitkan dalam buku “RUANG JINGGA”
Antologi Puisi 12 Penyair Jingga
Penerbit : Q Publisher, Jakarta
Pongah menebang asa yang membelah senyap
gemerisik daun kering terinjak kaki perkasa
burung-burung terbang menghilang
cahaya langit pergi mengusap marah
yang mengintip direrimbun daun
dan kuncup kuncup bunga
tak pelak kayu diam tertebas ayunan sebilah kampak
dan gergaji yang sudah selesai diasah
garang menajam tak dengar keluh mengerang
dengarsuara bumi yang mengaduh hingga memekak
tangisan sang akar tertinggal terkelit sakit
habis darah mengalir dan kayu yang tercacah cacah
hutan tak ingin meranggas sedang angin membawa panas
memanggang kayu dan daun daun
ooh benih benih dari rahim pertiwi
menghitung puluhan tahun menunggu tunas tumbuh
sedang longsor memanggil tanah menimbun segala cinta
terhentilah nafas dan hutanku lampus
Juli 2010
Rini Intama – Dalam buku Gemulai Tarian Naz
NEGERI IBU Hamparan sawah, hutan jati dan ruang-ruang purba, melukis sejarah sepi dan beku di antara ribuan ilalang. NEGERI ANGAN-ANGAN Angan-angan menjelma secangkir kopi di atas meja makan. NEGERI PUISI Rahim bumi melahirkan puisi para petinggi, ada janji, manipulasi dan korupsi yang tersimpan dalam kopor di bandara luar negeri. NEGERI LUKA Kebenaran dan keadilan seperti mimpi terbujur kaku. Luka menganga dan darah menetes tak henti. Rini Intama - Juli 2011 (dalam Buku : Antologi 600 Fiksimini (Penerbit KOSAKATAKITA 2011)
Lupa pada warna senja yang sebentar lagi turun
Suara ibu memanggilku hingga suara serak berdahak
Lamat menghilang dalam pekat awan yang berserak
Secangkir air mata panas tumpah menyiram hatiku
Malam, kutanya di mana ibu ?
Ayah berbisik, sudah di surga sore tadi nak..
November 2010
Peristiwa Merapi 5 Nov 2010
Dalam Buku Antologi Puisi “Merapi Gugat”, Penerbit Kosakatakita
Kisahku pada embun
yang jatuh di kelopak bunga
Tidak ada lagi pantai tempat aku tersedu
atau mendayung perahu yang mencumbu ombak di seribu pulau
kugurat saja warna dalam lintas waktu membisu
meski tak pernah belajar bagaimana merindu
dan ini puisi ke empat puluh enam yang kutulis
di antara jejak yang mulai terhapus
28 Januari 2011
Oleh Dr. Sudaryono, M. Pd (Dimas Arika Mihardja), Dosen Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi
HARI INI, Kamis 14 Oktober 2010, saya menerima buku kiriman Rini Intama. Sebuah buku yang memuat puisi dan cerpen karya penulis muda, satu sisi buku bertitel “Phantasy Poetica” dan satu sisi lainnya memuat cerpen yang diberi titel “Imazonation” (PM Publisher, 2010). Masuk dalam jajaran penulis muda yang menyumbang puisi-puisinya adalah: Abdul Majid Kamaludin, Angga Sukma Sky, Astri Poetry, Bekti Yustiarti, Chairul (Rolix) Ikhsan, Dwi Andari, Eros Rosita, Iin Syah, Lasinta Ari nendra Wibawa, Nanang Rusmana, Putri Fatimah Pratama, Restu Ashari Putra, Rini Intama, Riyadi, Suguh Kurniawan, dan Wardjito Soeharso. Penulis cerpen yang dimuat karyanya di antaranya Delasari Pera Belawa, Daud Al Insyirah, Elly Lizzya, Jama’atun Rohmah, Jun An Nizami, Nurfita Kusuma Dewi, Riris Raden, Talitha Huriyah, dan Yathi Hasta.
Dari barisan nama-nama baru ini terselip nama yang cukup familiar, yakni Rini Intama. Review ini dibuat secara khusus terpusat pada puisi-puisi gubahan Rini Intama.
Dalam antologi puisi “Phantasy Poetica” ini Rini Intama menyertakan 5 (lima) puisinya, masing-masing berjudul “Di Persimpangan yang Lindap”, “Sajak Hampa”, “Nyanyian Sang Ombak”, “Merajuk”, dan “Surat pada Mei”. Menilik dan menelisik judul-judulnya ini pembaca mulai disuguhkan permen aneka rasa. Rasa gamang seperti di persimpangan dapat terlacak lewat puisi
“Di Persimpangan yang Lindap” (hlm. 92); rasa hampa tertuang pada puisi “Hampa” (hlm. 93); persoalan gelora riak dan ombak terasa menyergap dalam puisi “Nyanyian Ombak” (hlm. 94), puisi “Merajuk” (hlm.95) secara denotatif memberi pekabaran perihal merajuk; dan persoalan reformasi terdedah melalui judul “Surat Kepada Mei” (hlm.96).
Apakah yang menarik dari puisi? Puisi selalu menawarkan daya tarik berupa tawaran dunia fantasi yang diolah berdasarkan diksi dan imajinasi. Setiap puisi sudah barang tentu terdapat diksi, yakni pilihan kata yang dilakukan oleh penyair. Penyair “setengah mati” mempertaruhkan diri dalam memilih kata-kata yang secara tepat dapat mengabadikan pengalaman dan perasaannya ke dalam teks puisi. Penyair selalu selektif dalam memilih kata. Seleksi yang ketat ini biasanya lalu terkait dengan dunia fantasi yang secara nyata hadir dari pilihan dan penggarapan imajinasi. Penyair menyeleksi kata yang secara fantastis menumbuhkan ruang imajinasi bagi para pembaca puisinya. Melaui diksi dan imaji inilah penyair mengajak para pembacanya memasuki dunia fantasi lewat puisi-puisi yang digubahnya. Di sebuah persimpangan yang lindap, Rini Intama berusaha mengabadikannya dengan diksi dan imaji berikut:
kutebas pedang karat di pucuk rindu senyap
kupinang darah pekat di dada nafasku megap
di langit kisah kisah mengendap
(“Di Persimpangan yang Lindap”, bait 1 hlm. 92)
Pada saat perasaan merasa hampa oleh berbagai sebab, misalnya saat ada pengalaman di rumah sakit jiwa, Rini Intama memilah dan memilih diksi yang memuat imaji yang berdampak fantasi seperti ini:
tak ingkar jika melihat nestapa dalam debar
cahaya memendar melepas di depan cermin kusam
dalam waktu sepanjang badan
(“Sajak Hampa: Senandung Lirih di Sebuah Rumah Sakit Jiwa”, bait 3 hlm. 93)
Pada jiwa dan rasa bergolak, rasa cinta, rindu, sendu, dan aneka rasa lainnya secara imajinatif terpapar melalui diksi ombak. Kita simak “Nyanyian Sang Ombak” (hlm. 94) secara utuh-menyeluruh agar kita bisa menikmati diksi, imaji, dan dunia fantasi yang diciptakan oleh Rini Intama:
NYANYIAN SANG OMBAK
Sajak Pantai Utara, Hutan Bakau, dan Aroma Cinta
Burung burung hanyut bercengkerama lepas dalam gairah yang sublim
di atas akar akar bakau yang menjalar
menyela kokoh di rawa berlumpur
memisah kejahan dari debur ombak yang menderu
mengalun nyanyian cinta
Perasaan dan sikap “merajuk” dapat kita nikmati dalam puisi bertajuk “Merajuk” dan “Surat Pada Mei”. Seseorang dapat saja merajuk oleh berbagai sebab. Sikap merajuk ini tentu saja bukan semata merupakan kecengengan, sebab di dalamnya terdapat juga sebuah gambaran sikap. Bagaimana gambaran sikap “merajuk” seorang Rini Intama ketika menghadapi peristiwa Mei saat reformasi terjadi? Kita nikmati saja puisi satu bait berjudul “Surat Pada Mei” (hlm. 96):
SURAT PADA MEI
ketika bertanya pada Mei, purnama menungguku
di tengah bulan yang terbebas, lantas menangis
bah …
kau palingkan wajah dan sudut mata mengerling tajam
kau tak mengerti! katamu pelan tak berintonasi
tak ingin aku mengedip memandang kemarahan yang merah
di sela waktu yang membusuk
karena terlalu lama teronggok
aku tak ingin bertanya lagi Mei!
kecuali ketika pucuk cemara tertawa geli
mengundang debu jalan yang tersapu angin
Kita telah mencicipi puisi-puisi gubahan Rini Intama dalam buku “Phantasy Poetica”. Puisi memang selalu memberikan ruang fantasi, ruang kontemplasi, penuh dengan pilihan diksi yang kaya imajinasi. Sebagai pereview, saya tak mau dikelompokkan pada golongan yang nyinyir menelanjangi puisi, memberikan ruang tafsir yang njlimet dan bisa jadi membuat kepala mumet. Rini Intama yang terlahir di Garut 21 Februari (dan menyembunyikan tahunnya ini) . Memang, terkadang usia tidak menjamin kematangan karya, tetapi semangat muda untuk berkarya tentulah perlu diberi penghargaan. Rini Intama, tentu saja tak tergolong tua, tak pula masuk dalam barisan muda-remaja dalam berkarya.
Setidaknya, diam-diam sudah lama saya mengincar karya dan kekaryaan seorang Rini Intama yang memang perlu diintimi. Begitulah, review singkat ini dibuat, semoga tercerahkan. Salam DAM: 123 sayang semuanya.
Kota Beradat, 14 Oktober 2010